Kaulah Matahariku

Kaulah Matahariku
Penolakan Papa dan Mama


__ADS_3

“Elaine!! Sedang apa kalian!” Teriak Mama Angel, histeris melihat anak gadisnya sedang dipeluk pemuda tidak yang tidak dikenalnya. Apalagi, pemuda itu hanya menggunakan celana pendeknya.


Elaine dan Ellio sontak melepas pelukan mereka, terkejut oleh bunyi hempasan pintu dan juga teriakan mama.


Mata mama memindai Ellio dari atas kebawah, berkali-kali. Membuat Ellio risih, hingga akhirnya dia perlahan-lahan meraih kemeja sekolahnya dan memakainya. Mata mama membesar melihat setiap gerak gerik Ellio.


“Kalian berdua, ikut Mama!” Ketusnya, lalu berjalan meninggalkan kamar Elaine. Elaine menatap Ellio, ketakutan.


“Ellio, bagaimana ini…” Elaine sudah hampir menangis ketakutan. Didepan matanya terbayang kemarahan papa dan mamanya.


“Sabar ya, Sayang. Kita hadapi berdua.” Ellio menggenggam tangan Elaine dan menariknya untuk mengikuti langkah mama. Elaine tertegun, merasa agak tenang dan terhibur dipanggil ‘sayang’ oleh Ellio.


Ellio dan Elaine duduk berdampingan di sofa ruang tamu, melihat kearah mama yang sedang menelepon. Elaine sudah memperkirakan, pasti mama akan mengadukan mereka pada papa.


Mama duduk di sofa depan Elaine dan Ellio. Matanya yang tajam melihat dengan tatapan tidak suka pada tangan Elaine dan Ellio yang masih terkait. Perlahan, Elaine melepaskan genggamannya dari tangan Ellio. Ellio hanya melirik sekilas pada kaitan tangan mereka yang sudah terlepas.


“Kamu siapa?” Tanya mama datar sambil menatap Ellio.


“Saya Ellio, Tante.” Ujar Ellio, pelan namun tegas.


Mama mengernyitkan keningnya seperti mengingat-ingat sesuatu. Kemudian matanya membesar, sepertinya ingatannya sudah kembali.


“Ellio? Kamu Ellio yang di rumah sakit dulu?” Seru mama. Ellio menganggukkan kepalanya.


“Sudah lama sekali! Sudah berapa lama kita tidak bertemu?” Tanya mama lagi.


“Delapan tahun, Tante.” Jawab Ellio lagi. Elaine menoleh heran pada Ellio, namun akhirnya ia ingat cerita Ellio kemarin. Ellio selalu terbang melewati tembok pagar, tidak pernah masuk melalui pintu utama rumah. Berarti selama ini Ellio tidak pernah bertemu papa dan mama.


“Kenapa kamu ada di kamar Elaine? Kamu masuk dari mana?” Tanya mama bingung, namun kemarahan masih belum hilang dari hatinya.


“Maaf, Tante, saya tidak sengaja. Tadi sedang belajar dengan Elaine…” Ellio mulai kebingungan menyusun alur alibi. Elaine melirik ke arah Ellio, jantungnya mulai berdebar karena ketakutan.


“Belajar sambil buka baju?” Tanya mama lagi, memojokkan Ellio.


“Ngg… Panas, Tante…” Ujar Ellio ragu-ragu. Elaine hanya bisa menunduk. Habislah semuanya, apa perlu jujur ke Mama?


“Elaine?” Tanya mama, tatapannya beralih ke Elaine.


“Ngg… Sebenarnyaa… Ellio… Dia bukan… Ngg…” Elaine ikut tergagap sambil melirik Ellio. Ellio memandangnya tajam, seakan-akan melarang Elaine berbicara yang sebenarnya.


Tin! Tin!


Deg! Jantung Elaine terasa berhenti. Papa pulang! Pasti papa pulang karena telepon dari mama. Aduh, bagaimana ini… Elaine *******-***** jarinya sendiri.

__ADS_1


Klik! Papa berjalan cepat dengan tangan terkepal, masuk ke ruang tamu. Benar saja, wajahnya memerah karena marah. Pandangan matanya langsung terarah ke Ellio.


“Pa…” Ujar Elaine takut bercampur khawatir. “Pa… Pa! Paaa!!”


Bug! Papa langsung menonjok Ellio. Ellio terbanting, terduduk kembali ke sofa.


“Anak kurang ajar! Apa yang kau lakukan pada Elaine?” Teriak papa penuh kemarahan.


“Papaa… Kami ga ngapa-ngapain!” Seru Elaine sambil menangis. Ia memegang bahu Ellio yang masih terbaring di sofa.


“Kamu juga!” Papa kini menghardik sambil menunjuk wajah Elaine. “Papa tidak menyangka punya anak tidak tahu malu seperti kamu! Kamu berani menyembunyikan lelaki di dalam kamar, hah? Papa ga sangka, Elaine! Benar-benar ga sangka! Darimana kamu belajar jadi perempuan ga benar, hah? Dari dia?” Teriak papa sambil menunjuk Ellio.


“Papa! Papa! Dia Ellio!” Seru mama, berusaha mengingatkan papa. Papa terpaku, mengingat-ingat. Sepertinya dia mengenal nama itu.


“Dia Ellio, yang dulu memberikan serbuk bunga matahari untuk Eline!” Seru mama lagi. Papa langsung menoleh dengan cepat, melihat ke arah Ellio.


“Kamu Ellio? Ellio yang dulu…” Ujarnya pelan.


Ellio menganggukkan kepalanya, dia berusaha berdiri lagi.


