Kaulah Matahariku

Kaulah Matahariku
Kenekadan Edward


__ADS_3

Tengah malam, sesosok tubuh pria mengendap-endap masuk ke kamar Elaine. Dengan sangat perlahan, ditutupnya kembali pintu kamar dan ia mngeluarkan anak kunci dari sakunya. Dengan sangat hati-hati dikuncinya pintu kamar tanpa mengeluarkan suara.


Setelah mengunci pintu, sosok itu mendekati Elaine yang sudah tertidur nyenyak di ranjangnya. Ia membuka seluruh pakaiannya sendiri, lalu dengan perlahan naik ke atas ranjang. Ditangannya, ia membawa seutas tali dan kain.


Perlahan-lahan ia menarik selimut Elaine. Dipandanginya Elaine yang tidur dengan baju tidur berbentuk  daster mini. Ia menggenggam kedua pergelangan tangan Elaine, lalu diangkatnya kedua tangan Elaine dan diikatnya di uliran jeruji yang berfungsi sebagai kepala ranjang.


Elaine merasa tubuhnya berat tertindih sesuatu, dan tangannya tidak dapat digerakkan. Ketika Elaine membuka matanya, betapa terkejutnya dia melihat sesosok pria sudah ada diatas tubuhnya.


“Aaa.. Mmmm…” Orang itu langsung membekap mulut Elaine dengan tangannya. Lalu dengan terburu-buru, ia berusaha mengikat mulut Elaine dengan kain yang ia bawa untuk membungkamnya. Elaine terus meronta sambil memperhatikan wajah pria itu. Edward!


“Mmm… Mmm…” Elaine hanya dapat menggumam marah. Ia masih meronta, mau melepaskan diri dari dekapan Edward. Edward pun terus berusaha menyumpal dan mengikat mulut Elaine, agak kesulitan karena Elaine terus memberontak.


Sampai akhirnya, Edward berhasil membungkam Elaine sekaligus mengikat tangannya. Edward sudah terengah-engah kelelahan, Elaine juga sudah kehabisan tenaga karena terus memberontak. Namun Elaine tersentak terkejut, ketika tiba-tiba Edward menyusupkan tangannya kebawah daster mini Elaine yang memang tersibak keatas karene gerakan perlawanannya tadi.


“Mmm.. Mmm!!” Elaine kembali memberontak lagi. Dengan tidak sabar, Edward menyisipkan kedua lututnya diantara dua kaki Elaine lalu merenggangkannya, hingga kini Elaine dalam keadaan mengangkang. Lalu dengan cepat ia menarik turun bagian atas daster Elaine hingga bagian dada Elaine terbuka.


Elaine kembali menjerit ketika Edward menyentuh tubuhnya, membelai dan meremas bagian yang ia inginkan. Elaine menggelengkan kepalanya, tidak terima tubuhnya disentuh orang lain selain Ellio.


Ellio! Elaine tersentak. Ia menjerit dalam hati. Elliooo!


“Ele, maafkan aku…” Bisik Edward di telinga Elaine. “Aku terpaksa melakukan ini. Aku hanya ga mau kamu meninggalkan aku…” Ujarnya lagi sambil memposisikan tubuhnya, membuat Elaine membuka lebar matanya. Ia merasa tangan Edward di bawah sana sudah mulai menyibak pakaian dalamnya. Daerah intinya terasa ditekan oleh sesuatu yang keras.


“Maafkan aku, Ele…” Desis Edward lagi, lalu mulai menekan tubuhnya ke tubuh Elaine.


Elaine memekik. “Ellioooo!!”


Tiba-tiba seseorang menjambak rambut Edward, lalu menghempaskannya ke lantai. Tubuh Elaine tersentak keatas karena Edward saat itu masih mendekap tubuhnya.


Elaine membuka matanya. Ellio!


Ellio menyerbu Edward yang masih terkapar di lantai.


Bug! Bug! Ellio mendaratkan beberapa pukulan di wajah Edward, lagi dan lagi, hingga akhirnya Edward pingsan. Setelah itu Ellio menuju ke Elaine, melepaskan ikatan tangannya dan memeluknya.


“Ellio, dia… Dia…” Elaine menangis di pelukan Ellio. Ellio mengelus-elus kepalanya dan tangannya berusaha merapikan baju Elaine yang berantakan.

__ADS_1


Elaine tersentak. Dengan tangan gemetar, ia meraba bagian intinya. Agak perih, namun tidak berdarah. Elaine segera berdiri dari ranjang dan menyingkirkan selimutnya, lalu memeriksa ranjangnya. Tidak ada tetesan darah disana. Elaine menarik napas lega.


Ellio segera memeluknya lagi. “El, El, sudah ya. Ga apa. Sudah El, ga apa.” Ellio berusaha menenangkan Elaine.


Bug! Bug Bug!


“Elaine? Elaine? Ada apa, Nak?” Tiba-tiba terdengar gedoran pintu dan suara Mama Rosa.


Elaine menatap ketakutan ke Ellio. “Bagaimana ini?” Tanya Elaine.


“Ceritakan semuanya.” Jawab Ellio, kemudian ia berubah menjadi peri kecil dan bersembunyi di meja belajar Elaine.


Elaine membuka pintu kamarnya. Tampak Mama Rosa dan Papa Hans di depan pintu kamar dengan wajah khawatir. Mata mereka membesar ketika melihat betapa berantakannya baju Elaine.


“Tante…” Elaine memeluk Mama Rosa sambil menangis.


