Kaulah Matahariku

Kaulah Matahariku
Hari Pertama Sekolah


__ADS_3

Setahun telah berlalu.


Elaine tahun ini akan berusia tiga belas tahun. Dia akan mulai memasuki jenjang Sekolah Menengah Pertama (kelas tujuh).


“El, kamu sekolah dimana sih? Kamu ga pernah cerita ke aku.” Gerutu Elaine pada suatu sore, saat Ellio datang mengunjungi Elaine di rumahnya.


Ellio tersenyum. “Kenapa memangnya, kamu mau main-main ke sekolahku?” Tanyanya.


“Bukan, sebentar lagi kan aku masuk SMP, kayaknya enak deh kalau kita bisa sekolah di sekolah yang sama. Ga apa kita beda kelas, kamu kakak kelas aku, tapi kita jadi bisa sama-sama terus kan?” Jawab Elaine sambil memiringkan kepalanya, memasang wajah imutnya.


Ellio tertawa, kemudian ia mencubit pipi Elaine. “Kenapa, kamu mau sama-sama aku terus ya?” Godanya.


“Aduh, sakit! Ellio!” Rengek Elaine sambil memegang pipinya.


Ellio tertawa lagi. “Aku sekolah di sekolah khusus anak laki-laki, memangnya kamu mau nyamar pakai celana pendek masuk sekolahku?” Tanyanya lagi.


Elaine membentuk huruf O dengan mulutnya, ia baru tahu Ellio sekolah di sekolah khusus anak laki-laki.


“Ya sudah kalau begitu, aku minta Papa dan Mama daftarkan aku ke sekolah yang dekat dengan rumah saja. Nanti biar aku ga lama dijalan.” Ujar Elaine lagi.


“Iya, nanti aku saja yang main-main ke sekolah kamu, ya? Nanti sesekali kita ketemu di sekolah kamu. Belajar yang rajin, jangan malah cari pacar!” Ujar Ellio sambil mencolek ujung hidung Elaine.


Elaine tertawa sambil mengusap hidungnya. “Biarin! Nanti aku akan cari pacar yang banyak!” Teriaknya.


Mereka tertawa berdua.


🌻🌻🌻


Elaine akhirnya bersekolah di sekolah yang terletak didekat rumahnya. Sebuah sekolah favorit yang sebagian besar muridnya adalah kelas menengah keatas. Setiap hari Elaine diantar jemput oleh Mama Angel dengan mobilnya.


Dihari pertama sekolah, Elaine merasa canggung. Belum ada yang dikenalnya di sekolah itu. Teman-teman baru, guru-guru baru dan lingkungannya juga baru.


Elaine mulai berkenalan dengan teman-teman sekelasnya, minimal yang duduk disekitar bangkunya. Ada Michelle si kutu buku yang duduk disebelahnya dan Oliver si pemusik yang duduk diseberangnya. Sebagai murid pendatang baru, Elaine mendapat kursi didepan, kursi yang hanya diinginkan oleh anak-anak yang mau serius belajar. Bangku favorit yang terletak dibelakang, biasanya dikuasai oleh anak-anak gaul dan populer.

__ADS_1


Melihat wajah Elaine yang manis, seorang murid yang populer mengajak Elaine untuk pindah tempat duduk dan bergabung dengannya di deretan belakang. Elaine menolak, karena ia takut melihat karakter anak tersebut yang berangasan. Oliver beberapa kali mendapatkan bentakan dari anak itu. Leo si anak pejabat, mendengus ketika Elaine menolak ajakannya.


Usaha Leo tidak terhenti begitu saja walaupun Elaine menolak.


“Pak, saya mau duduk dengan Elaine, Pak!” Seru Leo kepada Pak Irwan, wali kelas mereka, yang sedang mengatur pembagian tempat duduk murid-muridnya. Semua murid sontak tertawa kecuali Elaine, Michelle dan Oliver. Wajah Elaine memucat, Pak Irwan tersenyum mendengar permintaan Leo.


“Elaine?” Tanya Pak Irwan, ia ingin mendengar kesediaan Elaine. Ditengah suara murid-murid lain yang hingar binger tertawa dan meledek Leo dan Elaine.


Elaine menggelengkan kepalanya. Dia sangat takut Pak Irwan memindahkan tempat duduknya. Elaine meremas tangan Michelle sambil terus mengggeleng.


“Hmm, baiklah. Kalau begitu, Leo,” ujar Pak Irwan sambil menoleh ke Leo, “Kalau kamu mau duduk dekat Elaine, kamu saja yang duduk didepan. Kamu boleh tukar tempat duduk dengan Oliver!” Tambahnya lagi, membuat Elaine semakin memucat.


“Ah, ga jadi deh Pak!” Seru Leo kesal. Dia tidak mau berkorban duduk ditempat yang diperhatikan guru demi mendekati Elaine. Tawa murid-murid semakin keras, mereka menertawakan usaha pertama Leo yang gagal mendekati Elaine.


