
Sungguh luar biasa.
Serbuk yang dibawakan oleh Ellio, dapat mecukupi kebutuhan bahan baku serum Elaine selama dua bulan. Berarti, bulan depan sudah dipastikan Elaine akan dapat menerima treatment serumnya tepat waktu. Hal ini sangat berpengaruh dalam pembentukan selnya secara sempurna dan mempercepat penyembuhannya.
Papa Dylan sangat berterima kasih pada Ellio. Ia ingin menyampaikan sendiri rasa terima kasihnya pada Ellio, karena itu ia sangat menunggu waktu dimana ia bisa bertemu Ellio. Ini juga sekaligus supaya ia bisa menanyakan dari mana asal muasal serbuk itu. Papa Dylan khawatir bisa sewaktu-waktu Ellio tidak membantu memberikan serbuk itu, maka dia bisa mengusahakan serbuk itu sendiri.
Setelah Elaine menerima serumnya untuk bulan itu, keadaannya jauh membaik dan ia diperbolehkan pulang oleh dokter.
Perasaan Elaine saat itu campur aduk, antara bahagia dan sedih. Ia bahagia karena sudah boleh pulang sehingga tidak merepotkan orang tuanya lagi untuk menjaganya di rumah sakit. Namun di lain pihak, ia jadi tidak bisa bertemu lagi dengan Ellio. Tidak mungkin rasanya Ellio menjenguknya dirumah.
Dihari kepulangannya, Elaine meminta mama mengantarnya ke taman depan rumah sakit. Dia berharap bisa sekali lagi bertemu Ellio sebelum ia pulang.
🌻🌻🌻
Sesuai permintaan Elaine, mama membiarkan Elaine di kebun depan rumah sambil mereka menunggu papa mengurus administrasi rumah sakit. Elaine duduk di kursi roda didekat kolam ikan.
Waktu pulang semakin dekat, namun Ellio belum terlihat. Semakin berjalannya waktu, Elaine semakin sedih, dia merasa tidak akan bertemu lagi dengan Ellio.
“Halo, Elaine.”
“Ellio!” Seru Elaine tiba-tiba dan menoleh ke belakang. Ia mendengar suara Ellio dari arah belakangnya. Benar saja, Ellio sedang berdiri dan menatapnya sambil tersenyum. Air mata Elaine merebak.
Ellio memberikan sekuntum bunga matahari untuk Elaine. “Untukmu.” Ujarnya.
“Aku kira aku tidak akan bertemu kamu lagi.” Isaknya, tangannya menggosok matanya yang mendadak berair.
Ellio berlutut didepan Elaine, ia meletakkan kuntum bunga matahari itu dipangkuan Elaine, lalu mengusap air mata gadis itu.
“Aku sudah bilang, aku tidak akan meninggalkanmu. Kita akan selalu bersama.” Bisiknya sambil tersenyum.
__ADS_1
Elaine tersenyum namun air matanya masih tetap mengalir. “Hari ini aku akan pulang. Bagaimana kita akan bertemu lagi?” Tanyanya dengan suaranya yang menahan tangis.
“Aku akan kerumahmu. Aku pasti datang, tunggu saja.” Ujar Ellio lagi sambil tersenyum. Elaine membulatkan matanya.
“Ka-kamu datang? Ke- rumahku? Sungguh?” Tanya Elaine tidak percaya.
Ellio menganggukkan kepalanya sambil tetap tersenyum. “Kamu adalah dewiku aku harus sering-sering mengunjungi dewiku. Aku akan mengetuk jendelamu setiap pagi. Pastikan kamu selalu cantik di pagi hari.” Godanya, membuat wajah Elaine merona.
“Ellio.” Gumamnya lemah sambil memegang kedua pipinya. Ellio tertawa melihat wajah Elaine merona.
Senyum Ellio menghilang saat melihat Papa Dylan dan Mama Angel menghampiri dirinya dan Elaine. Ellio bergegas berdiri.
“Ellio, kamu disini? Om mau mengucapkan terima kasih, serbuk bunga matahari yang kamu berikan sangat membantu Elaine sampai dua bulan kedepan. Om betul-betul sangat berterima kasih.” Ujar Papa Dylan sambil menjabat tangan Ellio. Mama Angel pun tersenyum kepada Ellio.
Ellio mengangguk sambil membalas jabatan tangan Papa Dylan. “Sama-sama, Om. Senang bila saya bisa membantu mempercepat proses penyembuhan Elaine.” Jawab Ellio sambil tersenyum tipis.
