Kaulah Matahariku

Kaulah Matahariku
Restu Papa dan Mama Bukan Untuk Kita


__ADS_3

Keesokan paginya.


Elaine membuka matanya. Hal pertama yang terlihat olehnya adalah cahaya matahari yang masuk ke kamarnya, menembus kaca pintu teras. Elaine melirik ke sisi tempat tidurnya, sudah tidak ada Ellio disana. Kelihatannya Ellio sudah keluar melalui pintu teras.


Elaine tersenyum, masih terasa hangatnya dekapan Ellio semalam. Saat Elaine terbangun tengah malam, Ellio masih ada dan tetap tidur sambil mendekapnya. Sungguh sebuah pengalaman yang menyenangkan untuk Elaine.


Elaine segera bangun dan bersiap-siap hendak ke sekolah. Setelah mandi dan memakai seragam sekolahnya, ia keluar dari kamarnya untuk sarapan.


Ada yang aneh hari ini. Papa dan mama sudah bersiap, berpakaian rapi seperti akan pergi ke suatu tempat. Tapi pakaian mereka seperti pakaian santai, bukan pakaian kantor seperti yang biasa papa kenakan.


“Papa dan Mama, mau kemana?” Tanya Elaine bingung.


“Papa dan Mama mau ajak kamu pergi. Hari ini Elaine ga usah kesekolah dulu ya. Ikut Papa dan Mama dulu. Mama sudah telepon kesekolah kamu tadi, minta ijin.” Ujar mama sambil tersenyum.


Elaine membentuk mulutnya menjadi huruf O sambil menganggukkan kepalanya. “Ok kalau begitu, aku ganti baju dulu ya.” Ujar Elaine sambil beranjak kekamarnya.


Ketika Elaine sedang mengganti bajunya, terdengar suara dehaman seseorang dibelakangnya. Elaine memekik terkejut, ia segera menutupi tubuhnya dengan baju yang ada ditangannya.


“Ellio!” Serunya malu. Elaine membalikkan tubuhnya sehingga ia bisa menatap Ellio sekaligus menyembunyikan punggungnya yang terbuka. Wajahnya sudah memerah karena malu.


Ellio tersenyum melihat Elaine yang belum memakai kembali pakaiannya. Ia berjalan mendekati Elaine, membuat Elaine semakin gugup dan tubuhnya terjajar mundur hingga akhirnya Elaine terbentur lemari pakaiannya. Tidak ada tempat lagi untuk menghindar.


Ellio terus mengikis jarak diantara mereka, hingga akhirnya tubuh mereka tidak berjarak lagi. Tangan Ellio menangkup kedua tangan Elaine dan ujung hidung mereka bertemu.


“Selamat pagi, Sayang.” Bisik Ellio mesra. “Sudah kunci pintu?” Tanyanya lagi sambil menatap dalam ke mata Elaine.


Elaine mengangguk seperti orang terhipnotis. Ellio tersenyum lalu memiringkan kepala, mencuri sebuah kecupan dari bibir Elaine.


Elaine masih tidak bereaksi. Senyum Ellio semakin lebar, ia semakin menjadi-jadi menggoda Elaine. Dikecupnya bibir Elaine semakin dalam sambil tangannya terus menggenggam tangan Elaine yang masih mempertahankan pakaiannya. Saat bibir Ellio pindah ke leher Elaine, dengan cepat Ellio mengangkat tangan Elaine ke atas kepalanya, membuat pakaian yang menutupi tubuh Elaine akhirnya terjatuh. Namun Elaine seperti tidak sadar, ia tetap menikmati ******* dari Ellio hingga akhirnya Ellio dapat mengecup kedua bongkahan yang masih murni yang berada di bagian depan tubuh Elaine.


Cukup lama Ellio mengolah bagian itu, bergantian antara kanan dan kiri. Ia melepaskan tangan Elaine dan memeluk erat pinggang Elaine, membuat tubuh Elaine melengkung belakang. Elaine pun akhirnya mendekap kepala Ellio, semakin merapatkannya ke dadanya.


******* Elaine semakin membuat Ellio bersemangat dan terus mempermainkan tubuh Elaine. Tangan Ellio pun akhirnya memainkan bongkahan itu, meremas kanan dan kiri, bergantian dengan bibirnya.

__ADS_1


Hingga akhirnya Ellio menghentikannya. Ia mengangkat kepalanya dan memandang mata Elaine yang meredup karena menikmati kegiatan mereka. Ellio mengecup bibir Elaine untuk menyadarkan gadis itu kembali.


“Sampai disini dulu ya, Sayang. Selebihnya akan kita nikmati setelah kita menikah.” Bisik Ellio sambil mengecup telinga Elaine.


Elaine memejamkan matanya sambil mengangguk, menahan hasratnya. Kemudian ia membuka matanya, tersenyum pada Ellio. “Terima kasih, Sayang, aku menikmatinya.” Bisiknya di telinga Ellio, lalu Elaine mengecup pipi Ellio beberapa kali.


Ellio tersenyum bahagia. Kemudian ia mengambil pakaian yang tadi hendak dipakai oleh Elaine dan membantu Elaine memakainya.


“Ini bukan seragam sekolah. Kau tidak sekolah hari ini?” Tanya Ellio.


“Aku hari ini pergi dengan Papa dan Mama. Jadi, jangan jemput aku di sekolah, ya?” Ujar Elaine sambil menarik resleting gaun di punggungnya. Ellio membantu menariknya dan mendaratkan sebuah kecupan di leher belakang Elaine, membuat bulu kuduk Elaine meremang.