“Maafkan saya, Om. Kami tidak berbuat apa-apa, Om jangan marahi Elaine. Kami memang salah karena berduaan dikamar, tapi Om bisa cek semuanya, kami nggak berbuat mesum. Saya sayang Elaine, Om, kami sudah resmi bersama. Saya akan bertanggung jawab atas Elaine.” Jawab Ellio, memanfaatkan kesempatannya berbicara untuk menjelaskan mengenai hubungannya dengan Elaine kepada Papa Ryan dan Mama Angel.


“Tapi tidak begitu juga caranya!” Geram papa, masih marah. “Kalau kamu sayang Elaine, bilang pada Om dan Tante. Walaupun dulu kamu yang menyelamatkan Elaine, bukan berarti kamu bisa seenaknya menyelinap ke kamar Elaine. Kamu sudah merusak nama baiknya sebagai seorang gadis baik-baik!”


“Saya akan bertanggung jawab, Om. Apa yang perlu saya buat untuk mempertanggungjawabkan kesalahan saya?” Tanya Ellio lagi, berusaha meredam kemarahan papa sekaligus mencari solusi.


“Saya yatim piatu.” Ujar Ellio cepat.


“Oh?” Papa Ryan terkejut. “Kalau begitu, Nenekmu masih ada?”


“Sudah ga ada, Om.” Ujar Ellio lagi.


“Om atau tante dari pihak papamu atau mamamu?” Tanya Papa Ryan lagi.


“Semua sudah tidak ada.” Jawan Ellio pelan.


“Lalu siapa yang bisa saya temui?” Tanya Papa Ryan bingung.


“Saya sepenuhnya bertanggung jawab atas tindakan saya, Om. Saya sudah delapan belas tahun.” Tutur Ellio lagi.


Papa Ryan melotot kesal. “Apa kamu serius? Jangan main-main! Om akan tetap mencari walimu untuk menyelesaikan masalah ini! Dimana rumahmu?” Serunya gusar.


Ellio terdiam. Dia bingung bagaimana mau menjelaskannya pada Papa Ryan. Tidak mungkin dia menunjukkan rumahnya di ladang bunga matahari.

__ADS_1


“Om tunggu keseriusan kamu. Kalau tidak ada walimu yang bisa berbicara dengan Om, jangan harapkan kamu bisa bertemu lagi dengan Elaine! Om tidak mau putri Om berhubungan dengan orang yang tidak jelas!” Papa Ryan mengancam Ellio.


“Papaa… Jangan seperti itu…” Elaine menangis tersedu, memohon pada papanya.


“Sekarang kamu keluar! Kamu baru boleh kembali kalau kamu datang dengan walimu!” Usir Papa Ryan sambil menunjuk pintu rumahnya.


“Papaa.. Jangan usir Ellio…” Elaine menangis, berusaha memeluk Ellio. Mama Angel menghampiri putrinya dan memeluknya, lalu menariknya menjauhi Ellio. Elaine memberontak namun mama terus menarik Elaine menuju kamarnya.


“Elliooo..” Elaine masih menangis, masih sempat menoleh ke Ellio.


Ellio menatap sedih ke Elaine, ia tidak tahan melihat air mata Elaine. Sesaat kemudian dia berseru, “Aku akan kembali!”


Ellio menatap Papa Ryan, kemudian menundukkan kepalanya. “Saya pamit, Om.”


Papa tidak membalas sapaan Ellio. Ia hanya terdiam sambil memperhatikan Ellio yang berjalan keluar dari rumahnya.


🌻🌻🌻


Malam harinya.


Elaine menelungkupkan tubuhnya di ranjangnya. Ia tidak mengira, papa dan mama sangat keras pada Ellio walaupun sudah tahu yang ada di kamarnya adalah Ellio yang telah menyelamatkannya.


Elaine mengusap air matanya. Ia ingin bertemu Ellio. Ellio terluka, tadi Elaine melihat hidung dan bibir Ellio terluka karena dipukul papa. Elaine juga ingin membuat rencana dengan Ellio, bagaimana caranya agar papa dan mama mau menerima Ellio.


Trik! Trik! Bunyi ketukan lembut di kaca pintu teras kamar Elaine.


Ellio! Elaine berseru dalam hati sambil melompat dari ranjangnya, ia berlari menuju terasnya.


Elaine segera menghambur ke pelukan Ellio ketika melihat Ellio berada di terasnya. Ellio mengelus-elus rambut dan bahu Elaine yang bergetar karena tangisan Elaine.


“Stt… Jangan ribut.. Nanti kedengaran Papa dan Mama…” Bujuk Ellio sambil terus mengelus rambut Elaine.


Tangis Elaine sedikit mereda. Ia merenggangkan pelukan mereka, lalu memperhatikan wajah Ellio.


“Kamu ga apa? Kamu tadi terluka.” Ucapnya dengan suara serak.


Ellio menoleh-nolehkan wajahnya, memperlihatkan wajahnya. Tidak ada luka sama sekali.


“Peri itu bisa sembuh dengan cepat. Aku sudah ga apa, kamu jangan menangis lagi, ya?” Bujuk Ellio sambil tersenyum.


“Papa dan Mama ga mau terima kamu, bagaimana ini? Apa perlu kita pergi saja dari sini?” Tanya Elaine lagi.


Ellio menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


“Jangan meremehkan restu orang tua. Pelan-pelan, kita ambil hati Papa dan Mama ya? Kita juga masih harus menghadap Apolo, Penguasa Matahari. Kita pasti bisa.” Ucap Ellio, berusaha meyakinkan Elaine.


Elaine mengangguk dalam pelukan Ellio. Elaine berjanji akan belajar untuk jadi lebih kuat menghadapi penghalang hubungan mereka.


__ADS_2