Kaulah Matahariku

Kaulah Matahariku
Pengadu Domba


__ADS_3

Beberapa bulan berlalu. Ellio dengan setia mendampingi Elaine melewati hari-harinya. Berkat serbuk yang dibawakan oleh Ellio, Elaine dapat menerima serumnya tepat waktu. Kesehatannya pun semakin membaik.


Hari ini Ellio berusaha mendapatkan serbuk  bunga matahari lagi. Ia pergi ke ladang bunganya, bernyanyi sambil menebarkan embun.


Saat Ellio sedang terbang di angkasa, ia melihat segerombolan titik hitam di permukaan tanah. Bisa dipastikan, itu bukan kumpulan bunga matahari. Ellio segera mendaratkan dirinya kembali ketanah.


“Apolo!” Seru Ellio. Ia menunduk memberi hormat pada Apolo. Ternyata gerombolan titik hitam yang dilihat Ellio adalah Apolo dan rombongannya, mereka mengamati Ellio yang sedang bekerja memanen serbuk bunga matahari.


Ellio melirik ke arah rombongan yang dibawa Apolo. Tampak Rose sedang tersenyum kepadanya.


Rose! Sedang apa dia disini? Mengapa dia mengikuti rombongan Apolo?



“Ellio, aku hanya mengamatimu bekerja. Bagaimana, kau dapat banyak hari ini?” Tanya Apolo. Suaranya yang tenang membuat Ellio lega, setidak-tidaknya mood Apolo cukup baik hari ini.


“Hari ini lumayan banyak, Yang Mulia.” Ellio memperlihatkan besarnya kantong hasil panenannya.


“Jelaskan padaku berapa yang akan kau sebar kembali ke Bumi!” Perintah Apolo. Segera Ellio memberitahukan penghitungannya, dari total yang dia panen, berapa banyak yang akan diberikan ke Elaine dan berapa banyak yang akan dikembangkannya kembali menjadi bunga baru.


“Itu belum jumlah semuanya, Yang Mulia,” tutur Ellio lagi, “Besok aku akan memanen yang ada di sebelah barat, jadi bisa kupastikan persediaan serbuk kita mencukupi.” Sambungnya.


Apolo menganggukkan kepalanya.


“Bagus, kau penuh perhitungan. Pasti kau lelah mengerjakan semuanya sendirian, kan? Kau beruntung, ada Rose yang datang padaku dan menawarkan diri untuk membantumu. Jadi aku putuskan Rose akan membantumu memanen serbuk-serbuk ini.” Ujar Apolo lagi, membuat Ellio terkejut.


“Tidak usah, Yang Mulia. Aku bisa mengerjakannya sendiri! Waktu panen sudah kubagi menjadi beberapa kali, jadi aku masih bisa mengerjakannya setiap beberapa hari sekali. Aku tidak lelah, Yang Mulia!” Ellio menyanggah perintah Apolo. Ia merasa tidak nyaman bila Rose mendampinginya.


“Sudahlah Ellio, Rose sudah berbaik hati mau membantumu! Seharusnya kau bersyukur, kau punya teman yang mau membantumu.


“Tapi bukankah masih banyak urusan bunga mawar yang harus diselesaikan oleh Rose, Yang Mulia? Dia juga pasti sibuk seperti aku. Biarlah Yang Mulia, urusan bunga matahari biar aku saja yang mengatasinya. Percayalah, aku bisa mengendalikannya. Apalagi aku selalu melaporkan perkembangannya kepada Yang Mulia, bukan? Jadi…” Ellio masih mencoba mengelak dari perintah Apolo.


“Ellio, ini sudah keputusanku! Lagipula ada temanmu yang mau membantumu meringankan pekerjaanmu, kenapa kau keberatan? Apa ada sesuatu yang tidak kau laporkan kepadaku?” Selidik Apolo, membuat Ellio tak berkutik.


Ellio terdiam, ia tahu dalam situasi ini tidak ada gunanya melawan perintah Apolo. Namun Ellio merasa ada maksud tersembunyi dari Rose yang mengajukan diri ingin membantunya.


