
“Ahhh!” Rose menjerit kencang, Ellio menghampaskan dirinya ke pagar taman mawar hitam.
“Kau memang pencari gara-gara! Kau kan yang mengatakan ke Edward mengenai rencanaku?” Teriak Ellio marah sambil menunjuk wajah Rose.
“A-aku hanya memberitahunya, kalau dia tidak hati-hati, dia akan kehilangan calon istrinya!” Jawab Rose gugup. Wajahnya pias ketakutan melihat kemarahan Ellio.
“Itu hanya sebagian! Kau memberitahunya bahwa aku akan menikahi Elaine kan? Kau adalah penyebab Edward berbuat nekat! Gara-gara kau, Elaine dalam bahaya!” Teriak Ellio marah.
Rose menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia ketakutan karena Ellio terus bergerak mendekatinya. Dia yang terbaring di tanah, tidak dapat bergerak dengan cepat karena tubuh bagian bawahnya merasa sakit akibat terbanting.
“Aku belum melaporkan ke Apolo karena kau membawa Elaine ke alam baka, Rose!” Ancam Ellio, membuat Rose semakin ketakutan. “Dan sekarang, kau membocorkan rahasia dunia peri ke manusia! Bersiaplah, sebentar lagi Apolo akan mengetahui pelanggaranmu!” Ucap Ellio sambil memegang lengan Rose.
Rose memberontak, ia tidak mau dilaporkan ke Apolo dan menerima hukuman lagi. “Tidak!! Lepaskan aku!” Teriaknya sambil terus memberontak.
Ellio tidak berhenti mencengkeram lengan Rose dan membawanya terbang, menuju Istana Apolo.
Aksi seret menyeret itu terus berlangsung hingga Istana Apolo. Ellio dan Rose saling bertahan, Ellio karena terlalu marah dan Rose karena terlalu ketakutan. Namun aksi itu dimenangkan oleh Ellio, terbukti dengan berhasilnya mereka tiba di Istana Apolo.
Apolo sudah mendelik melihat kedua perinya yang tidak pernah akur itu saling seret menyeret.
Ellio dan Rose menundukkan tubuhnya di depan singgasana Apolo.
“Yang Mulia, saya kesini untuk melaporkan dua pelanggaran.” Ujar Ellio. Apolo menganggukkan kepalanya.
“Peri ini,” tunjuk Ellio kepada Rose, “Telah membeberkan rencana dunia peri kepada seorang manusia.” Ujar Ellio berapi-api. “Karena kesalahannya, manusia itu mengambil keputusan nekat untuk mencelakai manusia lain.”
Apolo menganggukkan kepalanya.
“Dan satu lagi,” sambung Ellio, “Dia juga telah membawa Elaine ke dunia alam baka dan menunjukkan masa lalunya sebelum bereinkarnasi.”
Apolo mengangguk lagi. “Berarti kesalahannya tiga, bukan dua.” Ujar Apolo.
Ellio melebarkan matanya sedangkan Rose semakin menunduk ketakutan.
“Tiga?” Tanya Ellio kebingungan.
Apolo mengangguk. “Dia menunjukkan bentuk aslinya kepada manusia dalam keadaan tidak genting.” Ujar Apolo tenang. Kemudian, Apolo menoleh kepada Rose.
“Rose.” Panggilnya lembut.
Rose mengangkat kepalanya, menatap Apolo. Pipinya sudah berurai air mata.
“Ya, Yang Mulia.” Suaranya bergetar.
“Masuklah ke botolmu.” Perintah Apolo tegas.
Rose menunduk lagi dan menangis, kemudian ia menoleh pada Ellio.
“Perlu kamu tahu, aku melakukan ini karena aku sangat sayang padamu.” Ucapnya sendu.
Ellio hanya diam menatap Rose, hingga akhirnya Rose berjalan menuju ruangan penyimpanan Apolo, dimana biasanya Apolo menyimpan botol-botol berisi para peri yang menjalani hukuman.
__ADS_1
Setelah tubuh Rose hilang di balik pintu ruang penyimpanan, Apolo menoleh pada Ellio.
“Pergilah, persiapkan pengantinmu untuk menghadapku besok.” Ujar Apolo lagi.
Ellio menangguk hormat, lalu meninggalkan Istana Apolo.
🌻🌻🌻
Setelah keluar dari Istana Apolo, Ellio segera terbang menuju sekolah Elaine. Sebentar lagi jam pulang sekolah, Ellio rencananya akan mengikuti Elaine kemanapun Elaine pergi untuk menjaganya.
Ellio tiba di sekolah Elaine dalam bentuk peri kecil. Dengan mengubah warna tubuhnya menjadi tidak kasat mata, Ellio berjalan menuju kursi tempat Elaine duduk bersama Michelle. Ellio melihat bahwa Elaine tidak menyadari kehadirannya, maka Ellio segera terbang dan mendarat di tas Elaine yang terletak di atas kursi diantara Michelle den Elaine.
