
Elaine merasa tubuhnya begitu dingin. Sangat dingin. Begitu dingin sampai akhirnya ia menggigil.
Telinganya menangkap suara-suara disekitarnya, begitu ramai. Suara langkah kaki berderap-derap juga terdengar.
Sayup-sayup terdengr suara orang memanggil-manggil namanya. Elaine berusaha mengenali suara itu. Suara papa dan mama.
Perlahan Elaine membuka matanya. Samar, mulai tampak wajah mama yang penuh air mata dan wajah papa yang tersenyum.
“Mama?” Tanya Elaine bingung. Mama menganggukkan kepalanya sambil menangis terharu.
“Iya, Nak. Mama disini.” Ucapnya penuh haru, lalu memeluk dan menciumi wajah Elaine. Elaine tersenyum ditengah badai kecupan dari mama.
“Aku sayang Papa dan Mama. Maafkan kalau selama ini aku banyak membuat Papa dan Mama repot dan menderita.” Bisik Elaine ditelinga mama yang sedang menempelkan pipinya ke pipi Elaine.
Mama menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, namun matanya masih mengalirkan air mata. “Elaine tidak merepotkan kami. Elaine anak yang baik. Cepat sembuh untuk Papa dan Mama ya, Nak?” Bisik mama lagi sambil mengelus kepala Elaine.
Papa, yang dibisiki mama mengenai kata-kata Elaine, juga mendekat dan menciumi wajah Elaine. “Papa juga sayang Elaine, kami bahagia punya anak yang begitu bersemangat hidup seperti Elaine. Cepat sembuh ya, Papa dan Mama selalu menunggu Elaine cepat pulih seperti kemarin.” Bisik papa yang akhirnya ikut meneteskan air mata haru.
Elaine mengangguk dan memejamkan matanya. Ia masih merasa lelah dan ingin kembali tidur. Dokter meminta papa dan mama untuk sejenak meninggalkan kamar karena dokter ingin melakukan pemeriksaan lebih lanjut pada Elaine.
🌻🌻🌻
Setelah Elaine dinyatakan sudah sepenuhnya sadar, ia dipindahkan dari ruang ICU ke ruang inap biasa. Ia beristirahat diruangan inap hingga dianggap pulih total. Ternyata, selama jiwa Elaine dibawa pergi oleh Rose, ia telah berada dalam keadaan koma selama enam hari.
Di ruang inap biasa, Elaine banyak beristirahat dan banyak berpikir, terutama mengenai Ellio. Sudah beberapa hari ini Elaine belum keluar dari kamarnya walaupun dokter telah menijinkan, asalkan Elaine menggunakan kursi roda. Hatinya masih sedih memikirkan nasib mereka berdua yang konon katanya tidak bisa bersatu.
Ellio masih mau berjuang untuk hubungan kami, bagaimana denganku? Aku belum menjawab Ellio waktu dia bilang dia menyukaiku. Bagaimana ini, apakah aku harus menjawabnya setelah kenyataan yang diperlihatkan oleh Rose?
Tok… tok…
Elaine menoleh kepintu ketika mendengar suara ketukan pintu. Dilihatnya Edward berdiri didapan pintu sambil tersenyum.
Elaine tersenyum dan melambaikan tangannya, memanggil Edward untuk masuk.
“Hai!” Sapa Edward saat ia telah masuk ke kamar Elaine. Elaine menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Edward meletakkan buah-buahan yang dibawanya di meja sofa yang ada diruangan itu.
“Apa kabarmu? Bagaimana, sudah enakan?” Tanya Edward sambil duduk di kursi yang ada disamping ranjang Elaine. Elaine mengangguk lagi.
“Sudah jauh lebih baik. Kamu sendiri gimana, apa kabar?” Tanya Elaine.
“Aku sepi, duduk sendiri di kelas.” Edward tertawa menjawab pertanyaan Elaine. Elaine juga tertawa.
“Aku kemari beberapa hari yang lalu, tapi kamu belum sadar, masih di ICU.” Ucap Edward lagi. “Sebenarnya ada apa, kenapa kamu bisa pingsan begitu?” Tanya Edward penasaran.
Elaine menggelengkan kepalanya. “Aku ga tahu, aku hanya merasa kepalaku sangat sakit. Lalu aku pingsan. Begitu saja. Itu yang aku tahu dari Mama.” Ujar Elaine.
