Kaulah Matahariku

Kaulah Matahariku
Kemana Edwardku yang dulu?


__ADS_3

Pagi harinya.


Elaine terbangun dengan perasaan yang sudah jauh lebih tenang. Ia menoleh ke sisi ranjangnya, lagi-lagi Ellio sudah menghilang. Daun jendela sedikit terkuak, kelihatannya dari sanalah Ellio menyelinap keluar.


Masih berbaring di ranjangnya, Elaine memainkan cincin pemberian Ellio semalam. Cincin itu diputar-putarnya di jarinya, dielusnya dan dikecupnya dengan sayang. Cincin itu menjadi bukti janji Ellio padanya, dalam waktu seminggu Ellio akan membawanya pergi agar mereka dapat menikah.


Dengan wajah penuh senyum dan optimis, Elaine bersiap ke sekolah. Tidak dipedulikannya tatapan bertanya-tanya Edward yang keheranan mengapa mood Elaine sangat berbeda antara semalam dengan pagi ini. Elaine menyantap sarapannya dengan cepat dan bergegas menuju mobil untuk berangkat ke sekolah.


Edward sampai berlari-lari untuk mengejar Elaine.


“Elle, tunggu Elle!” Edward menangkap tangan Elaine saat mereka sudah berjalan di koridor sekolah, menuju ke kelas mereka. Elaine segera menepis tangan Edward dan berdiri menghadap Edward. Pandangan matanya seakan menantang Edward.


“Jangan pernah sentuh aku!” Ucap Elaine dingin. Edward terperangah melihat perubahan sikap Elaine. Elaine yang biasanya lembut dan selalu ketakutan, kini terlihat begitu kuat dan keras kepala.


“Mulai sekarang, hubungan kita hanya sebatas teman. Cincin ini,” ujar Elaine sambil mengangkat tangannya, “Bagiku hanya simbol untuk menenangkan orang tuaku. Jangan pernah berpikir aku akan menyerahkan diriku padamu!” Sambungnya ketus. Elaine langsung membalikkan badannya dan berjalan meninggalkan Edward yang masih berdiri termangu.


“Oh, satu lagi.” Elaine menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya, kembali menghadapi Edward. “Aku minta kamu pindah tempat duduk. Mulai hari ini, aku mau duduk dengan Michelle.” Sambungnya, lalu kembali berjalan menuju kelas, meninggalkan Edward.


Setibanya di kelas, Edward melihat Elaine sudah menarik Michelle untuk kembali duduk dengannya. Dengan terpaksa, Edward duduk disamping Oliver.


“Ada apa sih, Bro? Kalian berantem?” Tanya Oliver, penasaran melihat wajah mendung Edward. Edward hanya menggelengkan kepalanya tanpa berbicara.


🌻🌻🌻


Saat pulang sekolah tiba.


Elaine dengan cepat membereskan buku-buku dan peralatan tulisnya, lalu bersama murid-murid lainnya ia segera meninggalkan kelas menuju tempat parkir mobil. Tanpa banyak bicara, Elaine masuk ke mobil Edward.


Edward mengikuti Elaine dari belakang. Ia heran Elaine sangat patuh, langsung masuk ke dalam mobilnya. Edward menyangka, akan ada drama perebutan Elaine antara dirinya dengan Ellio yang biasanya selalu menjemput Elaine. Namun hari ini, Ellio tidak terlihat batang hidungnya. Apakah Elaine dan Ellio sudah menyerah dengan hubungan mereka?


“El,” panggil Edward saat mereka sedang dalam perjalanan pulang, “Hari ini kamu ga dijemput Ellio? Ellio kemana?” Tanyanya lagi.


“Bukan urusan kamu!” Ketus Elaine. Edward memegang dadanya, terkejut melihat betapa berubahnya Elaine sejak tadi pagi.


Akhirnya mereka tetap membisu hingga mobil tiba di rumah Edward. Elaine dengan cepat keluar dari mobil dan berjalan menuju kamarnya, mengurung dirinya sendiri didalam kamar.

__ADS_1


🌻🌻🌻


“Hai, Sayang.”


Michelle menoleh, tersenyum ketika melihat Oliver berjalan menuju kearahnya.


Michelle sedang bersandar di motor Oliver, menunggu untuk diantarkan pulang. Sambil menunggu Oliver, pikirannya melayang kepada Elaine. Elaine sendiri baru saja pulang dengan mobil Edward. Oliver dan Michelle sendiri akhirnya memutuskan untuk menjadi pasangan, setelah Michelle merasa dirinya tidak ditanggapi oleh Edward dan disisi lain ada Oliver yang selalu memberinya perhatian dan kasih sayang.


“Oli, kamu merasa ada perubahan di Elaine ga?” Tanyanya sambil memeluk pinggang Oliver.


“Nggak, perubahan apa tuh?” Tanya Oliver sambil agak berteriak, karena motornya sedang berjalan.


“Dari tadi banyak pesan-pesan ke aku, tapi awalannya selalu bilang ‘kalau aku udah nggak ada’.” Cerita Michelle.


“Wah, aneh ya.” Kening Oliver ikut berkerut. “Lalu, kamu bilang apa?” Tanyanya lagi pada Michelle.


“Yaa… Aku cuma bilang jangan ngomong yang aneh-aneh. Umur manusia ga ada yang tahu.” Ucap Michelle lagi.


Oliver mengangguk, “Nah, udah bener tuh jawaban kamu. Ya udah, jangan banyak dipikirin ya. Mungkin Eline sedang ada masalah, makanya pikirannya melantur.” Jawab Oliver lagi. Michelle hanya menganggukkan kepalanya.


