Kaulah Matahariku

Kaulah Matahariku
Menentukan Pilihan


__ADS_3

Elaine terbangun dari tidurnya. Namun betapa terkejutnya dia ketika sadar, ia bukan di kamarnya lagi. Diperhatikannya ruangan itu, dindingnya serba putih. Selimut yang menutupi tubuhnya juga berwarna putih. Elaine melirik tangannya, sebuah jarum tertancap di punggung tangannya. Rumah sakit?


Elaine mengeluh dalam hatinya. Apa Papa dan Mama yang memasukkannya kesini karena menganggapnya sakit?


Elaine mendengar langkah kaki berderap mendekatinya. Ia membuka matanya sedikit. Terlihat seorang dokter dan beberapa perawat sedang menuju ke arahnya. Segera setelah mencapai tempat tidur Elaine, mereka bekerja, mengecek ini dan itu.


“Pasien sudah sepenuhnya sadar. Ijinkan orang tuanya masuk.” Perintah dokter pada perawatnya.


Beberapa saat kemudian, masuklah mama dengan berurai air mata.


“Elaine, Sayang, syukur kau sudah sadar, Nak.” Isak mama. Dia memeluk Elaine dan menciumi pipinya.


“Ma… Aku kenapa?” Tanya Elaine. Suaranya serak, kerongkongannya kering.


“Kamu nggak sadar lagi seperti kemarin, Nak. Lagi-lagi tiga hari. Apa ada yang sakit? Kalau ada yang sakit, bilang ke Mama, Nak. Jangan kamu diamkan. Apa kamu marah sama Papa dan Mama? Papa dan Mama kalau marah juga ada sebabnya, Nak. Jangan benci pada kami, ya. Maafkan Papa dan Mama kalau terlalu keras sama kamu, membuat kamu sedih. Jangan nekat ya, Nak, jangan tinggalkan kami.” Mama tersedu lagi.


Elaine mengernyitkan dahinya. Ada yang aneh disini.


“Ma, aku ga apa. Aku ga marah sama Papa dan Mama.” Ujarnya lemah, kerongkongannya masih sakit.


“Syukurlah, Nak. Terima kasih kamu sudah mengerti kasih sayang Papa dan Mama untuk kamu. Lain kali jangan nekat ya, Nak?” Ujar mama lagi, masih dengan suaranya yang bergetar.


Lagi-lagi Elaine menggeleng. Ada yang salah disini. Kenapa Mama melantur begitu ngomongnya? Nekat apa? Apa jangan-jangan aku dikira percobaan bunuh diri gara-gara Papa dan Mama marah-marah kemarin?


Elaine menghela napasnya. Ia ingin membantah, tapi kerongkongannya masih sakit. Akhirnya Elaine menutup matanya, memilih untuk kembali tidur. Lebih baik dia diam saja, tidak usah membantah mamanya.


Sambil menutup matanya, Elaine terus berpikir. Ia terbayang wajah Papa dan Mama yang pertama kali dilihatnya pada saat ia baru sadar dari komanya. Wajah sedih mama dan wajah papa yang perasaannya hancur. Bagaimana bila aku mengambil keputusan untuk ikut Ellio ke dunia peri? Apa aku akan meninggal? Seberapa besarnya kesedihan papa dan mama, seberapa dalam hancurnya perasaan mereka?


 🌻🌻🌻


Hari ini Elaine keluar dari rumah sakit, setelah tiga hari di ICU dan satu hari di ruang rawat inap biasa. Dokter sudah melakukan pemeriksaan dan Elaine sudah dinyatakan sehat. Tentu saja, karena penyebab Elaine tertidur bukan karena sakit, namun karena obat dari Ellio.


Satu hal yang baru disadari oleh Elaine. Papa dan mama semakin sering membicarakan Edward. Undang Edward untuk belajar bersama. Undang Edward untuk liburan bersama kita di akhir minggu ini. Ajak Edward pergi jalan-jalan sepulang sekolah, supaya kau ga kesepian. Edward ini dan Edward itu, pembicaraan papa dan mama ke Elaine sebagian besar didominasi oleh Edward.


Sehari setelah Elaine keluar dari rumah sakit, ia mulai bersekolah lagi. Saat itu Elaine merasakan, sikap Edward mulai berubah padanya.


