
Setelah selesai prosesi lamaran dan pertunangan, acara dilanjutkan dengan resepsi sekaligus ajang perkenalan antara kedua keluarga besar. Selama acara berlangsung, Elaine harus terus menggandeng Edward sambil terus menahan perasaannya.
“Elaine, selamat ya… Kok ga cerita-cerita kalau selama ini kamu ada hubungan dengan Edward?” Ujar salah seorang sepupunya yang kebetulan juga mengenal Edward.
Elaine hanya tersenyum miris namun tidak menjawab pertanyaan saudara dari pihak mamanya itu. Edward menggenggam tangan Elaine dan membantu Elaine keluar dari suasana kaku itu.
“Elaine dan aku memang memutuskan untuk tidak bilang kemana-mana sebelum semuanya pasti. Kalau sudah tunangan begini, kan sudah setengah jalan. Betul kan, Sayang?” Jawab Edward sambil mengelus tangan Elaine. Tidak ada pilihan lain, Elaine hanya mengangguk.
Selama acara berlangsung, beberapa kali Elaine secara tidak sadar meremas lengan Edward, membuat Edward menoleh dan menyadari betapa tertekannya Elaine sebenarnya. Dalam hatinya muncul setitik penyesalan atas keputusan dan tindakan yang diambil kedua orangtua mereka, bahkan dengan persetujuan Edward.
Bila boleh jujur, sebenarnya Edward bahagia dengan keputusan yang diambil orang tua mereka karena Edward memang menyukai Elaine. Pertemuan pertama mereka di ulang tahun Elaine yang ke enam balas, membuat Edward jatuh cinta pada pandangan pertama pada kecantikan Elaine. Sifat acuh Elaine juga membuatnya penasaran pada gadis itu. Kesempatan bisa sekelas dengan Elaine pun membuat Edward lebih bisa mengenal gadis itu lebih baik, bahkan mereka menjadi sepasang sahabat. Edward berharap dalam hatinya, suatu hari Elaine bisa menerima dirinya dan mencintainya, walau Edward tahu sudah ada Ellio yang memiliki hati Elaine. Namun keberuntungan baginya, orang tua Elaine tidak merestui hubungan Elaine dengan Ellio dan malah menjodohkannya dengan Edward.
Edward mengelus tangan Elaine, menenangkannya. Elaine menatap Edward sejenak, lalu membuang muka. Edward tersenyum miris, Elaine marah padanya.
🌻🌻🌻
Secara mendadak, sebuah keputusan baru dibuat pada saat resepsi. Dimeja keluarga yang berisi papa mama Elaine, papa mama Edward, Edward dan Elaine, diputuskan mulai hari itu Elaine akan dititipkan di rumah Edward. Elaine serasa mau pingsan mendengar keputusan ini.
Elaine melawan sejadi-jadinya. Bila menginap di rumah Edward, secara otomatis ia tidak bisa bertemu Ellio lagi. Di sekolah pun akan ada Edward yang mengawasinya. Namun sekeras apapun Elaine melawan, keputusan Papa Dylan sudah bulat. Mulai malam itu, Elaine akan tinggal di rumah Edward.
Lagi-lagi Elaine menangis. Para orang tua yang melihat air matanya, tidak ada yang menggubrisnya, Hanya mama Edward, Mama Rosa, yang sesekali menatap calon menantunya dengan pandangan kasihan. Sedangkan Edward, ia memperhatikan Elaine. Ia terluka melihat betapa Elaine berkeras untuk tetap bersama Ellio, yang berarti menolak dirinya.
DIbawah meja, Edward menggenggam tangan Elaine, bermaksud memberikan kekuatan dan hiburan untuknya. Namun dengan cepat Elaine menepis tangan Edward.
🌻🌻🌻
Resepsi telah berakhir. Para tamu undangan sebagian besar sudah pulang, hanya tinggal beberapa orang yang juga akan segera meninggalkan hotel.
Elaine masuk ke mobil papa Edward, Papa Hans, setelah mendapat pelukan dan kecupan perpisahan dari Mama Angel dan Papa Dylan. Barang-barang Elaine yang terpenting seperti pakaian dan peralatan sekolah telah diantarkan oleh supir Papa Dylan dari rumahnya ke rumah Edward.
__ADS_1
Di mobil, Elaine duduk berdampingan dengan Mama Rosa, sedangkan Edward duduk disamping Papa Hans yang mengemudi.
“Jangan khawatir, nanti kamarmu akan sangat nyaman. Kata mamamu, kamu sangat suka bunga kan? Kamarmu akan selalu dipenuhi bunga-bunga indah.” Ujar Mama Rosa, berusaha menghibur Elaine yang terlihat kecewa dengan keputusan kepidahan itu. Elaine hanya tersenyum sopan mendengar kata-kata Mama Rosa yang menghiburnya.
Mereka sampai di rumah Edward. Mama Rosa segera menunjukkan kamar baru untuk Elaine. Beruntung, kamar itu memiliki jendela lebar yang menghadap ke kebun bunga samping rumah. Jadi kurang lebih, Elaine masih bisa menatap bunga-bunga seperti di rumahnya.
Elaine duduk di samping ranjangnya. Air matanya terus menetes, hatinya sakit karena ia terus teringat Ellio.
