Kaulah Matahariku

Kaulah Matahariku
Edward Yang Penasaran


__ADS_3

Setelah seminggu dirawat di ruang rawat inap biasa, Elaine sudah diijinkan pulang. Elaine sangat bahagia, dia sudah begitu kangen dengan suasana rumah dan kebun kecil disamping kamarnya. Dan satu lagi, Elaine kangen dengan Ellio.


Ada satu rahasia yang akhirnya diungkapkan oleh Ellio. Sebagai peri, ia tidak bisa berada terlalu lama di tempat buatan manusia. Karena itulah, Ellio lebih sering muncul di taman atau tempat-tempat lain yang berada di alam terbuka. Apabila terlalu lama didalam suatu bangunan atau tempat tertutup lainnya, energi peri akan semakin melemah dan akhirnya mati.


Rose juga tidak terlalu berbohong mengenai kehidupan peri. Ellio selama ini juga melompati tembok yang memagari rumah Elaine dari dunia luar, lalu bersembunyi di helaian kelopak Sunny. Setelah situasi aman, barulah Ellio mengetuk pintu teras Elaine, tentu saja dengan penampilannya sebagai manusia biasa. Elaine melotot ketika mengetahui kenyataan ini. Berarti selama ini Ellio menyelinap? Elaine menyangka Ellio selalu melewati ruang tamu dahulu baru menuju kebun sampingnya, namun ternyata Elaine salah. Ellio menertawakan Elaine yang kebingungan, dan ia dihadiahi capitan kepiting di perutnya dari jari-jari Elaine.


Dirumah, Ellio juga suka menyelinap masuk kekamar Elaine. Beruntung kamar Elaine memiliki pintu teras sendiri, sehingga Ellio masih bisa menghirup udara bebas dari pintu itu. Karena itulah Ellio bisa bertahan tidur di kamar Elaine semalaman. Sedangkan di rumah sakit ini, Ellio tidak dapat bertahan lama bila masuk kekamar Elaine yang berada di lantai sebelas. Duh, kangennya sama Ellio, senyum Elaine sambil melamunkan Ellio.


“El, ayo pulang.” Ujar mama yang baru saja kembali dari mengurus administrasi. Ia sangat senang akhirnya Elaine sudah diijinkan meninggalkan rumah sakit. Elaine juga mengangguk senang, ia tidak sabar untuk pulang.


🌻🌻🌻


Sehari setelah Elaine pulang dari rumah sakit, ia sudah mulai bersekolah kembali.


“Eleeee!!” Edward berteriak sambil berlari ketika dilihatnya Elaine sudah masuk sekolah lagi. Elaine melambai-lambaikan tangannya. Namun ia terhentak kebelakang ketika secara tiba-tiba Edward memeluknya.


“My gosh! Edward! Kau sudah gila ya?” Elaine terengah-engah kehabisan napas ketika Edward memeluknya kencang. Elaine memberontak karena kehabisan napas dan malu kepada teman-temannya yang tertawa melihat mereka.


“Welcome, Princess! Ayo duduk! Kamu ga boleh terlalu capek!” Ujar Edward sambil menarik tangan Elaine, menyuruhnya duduk di samping tempat duduknya sendiri.


“Edward, apa sih…” Pipi Elaine memerah, teman-teman sekelasnya mulai berbisik-bisik melihat betapa perhatiannya Edward kepadanya.


Edward menggeleng sambil tersenyum. “Cute!” Ujarnya sambil mencuri cubitan dari pipi Elaine. Elaine mengaduh.


“Aduh!” Kesakitan, secara refleks Elaine menabok tangan Edward. Edward tertawa.


“Elaaaa!!” Sebuah teriakan terdengar lagi, menyambut kedatangan Elaine. Elaine menoleh, dan melihat Michelle sedang berlari kearahnya dengan mata berbinar senang. Lengannya terbuka, sepertinya ia juga ingin memeluk Elaine.


Belum sempat Elaine membuka tangannya untuk menyambut pelukan Michelle, Edward sudah membuka lengannya, pasang badan didepan Elaine. Maksud hati ia ingin melindungi Elaine dari pelukan orang lain, yang ada ia malah mendapat pelukan dari Michelle.


Elaine dan teman-teman sekelasnya tertawa terbahak-bahak. Edward dan Michelle sontak melepaskan pelukannya, terkejut karena sorakan teman-temannya.


“Ih, apa sih peluk-peluk!” Omel Michelle, padahal pipinya merah merona. Elaine tersenyum melihatnya.

__ADS_1


Edward sendiri akhirnya salah tingkah. Ia sempat terpaku sejenak karena tercium harum rambut dan parfum Michelle.


“Elaa… Duduk sama aku ya? Kita perlu cerita banyak!” Ujar Michelle sambil menarik tangan Elaine. Kemudian ia mengusir Oliver yang sudah duduk dibangkunya untuk pindah ke tempat Elaine duduk, disamping Edward. Edward melongo teman duduknya dirampas orang lain, Oliver juga memasang tampang masam harus duduk dengan orang lain.