“Oh ya, ngomong-ngomong, boleh Om tahu, kamu dapatkan serbuk bunga matahari sebanyak itu, dari mana ya? Maksud Om, supaya tidak merepotkan kamu sekaligus mempermudah Om, tidak apa mulai bulan depan, Om akan mengumpulkan serbuk itu sendiri.” Ujar Papa Dylan.
“Tidak apa-apa, Ellio. Tidak apa bulan depan biar Om cari sendiri. Om hanya perlu tahu asal serbuk itu dari mana.” Ulang Papa Dylan.
“BIar bulan depan, saya yang bawakan, Om.” Lagi-lagi Ellio hanya menjawab demikian. Tidak ada lagi senyum diwajahnya.
Papa Dylan berpandangan dengan Mama Angel. Mereka merasa aneh dengan tabiat Ellio yang seperti tidak mempercayai mereka.
“Oh, ya sudah. Ngomong-ngomong, mama kamu juga ada dirumah sakit ini, Nak? Apa mamamu sedang menjenguk omamu lagi?” Tanya Mama Angel.
“Iya, Mama sedang bertemu Oma.” Jawab Ellio lagi.
“Boleh Tante bertemu mama kamu? Tante mau berterima kasih dan mengucapkan selamat pada mama kamu, karena mama kamu punya seorang anak yang baik hati dan sudah menolong putri Tante.” Ujar Tante Angel pada Ellio.
“Mama dan Oma tidak bisa diganggu. Tante tidak perlu berterima kasih pada Mama, aku hanya membantu Elaine sebatas yang aku bisa.” Ujar Ellio lagi dengan wajahnya yang datar dan tanpa senyum.
__ADS_1
Papa Dylan dan Mama Angel tertegun mendengar tanggapan Ellio, begitu kaku dan dingin. Wajahnya begitu serius, tidak seperti bocah yang berusia sepuluh tahun. Mama Angel tergugu, tidak dapat menanggapi jawaban Ellio.
Â
Elaine merasa aneh melihat sikap Ellio yang sangat berbeda bila sedang menghadapi papa dan mama, begitu kaku dan dingin. Sangat berbeda bila Ellio sedang berhadapan dengan Elaine, ia begitu ramah dan penuh tawa.
“Ellio…” Ujar Elaine lemah sambil menyentuh ujung jari Ellio. Ellio menoleh, lalu tersenyum tipis kepada Elaine.
“Mohon maaf, aku harus pamit dulu. Elaine, sampai bertemu lagi ya.” Ucap Ellio perlahan pada Elaine, lalu menoleh pada Papa Dylan dan Mama Angel. “Maaf Om, Tante, saya permisi.”
Papa Dylan dan Mama Angel menganggukkan kepalanya, kemudian Ellio pun pergi.
 🌻🌻🌻
“Apa kau tidak merasa aneh dengan anak itu?” Tanya Papa Dylan kepada Mama Angel. Mereka bercakap-cakap didalam mobil saat mengantar Elaine pulang dari rumah sakit.
Mama Angel menganggukkan kepalanya. “Kelihatannya dia tidak ingin kita tahu mengenai dia dan keluarganya. Munculnya juga suka tiba-tiba. Dia juga sangat hebat, bisa mengumpulkan serbuk yang begitu banyak. Misterius sekali.” Ujar Mama Angel.
Elaine hanya terdiam duduk di bangku belakang mobil, dia tidak ikut mengobrol dengan kedua orang tuanya. Elaine hanya menatap bunga matahari di pangkuannya, sambil sesekali mengelus  kelopaknya.
Ellio, kenapa kamu begitu misterius? Aku tidak tahu apa-apa tentangmu. Kenapa sikapmu ke Papa dan Mama juga seperti itu, seperti kamu tidak menyukai mereka? Kenapa?
“Elaine?” Suara mama mengagetkan Elaine, menyadarkan Elaine dari lamunannya.
“Eh… Iya, Ma?” Jawab Elaine tergagap.
“Apa kamu tahu tentang Ellio? Dia kelas berapa, tinggal dimana? Siapa orang tuanya?” Tanya mama sambil mengamati wajah Elaine dari kaca spion tengah mobil.
Elaine menggelengkan kepalanya. “Tidak tahu, Ma. Kami tidak pernah membahas tentang Ellio. Yang dibahas selalu tentang aku.” Tiba-tiba Elaine terdiam, dia baru ingat belum memberikan alamat rumahnya kepada Ellio. Karena papa dan mama sudah terlanjur datang pada saat mereka di taman, Elaine belum sempat memberikan alamatnya kepada Ellio.
Berarti aku tidak akan bertemu dengannya lagi? Batin Elaine sambil meringis sedih. Sepertinya pada saat aku masuk rumah sakit lagi, kami baru akan kembali bertemu…
__ADS_1