
Mama Angel membawa Elaine untuk beristirahat di kamarnya. Sementara itu, Ellio meminta ijin untuk berjalan-jalan di halaman samping rumah Elaine. Ia menghampiri bunga matahari yang tertanam di kebun itu.
Dibelainya helaian bunga itu. “Halo Sunny, apa kabar?” Bisiknya, ia menyapa bunga itu.
Cukup lama Ellio berdiri di samping bunga matahari itu sambil terus membelai kelopaknya. Kening Ellio berkerut, kemudian kerutan itu menghilang, lalu berkerut lagi. Begitu seterusnya untuk beberapa lama, sampai akhirnya ia tidak lagi membelai bunga itu, melainkan hanya berdiri disamping bunga itu saja.
Tiba-tiba Ellio melirik benci ke arah bunga mawar hitam yang ada di samping teras Elaine. Di samping bunga itu, duduk Rose sambil menyilangkan kakinya, seperti menunggu Ellio untuk menoleh. Entah sejak kapan dia disana.
“Ternyata kau penyebabnya!” Geram Ellio marah. “Aku tidak akan membiarkannya!”
Rose menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, tidak ada rasa bersalah di wajahnya. “Aku tidak melakukan apa-apa!” Kilahnya.
Ellio langsung membalikkan tubuhnya, ia tidak mau mendengarkan lagi sanggahan Rose. Dalam sekejap mata, Ellio menghilang.
“Ellio, tunggu!” Teriak Rose. Namun melihat Ellio yang menghilang, Rose segera menyusulnya.
🌻🌻🌻
Ellio tiba didepan gerbang istana matahari. Dengan kemarahan, ia menuju ruang utama istana matahari, tempat Apolo biasa menerima tamu-tamunya.
“Ellio, tunggu!” Teriak Rose lagi, dia baru saja sampai di tempat yang sama. Dengan cepat, Rose mengejar di belakang Ellio dan menangkap pergelangan tangan Ellio. Ellio menghempaskan tangan Rose.
“Kau mau membunuh Elaine!” Teriak Ellio marah. “Aku tidak akan membiarkannya! Akan kulaporkan kau kepada Apolo!” Sambungnya. Ellio kembali berjalan ke pintu utama istana matahari.
“Ellio, aku tidak membunuhnya!”Balas Rose keras. Ia terus berlari mengejar Ellio.
Ellio tidak mempedulikan Rose, ia terus merangsak masuk ke istana matahari. Dibiarkannya Rose yang tergopoh-gopoh dibelakangnya.
__ADS_1
Apolo memperhatikan dua peri kecilnya yang seperti sedang berlarian menghampiri tahtanya. Diamatinya wajah Ellio yang penuh kemarahan dan wajah Rose yang penuh kekhawatiran.
Saat tiba di muka tahta Apolo, Ellio segera berlutut memberi tanda hormatnya.
“Ada apa Ellio, mengapa kau datang tanpa kupanggil?” Tanya Apolo.
“Maafkan saya mengganggu Yang Mulia. Saya mau melaporkan sebuah pelanggaran berat, Yang Mulia. Peri ini,” Ellio menoleh kebelakang, lalu menunjuk wajah Rose, “Ia mau membunuh seorang anak manusia.” Sambung Ellio lagi.
Apolo tersentak. Sebuah pelanggaran yang berat.
“Apa itu betul? Apa kau ada buktinya?” Tanya Apolo lagi.
“Ada, Yang Mulia.” Jawab Ellio. Ellio segera duduk bersila, kemudian ia mengirimkan hasil pembicaraannya dengan Sunny kepada Apolo melalui telepati. Jalur telepati ini memang digunakan di dunia peri sebagai sarana komunikasi di dunia peri. Apolo menerima telepati ini dan melihat seperti sebuah video play back untuknya.
Sunny menceritakan, siang itu Elaine sedang becakap-cakap dengannya sambil membelai kelopaknya. Tiba-tiba bunga mawar hitam yang memang diletakkan Rose di halaman rumah itu, menebarkan serbuk sarinya. Elaine yang ternyata menderita alergi serbuk bunga mawar, mulai merasa pusing. Sunny berusaha membantu Elaine agar tetap sadar dengan menaburkan serbuknya juga, namun karena serbuk bunga matahari Sunny kalah banyak dengan serbuk bunga matahari, akhirnya Elaine tidak sadar dan jatuh pingsan akibat keracunan serbuk mawar.
“Rose masih mencoba memfitnah bunga melva, Yang Mulia, dengan mengatakan bahwa bunga melva membelit Elaine untuk membunuhnya. Padahal kenyataannya, bunga melva mencoba menolong Elaine, Rose-lah yang mencoba membunuhnya!” Teriak Ellio karena emosi.
