Kaulah Matahariku

Kaulah Matahariku
Lagi-Lagi Leo


__ADS_3

Leo.. Leo… Dan Leo.


Nama itu adalah sebuah momok untuk Elaine. Selama tahun pertamanya bersekolah di SMP barunya, Leo tidak henti-hentinya berusaha mendekati Elaine baik menggunakan cara halus maupun cara kasar.


Seperti hari senin pagi dua hari yang lalu, pada jam pelajaran olahraga. Pak guru memerintahkan murid-murid berlari keliling lapangan sepuluh kali sebagai pemanasan. Elaine, yang belum seratus persen pulih, mendapat keringanan boleh berlari sebanyak dua putaran saja, tidak henti-hentinya dibuntuti Leo. Murid-murid yang lain sontak menjauh karena takut pada Leo dan gerombolannya, sedangkan Elaine sendiri juga ketakutan. Elaine tidak bisa meminta tolong pada siapa-siapa, gurunya hanya mengawasi dari jauh.


Selama berlari bersama Leo, Leo tidak henti-hentinya berbicara, membujuk bahkan mengancam Elaine. “Habis jam pelajaran ini, kamu harus duduk denganku ya. Aku sudah tahu rumahmu, jangan sampai malam-malam aku masuk ke rumahmu lalu aku culik kamu!” Ancamnya. Elaine bergidik, dia tidak bisa membayangkan bila ancaman Leo menjadi kenyataan.


Akhirnya di hari itu, Elaine duduk dengan Leo. Leo tertawa senang, ancamannya berhasil. Sebenarnya Elaine takut duduk dengan Leo, tapi ia lebih takut kalau malam-malam nanti Leo menculiknya.


Selama duduk bersama Leo, laki-laki itu tidak berhenti berbicara, mengganggunya dan merayunya. Elaine tidak dapat konsentrasi belajar karena berisik dan ketakutan.


Beruntung, wajah ketakutan Elaine terlihat oleh Pak Guru wali kelas yang hari itu kebetulan mengajar.


“Elaine, pindah kedepan! Kamu duduk dibelakang, deret belakang tambah berisik!” Tegurnya. Elaine bersyukur Pak Guru memindahkannya kedepan, walaupun beliau menggunakan nama Elaine sebagai penyebab keberisikan namun Elaine tetap bersyukur karena dipindahkan. Leo memprotes atas dipindahkannya Elaine, namun Pak Guru juga berkeras dengan alasan Elaine mengganggu kenyamanan kelas untuk belajar. Sepertinya Pak Guru berpihak pada Elaine tapi takut pada pengaruh orang tua Leo.


Langkah selanjutnya, Leo memaksa mengantarkan Elaine pulang. Elaine menolak, dengan alasan mamanya sudah biasa menjemputnya setiap hari.


“Telepon mamamu sekarang juga, bilang tidak usah jemput! Aku yang akan mengantarmu pulang!” Perintah Leo, sambil menyodorkan ponselnya ke Elaine. Elaine menggelengkan kepalanya, ia benar-benar takut dengan Leo dan perilakunya yang kasar.


“Aku tidak ingat nomor telepon Mama!” Tolaknya.


Leo mendengus, hari itu dia gagal mengantar Elaine pulang karena mama menjemput Elaine.


🌻🌻🌻


“Ellio, aku takut sama Leo.”


Elaine mengadu pada Ellio ketika sore itu Ellio datang ke rumah Elaine. Seperti biasa, mereka duduk di kursi teras kamar Elaine.

__ADS_1


Ellio memang menjadi tempat Elaine mengadu mengenai Leo. Elaine pernah menceritakan mengenai Leo pada mama, namun mama hanya bilang maklum bila Leo mau mendekati Elaine, karena Elaine cantik. Itu saja.


Ellio menganggukkan kepalanya, tampak sedang berpikir tentang sesuatu.


“Aku akan melindungimu.” Hanya itu yang diucapkan Ellio, kemudian ia mengelus kepala Elaine. Elaine terdiam, merasa sedikit lebih tenang karena Ellio berjanji akan melindunginya.


🌻🌻🌻


Hari ini, tiga hari setelah Elaine duduk bersama Leo di kelas.


Siang hari ini, Elaine akan mengikuti kelas ekstrakulikuler melukis. Elaine memang menyukai melukis, lagipula melukis tidak terlalu banyak menghabiskan tenaganya sehingga Elaine tidak terlalu lelah.


Elaine melewati kelas ekstrakulikulernya dengan tenang. Ketika selesai, segera dikemasnya peralatan melukisnya dan ia bersiap untuk pulang.


Ketika melewati tempat parkir jemputan, mata Elaine tertumbuk pada Leo yang sedang bersandar di mobil mewahnya. Jantung Elaine sontak berdegub kencang, ia mulai merasa takut.


“Ellio, tolong aku!” Serunya dalam hati. Tiba-tiba saja Elaine teringat pada Ellio.