Leo tidak tertawa seperti teman-temannya yang lain, ia memandang tajam kepada Elaine. Dikepalanya mulai tersusun beberapa rencana untuk mendekati gadis itu.


🌻🌻🌻


Hari yang sama, bubaran sekolah.


“Hai, Cantik.”


Elaine menoleh, jantungnya berdegup kencang. Tampak Leo sambil tersenyum menghampirinya.


“Balum dijemput? Mau bareng aku saja ga, mobilku disana.” Ujarnya, sambil menunjuk ke satu titik tempat terparkirnya sebuah sedan mewah.


Elaine menggeleng, dia berusaha menenangkan jantungnya. “Terima kasih, sebantar lagi jemputanku datang.”


“Hm, kalau begitu aku temani sampai jemputanmu datang ya?” Ujar Leo sambil bersandar di tembok halte tempat Elaine menunggu.


“Tidak usah, kamu pulang saja dulu.” Ujar Elaine lagi, dia meremas tangannya sendiri. Elaine merasa tidak aman ada Leo didekatnya.


“Kenapa, kamu mengusirku?” Senyum Leo lagi sambil mendekati Elaine.

__ADS_1


Elaine bergerak mundur, jantungnya kembali berdebar kencang. Ia melirik ke sekitarnya, agak tenang karena masih ada beberapa orang di halte itu, walaupun orang-orang itu terkesan tidak peduli pada Elaine dan Leo. Tapi ia khawatir karena Leo semakin mendekat, mengikis jarak diantara mereka.


“Kenapa kamu seperti tidak mau dekat denganku?” Ucap Leo lagi. Kini dia sudah berhasil memojokkan Elaine, kemudian menjulurkan tangannya ingin menyentuh pipi Elaine. “Kamu takut padaku?” Sambungnya lagi.


Elaine sudah mau menjerit untuk menarik perhatian orang disekelilingnya.


“Elaine!” Sebuah suara terdengar. Elaine dan Leo menoleh, tampak Ellio berdiri di halte itu juga, menggunakan seragam sekolah sambil menenteng tasnya di bahu. Tampaknya Ellio juga baru pulang sekolah.


“Ellio!” Elaine bersyukur dan sangat lega melihat Ellio. Tanpa sadar ia bergerak maju dan menabrak bahu Leo hingga Leo terjajar ke samping, membuka akses Elaine menuju Ellio. Elaine segera meraih tangan Ellio.


Leo menelisik Ellio dari kepalanya sampai kakinya. Dia masih mempertimbangkan apakah akan maju merebut Elaine atau tidak. Leo agak ragu karena melihat tubuh Ellio yang lebih tinggi dari tubuhnya, jelas terlihat Ellio lebih tua beberapa tahun darinya.


Beberapa teman sekelas Elaine yang juga berada di halte itu, menatap ke arah mereka. Kehadiran Ellio yang merupakan siswa sekolah lain, menarik perhatian mereka.


“Ayo, kita pulang.” Ellio berkata dingin, sambil melirik Leo. Kemudian ia menggenggam tangan Elaine dan merekapun berjalan menjauhi halte, menuju arah rumah Elaine.


“Mama kamu belum jemput?” Tanya Ellio kepada Elaine, setelah beberapa lama mereka berjalan.


Elaine menggelengkan kepalanya.


“Kirimkan pesan ke mamamu, bilang saja aku yang mengantarmu pulang.” Ujar Ellio lagi.


Elaine meraih ponselnya. Ternyata ada pesan dari mama bahwa mama tidak bisa menjemput Elaine dan menyuruh Elaine pulang dengan taksi saja. Elaine menghembuskan nafasnya, menyesali  dirinya yang tidak membaca pesan mama. Jika dia membacanya, mungkin dia akan langsung pulang sendiri dan tidak ada peristiwa dengan Leo tadi.


Ellio tersenyum melihat Elaine, ia mengacak rambut Elaine lembut.


“Jangan khawatir, aku akan temani kau pulang. Ayo!” Ujarnya sambil kembali menggandeng tangan Elaine.


Elaine tersenyum dan berjalan perlahan disamping Ellio. Sesekali ia menarik tangan Ellio supaya jalannya tidak terlalu cepat.


“Kenapa, kamu lelah? Apa kamu kepanasan?” Tanyanya Ellio sambil memperhatikan bulir-bulir keringat di dahi Elaine.


Elaine menggeleng. “Jangan cepat-cepat, kita jalan santai saja.” Kata Elaine lagi sambil tersenyum. Saat itu memang baru jam sepuluh pagi, sekolah bubar lebih awal karena baru hari pertama masuk sekolah. Ia tidak ingin cepat-cepat sampai di rumah dan terkurung lagi sendirian. Ia ingin lebih lama bersama Ellio.

__ADS_1


Elaine berjalan sambil melambai-lambaikan tangan Ellio. Bibirnya tersenyum menikmati saat itu, dengan udara pagi yang sejuk dan Ellio disampingnya, hati Elaine merasa senang.


__ADS_2