__ADS_1
Edward menanggukkan kepalanya. “Lalu, sekarang bagaimana? Setelah di ICU, sudah tiga hari kau dikamar ini. Apa kau ga bosan?” Ucapnya lagi.
Elaine tersenyum tipis. “Aku istirahat saja. Rasanya memang aku kelelahan.” Ucap Elaine sekenanya. Ia tidak ingin banyak membuka pikirannya ke Edward.
Edward tersenyum mendengar jawaban Elaine. Selanjutnya mereka berbicara dengan topik apa saja, mulai dari mata pelajaran sekolah hingga kegiatan Edward di luar jam sekolah.
Saat mereka sedang mengobrol, Mama Angel datang. Ia tersenyum melihat Edward ada dikamar itu. Edward sendiri segera berdiri dan menundukkan kepalanya kepada Mama Angel.
Mama Angel senang Edward datang dan menemani Elaine. Ia mengenalinya saat Edward datang menjenguk Elaine saat Elaine masih di ICU. Edward anak yang sopan, waktu itu ia dengan ramah menyapa Mama Angel dan Papa Dylan.
“Kenapa kau tidak keluar kamar, El? Jalan-jalanlah dikebun seperti biasanya, kau menyukai bunga-bunga dan kolam ikan disini, kan?” Usul Mama Angel, membuat Edward dan Elaine menoleh. “Kan sedang ada Edward, ditemani Edward saja, ya?” Sambung Mama Angel lagi.
“Ayo, El, aku temani. Kebetulan aku belum pernah melihat taman di rumah sakit ini.” Ujar Edward.
Dengan berat hari, Elaine mengangguk. Ia kurang bersemangat ke taman, sepertinya lebih nyaman rebahan saja di kamar.
Edward membantu mama menyiapkan kursi roda untuk Elaine. Mama tersenyum saat melihat Elaine digendong oleh Edward untuk didudukkan di kursi roda, walaupun Elaine melawan dan mendebat Edward. Kemudin Edward mendorong kursi roda Elaine menuju taman belakang rumah sakit, sesuai arahan Elaine.
Ditaman itu, Elaine seperti flashback ke saat ia berusia delapan tahun. Duduk di kursi roda dibawah pohom yang sama, namun kali ini dengan Edward disininya, bukan Ellio.
“Ahh, segarnya. Ga heran kamu suka disini, kebunnya segar. Suasananya better much than dikamar. Kamu harus sering-sering turun kesini, El, daripada kamu bosan dikamar. ” Ucap Edward sambil duduk bersila di lantai.
Elaine tidak menanggapi ucapan Edward, pikirannya masih dipenuhi oleh Ellio. Sudah seminggu lebih ia tidak menemui Ellio, dimana Ellio sekarang?
Ellio, aku kangen… Ellio… Ellio…
Edward sedang melihat ke belakang Elaine. Elaine segera mengikuti tatapan mata Edward.
“Ellio!” Desis Elaine. Ellio sedang berdiri, berpegangan di batang pohon, melihat ke arah Elaine dan kemudian ke Edward. Edward dan Ellio saling menatap tajam satu sama lain.
“Ellio!” Seru Elaine lebih keras, ia langsung memutar kursi rodanya, mengulurkan tangannya dan berusaha menggapai Ellio.
Ellio melirik sekilas ke Elaine, kemudian menghampirinya dan memeluknya.
“Ellio, aku kangen.” Adu Elaine. Ellio mengelus punggung Elaine.
Edward memiringkan kepalanya. Ellio? Rasanya pernah mendengar nama itu. Edward berusaha mengingat-ingat, kamudian ia melebarkan matanya ketika sebuah ingatan menyentaknya.
Apa ini Ellio yang pernah dikatakan gadis itu?
“Edward…” Suara Elaine menyadarkan Edward.
“Boleh tolong tinggalkan aku berdua dengan Ellio?” Ucap Elaine pelan. Edward tersentak, mendadak ia merasa tersisih. Tanpa mengucapkan apa-apa, ia langsung meninggalkan taman dan memutuskan untuk pulang.
Ellio menatap mata Elaine dalam, lalu mengulurkan tangannya membelai pipi gadis itu.
