
Pagi hari, kedua orang tua Aini pamit pulang ke kampung halaman mereka karena Aini merasa jika dia sudah baik-baik saja.
"Maaf ya pak, bu kalo Aini bikin ibu dan bapak repot mulu. Lain kali ngga ada kaya gini lagi. Insyaallah Aini akan baik-baik saja."
"Iya, kalo kamu sudah ada yang menjaga tentu bapak sama ibu akan percaya Ain. Tapi sekarang posisi kamu saja masih belum ada yang menjaganya."
"Ibu lagi gak ngasih kode kan Bu?'',tanya Aini.
"Ya...kalo kamu paham kode ya alhamdulillah Ain", ibu terkekeh pelan.
"Heum, bapak setuju sama ibumu Ain. Kalo memang hubungan kamu dengan Ibas sudah tak bisa diperbaiki, ya udah selesaikan baik-baik seperti saat kamu mengawalinya dulu.''
Aini tertegun. Benarkah ia sudah tak memiliki perasaan apa pun pada lelaki gondrong yang ia puja selama ini?
"Oh iya, bagaimana kondisi Ikbal? Kamu bilang dia sempat pingsan dan dilarikan kerumah sakit?'',tanya Bapak.
"Mas Ikbal baik-baik saja pak, bahkan semalam juga jaga piket seperti biasa", jawab Aini.
"Alhamdulillah", sahut sepasang suami istri tersebut.
Nita baru keluar dari kamar mandi saat kedua orang tua Aini akan berpamitan.
"Mas Ruby lagi jalan ke sini kok pak, bu. Tunggu ya!'', pinta Nita.
"Ngga usah Nit, nak Ruby kan pasti juga sibuk. Kami bisa kok pakai bajai ke stasiun", tolak bapak Aini.
Belum sempat Nita menjawab, Ruby lebih dulu memberi salam. Alhasil sepasang suami istri itu tak bisa menolak niat baik Ruby.
__ADS_1
"Bapak sama ibu ngga usah sungkan, Aini sudah saya anggap adik saya sendiri",kata Ruby.
'Meskipun dulu sebenarnya aku menyukai Aini, bukan Nita. Tapi sekarang aku menyadari jika perasaan tidak bisa di paksa. Aku terbiasa dengan Nita. Dan sekarang, Aini sudah ku anggap adik sendiri',monolog Ruby yang tentunya di dengar oleh Aini meski Ruby mengucapkannya di dalam hati.
Aini sempat terkejut, tapi beruntung yang tahu isi hati Ruby hanya Ruby dan dirinya. Entah apa yang akan terjadi dengan persahabatannya dengan Nita jika ia tahu akan hal ini. Pasti gadis itu akan sakit hati.
"Terimakasih nak Ruby",kata ibu tulus.
"Nita, bapak titip Aini sama kamu juga ya. Bilangin, jangan bandel-bandel lagi!", bapak mengatakan hal itu pada Nita.
"Insyaallah pak, kalo masih bandel Nita jewer aja nih bocah!", sahut Nita.
"Bocah-bocah!', Aini protes di katain bocah oleh Nita. Lalu, Ruby dan kedua orang tua Aini pun keluar menuju ke mobil pickup milik Ruby. Tapi sebelum ketiganya masuk, sebuah motor berhenti di samping mobil pickup Ruby. Ruby yang hafal pemilik motor itu pun pasang badan bersiap menghampiri lelaki gondrong yang tak lain adalah Ibas.
"Mau apa lo ke sini?'', tanya Ruby.
"Mau ketemu Aini, ada hal penting yang harus gue selesaikan dengan Aini!'', jawab Ibas ketus.
"Heh, lo bukan siapa-siapa Aini jadi lo gak ada hak buat gue nemuin dia!'', Ibas terbakar emosi.
"Sudah-sudah!'', lerai bapak Aini yang otomatis menghentikan pertikaian antara Ruby dan Ibas.
"Tapi pak, dia ini....", Ruby menggantung kalimatnya karena bapak meminta Ruby untuk diam.
"Nak Ibas mau menyelesaikan urusan kalian berdua kan? Silahkan! Tapi tolong jangan membuat masalah. Aini baru sembuh!", pinta bapak Aini.
Andai bapak tahu, aku penyebab Aini sampai koma. Apakah dia akan bersikap baik seperti ini juga? Batin Ibas.
__ADS_1
"Sudah nak Ruby, kita berangkat. Ada Nita dikamar kok. Insyaallah nak ibas tidak akan membuat masalah dengan Aini, bukan begitu nak Ibas?', tanya bapak pada Ibas. Lelaki berambut gondrong itu mengangguk pelan.
''Terimaksaih pak!", kata Ibas sopan pada bapak Aini. Setelah itu, ia pun meninggalkan Ruby dan orang tua Aini untuk menuju ke kamar Aini.
"Sudah nak Ruby, mungkin benar nak Ibas ingin menyelesaikan masalahnya dengan Aini. Nak Ruby tahu kan tentang kedekatan antara dokter Ikbal dengan Aini?'', tanya bapak. Ruby pun mengiyakan dengan anggukan.
Lalu, ketiganya pun menaiki mobil pickup Ruby menuju ke stasiun. Jadwal kereta mereka akan berangkat satu jam lagi. Akan tetapi mengingat jika ibu kota macet, mereka tak ingin sampai di sana terlambat.
Ibas berjalan menuju ke kamar Aini seperti yang ia lakukan selama ini. Hanya saja, sejak kecelakaan itu...dia tak bisa leluasa mendatangi Aini.
Nita keluar kamar, tapi saat melihat keberadaan Ibas emosinya naik eperti halnya Ruby tadi.
"Mau apa Lo?", tanya Nita ketus. Aini yang baru saja di datangi Ilma pun cukup terkejut.
"Nita kenapa sih?', tanya Aini pada Ilma yang tentu saja msih di dalam kamar mereka.
"Ada Ibas!'', sahut Ilma datar. Aini menghela nafas. Dia ragu apakah bertemu dengan Ibas saat ini adalah waktu yang tepat.
Aini menoleh pada Ilma yang menampakan wujud menyeramkan.
"Ma, sumpah gue takut sama muka serem lo Ma. Itu biji mata keluar-keluar, gue takut Ma!'', kata Aini. Tapi Ilma seolah tak menggubrisnya. Bau anyir medadak mengaduk-ngaduk isi perut Aini. Gadis itu pun berlari menuju ke kamar mandi.
Mendengar Aini muntah, Nita langsung masuk ke kamar menyusul Aini begitu pula dengan Ibas, Tapi belum sempat Ibas menyusul Aini dan Nita, dia disambut sosok Ilma yang sangat menyeramkan. Gadis itu memakai seragam putih abu yang sudah berlumuran darah di bagian perutnya tapi name tag di seragamnya tertulis nama Ilma Fauziana. Bola mata yang lepas dari tempatnya serta luka di sekujur wajahnya tak lupa darah yang tercecer semakin membuat kesan meankutkan begitu kentara.
''Ilma....!'', Ibas membeku di tempatnya. Jangankan untuk menyusul Nita dan Aini, berdiri tegap saja ia seolah tak mampu lagi.
*******
__ADS_1
20.43
Terimaksih