
Keesokan paginya.
Elaine memandang kekebun samping rumahnya. Dia baru saja selesai mandi dan sekarang duduk di teras kamarnya, memandangi kebun yang disukainya.
Ada satu pemandangan yang berbeda dari kebun samping ini. Beberapa hari ditinggalkan karena Elaine harus opname di rumah sakit, sekarang sudah ada beberapa tangkai bunga matahari dewasa yang dengan cantiknya membuka kelopak mereka dan memandang lekat ke matahari.
Elaine terpaku sambil berpikir, sejak kapan bunga matahari itu ada disana? Dan dibawahnya, ada bunga ungu kesayangannya membentuk semak, mengelilingi kaki bunga matahari yang menjulang tinggi. Sejak kapan bunga-bunga ini ada disana?
Elaine tersenyum. Dia menoleh ke meja kecil di samping ranjangnya. Disana ada kuntum bunga matahari pemberian Ellio kemarin, sudah diletakkan didalam vas bunga berisi air.
Ellio… Kamu janji mau datang setiap pagi… Tahu gak kamu, aku sudah cantik, menunggu kamu datang… Senyum Elaine sambil membayangkan bila Ellio tiba-tiba muncul di rumahnya. Tapi, apakah mungkin? Karena Elaine belum memberikan alamat rumahnya kepada Ellio.
Bunga-bunga itu sungguh menghibur Elaine. Selama ini karena tidak dapat bersekolah dan tidak memiliki teman, Elaine hanya sesekali bermain di taman di rumahnya. Taman samping ini salah satunya, tempat Elaine bermain karena dilengkapi dengan sebuah ayunan dan hamparan rumput yang sangat empuk. Dan kini dihiasi juga oleh kelompok bunga matahari.
“Elaine, ayo sarapan dulu.” Suara mama dari dalam kamar menyadarkan Elaine.
“Ia, Ma.” Sahut Elaine, lalu beranjak masuk ke kamarnya.
Baru saja Elaine mencapai pintu terasnya, sebuah batu kerikil kecil terpental dari pintu terasnya.
Trik! Trik! Elaine terkejut dan segera membalikkan tubuhnya, menghadap ke tamannya lagi. Ellio sudah berdiri di samping pagar terasnya.
“Halo.” Sapanya dengan berbisik dan melambaikan tangannya. Elaine tidak dapat mendengar suaranya, hanya membaca gerakan bibir Ellio.
“Ellio!” Seru Elaine tertahan, wajahnya bersemu, hatinya terlonjak gembira. Ingin dia berlari mendapati Ellio.
Ellio menghampiri Elaine, akhirnya mereka bertemu namun dibatasi oleh pagar teras.
“Kamu bisa kesini? Kamu tahu alamat rumahku?” Tanya Elaine, wajahnya berseri dan dipenuhi senyuman. Entah mengapa, dia sangat senang bila bisa bertemu Ellio.
Ellio menganggukkan kepalanya. “Tentu aku tahu, kalau tidak tahu, tidak mungkin aku sampai disini.” Ujarnya.
“Darimana kamu tahu?” Tanya Elaine lagi.
__ADS_1
“Dari itu,” Ellio menunjuk pada bunga matahari yang menjulang di tengah taman Elaine, “Dia yang memberitahukan padaku.” Tambahnya lagi.
Elaine menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tertawa. “Kamu bercanda ya? Mana bisa bunga matahari memberitahukan ke kamu? Memangnya dia bisa berjalan dan punya mulut?” Tawanya.
Ellio tersenyum melihat Elaine tertawa.
“Aku senang melihat kamu bahagia. Mulai saat ini dan seterusnya, aku ingin kamu selalu bahagia. Ingatlah selalu, aku selalu disampingmu. Jangan pernah merasa kesepian.” Ujarnya.
“Asal kamu selalu mengunjungi aku disini, aku ga akan kesepian.” Ujar Elaine malu-malu, ia menundukkan kepalanya. Ellio memperhatikan wajah Elaine, ia merasakan sesuatu yang berbeda dari Elaine.
“Karena itu kamu menungguku? Sejak pagi tadi kamu di teras ini, kamu menungguku?” Tanya Ellio serius.
Elaine menunduk semakin dalam, tapi terlihat ia menganggukkan kepalanya. Ellio tersenyum kecil, kedua sudut bibirnya terangkat namun Elaine tidak melihatnya.
“Kenapa?” Tanya Ellio lagi. “Kenapa kau menungguku?”
“Aku tidak tahu.” Jawab Elaine pelan. “Aku hanya ingin menunggumu. Kau sudah berjanji akan mengunjungiku, kan? Entah kenapa, tapi aku benar-benar berharap bisa bertemu denganmu.” Ujarnya lagi. Kepalanya masih tertunduk.
“Kamu kesepian?” Tanya Ellio lembut.
“Mungkin.” Jawab Elaine ragu. “Yang pasti, aku bersemangat bila tahu kau akan mengunjungiku. Aku menantikannya, aku ingin cepat pagi supaya bisa bertemu denganmu. Seakan kamu akan datang bersamaan dengan cahaya matahari.” Elaine menjawab jujur, namun setelah itu ia cepat-cepat menutup wajahnya dengan tangannya karena merasa sangat malu telah memaparkan perasaannya.
“Elaine!” Suara seruan mama terdengar dari dalam kamar. Elaine dan Ellio tersentak.
“Aku harus pergi. Aku akan mengunjungimu lagi nanti. Ini,” Ellio menyelipkan sebuah kantung kain di tangan Elaine, ”Ingat pesanku, jangan kesepian.”