“Baiklah, Yang Mulia.”Ellio menjawab lemah, namun hatinya menggerutu kesal.


“Baiklah kalau begitu, aku pergi dulu.” Apolo beranjak meninggalkan taman bunga matahari, meninggalkan Ellio dan Rose berdua.


Ellio mendelik kearah Rose, Rose tersenyum simpul melihat kekesalan Ellio.

__ADS_1


🌻🌻🌻


“Ellio, Ellio.” Elaine mengelus-elus helaian bunga mataharinya sambil memanggil nama Ellio. Siang itu begitu terik, namun karena merasa sangat ingin bertemu Ellio, Elaine memaksakan dirinya menyapa bunga mataharinya. Elaine merasa lelah, entah mengapa tubuhnya terasa begitu lemas.


Tidak tahan lagi, akhirnya Elaine jatuh terduduk didekat semak bunga melva. Ia ingin berdiri dan masuk kekamarnya, namun kakinya terasa begitu berat. Perlahan, Elaine memejamkan matanya.


Tanpa disadarinya, beberapa sulur keluar dari sela-sela semak tanaman melva, membelit kaki Elaine dan menariknya. Tubuh Elaine bergeming, terduduk dibawah kaki batang bunga matahari.


🌻🌻🌻


Ellio merasa tidak nyaman hari ini, ia sangat ingin mengunjungi Elaine. Sudah beberapa hari ini mereka tidak bertemu karena Ellio sibuk menyiram dan memanen bunga matahari. Ellio merasakan firasat kurang baik pada Elaine.


Namun Ellio merasa sulit mengunjungi Elaine, karena ada Rose yang membuntutinya.


“Apakah kau tidak ada pekerjaan lain? Disini sudah tidak ada panenan, bunga-bungaku juga sudah selesai disiram. Pergilah!” Ellio secara gambling mengusir Rose.


“Huh, tidak tahu terima kasih! Sudah kubantu, sekarang kau malah mengusirku!” Dengus Rose.


“Apanya yang membantu?” Omel Ellio lagi. “Aku sibuk menyiram dan kau hanya duduk-duduk sambil bernyanyi!”


“Aku kan membantumu dengan menemanimu!” Ujar Rose lagi sambil tersenyum manis. Ellio mendengus melihat senyuman Rose.


“Mau kemana? Aku ikut!” Tanya Rose. “Siapa tahu aku bisa membantumu lagi. Ahh, akhirnya kita pergi dari taman ini. Ayolah, kita berputar-putar kota, Ellio!” Ujar Rose lagi, bersemangat.


Ellio mengernyitkan dahinya. “Jadi kau tidak suka ada di ladangku? Pergilah kalau begitu! Tidak udah tinggal disini! Menggangguku saja!” Gerutu Ellio lagi.


Rose masih tersenyum, kemudian menggelayut ke lengan Ellio.


“Ayolah, kita pergi. Jangan menggerutu terus. Kemanapun kamu pergi, aku akan ikut. Apolo sudah memerintahkan aku untuk selalu membantumu kan? Jadi biarkan aku ikut denganmu, siapa tahu aku bisa membantumu.”


Ellio menepis tangan Rose yang menempel di lengannya. “Tidak perlu, terima kasih. Aku harus pergi. Kalau mau membantu, datang lagi saja besok.” Ellio pergi meninggalkan Rose. Rose mengerucutkan bibirnya, kemudian terbang mengikuti Ellio.


🌻🌻🌻


Ellio tiba di rumah Elaine. Perasaan tidak enak masih terus menggelayut di hatinya.


Ia masuk ke taman samping yang berada tepat didepan pintu teras kamar Elaine. Saat itu pagi hari, namun pintu teras kamar Elaine tertutup. Tidak seperti biasanya.


Ellio mengintip dari kaca pintu teras Elaine, ia melihat Elaine terbaring di ranjangnya dengan posisi setengah terduduk. Ellio merasa heran, apakah Elaine baru bangun tidur?