🌻🌻🌻


Sore hari, saat pulang sekolah. Mendadak Elaine tidak mau pulang dengan mobil Edward seperti biasanya. Ia ingin jalan kaki, alasannya ingin pulang sebentar ke rumah papa mamanya.


“El, tunggu! El!” Edward meraih tangan Elaine.


Elaine kembali menghempaskan tangan Edward. “Sudah kubilang, jangan pernah sentuh aku!” Serunya jengkel. “Dan ga usah ikuti aku! Aku mau pulang ke rumah papa sebentar. Ga usah khawatir aku ga pulang ke rumah kamu, papaku pasti akan memaksaku pulang ke rumahmu juga! Aku memang sudah seperti anak yang dibuang!” Gerutu Elaine sambil berjalan.


“El, minimal biarkan aku yang mengantar kamu pulang ya? Mobil itu boleh kamu pakai kok! Pakai saja untuk ke rumah kamu.” Ujar Edward pelan, berharap dapat menurunkan emosi Elaine. “Jangan seperti ini, El, minimal anggaplah aku sebagai teman. Ga usah sungkan.”


“Bukan masalah sungkan, tapi kau sudah bukan Edward teman baikku! Edward teman baikku selalu mendukung apapun keputusanku. Kau malah menyokong orang tua kita dengan rencana konyolnya.” Sungut Elaine.


“Konyolkah kalau aku bahagia dijodohkan denganmu karena aku memang menyukaimu?” Jawab Edward sendu.


Elaine menghentikan langkahnya dan melihat ke arah Edward. “Masalahnya, kau sudah tahu kalau aku punya Ellio, Ed! Kau bukannya menjaga hatimu sendiri, malah berbahagia melihat aku dan Ellio dipisahkan!” Seru Elaine emosi.

__ADS_1


“Ya, cintaku yang salah memilih orang. Cintaku begitu buta karena memilih seorang gadis yang jelas-jelas sudah memberikan hatinya kepada orang lain…”


“Itu tahu!” Potong Elaine sebelum Edward selesai berbicara. Dengan cepat, Elaine membalikkan tubuhnya dan berjalan kearah rumah orang tuanya.


“Pulang saja, tidak usah mengantarku. Aku akan pulang sendiri!” Seru Elaine sambil terus berjalan menjauh dari Edward.


Edward mematung melihat Elaine menjauh. Ia berpikir bagaimana caranya agar Elaine mau menerimanya.


“Kau harus bergerak cepat.”


Edward menolehkan kepalanya, Rose berdiri dibelakangnya sambil melipat tangannya.


“Kau harus bergerak cepat kalau memang mau Elaine jadi milikmu. Seminggu lagi, Ellio akan membawanya pergi. Putuskan apa yang harus kau lakukan atau kau akan kehilangannya selamanya.” Sambung Rose lagi.


“Tidak mungkin! Kami sudah bertunangan dan Elaine saat ini tinggal dirumahku. Ellio tidak akan bisa membawanya pergi!” Ujar Edward yakin. Ia tidak percaya pada Rose.


Rose tertawa sinis. “Hahaha, memangnya dia bodoh? Dia sudah menyusun rencana! Kau akan gagal kalau tidak bertindak sekarang. Ellio bukan manusia biasa. Dia seperti aku, kami lebih istimewa dibandingkan kalian, manusia!” Ujar Rose sambil mengeluarkan sayap indahnya. Matanya berubah menjadi mata peri, yang lebih bulat dan jernih dari mata manusia. Rose menunjukkan bentuk aslinya kepada Edward.


Edward terperanjat. Ia merasa takut, namun penasaran dengan apa yang dikatakan Rose.


“Rencana apa maksudmu? Kau mau membohongi aku, kan?” Tantangnya.


“Di duniaku sudah ramai mempersiapkan pesta pernikahan Ellio dengan seorang anak manusia! Itu pasti calon istrimu kan? Bodoh! Calon istrimu sudah mau diambil orang tapi kau masih tidak tahu apa-apa!” Omel Rose, membuat emosi Edward menggelegak.


Rose memutar tubuhnya dan meninggalkan Edward. Dia tersenyum sinis. Kali ini, ia yakin barhasil memancing emosi Edward.


🌻🌻🌻


Malam harinya, di rumah Edward.


Elaine sudah kembali ke rumah Edward sore tadi. Wajahnya terlihat berseri-seri, ia membawa sekuntum bunga matahari yang sangat segar, baru dipetik dari kebunnya. Dengan cekatan diisinya vas bunga yang ia bawa dari rumahnya sendiri dengan air, kemudian dibawanya kekamarnya. Elaine menggunakan vas itu untuk mengairi kuntum bunga matahari yang ia bawa.


Edward mengamati tingkah laku Elaine. Sebuah ide berkelebat di kepalanya.


Setelah makan malam, seperti biasa Elaine langsung mengurung dirinya dikamar. Namun ada keanehan, kunci pintu kamarnya menghilang sehingga Elaine tidak dapat mengunci pintu kamarnya.

__ADS_1


Setelah membuat pekerjaan rumahnya dan mengganti pakaian, Elaine membaringkan tubuhnya di ranjangnya. Ia sangat lelah karena berjalan pulang dari sekolah ke rumah papanya.


DIkecupnya bunga matahari yang tadi dibawanya dari rumah. “Selamat malam, Sunny. Selamat malam, Ellio sayang.” Bisiknya sambil tersenyum, lalu Elaine menutupi tubuhnya dengan selimut.


__ADS_2