Kaulah Matahariku

Kaulah Matahariku
Penolakan Apolo


__ADS_3

Sejak peristiwa tertangkapnya Ellio dan Elaine didalam kamar Elaine, pengawasan rumah Elaine diperketat. Papa dan mama tidak ingin kejadian itu terulang.


“Memangnya Ellio masuk dari mana? Mama benar-benar ga melihat Ellio melewati ruang tamu?” Tanya papa kebingungan.


“Bener, Pa. Mama ga lihat, padahal mama di ruang tamu terus, sedang mengawasi bibi bersih-bersih kolong meja dan lap sofa.” Kilah Mama.


Papa bergegas mengumpulkan para pembantu dan tukang kebun.


“Ga lihat, Tuan.” Ujar para pembantu yang ditanya oleh Papa Dylan.


“Saya juga tidak tahu, Tuan. Tapi memang Non Elaine sering bermain dengan anak laki-laki itu di kebun samping, didepan kamar Non Elaine.” Ujar Pak Kus si tukang kebun.


Papa dan mama berpandangan.


“Berarti anak itu sering kesini? Kenapa saya dan Tuan tidak tahu?” Tanya Mama Angel keheranan.


Pak Kus menggeleng lagi.


“Saya tidak tahu siapa yang membukakan pagar, Nyonya. Yang saya lihat Non Elaine dan anak itu sudah berada di kebun samping.” Ujar Pak Kus lagi.


Orang-orang dewasa yang sedang ada di ruang tamu saling berbincang, kebingungan mengenai kehadiran Ellio. Elaine yang sedang berada di depan kamar tidurnya, menguping pembicaraan mereka.


Elaine tersenyum sekilas, merasa geli. Hanya ia yang tahu rahasia Ellio, si peri kecil yang bisa terbang melewati tembok rumah, bahkan bisa bersembunyi di saku Elaine bila ia sedang tidak mau terbang.


🌻🌻🌻


“Ellio, ada ide apa… Bagaimana caranya supaya Papa dan Mama mau menerima hubungan kita?” Elaine bertanya pada Ellio di kamarnya, setelah ia berhasil menyelundupkan Ellio didalam kantongnya.


Ellio termenung. Apakah perlu meminta bantuan Apolo?


Apolo bisa bertindak seperti orang tua untuk Ellio. Tapi, apakah orang tua Elaine tidak akan terkejut karena yang datang ke rumah mereka adalah Dewa Matahari?


Selain itu, dunia peri dan dewa dewi sering dianggap seperti legenda saja di masyarakat. Bagaimana membuat orang tua seusia Papa Ryan dan Mama Angel untuk mempercayai dunia asal Ellio yang dianggap seperti dongeng anak-anak bagi mereka?


Ellio memijat kepalanya. Dia belum menemukan jawaban untuk pertanyaan Elaine.


Setelah merenung, Ellio akhirnya menyerah. Tak ada sebuah ide pun datang ke kepalanya.


“El, kita menghadap Apolo ya?” Ucapnya lirih kepada Elaine. “Aku ga ada ide sama sekali. Ga punya solusi.” Sambungnya lesu.


Elaine memandang Ellio dengan wajah kebingungannya. “Dimana tempat Apolo? Apakah jauh?” Tanyanya dengan wajah polosnya.


Ellio memandang Elaine, lalu tersenyum melihat betapa polos gadisnya itu.

__ADS_1


“Kalau aku bilang Apolo itu Dewa Matahari, kira-kira dimana dia tinggal? Jauhkah?” Tanya balik Ellio kepada Elaine.


Elaine membulatkan matanya. “Jauh sekali…” Desisnya, membuat Ellio tertawa.


“Aku harus mengubah bentukmu, baru kau bisa mencapai Istana Apolo. Tidak mungkin kau mencapai Istana Apolo dalam bentuk fisikmu ini, kau bisa terbakar.”


“Oh, baiklah. Jadi, aku harus apa sekarang?” Tanya Elaine lagi.


“Ingat waktu kau mengunjungi alam baka bersama Rose?” Tanya Ellio lagi. Elaine menganggukkan kepalanya. “Itu yang akan kita lakukan sekarang.” Sambung Ellio lagi.


Ellio memberikan sebutir obat dan Elaine meminumnya, kemudian membaringkan tubuhnya di ranjang. Dalam sekejap, Elaine tertidur nyanyak.


🌻🌻🌻


Elaine membuka matanya, ia merasa seperti baru saja bangun tidur. Tapi, setelah matanya terbuka, ia tertegun. Elaine berada di sebuah kebun bunga yang sangat indah.


“Wah, indah sekali!” Elaine menunduk sambil menyentuh bunga-bunga yang ada disana. Setiap bunga yang ada dalam jangkauan tangannya, dibelainya. Hingga akhirnya dia menemukan bunga melva yang juga tumbuh di sana.


“Melvaku!” Serunya senang, lalu membelai dan mengecupi bunga itu.


Ketika Elaine sedang asyik dengan bunga melva, seseorang berdehem dibelakangnya.


“Ehem!” Elaine sontak menoleh, dilihatnya Ellio sedang memperhatikannya sambil tersenyum.


Ellio mengangguk. “Bawalah.” Katanya lagi, lalu mengulurkan tangannya untuk menggandeng Elaine.


Mereka berdua bergandengan tangan, memasuki Istana Apolo.


