
Ellio menggendong tubuh Elaine ke kamarnya dan meletakkan Elaine di ranjangnya. Mama berlari-lari kecil membuntuti Ellio yang sedang menggendong putrinya.
Mama segera menelepon papa dan mengabarkan soal Elaine. Sementara itu, Ellio mengoleskan minyak kayu putih di leher dan tangan Elaine, berharap Elaine segera sadar.
Mama yang baru saja selesai menelepon, dengan cepat merampas minyak kayu putih yang ada di tangan Ellio.
“Tante rasa sudah cukup, terima kasih untuk bantuan kamu. Tolong keluar dari kamar ini.” Ujarnya dingin.
Ellio menatap Mama Angel sekilas, lalu menatap Elaine. Setelah itu ia langsung mengambil tasnya dan keluar dari kamar dan menuju pintu utama rumah.
Di luar rumah, dengan cepat Ellio menyelinap ke kebun samping dan merapatkan tubuhnya ke dinding. Setelah memperhatikan area sekitarnya dan memastikannya aman, Ellio mengubah tubuhnya ke bentuk asli peri bunga matahari. Dia segera terbang dan bersembunyi di dekat pintu teras kamar Elaine, mengamati keadaan di dalam kamar.
Papa tiba beberapa saat kemudian. Ia mencoba membangunkan Elaine, namun hasilnya nihil.
Papa memperhatikan Elaine, ada sebuah keanehan yang terjadi pada Elaine. Walaupun Elaine pingsan, namun matanya terus mengalirkan air mata dan sesekali ia sesenggukan.
“Ma,” panggil papa sambil terus memperhatikan Elaine, “Tadi Mama bilang, Elaine pulang dengan Ellio?” Tanya papa lagi.
Mama menganggukkan kepalanya. “Iya, Pa.” Jawab mama.
“Dimana Ellio sekarang?” Tanya papa lagi.
“Sudah kusuruh pulang, Pa. Tadi aku agak emosi, dia berani memegang-megang badan Elaine. Mama ga rela walaupun maksud Ellio cuma mau mengoleskan minyak ke badan Elaine.” Aku mama.
“Kita butuh dia. Keadaan Elaine sangat aneh. Seperti kejadian sebelumnya, kalau kita bawa dia lagi ke rumah sakit, dokter tidak akan menemukan apa-apa. Kita perlu Ellio. Sepertinya semua ini ada kaitannya dengan Ellio.” Ujar papa pelan.
“Kenapa Papa berpikiran begitu? Maksud Papa, Elaine dijahati Ellio?” Tanya mama bingung.
“Papa belum tahu, tapi itu yang ingin Papa tanyakan dari Ellio. Terlalu banyak yang tersembunyi dari Ellio. Kita perlu Ellio untuk membuat Elaine bertahan.” Kata Papa lagi sambil mengelus kepala Elaine.
“Tapi Pa, kemana kita harus mencari Ellio? Kita nggak tahu dimana rumahnya.” Ujar Mama kebingungan.
Tok… Tok… Terdengar suara ketukan dari pintu teras kamar Elaine. Papa dan mama menoleh, mereka terkejut ketika melihat Ellio sudah berdiri di teras.
__ADS_1
Tanpa papa dan mama sadari, Ellio mendengar semua pembicaraan mereka. Ellio segera mengubah bentuk tubuhnya kembali menjadi manusia biasa, lalu mengetuk pintu teras kamar Elaine.
Papa segera beranjak dari sisi ranjang Elaine lalu membukakan pintu teras untuk Ellio. “Masuklah, Ellio.” Ujarnya singkat.
Ellio masuk ke kamar Elaine, lalu mengikuti papa yang berjalan dan kembali duduk di kursi meja belajar Elaine. Ellio berdiri di hadapan papa.
“Ellio, ada apa dengan Elaine?” Tanya papa, langsung pada permasalahan mereka.
Ellio menggelengkan kepalanya. “Saya tidak tahu, Om. Sebelum pingsan, Elaine menangis histeris. Mungkin dia terlalu sedih.” Ellio menceritakan kejadian yang sebelumnya terjadi.
“Bagaimana caranya supaya Elaine tidak sakit lagi?” Tanya papa sambil menatap Ellio. Ellio terdiam, dia tidak tahu harus menjawab apa.
“Om sudah tidak pernah menanyakan lagi darimana kamu mendapatkan serbuk bunga matahari, padahal sampai sekarang itu masih jadi misteri buat kami. Kami tidak pernah tahu persis tentang kamu, bahkan kami tidak tahu kamu masih menjalin hubungan dengan Elaine sampai selama ini. Kami tidak pernah lihat kamu datang, tapi kamu ada di rumah kami. Sekarang, jujur sama Om. Apa yang kamu mau dari Elaine? Kenapa kamu mengincarnya?” Cecar papa sambil memperhatikan wajah Ellio.
