
Minggu pagi hari.
Elaine terbangun agak siang hari ini. Tubuhnya baru merasakan lelah sisa hari kemarin, saat kehabisan tenaga untuk mempersiapkan pesta dan merayakan pesta. Elaine terkejut, dia terbaring di ranjangnya masih dengan mengenakan gaun pestanya. Pernak pernik pesta seperti mahkota dan sarung tangan masih ada di tubuhnya, bahkan make up masih menempel di wajahnya. Hanya sepatunya saja yang sudah terlepas dari kakinya.
Elaine ingat, semalam dia ada ditenda bersama Ellio. Apakah aku ketiduran? Siapa yang menggendongku ke ranjang? Apakah Ellio? Elaine tersenyum, membayangkan dirinya digendong Ellio. Ah, mesranya Ellio.
Elaine terbangun dan beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia mandi sambil tersenyum-senyum, membayangkan malam yang dilewatinya bersama Ellio kemarin. Ih, kenapa aku terbayang-bayang Ellio terus ya.. Elaine lama-lama menjadi bingung dengan dirinya sendiri.
Elaine melewati hari minggu itu dengan bahagia.
🌻🌻🌻
Seminggu kemudian.
Tok.. Tok..
Seseorang mengetuk pintu kelas Elaine saat mata pelajaran pertama sedang berlangsung. Para murid yang sedang menyimak penjelasan Pak Guru, menjadi teralihkan perhatiannya.
Pak Wali Kelas memasuki kelas dengan seorang anak muda sepantaran Elaine. Beliau berbicara dengan Pak Guru yang sedang mengajar, sementara anak laki-laki itu menatap sebentar ke Pak Guru lalu mengedarkan matanya ke sekitaran kelas. Ia tersenyum ketika melihat Elaine.
Elaine terkesiap. Edward! Suara murid-murid mulai mendengung, bertanya-tanya siapa anak yang dibawa oleh Pak Wali Kelas.
“Selamat pagi, Anak-Anak. Maaf Bapak mengganggu konsentrasi kalian. Bapak mengantarkan teman baru untuk kalian.” Ujar Pak Wali Kelas sambil mempersilakan Edward untuk memperkenalkan diri.
“Selamat pagi teman-teman, perkenalkan saya Edward Ellison, umur saya enam belas tahun. Sebelumnya saya bersekolah di Surabaya. Salam kenal semuanya.” Ucap Edward ramah.
“Aduh!” Elaine terkejut dan menjerit kecil, Michelle menohok tulang rusuknya. Jeritan Elaine mengundang semua mata murid, guru dan Edward untuk menoleh kearahnya. Michelle langsung menutup mulutnya dan menunduk, sedangkan wajah Elaine memerah karena malu.
“Ah, Elaine. Menurut Edward, dia mengenal kamu.” Ujar Pak Wali Kelas tiba-tiba. “Begini saja. Michelle, kamu pindah ke samping Oliver ya. Dan Edward, kamu boleh duduk disamping Elaine.” Tambah Pak Wali Kelas lagi, membuat para murid bersorak sorai. Mereka mengenali Edward yang datang ke pesta ulang tahun Elaine minggu lalu, bahkan mendapat potongan kue pertama dan berdansa dengan Elaine.
“Mereka pacaran!” Kabar panas langsung beredar ke seantero kelas. Jangan heran bila setelah ini, kabar ini akan beredar di seluruh kelas di sekolah.
Edward dengan wajah senang langsung duduk disamping Elaine. Sedangkan Michelle dengan wajah tertekuk terpaksa pindah ke samping Oliver. Ia kehilangan Elaine, sekaligus tidak bisa berdekatan dengan Edward. Ah, sial sekali nasibnya.
🌻🌻🌻
Mata pelajaran hari ini sudah selesai. Edward dan Elaine sudah sedikit lebih akrab. Edward ternyata anak yang pandai dan pintar berkomunikasi dengan orang lain. Elaine menjadi nyaman dan ‘nyambung’ bila ngobrol dengan Edward.
Mereka berempat sedang berjalan meninggalkan kelas menuju ke tampat parkir mobil. Edward pulang dengan dijemput supirnya. Rencananya Elaine akan ikut mobil Edward, Edward akan mengantarnya pulang.