🌻🌻🌻


Elaine terkagum-kagum melihat istana Apolo. Setelah kagum melihat kebun bunganya, kini ia terkagum-kagum melihat kemewahan bagian dalam istana. Lantai marmer yang bergaya vintage namun indah dan mewah, sewarna dengan dindingnya yang berwarna kuning gading. Pilar-pilar yang menopang kubah istana begitu besar, berukiran indah dan berwarna kuning gading.


Tiba-tiba terdengar suara mendehem dari arah dalam istana. Elaine menoleh, melihat seorang pria yang begitu tegap dan tampan, sedang duduk diatas kursi emas. Ia memakai mahkota dan memegang tongkat emas yang sangat indah.


Ellio berlutut didepannya, lalu melirik Elaine. Elaine segera ikut berlutut mengikuti Ellio.


“Ellio, mengapa kau bawa anak manusia ini ke altarku? Satu kesalahan lagi, Ellio!” Apolo menahan kemarahannya.


Deg! Elaine melirik Ellio? Satu kesalahan lagi?


Ellio menundukkan kepalanya.


“Maafkan aku, Yang Mulia. Aku terpaksa melakukan ini. Aku tidak punya pilihan lain.” Ellio lalu menceritakan permasalahannya dengan papa dan mama Elaine. Ellio juga mengakui hubungannya dengan Elaine.

__ADS_1


“Aku sudah tahu itu!” Dengus Apolo. “Aku bisa melihat apa saja yang kau lakukan di Bumi. Termasuk tingkahmu masuk ke kamar anak gadis ini!” Ujar Apolo sambil menunjuk Elaine dengan dagunya. Elaine menunduk malu.


“Tapi aku tidak bertindak yang tidak pantas, Yang Mulia!” Ellio menyanggah dengan berani, tubuhnya sampai terangkat dari duduk bersilanya. Apolo melirik geram, Ellio segera menundukkan kepalanya lagi.


“Aku perlu bantuan Yang Mulia. Bagaimana cara agar Aku dan Elaine dapat meresmikan hubungan kami?” Tanya Ellio lagi.


“Tidak ada caranya,” jawab Apolo langsung, “Perkawinan antara peri dan manusia tidak diijinkan di semesta. Masih untung kau tidak melakukan hubungan intim dengannya, kalau itu sampai terjadi sudah pasti aku harus melenyapkanmu menjadi buih laut!” Sambung Apolo lagi.


Ellio melirik, memandang sendu kepada Elaine.


“Tolong aku, Yang Mulia. Aku mencintainya.” Ujar Ellio lemah. “Apapun akan aku lewati asalkan bisa bersamanya.”


“Aku belum menghukummu karena membawa manusia ke istanaku, Ellio.” Ujar Apolo datar. “Kau sudah memintaku untuk menolongmu ke hal yang tidak mungkin!”


Ellio dan Elaine memandang Apolo lekat-lekat. Rasa khawatir mulai muncul di hati Elaine. Hukuman apa yang harus ditanggung Ellio karena membawanya ke Istana Apolo?


“Masuk ke botol selama sepuluh tahun manusia, Elaine.” Ucap Apolo. Elaine terkejut, ternyata Apolo bisa menbaca pikirannya.


Apolo memandang Ellio, rasa kasihan muncul di hatinya. Ia teringat perjuangan Ellio untuk menemukan Peri Melva, sampai-sampai membuang kesempatan dirinya untuk bereinkarnasi sebagai manusia.


“Mungkin Dewa Alam Baka dapat menolongmu.” Ucap Apolo.


Ellio dan Elaine melihat ke arah Apolo dengan penuh harap.


“Kau dapat bereinkarnasi kembali. Aku akan menghitung pengabdianmu sebagai peri bunga matahari sudah selesai. Kau dapat meminta ke Dewa Alam Baka agar kau dapat bereinkarnasi menjadi manusia lagi. Tapi,” Dewa Apolo melirik ke Elaine, “Aku tidak tahu gadis ini akan berumur berapa ketika kau sudah menjadi manusia dewasa.” Ujarnya lagi, membuat Ellio ikut merenung, memikirkan kata-katanya. “Dan tentu saja, kau akan lupa bahwa kau dan dia saling mengenal. Garis jodoh tidak dapat aku dan Dewa Alam Baka ganggu gugat.” Apolo menjelaskan kenyataan yang akan terjadi dari keputusan yang sedang dipertimbangkan oleh Ellio.


“Aku hanya bisa membantumu, memberitahukan kepada gadis itu siapa bayi yang menjadi titisanmu berikutnya. Jadi dia bisa mendampingimu.” Tambah Apolo lagi.


Ellio menggenggam tangan Elaine. Kesedihan tampak dimatanya. Betapa beratnya bisa berada di dunia yang sama namun tidak saling mengenal, bahkan dia tidak akan mengenali Elaine nantinya.


“Apakah ada pilihan lain?” Bisik Ellio.


“Ada, satu lagi.” Jawab Apolo. Ellio dan Elaine sontak menoleh.


“Elaine,” ujar Apolo lembut pada Elaine, “Kau sungguh-sungguh sayang pada Ellio?” Tanyanya.


Elaine dengan cepat menganggukkan kepalanya. “Iya, Yang Mulia. Sangat.” Jawabnya tanpa ragu.


“Sangat?” Tegas Apolo. “Sangat sayang sampai rela mengorbankan ragamu?” Tanya Apolo lagi.


Elaine dan Ellio tersentak. Maksudnya?


“Elaine dapat mengorbankan raganya dan masuk ke dunia peri.” Ujar Apolo datar sambil menatap Ellio.

__ADS_1


__ADS_2