“Ed, kamu kenapa? Kok hari ini kamu aneh?” Tanya Elaine pada saat mereka makan di kantin. Saat itu Oliver dan Michelle sedang mengantri di kios makanan lain, hanya Elaine dan Edward yang sudah duduk di meja makan kantin.


“O ya? Aku biasa saja kok.” Jawab Edward. Elaine diam namun memperhatikan Edward. Edward lebih pendiam, tidak seceria biasanya.


Akhirnya mereka makan dalam diam, kecuali pasangan Michelle dan Oliver. Edward dan Eline hanya berbicara seperlunya.


“Ngg… El, nanti setelah jam pulang sekolah, boleh kita bicara?” Tanya Edward ragu-ragu, setelah mereka selesai makan siang dan hanya berdua. Elaine menganggukkan kepalanya.


“Tapi jangan lama-lama ya, soalnya aku dijemput Ellio.” Kata Elaine lagi. Edward mengangguk. Mereka tidak banyak bicara karena setelah itu Oliver dan Michelle kembali bergabung dengan mereka.


🌻🌻🌻


“Mau bicara apa?” Tanya Elaine pada Edward, siang itu di dalam kelas. Jam sekolah sudah berakhir dan murid-murid lain sudah meninggalkan kelas. Kini hanya Edward dan Elaine saja yang ada di dalam kelas.

__ADS_1


“Ngg…” Edward terlihat ragu-ragu.


“Ga apa, Ed. Ngomong aja.” Ujar Elaine cepat, berusaha menghilangkan keragu-raguan Edward.


“Ngg… A-Aku cuma mau bilang…” Edward kembali terlihat ragu-ragu. Ia melihat mata Elaine, lalu segera membuang pandangannya.


Elaine tidak berbicara, ia hanya memandang Edward, menunggu ia bicara.


“Ngg… Ada rencana di antara orang tua kita,” Edward menelan ludahnya, “Untuk me… Ngg… Menjodoh-kan ki-kita…” Lanjutnya pelan, sambil melirik ingin melihat reaksi Elaine.


Elaine melebarkan matanya.


“Apa?” Tanyanya, terkejut.


Edward kini memandang wajah Elaine.


“Ngg… A-aku tahu, kamu sudah dengan Ellio, ta-tapi, orang tua kita berkeras…” Ujar Edward lagi. Ia khawatir Elaine akan pingsan mendengar berita yang ia sampaikan.


Elaine masih terdiam, ia benar-benar terkejut. Mengapa Papa dan Mama menjodohkanku dengan Edward? Apa untuk menjauhkan Ellio?


Air mata Elaine menetes. Betapa tidak sukanya orang tuanya pada Ellio, padahal Ellio sudah menyelamatkan nyawanya. Kesalahan Ellio hanya satu, yaitu masuk ke kamar Elaine.


“Ngg.. El, ka-kalau kamu ga keberatan, apakah kita bisa mencoba…” Edward menyambung kata-katanya dengan ragu-ragu.


Elaine kembali membesarkan matanya ketika mendengar kata-kata Edward. “Tidak!” Serunya histeris.


“El… El.. Dengar aku dulu!” Seru Edward, berusaha agar Elaine tenang. “Maksudku, kita hanya menjalaninya supaya orang tua kita tenang! Bu-Bukan pacaran sungguhan, maksudku.” Sambung Edward lagi.


“Lalu bagaimana dengan orang tua kita? Mereka terus mendorong kita, El! Maksudku, supaya mereka tidak mengejar-ngejar kita saja…” Jelas Edward lagi.


“Kamu serius? Kamu ga menolak waktu papa mamamu menjodohkan kita? Padahal kamu tahu aku punya Ellio!” Ketus Elaine.


Edward menghela nafasnya, lalu dengan mantap ia mulai menatap Elaine. Elaine bergidik melihat tatapan Edward.


“A-Aku sebenarnya… Suka kamu...” Ujarnya pelan, namun terdengar seperti bunyi petasan di telinga Elaine.


“Nggak! Itu ga benar!” Teriaknya lagi, lalu dengan cepat ia mengambil tasnya dan meninggalkan kelas. Tidak dipedulikannya Edward yang masih mencoba menjelaskan perasaannya.


Elaine terus berlari sepanjang koridor sekolah. Air matanya tidak berhenti mengalir.


Sesampainya di pintu gerbang sekolah, Ellio sudah bersandar pada gerbang sekolah, menunggu kedatangan Elaine. Ia terdiam melihat Elaine yang menghampirinya sambil menangis.