__ADS_1
“Maaf, aku tidak datang beberapa hari ini.” Ucap Ellio pelan. Elaine mengangguk.
“Ga apa, aku juga perlu waktu berpikir.” Sahut Elaine. Ia menangkap tangan Ellio yang ada di pipinya, lalu mengenggamnya.
“Aku… Sudah tahu tentang kita.” Sambung Elaine lagi. Ellio menatap Elaine lagi, tidak mengerti arti ucapan Elaine.
“Tentang Peri Melva.” Ucap Elaine perlahan, lalu mengeraskan genggaman tangannya ketika ia melihat mata Ellio membesar.
“Siapa? Siapa yang memberitahukannya padamu?” Desisnya marah.
Elaine menggelengkan kepalanya sambil menepuk tangan Ellio, berusaha membuat Ellio tenang.
“Aku jadi mengerti semuanya. Kamu tahu? Aku sekarang semakin menyukai melva.” Ucap Elaine sambil tersenyum, lalu melambaikan tangannya ke semak melva yang tumbuh dibawah pohon itu.
“Setelah bunga matahari, tentunya.” Sambungnya lagi sambil tersenyum menggoda Ellio.
Ellio hanya menatap datar, tampaknya masih kesal karena ada yang menceritakan kisah masa lalu pada Elaine.
Elaine menghela napasnya, kemudian menggoyang-goyangkan tangan Ellio. Sedikit mengguncangnya agar Ellio lebih santai dan mengalihkan emosinya.
“Ternyata ini semua gara-gara aku. Aku yang pertama menyukaimu. Aku yang mendatangimu. Aku juga yang menyalahi aturan semesta. Aku si terhukum, yang membuat sengsara orang-orang di sekitarku, termasuk Papa dan Mama.” Ucapnya pelan.
“Tapi aku yang mencarimu. Jadi apa yang terjadi padaku saat ini, ini akibat perbuatan dan kemauanku sendiri.” Potong Ellio.
“Dan aku tidak mau membuat kamu menjadi terhukum lagi.” Ujar Elaine sambil menatap mata Ellio. Air mata sudah mengembun di mata Elaine.
“Aku tidak pernah menjadi terhukum!” Sanggah Ellio. “Kau salah sangka. Untuk serbuk matahari, aku mendapatkannya dengan pengawasan Dewa Matahari. Aku tidak dihukum!”
Elaine menatap mata Ellio dengan tatapan tidak percaya. Ellio menghela napasnya, lalu ia menggenggam tangan Elaine.
“Bagaimana caraku untuk membuatmu percaya?” Keluhnya. “Kau sudah terlalu banyak diperdaya Rose. Aku tidak dihukum apapun, Elaine. Menjadi peri pun adalah pilihan yang aku pilih sendiri. Aku ingin berkelana didunia mencarimu, jadi ini adalah pilihanku supaya aku tidak bereinkarnasi lagi. Tolong, Elaine, percaya padaku. Rose menggunakan penderitaanku untuk memisahkan kita. Tapi perlu kau tahu, kalau kita terpisah, saat itulah aku benar-benar menderita. Lebih baik aku hilang menjadi buih laut daripada kehilanganmu lagi.” Ujar Ellio sendu.
Elaine memandang Ellio. “Apakah kita masih ada pilihan, Ellio?” Tanyanya ragu.
Ellio mengangguk. "Jangan menyerah, El. Kita berjuang untuk kita berdua. Kau mau kan, mendampingi aku? Kita jalani berdua?"
Elaine memandang Ellio. Ellio meremas tangan Elaine sambil tersenyum, menyalurkan semangat. Akhirnya, dengan wajah ragu-ragu, Elaine mengangguk.
Ellio menghembuskan napas lega.
"Aku sudah menyakiti banyak orang. Sekarang, aku akan menyakitimu." Ujar Elaine sambil tersenyum.
Ellio juga tersenyum. "Aku juga akan menyakitimu. Apapun yang menyakitimu diduniaku, kuharap kau bisa bertahan."
"Kau juga, bertahanlah menghadapi Papa dan Mama." Goda Elaine. Ellio tertawa.
__ADS_1
Elaine tersenyum. Mereka saling menggenggam tangan pasangannya.