“Stt.. Stt..” Ellio mendesis kecil, berusaha mencari perhatian Elaine. Ia mengubah warna tubuhnya sehingga Elaine dapat melihatnya.
Ellio berhasil, Elaine menoleh ke arahnya. Ellio tersenyum gembira sambil melambai-lambaikan tangan mungilnya.
“Aaaaaa!!!!” Bruk!!
Michelle jatuh dari kursinya, dia pingsan. Ternyata bukan hanya Elaine yang melihat Ellio, namun Michelle juga. Ia terkejut dan ketakutan, hingga akhirnya pingsan.
“Michelle!” Elaine berdiri karena terkejut dan segera berlari menuju Michelle, berusaha membangunkannya. Sedangkan si peri kecil yang membuat masalah, Ellio, segera membeningkan warna tubuhnya dan bersembunyi didalam tas Elaine.
“Michelle? Michelle?” Panggil Elaine sambil menepuk-nepuk pipi Michelle, namun tidak berhasil. Seorang murid menyodorkan minyak angin, Elaine mengambil minyak itu dan mengoleskannya pada hidung dan leher Michelle, berharap ia segera sadar. Namun ternyata usaha Elaine sia-sia, Michelle akhirnya digendong Oliver menuju ruang UKS.
Menit-menit terakhir jam pelajaran diisi oleh kehebohan. Tidak ada lagi yang belajar, para murid membahas pingsannya Michelle. Berbagai asumsi dilontarkan, mulai dari yang masuk akal seperti kelelahan, sampai yang tidak masuk akal seperti perkiraan Michelle sedang mengandung. Juga hal mistis, seperti tuduhan kerasukan.
“Dia tidak hamil!” Oliver melotot mendengar tuduhan teman-temannya. “Kami belum membuatnya…” Segera Oliver menutup mulutnya sementara teman-temannya terpingkal-pingkal. Oliver yang polos telah keceplosan dan menjadi bahan tertawaan sekelas.
Kring!! Bel tanda selesai jam pelajaran hari itu akhirnya berbunyi. Sekali lagi Elaine menatap teman-temannya yang sudah mengemasi barang-barang mereka untuk pulang, mulai meninggalkan sekolah. Diam-diam, Elaine mengucapkan selamat tinggal pada temannya satu persatu.
“Ele.” Edward memanggilnya pelan, lalu duduk di samping Elaine. Elaine sedikit menggeser tubuhnya, ia tidak ingin berdekatan dengan Edward. Memori kejadian semalam masih segar diingatannya, membuatnya takut pada Edward. Tadi pagi, Elaine sampai diantarkan kesekolah oleh Papa Hans dalam mobil yang berbeda dengan Edward.
“Maafkan aku. Maafkan kesalahan yang kubuat semalam. Aku janji, aku ga akan mengulanginya lagi. Tapi aku mohon, jangan tinggalkan aku, ya?” Ucapnya pelan.
Elaine melirik Edward sambil dengan cepat mengemasi barang-barangnya. Segera setelah itu, ia mengangkat tasnya, akan berlalu pulang.
“Jangan tunggu aku. Aku mau pulang ke rumah mama dan papa dulu.” Jawab Elaine, lalu langsung melesat keluar kelas tanpa menunggu tanggapan Edward. Edward terduduk kaku melihat Elaine meninggalkannya.
🌻🌻🌻
“Ellio, kamu ini ya. Turun dong, temani aku jalan kaki!” Gumam Elaine kesal.
Ellio masih berbentuk peri kecil yang transparan, ia duduk di bahu Elaine yang sedang berjalan pulang sambil berpegangan pada kerah baju Elaine.
“Kapan lagi aku bisa menebeng calon istriku pulang? Ayolah El, biar aku duduk disini saja ya? Disini sangat enak, tidak capek dan ramburmu wangi!” Ujar Ellio sambil mengendus leher Elaine, membuat Elaine menekuk lehernya kegelian.
“Ellio! Kalau ga mau jalan, seenggak-nggaknya jangan iseng bikin aku kegelian!” Elaine tertawa kegelian, ia ingin menepuk lehernya yang geli namun pasti Ellio akan terjatuh bila terkena pukulan itu.
Begitulah mereka menikmati suasana perjalanan siang itu dengan canda tawa, perjalanan pulang Elaine yang terakhir sebagai manusia.
🌻🌻🌻
__ADS_1
“Mamaaa!” Elaine menangkup leher mamanya yang sedang terduduk di sofa, dipeluknya wanita setengah baya itu dari belakang.