Elaine segera meraih tangan Ellio dan menariknya untuk meninggalkan sekolah. Sepanjang jalan pulang, ia tidak berbicara apapun tapi tetap menggenggam tangan Ellio. Ellio membiarkan saja dirinya diseret Elaine sepanjang jalan menuju rumahnya.


Mereka sempat berhenti berjalan dan duduk di bangku taman yang ada di taman kota. Disana Elaine menangis sesenggukkan, melampiaskan perasaan kecewanya pada orang tuanya. Ellio hanya terdiam, duduk di sebelah Elaine. Ia sudah mengetahui semuanya dari kemampuannya membaca pikiran Elaine.


Setelah puas menangis, mereka melanjutkan perjalanan pulang ke rumah Elaine.


🌻🌻🌻

__ADS_1


Sesampainya di rumah, Elaine tetap menggenggam tangan Ellio dan menariknya ke ruang tamu. Ellio membiarkan Elaine berbuat sesuai kehendaknya.


“Mama! Maa…” Elaine berteriak di ruang tamu, sesaat setelah mereka melewati pintu rumah. Mama yang saat itu berada di dapur, segera menghampiri Elaine.


“Elaine? Ada apa..” Kalimat mama terputus saat melihat Ellio juga ada disana.


“Mama? Kenapa Mama dan Papa menjodohkan aku dengan Edward?” Air mata kembali membanjiri pipi Elaine.


“Elaine, itu… Itu…,” mama tergagap, terkejut Elaine langsung menyerangnya dengan pertanyaan itu.


“Aku tidak mau Edward!” Teriak Elaine histeris.


“El.. El..” Kali ini Ellio membuka suaranya, ia segera merangkul Elaine dan menyandarkannya ke dadanya.


Mata mama membesar melihat Ellio memeluk Elaine.


“Kamu! Berani sekali kamu! Lepaskan Elaine!” Seru mama marah.


“Tante, tolong! Tolong jangan seperti ini!” Ucap Ellio pelan.


Namun kemarahan mama menyulut emosi Elaine kembali.


“Aku hanya mau dengan Ellio! Aku ga mau yang lain!” Seru Elaine lagi.


“Elaine! Jangan tidak sopan sama Mama!” Tegur mama karena Elaine berteriak di depannya. “Kamu nggak tahu betapa sayangnya Papa dan Mama ke kamu! Kami cuma mau yang terbaik buat kamu, bukannya yang merusak kamu!” Sambung mama lagi.


“Siapa yang merusak? Aku nggak rusak!” Bantah Elaine keras.


“Elaine!” Tegur Mama lagi. Ia menunjuk kamar Elaine.


“Masuk ke kamarmu! Tunggu Papa pulang, baru kita bicara! Ellio, kamu pulang!” Perintah mama lagi.


“Nggak! Ga mau! Aku kecewa sama Papa dan Mama, aku kira Papa dan Mama sayang padaku, ternyata aku salah! Papa dan Mama hanya mementingkan kemauan Papa dan Mama!” Elaine berteriak sambil menangis.


“Elaine!” Tegur mama ketiga kalinya. Kali ini dia langsung menghampiri Elaine dan menarik tangannya menuju ke kamar Elaine.


“Nggak, ga mau!” Elaine terus memberontak namun tenaganya kalah dengan tenaga mama yang sedang marah. Ellio yang berusaha mempertahankan Elaine dalam pelukannya pun tidak bisa berbuat banyak karena tidak ingin dinilai buruk lagi oleh Mama Angel.


“Papa Jahat! Mama jahat! Aku cuma mau Ellio! Selama ini aku ga pernah minta apapun pada Papa dan Mama, kan? Sekarang aku minta! Aku cuma mau Ellio!” Elaine berteriak di sela-sela langkahnya menuju kamar. Air mata terus mengalir di pipinya.


“Ellio! Ellio!” Serunya berulang-ulang sambil melihat ke arah Ellio.


Ellio hanya terpaku melihat adegan di depan matanya. Ia tidak menyangka Mama Angel akan semarah itu.


“Elaine!” Tiba-tiba mama menjerit.


Ellio tersentak. Dia melihat Elaine ambruk di depan pintu kamarnya.


🌻🌻🌻

__ADS_1


Next: Jangan halangi aku.. Aku akan ikut!


__ADS_2