Sejak SMA, Elaine sudah jarang dijemput oleh Mama Angel, ia hanya diantar saja setiap pagi.
Setibanya di tempat parkir, mereka berpisah dengan Oliver dan Michelle. Michelle selalu diantar jemput oleh Oliver karena rumah mereka berdekatan. Wajah Michelle mendung, dia sedih melihat Elaine berduaan dengan Edward.
Tiba-tiba, Elaine seperti merasa seseorang sedang memperhatikannya dari belakang. Sontak, ia menoleh.
“Ellio!” Serunya tertahan. Dilihatnya Ellio sudah bersandar di pintu gerbang sekolahnya.
Elaine, yang sudah memegang pintu mobil Edward yang sudah terbuka, menjadi terpaku.
Wajah Ellio terlihat kecewa, ia langsung berdiri tegak dan membalikkan badannya, berjalan menjauhi gerbang sekolah.
“Ellio!” Teriak Elaine. Ia langsung membanting pintu mobil Edward dan ingin berlari menghampiri Ellio.
“Elaine, tunggu!” Edward menangkap tangan Elaine dan menariknya. “Kita akan pulang sama-sama, kan?” Ujarnya lagi.
“Nanti saja!” Jawab Elaine, ia menyentak tangan Edward dan segera berlari ke arah Ellio yang sudah semakin jauh.
__ADS_1
“Ellio! Ellio!” Elaine berteriak-teriak sambil berlari menyusul Ellio. Tapi Ellio seperti tuli, ia tetap berjalan menjauhi pagar sekolah dan juga Elaine. Kekecewaan sudah memenuhi hati dan kepalanya. Terbayang tadi dilihatnya Elaine dan Edward berjalan beriringan dengan begitu dekat dan akrab. Dan Elaine langsung mengarah ke mobil Edward, sepertinya Edward akan mengantar Elaine pulang hari ini.
“Elliooo!!” Seru Elaine kalap sesampainya di pagar sekolah. Punggung Ellio masih terlihat namun begitu jauh, tidak mungkin Elaine mengejarnya lagi. Napasnya sudah tersengal-sengal, Elaine sudah kelelahan.
Air mata jatuh di pipi Elaine. Ia sedih Ellio meninggalkannya. Elaine terduduk di pinggir jalan, dia menangis diam-diam.
Seseorang menyentuh bahunya. Elaine tersentak dan mendongakkan kepalanya. Ternyata Edward.
“Ayo, aku antar kamu pulang.” Ujar Edward pelan.
Elaine menggeleng kepalanya sambil mengelap air matanya. Ia merasakan kekecewaan Ellio. Ia merasa bersalah, menerima ajakan Edward sebegitu mudahnya. Padahal Ellio sangat sering menjemputnya. Elaine merasa, ia melupakan Ellio kali ini.
“Aku mau pulang sendiri. Kau pulanglah.” Jawabnya dengan suara bergetar.
“Nggak mungkin aku meninggalkan kamu sendirian di pinggir jalan. Ayolah, aku antar kamu pulang.” Edward berbicara dengan lembut, dia meraih tangan Elaine. Elaine segera menepisnya.
“Tidak usah! Pulanglah!” Ujarnya keras. Edward tersentak mendengar kerasnya suara Elaine. Elaine tersadar, ia segera berusaha menguasai emosinya.
Ia segera berdiri dan membersihkan roknya dari pasir-pasir jalan. “Aku pulang dulu, kau juga pulanglah.” Segera setelah berkata demikian, Elaine berjalan meninggalkan gerbang sekolah.
“El.” Edward masih tetap berusaha menahan Elaine untuk pulang bersamanya. Ia kembali menggenggam tangan Elaine.
“Edward!” Elaine kembali menepis tangan Edward, namun kali ini genggaman Edward cukup keras. Tepisan Elaine tidak berhasil. Hasilnya terjadi tarik menarik antara Elaine dan Edward.
Elaine mulai meringis, tangannya mulai terasa sakit. “Edward, sakit!” Rintih Elaine.