Tiba-tiba Ellio menarik tangan Elaine sambil menjinjitkan kakinya, lalu dengan cepat mencuri sebuah kecupan di pipi Elaine. Elaine sangat terkejut, dia sampai tidak bisa berkata-kata.
“Elaine? Kamu belum sarapan juga, Nak?” Mama tiba-tiba muncul di belakang Elaine. Elaine kembali terkejut, dia merasa jantungnya berhenti saat itu juga.
Elaine segera menolehkan kepalanya ke mama. “Eh… Ini Ma.” Elaine menolehkan kepalanya kembali ke Ellio, namun Ellio sudah menghilang. Elaine menoleh-nolehkan kepalanya mencari Ellio, namun ia tidak bisa menemukannya lagi.
Mama sudah sampai di tempat Elaine berdiri, ia ikut berdiri menatap taman samping yang ada didepan teras kamar Elaine.
“Hmm… Disini enak ya, pemandangan dari kamar kamu bagus dan sangat segar. Mama baru sadar kamu menanam bunga matahari. Apa kamu menyuruh Pak Kus yang menanamnya?” Tanya mama sambil menunjuk kumpulan bunga matahari di tengah taman. Pak Kus adalah nama tukang kebun mereka.
Elaine menganggukkan kepalanya, ia tidak mau mama bertanya-tanya mengenai bunga matahari itu. Elaine tidak mau mama tahu Elaine juga sebenarnya bingung, darimana munculnya bunga matahari itu. Mungkin benar, Pak Kus yang menanamnya tanpa siapapun menyuruhnya.
“Eh, kamu sudah panen lagi.” Ujar mama sambil menunjuk sekuntum bunga matahari yang ada diatas pagar teras. Elaine terkejut, ia baru menyadari ada bunga matahari diatas pagarnya. Ini pasti dari Ellio, cuma Ellio yang berdiri di dekat pagar ini tadi bahkan sampai bisa mengecup pipiku, senyum Elaine.
__ADS_1
Akhirnya Elaine mengikuti mama kembali kekamarnya untuk sarapan. Elaine membawa kuntum bunga matahari itu, untuk disatukan dengan bunga matahari yang juga diberikan oleh Ellio kemarin.
🌻🌻🌻
Malam harinya sebelum tidur, Elaine teringat bahwa Ellio memberikan sebuah kantung kain pagi tadi. Segera ia membuka kantung kain itu, didalamnya terdapat sebuah surat kecil berwarna kuning dan juga sekantung serbuk yang dibungkus dengan kantung kain yang lebih kecil.
Senyum Elaine merekah lagi. Lagi-lagi Ellio memberikan serbuk bunga matahari yang begitu berharga untuknya. Aku akan berikan ke Papa untuk dibawa kerumah sakit, gumamnya, tapi kalau Papa bertanya aku dapat darimana, aku harus menjawab apa ya? Pikirnya lagi.
Elaine membaca surat yang diberikan oleh Ellio.
Dear Elaine,
Welcome home, aku senang sekali kamu sudah jauh membaik dan sudah dirumah.
Aku cuma mau bilang, jangan lupa bahagia. Apapun yang terjadi, aku selalu berharap kamu tetap bersemangat dan jangan putus asa. Seperti janjiku, aku akan selalu menemani kamu, jadi jangan pernah merasa kesepian.
Kamu mungkin heran, kenapa ada kebun bunga baru di tamanmu. Aku yang menyiapkan bunga-bunga itu di taman kamu, ada bunga matahari dan bunga malva. Bunga yang kamu suka di rumah sakit itu namanya bunga malva. Dia melambangkan harapan dan perjuangan, karena biasanya hanya tumbuh di musim panas, dimana bunga-bunga lain biasanya gugur. Aku selalu berharap kamu selalu penuh dengan harapan dalam pejuanganmu dalam hidup ini, sesuai dengan sifat bunga yang kamu suka. Untuk bunga matahari, adalah bunga yang sangat spesial untukku. Aku akan menceritakan alasannya kepadamu suatu hari nanti.
Selalu bersemangat dan bahagia, jangan lupa selalu nyanyikan lagu kita 😊 Selalu tersenyum, aku akan selalu melihatmu dari manapun aku berada.
Hugs,
Ellio
Elaine tersenyum lalu melipat kembali surat itu dan meletakkannya di laci meja belajarnya. Ia berjalan dan membuka pintu terasnya, menatap bunga matahari yang kini sedang tertunduk, tidak menatap langit. Namun entah secara kebetulan atau tidak, bunga tersebut tepat memandang ke arah pintu teras kamar Elaine.
Elaine tersenyum pada bunga itu dan melambaikan tangannya. “Selamat malam, bungaku sayang. Selamat beristirahat. Tolong sampaikan kepada Ellio, aku selalu menantikan kedatangannya. Seperti kamu dan menantikan cahaya matahari pagi sebagai sumber kehidupanmu, aku juga menantikan kedatangannya sebagai sumber kehidupanku. Karena dia adalah matahariku…” Bisik Elaine lagi.
Hembusan angin yang bertiup malam itu, seperti membelai helaian bunga dan daun yang ada ditaman itu. Bunga Matahari itu seperti mengangguk-angguk karena belaian angin, seakan-akan mengerti ucapan Elaine.
Sambil tersenyum, Elaine mengusap pipinya yang terasa hangat. Kecupan curian itu masih mendebarkan hatinya. Kecupan pertamanya.
__ADS_1