“Kau juga berhutang banyak cerita padaku!” Bisik Edward tegas sebelum Elaine berpindah tempat duduk karena ditarik Michelle. Elaine hanya mengangguk.


🌻🌻🌻


Jam pulang sekolah.


Edward menarik Elaine ke taman sekolah. Disaat pulang sekolah ini, Edward baru bisa berbicara berdua dengan Elaine, karena selama jam sekolah Elaine dimonopoli oleh Michelle. Bahkan pada jam istirahat.


“Aku sudah harus pulang!” Elaine berkeras, berusaha melepaskan diri.


Edward juga menggelengkan kepalanya, berkeras. “Tidak bisa! Cerita dulu! Kau dan lelaki itu sudah mengganggu hidupku, kalian berhutang cerita padaku!”


Elaine mendelik. “’Mengganggu hidupmu’ bagaimana maksudmu?” Tanyanya.


Elaine termangu ketika mendengar nama Rose. Ia menghela napasnya.


“Ok, aku akan cerita. Kau mau tahu tentang apa?” Tanya Elaine lagi. Otaknya berputar, memilah-milah apa yang boleh diceritakan dan mana yang tidak boleh.


Dan mengalirlah pembicaraan mereka. Edward benar-benar ingin tahu. Siapa Ellio? Kapan kalian kenalan? Siapa Rose? Apa benar Rose dan Ellio pacaran? Elaine menjawab seminimal mungkin, menjaga agar rahasia masa lalu mereka dan rahasia Ellio sebagai peri tidak terbuka.


“Oooh, jadi sebatas perempuan cemburu yang mau mempertahankan gebetannya? Aku kira apa!” Dengus Edward sebal. Elaine tertawa melihat reaksi Edward, sekaligus lega Edward puas dengan penjelasannya.


“Sekarang giliranmu. Ceritakan apa yang Rose bilang padamu.” Tuntut Elaine.


Lagi-lagi Edward mendengus sebal. “Rese banget itu perempuan. Pertama mengganggu aku di lapangan basket. Setelah itu, sering muncul dimana-mana. Di sekolah, di rumah, di lapangan basket, dimana-mana deh pokoknya. Inti omongannya sama, minta aku membantu dia memisahkan kau dan Ellio. Eh iya, ada satu lagi yang mau aku tanya. Kenapa Ellio kelihatan tidak senang kalau melihatku?” Tanya Edward lagi.


Elaine tersenyum lagi. “Tentu saja dia ga suka kalau ada laki-laki lain yang mendekati pacarnya.” Ujar Elaine sambil melirik ke Edward. Edward melongo, mulutnya terbuka dan matanya membesar.


“Jadi, kau dan Ellio sudah jadian?” Tanyanya.

__ADS_1


Elaine tertunduk malu. “Iya, dia pacarku.” Wajah Elaine memerah, dia merasa malu. Baru kali ini dia menyebut Ellio sebagai ‘pacar’ didepan orang lain.


Edward tersenyum miris. “Berkurang lagi satu gadis cantik didunia…” Gumamnya.


“Ha? Apa?” Elaine yang tidak mendengar jelas gumamam Edward, menajamkan pendengarannya.


Edward tertawa sambil menggeleng, kemudian ia berdiri dari duduknya.


“Ayo, kita pulang!”


🌻🌻🌻


Elaine melongok ke arah gerbang sekolah. Lagi-lagi dilihatnya Ellio sudah berdiri di gerbang sekolah. Elaine tersenyum senang, lalu berpamitan dengan Edward yang sedang berjalan ke arah mobilnya.


“Tunggu! Aku juga mau ketemu Ellio!” Sergah Edward. Elaine berpikir sejenak, ia mengangguk. Mereka berdua berjalan menuju Ellio.


Ellio yang tadinya bersandar pada pagar sekolah, menegakkan tubuhnya saat Elaine dan Edward hampir mencapainya.


Ada yang berbeda dari Ellio. Tidak ada lagi rasa permusuhan dari pancaran matanya. Pandangan matanya dingin, seperti melihat Edward sebagai teman biasa.


“Bro.” Ucap Ellio sambil mengajukan kepalan tangannya.


Edward dan Elaine melongo melihat perubahan Ellio ini. Namun sekilas kemudian Edward tersenyum tipis dan memajukan kepalan tangannya, menyambut uluran tos dari Ellio.


“Bro.” Sapanya pada Ellio.


Elaine tersenyum melihat ini.


“Kita pulang sekarang?” Tanya Ellio pada Elaine. Elaine menganggukkan kepalanya.


“Tunggu!” Ujar Edward tiba-tiba. Ellio dan Elaine menoleh. “Hati-hati dengan Rose. Feelingku, dia berniat jahat pada kalian.” Sambungnya.


“Jangan khawatir, aku sudah siap.” Jawab Ellio dingin. Ia sudah menyusun rencana di kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2