Papa Hans menyerbu masuk ke kamar Elaine dan menyalakan lampunya. Matanya terbelalak melihat Edward dalam keadaan telanjang terkapar pingsan di lantai.


“Anak kurang ajar! Bikin malu saja!” Papa Hans menampar anaknya, membuat Edward gelagapan terbangun.


“Papaaa.. Papa, jangan!!” Mama Rosa menyerbu masuk, berusaha memisahkan Papa Hans yang sedang memukuli Edward.


“Edward.. Edward melecehkan saya, Tante.” Sahut Elaine sambil menangis.


Papa Hans dan Mama Rosa terbelalak, lalu segera menghampiri Elaine dan memeluknya.


“Kamu ga apa, Nak? Apakah Edward sudah… Sudah, itu.. Nggg…” Mama Rosa kebingungan bagaimana membuat Elaine mengerti apa yang dia maksud.


Elaine menggelengkan kepalanya. “Nggak Tante, saya… Saya.. Ngg…” Elaine mengedarkan matanya ke keadaan kamarnya yang seperti kapal pecah. Tiba-tiba matanya tertumbuk pada vas bunganya yang pecah dilantai, sepertinya terjatuh waktu Elaine memberontak tadi.


“Saya pukul Edward dengan vas itu, Tante, jadi dia pingsan.” Ujar Elaine sekenanya. Papa Hans dan Mama Rosa mengangguk mengerti, sedangkan Edward mengernyitkan dahinya bingung. Edward yakin, tadi dia dipukul seseorang, bukan dihantam dengan vas bunga.


Papa Hans menyeret Edward keluar kamar Elaine, ia menghajar anaknya dikamarnya sendiri. Tante Rosa beberapa kali mengucapkan maaf, dan berjanji akan membahas hal ini besok pagi. Sesudah itu mereka meninggalkan Elaine sendirian di kamarnya.


Elaine kembali termenung dalam sepi, Kejadian tadi berputar ulang di kepalanya, mengingatkannya bagaimana Edward menyentunya tadi. Elaine menggosok-gosok tubuhnya, ingin menghilangkan jejak sentuhan Edward di kulitnya.

__ADS_1


Hap! Tiba-tiba sepasang tangan mendekapnya dari belakang. Ellio!


Elaine memutar tubuhnya, berdiri menghadap Ellio. Ia menyerusukkan wajahnya di dada Ellio dan memeluk pinggangnya.


“El, aku sudah kotor.” Bisiknya, matanya berkaca-kaca.


Ellio menengadahkan wajah Elaine, lalu ia tersenyum. “Kotor? Dimana?” Tanyanya sambil memutar-mutar tubuh Elaine. Lalu ia menangkap tubuh Elaine dan mendekapnya. “Mau aku bersihkan?” Tanyanya sambil berbisik di telinga Elaine, membuar Elaine meremang.


Cup! Dia mengecup telinga Elaine. Tadi Edward juga sempat mencium telinga Elaine.


“Dimana lagi?” Tanya Ellio.


Cup! Dia mencium pipi Elaine, ketika Elaine menunjuk pipinya. Tadi Edward juga menciumnya disitu.


Cup! Cup! Cup! Segera bertebaran kecupan dari Ellio, di bibir, leher, dada, sampai ketiak Elaine, membuat Elaine terkikik.


“Tadi dia ga menciumku disitu!” Plak! Elaine memukul Ellio ketika Ellio mencium ketiaknya.


“Ya kalau yang itu, tadi aku yang mau.” Goda Ellio, membuat Elaine tersenyum


“Kalau yang ini?” Tanya Ellio sambil tangannya mulai meraba perut Elaine dan terus bergerak kebawah.


Plak! Elaine memukul tangan Ellio lagi.


“Jangan aji mumpung ya, kamu! Itu jatahmu kalau kita sudah menikah nanti!” Bisik Elaine sambil tersipu.


Ellio tertawa, ia kembali mendekap Elaine ke dadanya dan mengelus rambutnya.


“Mulai sekarang, aku akan menjagamu lebih ketat lagi. Edward sudah punya niat jahat padamu, aku sudah tidak bisa mempercayainya lagi. Aku tidak menyangka dia senekat itu.” Ujar Ellio sambil terus mengelus rambut Elaine.


“Kenapa dia bisa seperti itu? Aku memarahinya seharian ini, dia tidak melawan.” Tanya Elaine, sambil menikmati belaian di kepalanya.


“Aku tahu siapa penyebabnya.” Ellio mengeraskan bibirnya. “Aku akan menghajarnya nanti.”


Elaine menganggukkan kepalanya sambil memejamkan mata.

__ADS_1


“El, kamu mau temani aku disini kan? Aku takut tidur sendirian, ranjang itu membawa memori buruk buatku.” Ujar Elaine pelan, semakin menyusupkan kepalanya di dada Ellio. Memang, setiap ia melihat ranjang itu, ia teringat tindakan nekad Edward.


Ellio menganggukkan kepalanya. “Mulai malam ini, aku akan tidur denganmu. Lusa aku sudah akan membawamu, tinggal dua malam lagi. Aku tidak akan memberikan peluang lagi pada Edward untuk menghancurkan hubungan kita.” Ellio mengecup kepala Elaine, lalu menariknya ke ranjang, membaringkan Elaine dan menutupi tubuhnya dengan selimut. Ellio berbaring disebelah Elaine, lalu memeluknya hingga Elaine tertidur.'


__ADS_2