Tiba-tiba seseorang menyentak bahu Edward dengan cukup keras, membuat tubuh Edward terjajar kebelakang dan genggaman tangannya sontak terlepas.
“Ellio!” Seru Elaine. Dilihatnya Ellio dengan tatapan marah yang tertuju ke Edward. Edward yang terkejut juga menatap tajam ke Ellio.
Elaine segera mendekap lengan Ellio, ia bermaksud meredam amarah Ellio. Elaine berhasil, Ellio menoleh menatap Elaine.
Ellio dan Elaine berjalan pulang dalam kebisuan namun tetap bergandengan. Elaine takut mengeluarkan suaranya. Walaupun Ellio belum pernah memarahinya, namun mengingat raut wajah marah Ellio tadi Elaine merasa takut. Ia semakin keras menggenggam tangan Ellio.
Ellio menoleh ketika merasakan remasan ditangannya semakin keras. Dia menoleh dan melihat wajah Elaine yang penuh kekhawatiran.
Ellio menepuk-nepuk tangan Elaine perlahan sambil menganggukkan kepalanya perlahan. Seorah-olah berusaha menenangkan Elaine, menunjukkan bahwa ia tidak marah. Padahal sebenarnya, Ellio menahan perasaannya.
🌻🌻🌻
Ellio mengacak-acak rambutnya frustasi. Ia terbayang-bayang wajah Elaine dan Edward, berganti-gantian.
Apa anak itu suka pada Elaine? Lalu aku bagaimana? Mau dikemanakan perasaan ini?
Ellio membanting kakinya kesal. Ia sedang berada di rumahnya, di bunga matahari raksasa di ladang bunga matahari.
Aku ga bisa bisa melepaskan Elaine, dia milikku!
Ellio terbayang pada saat Elaine masih menjadi Peri Melva dulu. Kebaikan Peri Melva yang membuat Jung Yun berhutang budi. Lalu betapa Jung Yun menderita seumur hidupnya karena menantikan kedatangan Peri Melva. Cintakah itu? Cinta seumur hidupnya, karena sampai kematiannya, Jung Yun tidak pernah lagi bertemu Peri Melva.
Lalu Ellio yang mengembara ribuan tahun demi mencari reinkarnasi Melva. Ribuan tahun kerinduan dalam pencarian, terobati saat ia menemukan seorang anak yang sakit-sakitan.
Perjuangannya melawan kemarahan Apolo dalam mengumpulkan serbuk bunga matahari. Menghadapi fitnahan Rose.
Apakah sekarang semua ini akan dikalahkan oleh seorang Edward?
Ellio menggeleng-gelengkan kepalanya. Tidak! Aku harus berjuang! Elaine harus menjadi milikku! Aku yakin, sebagian besar hatinya sudah jadi milikku, karena ia tidak pernah menolakku.
__ADS_1
Ellio kembali membayangkan Edward. Kecemburuannya memuncak. Ia bertekad, ia harus memiliki Elaine. Ia tidak rela patah hati.
🌻🌻🌻
Malam ini, hujan rintik-rintik. Elaine sedang duduk di depan meja riasnya, bercermin sambil menyisiri rambutnya sebelum tidur.
Kejadian hari ini terlintas lagi di pikirannya. Edward yang mulai bersekolah di sekolahnya, dalam kelas yang sama. Edward yang semakin dekat dengannya. Dan yang terakhir, kemarahan Ellio. Kemarahan… Atau, cemburu?
Sedang asyik-asyiknya melamun, Elaine mendengar benturan kerikil kecil di pintu terasnya.
Trik! Trik!
Elaine menoleh dan berpikir, mengapa hujan belum deras tapi serpihan tanah sudah sampai ke teras? Perlahan, Elaine berjalan menuju teras kamarnya.
Elaine terkejut ketika ia sudah menyibakkan tirai pintu terasnya. Tampak Ellio berdiri disana, tubuhnya setengah basah karena hujan. Elaine segera membuka pintu terasnya.
“Ellio!” Bisiknya tertahan, ia takut suaranya terdengar oleh papa dan mama. Segera ditariknya tangan Ellio untuk masuk kekamarnya. Elaine menepuk-nepuk pipi Ellio yang dingin.