“Ellio…” Bisiknya dalam tangisnya. ”Ellio, apa kau bisa mendengarku? Bagaimana ini, aku bingung…”
Hingga akhirnya keluarga itu selesai menikmati makan malam, Elaine masih sesekali meneteskan air matanya.
Menjelang tidur, Elaine sudah mengganti pakaiannya dan naik ke ranjangnya. Malam itu gerimis turun, Elaine bisa mendengar rintik air hujan yang membentur kaca jendela kamarnya.
Tik… Tik… Tik…
Ellio! Tiba-tiba batin Elaine tersentak. Segera ia bangun dan berlari menuju jendela.
Di depan jendela, dilihatnya peri kecil Ellio sedang duduk sambil tersenyum di pelataran jendela. Matanya yang bulat menatap Elaine, tubuh dan sayapnya basah terkena percikan air hujan.
Elaine segera membuka jendela, lalu meraih tubuh Ellio dengan tangannya. Setelah menutup jendela kembali, sambil menggenggam Ellio, Elaine berlari kekamar mandi untuk mengambil handuk.
Elaine duduk di meja belajarnya sambil mengeringkan tubuh kecil Ellio dengan handuknya. Elaine melakukannya dalam diam dan sambil melamun. Hingga badan Ellio sudah keringpun, Elaine tetap mengusapkan handuknya.
Ellio hanya diam memperhatikan Elaine. Matanya terus memandang Elaine, mengamati apapun yang Elaine lakukan. Ekspresi Elaine, air mata Elaine yang sesekali masih menetes, hingga cincin yang melingkar di jari Elaine.
Tiba-tiba Ellio melompat dari meja belajar Elaine dan sekejab berubah menjadi manusia. Ia langsung merengkuh Elaine masuk ke pelukannya. Membelai-belai rambutnya, ingin membuat Elaine lebih tenang.
Air mata Elaine semakin deras didalam dekapan Ellio. Ia terisak-isak sambil memeluk Ellio.
__ADS_1
“Stt… Sudah, sudah… Aku sudah tahu semuanya. Ga apa, kita tetap bertahan ya… Tinggal seminggu lagi, Sayang… Seminggu…” Ucapnya lembut, masih tetap membelai rambut Elaine.
“Aku sudah ada ikatan dengan Edward.” Tangis Elaine sambil mengusap wajahnya di dada Ellio.
“Itu bukan kemauanmu, kan? Aku sudah tahu semuanya.” Ujar Ellio cepat. “Lagipula, itu hanya pertunangan, bukan pernikahan.” Sambungnya lagi.
Elaine menatap Ellio dengan matanya yang masih berkaca-kaca. Ellio tersenyum kemudian meraih tangan Elaine, menggenggamnya.
Ellio menatap tangan Elaine ketika secara tidak sengaja ia menyentuh cincin dari Edward. Sontak ia terdiam. Elaine menyadari ini, lalu berusaha melepaskan cincin itu dari jarinya.
“Aku ga suka cincin ini.” Katanya sambil berusaha melepaskan cincinnya.
Ellio mencegah Elaine melepas cincinnya, ia menggeleng sambil tersenyum. Kemudian ia mengulurkan kedua tangannya ke udara, menggerakkannya seakan-akan sedang merajut sesuatu. Sesaat setelahnya, ia menjentikkan tangan ke udara, dan sebuah benda muncul di tangan Ellio.
Elaine mengamati gerak gerik Ellio, hingga akhirnya Ellio mengulurkan tangannya, memberikan benda yang baru saja dirajutnya. Sebuah cincin sederhana terbuat dari rajutan rumput ilalang putih yang berkilau.
Mata Elaine bersinar, menatap kagum pada cincin itu. Memang sederhana, namun begitu indah.
Ellio mengambil cincin itu, lalu menyematkannya di jari tengah Elaine, berdampingan dengan cincin dari Edward.
“Ini cincin pengikat kita. Ada berkat peri didalamnya.” Bisik Ellio sambil membelai cincin itu. “Bertahanlah sebentar lagi, setelah itu cincin ini akan berubah menjadi pengikat abadi kita. Minggu depan, aku akan menjemputmu sebagai pengantinku. Tinggallah disini, jaga kesehatanmu selama seminggu ini. Jangan khawatir, minggu depan aku akan membawamu. Dengan keadaan ini, bukankah semuanya jadi lebih mudah? Papa mamamu akan lebih cepat terbiasa tanpamu.” Sambung Ellio di telinga Elaine, sambil terus membelai rambutnya.
Ellio mengurai pelukannya, mengelus wajah Elaine dan mengecup bibirnya. Elaine tersenyum, jiwanya jauh lebih tenang sekarang. Ia sudah yakin, rencana papa mamanya untuk memisahkan dirinya dengan Ellio tidak akan berhasil. Ia tetap akan bersatu dengan Ellio.
“Mau tidur?” Bisik Ellio lagi. Elaine menganggukkan kepalanya.
Ellio segera naik ke ranjang Elaine dan masuk ke selimutnya. Elaine segera menyusulnya dan memeluk tubuh Ellio dibawah selimutnya. Mereka kembali tidur berpelukan malam itu.
__ADS_1