Mama Angel terkejut mendapati dirinya dipeluk oleh putri semata wayangnya. Sudah lama sekali Elaine tidak memeluk dirinya, biasanya hanya pada hari ulang tahun saja mereka berpelukan.
Mama Angel menepuk lengan Elaine yang sedang melingkar di lehernya.
“Anak Mama, datang lagi? Tumben sekali langsung peluk Mama, apa kamu kangen sama Mama?” Tanyanya senang.
Elaine menganggukkan kepalanya yang sedang terbenam di ceruk leher mamanya. Air matanya mulai merebak, mengingat perjuangan mama dan papanya selama ini.
“Ma, perlu Mama tahu, apapun yang terjadi, aku bahagia dan bersyukur bisa menjadi anak Papa dan Mama. Maafkan aku kalau aku sering merepotkan Papa dan Mama ya, bahkan membuat Papa dan Mama sedih.” Ujar Elaine sendu. Ia sengaja tetap membenamkan wajahnya di leher mama agar mama tidak melihat air matanya.
Mama tersenyum dan menepuk lengan Elaine beberapa kali. “Elaine anak baik kok, Elaine ga pernah merepotkan Papa dan Mama. Semua karena keadaan, dan Papa Mama bersyukur karena anak kami adalah Elaine yang kuat menghadapi keadaan.” Ucap mama lagi.
Elaine melepaskan pelukannya di leher mama, lalu duduk disampingnya sambil tersenyum.
“Papa hari ini pulang malam, Ma? Boleh ga aku tunggu Papa pulang kantor? Kepingin makan malam sama Papa dan Mama, setelah itu baru aku pulang ke rumah Edward. Boleh kan, Ma?” Tanya Elaine sambil menyandarkan kepalanya di bahu Mama.
Mama tersenyum lalu menepuk-nepuk lembut kepala Elaine.
“Boleh dong! Tunggu ya, Mama kabari papa kamu dulu, supaya dia ga pulang malam-malam hari ini. Habis itu, kamu bantuin Mama masak ya?” Ujar mama lagi sambil tersenyum senang.
Elaine menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, lalu dia dan Mama Angel mempersiapkan makan malam.
Malam itu, keluarga kecil itu berkumpul untuk makan malam bersama dalam suasana akrab dan bahagia. Sambil makan malam, mereka bertiga saling bergantian menceritakan masa-masa lalu yang berkesan dan lucu, membuat gelak tawa sering terdengar dari bibir mereka.
Elaine memandang papa dan mamanya untuk terakhir kalinya. Dalam hatinya, mengalir ucapan terima kasih untuk kedua orang yang paling berjasa padanya selama hidupnya.
🌻🌻🌻
Setelah makan malam berakhir, Papa Dylan mengantarkan Elaine pulang ke rumah Edward. Elaine memeluk papanya agak lama didepan pintu rumah.
“Selamat malam, Pa, hat-hati dijalan.” Ucap Elaine sambil tersenyum.
Papa mengecup puncak kepalanya dan melambaikan tangannya sebelum menggerakkan mobilnya keluar dari rumah Edward.
Elaine langsung masuk kekamarnya, membersihkan dirinya dan bersiap untuk tidur. Ketika akan memejamkan matanya, mendadak Ellio muncul dan duduk di pinggir ranjangnya.
“Tidurlah, Sayang. Aku akan menjagamu sampai waktumu tiba.” Ucapnya sambil tersenyum
Elaine menganggukkan kepalanya, kemudian ia membaringkan dirinya di kasurnya. Kilas balik kegiatannya hari ini melintas di kepalanya.
Tiba-tiba Elaine bangkit dan terduduk dikasurnya, membuat Ellio memperhatikannya. Elaine tersenyum, lalu tiba-tiba melepaskan cincin pertunangannya dengan Edward dari jarinya, lalu meletakkannya di meja nakas.
“Aku perlu mengembalikannya kepada pemiliknya.” Ucap Elaine sambil tersenyum.
Ellio bangkit dan menghampiri Elaine, lalu diraihnya tangan Elaine. Perlahan, dilepaskannya cincin rumput ulirnya dari jari tengah Elaine dan dipindahkannya ke jari tempat cincin Edward tadinya berada. Kemudian, Ellio mencium tangan Elaine.
Elaine tersenyum senang, lalu berkata pada Ellio, “Malam ini, apa aku boleh minta dipeluk seperti biasanya?”
Ellio menganggukkan kepalanya, “Tentu boleh!” Jawabnya, lalu dengan sigap langsung naik ke atas kasur Elaine dan menyelinap ke bawah selimut Elaine.
__ADS_1
Elaine langsung menyerbu masuk kedalam pelukan Ellio, menyembunyikan wajahnya di dada Ellio. Ellio mengelus dan sesekali menepuknya hingga akhirnya Elaine tertidur.