“Tidak! Itu tidak benar!” Teriak Rose, membantah tuduhan Ellio dan pembuktian Sunny.
“Rose! Perhatikan kesopananmu! Tidak ada seorangpun yang berhak berteriak didepanku!” Gelegar Apolo. Rose langsung tersungkur mendengar kerasnya teguran Apolo.
“Sebuah pelanggaran yang berat, Rose. Mencelakai anak manusia. Kalian para peri ditugaskan untuk memelihara kehidupan, bukan untuk mengakhirinya! Apalagi makhluk itu manusia. Kau akan kuhukum!” Titah Apolo sambil memukulkan tongkat kekuasaannya pada lantai singgasananya.
Rose menyembah sambil berderai air mata.
“Maafkan aku, Yang Mulia, aku tidak bermaksud seperti itu! Mawar hitam… Mawar hitam memang memancarkan serbuknya di kala terik, Yang Mulia, bukan aku yang memerintahkannya untuk meracuni Elaine… Tidak ada diantara kita yang tahu Elaine menderita alergi serbuk bunga mawar… Tolong Yang Mulia, aku tidak bersalah!” Sanggah Rose lagi sambil menangis. Ia sangat ketakutan jiwanya akan dimusnahkan oleh Apolo.
__ADS_1
“Terus saja kau membela diri!” Sindir Ellio. “Kau sudah meletakkan bunga mawar itu di kebun Elaine untuk mengawasi Elaine, bukan? Kau sudah melihat saat pertama kali Elaine menemukan bunga mawarmu, dia tidak bisa lama-lama memnyentuh bunga mawarmu karena gatal dan pusing. Karena itu kau tahu Elaine menderita alergi itu. Sunny yang menceritakannya padaku!”
“Tidak! Itu tidak benar! Ellio, aku membantumu memanen serbuk bunga matahari, kan? Itu demi Elaine kan? Tidak mungkin aku mau membunuhnya, aku membantunya juga untuk tetap hidup!” Sanggah Rose lagi, masih dengan tangisannya.
“Apanya yang membantu!” Gerutu Ellio. “Kau hanya bernyanyi lagu memanen bunga mawar di ladang bunga matahari.” Sungut Ellio lagi.
Apolo menggebrak tongkat kekuasaannya lagi. Dia sudah tidak mau mendengar pembelaan Rose lagi.
“Masukkan dia ke botolnya.” Titah Apolo.
Seorang pengawal segera membawa sebuah botol bening bergambar mawar dan memberikannya kepada Apolo. Apolo membukanya, dan segeralah tubuh Rose mengecil dan tersedot ke botol itu. Masih terdengar tangisan Rose yang memohon ampun pada Apolo, namun Apolo tidak menggubrisnya. Segera setelah tubuh Rose masuk sepenuhnya ke botol itu, Apolo menutupnya dan memberikannya kembali kepada sang pengawal untuk menyimpannya di ruang penyimpanan.
“Rose akan ada disana untuk sesaat. Biarkan dia merenungkan kesalahannya. Aku akan mendidiknya lagi.” Tutur Apolo, kemudian menoleh kepada Ellio. “Kau terpaksa kembali mengerjakan lapangan bunga mataharimu sendirian lagi, Ellio.”
“Aku tidak keberatan, Yang Mulia. Selama ini Rose memang tidak banyak membantuku. Aku merasa dia hanya memata-mataiku, entah untuk apa. Tapi sekarang aku tahu, tujuannya adalah Elaine. Dia tidak suka Elaine.” Jawab Ellio lagi.
“Kau masih dalam pengawasanku. Tetap laporkan perkembangan jumlah bunga matahari padaku. Setiap kali kau panen, aku ingin mendengar laporanmu.” Titah Apolo lagi.
Ellio menganggukkan kepalanya.
“Selama ini aku bingung, kenapa ada perbedaan dari yang kau laporkan dan Rose laporkan.” Tambah Apolo lagi. Ellio memiringkan kepalanya. Rose melapor tentang bunga matahari pada Apolo?
Apolo tersenyum. “Jangan khawatir, aku tahu apa tujuan Rose. Laporannya palsu. Jangan kira aku bodoh, aku masih bisa menyuruh peri lain mengawasi perkembangan bunga matahari. Kali ini aku memberikan kepercayaanku padamu, Ellio. Kau boleh memanfaatkan serbuk bunga matahari untuk kesembuhan manusiamu, tapi jaga kelestariannya dan keseimbangan ekosistem.” Tambahnya lagi.
Ellio menunduk hormat pada Apolo. Dia sangat bahagia Apolo mempercayainya.
__ADS_1
Setelah selesai dengan laporannya, Ellio mohon diri dan kembali menuju rumah Elaine untuk menjenguknya.