Perlahan-lahan, Ellio mengetuk kaca pintu itu.

__ADS_1


Elaine menoleh, ia tersenyum ketika melihat Ellio. “Ellio!” Desisnya. Hatinya benar-benar bahagia melihat Ellio.


Perlahan-lahan Elaine turun dari ranjangnya. Ia menjaga keseimbangannya, lalu menuju pintu teras dan membukanya.


“Elaine, kamu kenapa? Kamu sakit?” Tanya Ellio. Ia melihat wajah Elaine yang pucat.


Elaine menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. “Aku kelelahan kemarin, jadi Papa memanggil dokter dan dokter minta aku beristirahat total sampai hari ini. Kau kemana saja, sudah lama kamu ga datang, Ellio.”


Ellio menggandeng tangan Elaine, mereka duduk di kursi yang ada di teras kamar Elaine.


“Aku banyak pekerjaan beberapa hari ini. Dalam beberapa hari ini, kamu sudah harus treatment serum lagi kan? Aku sedang mengumpulkan serbuknya.” Ujar Ellio menerangkan alasan ketidakhadirannya kepada Elaine.


“Terima kasih ya El, kamu sudah banyak sekali membantuku. Kalau tidak ada kamu, mustahil aku bisa tepat waktu menerima serumnya.” Elaine kembali tersenyum pada Ellio.


“Elaine, sarapannya…” Tiba-tiba Mama Angel muncul dari dalam kamar Elaine, matanya membesar ketika melihat Ellio yang sedang duduk di kursi teras.


Elaine dan Ellio pun sangat terkejut dengan kemunculan Mama Angel yang tiba-tiba. Elaine bahkan tidak mendengar suara mama yang memasuki kamarnya.


“Eh, ada Ellio? Maaf ya, Tante tidak tahu Ellio datang.” Ujarnya.


Ellio sontak merasa tidak enak, karena ia memang datang dari taman samping, bukannya dari pintu depan.


Elaine pun bingung, bila Ellio bisa masuk ke kebun sampingnya, bukankah artinya Ellio sudah melewati pintu depan? Tapi mengapa mama bilang kalau ia tidak tahu kalau Ellio datang?


“Iya, ga apa Tante. Ellio juga minta maaf, tahu-tahu sudah masuk keteras Elaine.” Ujar Ellio, menganggapi sapaan Mama Angel.


“Elaine sakit, Tante?” Tanya Ellio langsung. Ia berusaha mengalihkan perhatian Mama Angel agar tidak membahas mengenai kedatangannya lagi.


“Iya, kemarin Elaine pingsan di dekat bunga matahari.” Jawab Mama Angel.


Ellio sangat terkejut. Pingsan? Ia menatap ke Elaine, Elaine langsung menunduk melihat pandangan penuh tanya dari Ellio.


Pingsannya juga aneh, masa kaki Elaine terlilit sulur bunga ungu itu.” Mama Angel  menunjuk semak bunga melva yang berada di kaki bunga matahari. Mata Ellio semakin membesar.


Bunga Melva membelit Elaine? Kenapa?


Ellio berpikir keras sambil menatap bunga mataharinya dan bunga melva. Pikirannya berkecamuk, Ia sudah tidak mendengarkan lagi cerita Mama Angel. Apakah bunga melva itu mengenali Elaine sebagai perinya dimasa lalu? Tapi mereka membelitnya, apakah mereka membenci Elaine?


Tentu saja mereka tidak suka gadis itu, sebuah suara terngiang di kepala Ellio, dimasa lalu gadis itu sudah berbuat kesalahan besar hingga ia dihukum mati! Tentu saja Melva benci padanya.


Ellio tersentak. Rose! Lagi-lagi Rose membaca pikirannya dan memberikan asumsinya yang meresahkan Ellio. Ellio mencari-cari dengan  matanya, ternyata bunga mawar hitam yang beberapa hari lalu dibuangnya, kini berdiri dengan anggun di pinggir teras Elaine.

__ADS_1


__ADS_2