Ellio menunduk, ragu-ragu. Apakah kini saatnya ia untuk jujur dan membuka rahasianya?
“Ellio?” Papa menyadarkan Ellio yang masih sibuk berpikir.
Ellio mengangguk. “Tidak bisa, Om. Om tidak bisa bertemu orang tua saya ataupun keluarga saya.” Ujar Ellio pelan.
“Kenapa?” Kejar Papa Dylan.
“Karena saya tidak punya orang tua dan keluarga. Tidak pernah punya.” Sahut Ellio lagi sambil menunduk.
“Maksud kamu?” Papa Dylan mengerutkan keningnya. Dia bingung dengan jawaban Ellio.
“Karena saya tidak pernah dilahirkan, karena itu saya tidak punya keluarga. Saya bukan manusia seperti Om dan Tante.” Ucap Ellio lagi, kali ini dia mengangkat wajahnya, menatap mata Papa Dylan.
Papa Dylan terkejut. “Lalu… Kamu makhluk apa?” Tanyanya.
“Saya peri bunga matahari. Karena itu saya bisa mendapatkan serbuk bunga matahari. Saya sudah lama mencintai Elaine, karena itu saya mendekatinya.” Ujar Ellio lagi dengan jujur. Ia berusaha memberikan penjelasan yang sederhana agar Papa Dylan dan Mama Angel mudah mempercayainya.
Papa Dylan menggelengkan kepalanya, Mama Angel mendengarkan sambil melongo. Papa Dylan tidak dapat mempercayai kata-kata Ellio, ia merasa seperti mendengar cerita dongeng seperti saat ia masih anak-anak.
__ADS_1
“Buktikan.” Akhirnya Papa Dylan memberikan kesempatan pada Ellio untuk membuktikan kejujurannya.
Ellio melirik Mama Angel yang sudah pucat pasi. Sepertinya dia tidak akan tahan, mungkin akan pingsan. Namun tidak ada pilihan lain. Ellio menganggukkan kepalanya, lalu mulai berkonsentrasi.
Blup! Ellio berubah menjadi seorang peri kecil, dengan ukuran tubuhnya yang seruas jari namun sangat indah, terutama sayapnya. Ellio segera terbang menghampiri Papa Dylan dan mendarat di meja belajar Elaine.
Papa Dylan melotot tidak mempercayai matanya, sedangkan Mama Angel…
Bruk! Mama Angel terjatuh, ia benar-benar pingsan melihat Ellio beralih rupa.
Papa Dylan terkejut, ia segera berdiri dan mengangkat tubuh istrinya, lalu membaringkannya di samping Elaine yang juga masih tak sadar.
Setelah membaringkan tubuh istrinya, Papa Dylan baru menatap Ellio kembali. Dia sudah lebih tenang, namun tidak habis pikir melihat kenyataan bahwa Ellio bukan manusia.
“Apa yang bisa kukatakan?” Keluhnya. “Bagaimana kau yang bukan manusia dapat berhubungan dengan Elaine? Seandainya kurestui pun, bagaimana kalian akan bersatu?”
Ellio masih memperhatikan Papa Dylan dengan matanya yang cantik. Papa Dylan termenung melihatnya.
“Papa…” Tiba-tiba terdengar suara Elaine. Papa terkesiap dan segera menghampiri Elaine.
“Sayang, kau sudah sadar? Kamu kenapa?” Tanya Papa Dylan sambil mengelus kepala Elaine.
“Pa, tolong. Aku cuma mau Ellio.” Elaine kembali terisak.
“Tapi dia bukan manusia!” Papa Dylan menunjuk ke meja belajar Elaine, tapi Ellio sudah menghilang. Papa Dylan menoleh-nolehkan kepalanya mencari Ellio, ternyata Ellio sudah berdiri di kaki ranjang Elaine.
Elaine mengulurkan tangannya ke arah Ellio. Ellio dengan cepat berlari, lalu terbang dan hinggap di telapak tangan Elaine. Elaine mengelus-elus kepala Ellio dengan jarinya, lalu mencium pipi kecil Ellio dengan ujung hidungnya.
“Apapun harga yang harus kubayar, aku rela, Pa. Walaupun aku harus lenyap dari Bumi, aku rela.” Isak Elaine.
Mata Papa berkaca-kaca. “Kalaupun kamu rela, kami yang tidak rela, Nak. Kamu tega meninggalkan kami, orang tuamu?”
“Tidak ada jalan lain, Pa, ini satu-satunya jalan. Maafkan aku, memang dosaku sampai membuat Papa dan Mama selama ini susah dan bersedih. Maafkan anakmu ini, Pa. Tolong jangan halangi aku, Pa, sudah seperti ini jalan yang kutempuh.” Ucap Elaine sedih sambil memeluk papanya.
__ADS_1