“Kenapa kamu kesini? Hujan-hujanan begini? Pipi kamu dingin! Sebentar ya, aku ambilkan handuk.” Elaine bergegas memutar tubuhnya, akan mengambilkan handuk untuk Ellio.
Ellio menangkap tangan Elaine sebelum Elaine bergerak menjauhi Ellio. Elaine kembali menoleh ke Ellio.
“Aku mencintai kamu. Jangan tinggalkan aku. Jangan acuhkan aku karena orang lain yang baru hadir di hidup kamu.” Ucapnya pelan. Kepala Ellio menunduk, tidak seperti Ellio yang biasanya yang ceria, kali ini ia terlihat begitu sedih dan ketakutan.
Elaine menelisik wajah Ellio, kemudian menyentuh pipinya. Ellio mengangkat wajahnya ketika merasa Elaine mengelus pipinya.
“Kenapa kamu serapuh ini? Siapa yang akan meninggalkan kamu? Siapa yang mengacuhkan kamu?” Tanyanya lembut.
Ellio terdiam mendengar jawaban Elaine. Ia hanya menatap mata Elaine yang bersinar ramah.
“Sekarang aku mengerti. Kamu mengkhawatirkan aku? Kamu cemburu?” Tanya Elaine lagi. Ellio menatap mata Elaine tanpa berkedip.
“Aku tahu siapa penyebabnya.” Sambung Elaine lagi. “Edward?”
Ellio tersentak, ia langsung menarik Elaine ke pelukannya. Dipeluknya Elaine sedemikian keras seperti takut kehilangan.
“Aku mencintai kamu. Jangan tinggalkan aku. Jangan acuhkan aku. Aku tidak bisa kehilangan kamu.” Bisiknya sendu, kemudian ia terisak. Nama Edward seperti sebuah ancaman besar untuknya.
Elaine membalas memeluk Ellio. Tidak dipedulikannya basah di baju Ellio mulai membasahi bajunya juga.
“Aku tidak akan meninggalkanmu. Jangan khawatirkan aku, Ellio. Aku akan tetap disini.” Bisik Elaine, kemudian dia merenggangkan pelukan Ellio.
Elaine mengambil handuknya yang tergantung di kamar mandi. Dibawanya menuju Ellio, lalu dengan perlahan diusapnya rambut, wajah, tangan dan baju Ellio yang basah karena hujan dengan handuk itu. DItariknya Ellio dan didudukkannya di kursi meja riasnya agar Elaine dapat mengeringkan rambut Ellio.
Elaine bekerja dalam diam. Setelah selesai, dilihatnya Ellio sudah tertidur dalam posisi terduduk.
“El, ayo pindah ke ranjang.” Bisik Elaine sambil menarik tangan Ellio. Ellio menurut dan meletakkan tubuhnya di ranjang Elaine. Ia merasa tubuhnya begitu lelah hari ini.
“Kemarilah.” Ujar Ellio sambil mengulurkan tangannya ke arah Elaine yang ragu-ragu. Ellio cepat meraih tangan Elaine dan menariknya, membuat Elaine terduduk disisi ranjangnya.
“Jangan khawatir, aku tidak akan berbuat apa-apa. Aku hanya ingin memelukmu, bolehkan?” Tanyanya pelan.
Elaine terdiam, berpikir sejenak. Kemudian ia tersenyum, menganggukkan kepalanya.
“Kalau kau macam-macam, aku akan menjerit!” Ujarnya sambil tertawa.
Ellio tersenyum, ia tidak bisa lagi menjawab kelakar Elaine. Ia merasa begitu lelah. Ditariknya pelan tangan Elaine sampai gadis itu terbaring disisinya, lalu Ellio memeluknya. Kepala Elaine seluruhnya berada di pelukan Ellio, bersandar di dadanya. Tangan Ellio mengelus-elus rambut Elaine, lalu berpindah ke punggungnya.
__ADS_1
Sekali lagi Elaine merasa begitu nyaman berada dipelukan Ellio. Sama seperti saat mereka melewati malam di tenda di halaman depan teras kamarnya, Elaine segera jatuh terlelap.