“Ok.” Ujar Ellio sambil mengelus leher belakang Elaine. Elaine segera membalikkan tubuhnya dan memukul tangan Ellio.


“Keluar kau! Kau dari tadi, bikin aku on aja!” Gerutu Elaine.


Tok Tok! Elaine terkejut, pintu kamarnya diketuk.


“Iya, Ma, sudah.” Seru Elaine sambil mendorong tubuh Ellio ke arah teras.


“Keluar kau, sekarang!” Desisnya mengusir Ellio. Elaine takut mama menangkap Ellio lagi didalam kamarnya.


Ellio tertawa. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, dan sekejap kemudian ia berubah menjadi peri kecil dan berlari masuk ke selimut Elaine untuk bersembunyi.


Elaine menarik napas lega, ia segera membuka pintu kamarnya dan mengikuti mama untuk sarapan.


🌻🌻🌻


Ternyata papa dan mama pagi ini membawa Elaine ke salon. Mereka semua berdandan seperti akan pergi ke pesta. Mulai dari make up sampai pakaian, semua dikenakan di salon itu.


“Kita mau ke pesta apa, Ma?” Tanya Elaine bingung. Papa dan mama hanya diam sambil tersenyum pada Elaine.


Ketika stylist hendak mengenakan gaun pesta ke tubuh Elaine, alangkah terkejutnya mereka ketika menemukan tanda merah kepemilikan di dada Elaine. Elaine memucat, mama terlihat menahan amarahnya. Elaine membuang pandangannya, tidak berani melihat mama. Ia mengira-ngira, sepertinya ini perbuatan Ellio pagi tadi. Pada saat mandi tadi, Elaine tidak melihat tanda kepemilikan ini. Ellio, cari gara-gara saja, gumam Elaine.

__ADS_1


“Perbuatan Ellio?” Bisik mama perlahan namun terasa hawa kemarahannya. Elaine diam saja, pura-pura tidak mendengar pertanyaan mama. Stylist pun bergerak cepat, segera menutupi memar itu dengan foundation dan kosmetik lainnya.


Setelah itu mereka bertiga menuju sebuah hotel. Mereka bergerak menuju ballroom, tempat acara diadakan. Ketika sampai ditempat itu, mata Elaine membesar karena ia melihat hampir seluruh keluarga besarnya ada di sana. Terutama orang-orang yang dituakan dari keluarganya, seperti kakek dan neneknya, juga kakak dan adik dari kakek dan neneknya.


Elaine memandang ke arah pelaminan, terdapat inisial E&E disana. Apa ini? Sebuah pesta pernikahan? Tanya Elaine dalam hati.


Hingga akhirnya, secara tiba-tiba Papa meraih tangan Elaine dan menggandengnya ke arah pelaminan. Elaine berjalan seperti orang linglung, dipagari oleh keluarga besarnya yang tersenyum bahagia menatapnya juga tamu-tamu lain yang dikenalnya.


Kemudian, seseorang muncul pada saat Elaine hampir mencapai pelaminan. Papa mengalihkan tangan Elaine yang semula melingkar di lengan papa ke genggaman lelaki itu. Mata Elaine membesar dan ia memekik terkejut. Edward!


Elaine melihat ke sekelilingnya panik. Ia ingin melarikan diri dari tempat itu. Acara apa ini?


Elaine menarik tangannya, tidak mau memegang tangan Edward. Namun cengkraman Edward cukup keras, sambil tersenyum ia mengunci tangan Elaine.


“Elaine, jangan bikin Papa malu! Lihat, opa, oma, om, tante, sepupumu semua ada disini. Kau mau kita sekeluarga jadi bahan pembicaraan mereka?” Desis papa penuh ancaman.


Elaine tertegun mendengar kata-kata papa, ia tidak bisa berkutik. Akhirnya dengan berderai air mata, Elaine mengenggam tangan Edward.


Ternyata, diam-diam papa dan mama Elaine dan Edward mengatur acara pertunangan ini untuk mengikat Edward dan Elaine. Papa Dylan meminta tolong pada Papa Edward agar Elaine dapat lepas dari Ellio.


“Ellio!” Bisik Elaine didalam hatinya saat Edward menyematkan sebuah cincin pertunangan di jari manisnya. Matanya tidak bisa berhenti mengalirkan air mata.


Tangan Elaine bergetar saat harus menyematkan cincin di jari Edward. Cincin itu hampir saja jatuh saat Elaine mendengar desisan Papa Dylan.


“Elaine! Jangan bikin malu!” Bisiknya galak. Sambil terisak, Elaine menyematkan cincin itu di jari Edward.


Edward tersenyum tipis, anggota keluarga besar kedua calon mempelai bertepuk tangan menyambut calon pengantin baru itu.


Selanjutnya, para tetua kedua keluarga membicarakan rencana pernikahan Edward dan Elaine. Diputuskan, keduanya akan dinikahkan tahun delapan bulan lagi, saat Elaine dan Edward sudah berusia delapan belas tahun.


“Ellio! Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan?” Batin Elaine menangis sambil mendengarkan rencana keluarga besar mereka, menentukan nasib Elaine semau mereka. Diliriknya Edward, sahabat baiknya yang semula begitu mendukungnya, namun kini terlihat begitu puas saat keluarganya berusaha memisahkannya dari Ellio.


Elaine melihat cincin yang melingkar di jari manisnya, tanda ikatannya dengan Edward. Sekali lagi, hatinya menjerit. “Ellio!"

__ADS_1


__ADS_2