Elaine lolos! Leo tidak mengikutinya. Dengan agak cepat Elaine berjalan menyusuri jalan, jarak rumahnya yang tidak terlalu jauh dari sekolah membuat Elaine dapat mencapai rumahnya dengan berjalan kaki. Mama Angel hari ini harus mendamping papa menemui relasi bisnisnya, karena itu mama tidak bisa menjemput Elaine.


Elaine terus berjalan, sambil mengingat bahwa ia pernah berjalan dengan Ellio di jalan ini sepulang sekolah sambil bergandengan tangan.


Tin... Tin! Tiba-tiba sebuah mobil di belakang Elaine membunyikan klaksonnya. Elaine menoleh, dan betapa terkejutnya dia, melihat Leo sudah menepikan mobilnya dan sedang bergerak turun dari mobilnya untuk menghampiri Elaine.


Sontak Elaine berlari. Dia sangat takut Leo menangkapnya.


“Elaine!” Grep! Leo berhasil menangkap tangan Elaine dan menariknya menuju mobilnya. Elaine memberontak, air mata sudah mengembang di pelupuk matanya.


“Gak mau! Lepasin!” Teriak Elaine. Leo tidak melepaskan cengramannya, ia malah semakin kencang menarik Elaine ke dalam mobilnya. Elaine tetap melawan, namun tenaganya kalah jauh dibandingkan tenaga Leo. Leo terus menyeret Elaine, Elaine sudah semakin mendekati mobil Leo yang terparkir.

__ADS_1


“Gak mauu!! Tolooong!” Elaine berteriak histeris.


TIba-tiba segerombolan lebah menyerang Leo, menyengatnya dari berbagai sisi.


“Aahhhh!!” Teriak Leo. Cengkramannya di tangan Elaine terlepas, ia mengibas-ngibaskan tangannya untuk mengusir lebah-lebah itu. Namun bukannya pergi, lebah-lebah itu semakin sengit menyengatnya.


Elaine berlari menjauh, memanfaatkan kesempatan untuk mencapai gerbang perumahan secepat mungkin. Leo juga berlari, kebetulan didekatnya ada sebuah taman kota yang rimbun dengan pohon-pohonan.


Leo terus berlari menghindari lebah-lebah itu, hingga akhirnya dia terjungkal karena kakinya tersangkut akar pohon yang menjulur keluar dari tanah. Leo berguling-guling ditanah sambil menghindari sengatan para lebah di tubuhnya.


TIba-tiba sosok Ellio berdiri didepan Leo yang masih terkapar di tanah, wajahnya menampakkan kemarahan yang sangat. Leo sangat terkejut melihat Ellio tiba-tiba ada di hadapannya.


“Tolong… Ampun, ampun!” Seru Leo kesakitan sambil terus mengusir lebah dengan tangannya. Lebah-lebah itu terus menyengatnya tanpa henti.


Wajah Ellio sangat merah karena marah. Dan tiba-tiba, tubuh Ellio membesar hingga dua kali lipat ukuran biasanya, sayapnya yang indah keluar dari punggungnya. Wajahnya yang memerah karena marah berubah menjadi putih seputih kapas, begitu pula kulit tubuhnya berubah menjadi putih. Matanya yang hitam membesar dan rambutnya mejadi kekuningan, sekuning kelopak bunga matahari.


Tampilan Ellio sebenarnya sangat indah, tapi karena perubahannya yang sangat tiba-tiba dari wujud manusia menjadi wujud peri ukuran besar, membuat Leo sangat ketakutan. Masih menjerit-jerit, Leo merangkak menjauhi Ellio sambil terus menghalau lebah-lebah yang menyengatnya.


“Tolong! Tolooong!” Jeritnya dengan sia-sia, karena taman kota itu sangat sepi hingga tidak satu manusiapun mendengar jeritannya.


Ellio mengangkat tangannya dan menjentikkan jarinya, lebah-lebah itu sontak mundur dan terbang tenang disakitar Ellio. Leo melihat Ellio dan lebah-lebah itu dengan ketakutan.


“Itu peringatan untukmu!” Seru Ellio sambil menunjuk Leo. “Sekali lagi kau mengganggu Elaine, kau akan ku…” Wajah Ellio tiba-tiba berubah merah lagi dan rambutnya berubah menjadi hitam legam.


Mata Leo membesar. Seperti melihat film horror didepan matanya, ia langsung menjerit dan bangkit, lalu lari tunggang langgang tak tentu arah.


Hingga akhirnya Leo tidak terlihat lagi, ukuran tubuh Ellio sudah kembali ke ukuran biasanya. Warna kulit, rambut, mata dan wajahnya sudah seperti biasa lagi.


Ellio tertawa, mengingat wajah Leo yang ketakutan dan lari tunggang langgang. Ia menoleh ke sampingnya, melihat ke salah satu lebah yang berukuran paling besar.

__ADS_1


“Terima kasih, teman.” Ujarnya sambil menganggukkan kepala. “Aku berhutang budi padamu, Peri Lebah temanku. Semoga setelah ini, anak itu tidak mengganggu Peri Melva lagi.” Tambahnya.


Lebah itu ikut menundukkan kepalanya, lalu terbang bersama rombongannya meninggalkan tempat itu.


__ADS_2