
Sudah beberapa hari ini Ellio tidak menampakkan diri. Elaine melewati hari-harinya dengan rasa bosan.
Elaine selalu ingat kata-kata Ellio. Bila ia ingin bercerita, ia akan menghampiri bunga matahari yang ada dikebunnya, mengelus kelopaknya, lalu menceritakan kegundahan hatinya. Kenapa Ellio tidak datang lagi, apakah dia tidak kangen padaku? Aku ingin mendengar cerita-ceritanya, leluconnya, godaannya. Bahkan keberaniannya menyentuh dan mengecup pipi Elaine juga dirindukannya.
Demikian yg dilakukannya hari ini. Lain hari ini, lain pula esok hari.
Keesokan harinya, Elaine tidak berbicara dengan bunga mataharinya. Dia hanya membelai kelopaknya lalu menggumamkan lagu yang Ellio ajarkan padanya.
Keesokannya lagi, Elaine tidak bernyanyi maupun berbicara. Ia hanya membelai kelopak bunganya lalu sesekali mengecup bunga mataharinya.
Demikian dilakukan Elaine setiap hari, mengikuti apa yang diinginkan oleh hatinya.
Sampai suatu hari, Elaine menyadari ada tanaman baru di kebunnya. Sebuah mawar hitam, muncul di tepi kebunnya.
Tanaman itu hampir tidak terlihat, karena muncul didekat pagar rumahnya. Tumbuhnya pun belum berbentuk semak, hanya setangkai saja. Tidak seperti bunga matahari dan bunga malva yang tumbuh ditengah taman, bahkan sangat dekat dengan ayunan Elaine.
“Halo, darimana asalmu? Selamat datang di kebun kecilku.” Gumam Elaine sambil membelai kelopak bunga mawar itu. Saat itulah tukang kebun keluarga Elaine melintas.
“Pak Kus,” panggil Elaine, “Tolong pindahkan mawar ini ke samping bunga matahari, ya.” Pinta Elaine kepada Pak Kus, tukang kebunnya.
Kening Pak Kus berkerut.
“Bunga mawar hitam? Apakah mau dipelihara, Non? Apa tidak sebaiknya Bapak buang saja?” Ujar Pak Kus.
“Kenapa, Pak? Kasihan dia kalau dibuang.” Ujar Elaine.
“Mawar hitam dipercaya berarti tidak baik, Non. Banyak orang bilang bunga ini membawa kesedihan dan duka cita.” Jawab Pak Kus lagi.
“Benarkah?” Elaine terkejut. Yang diketahuinya, bunga mawar hitam termasuk kategori langka, bukan artinya yang membawa kesedihan. “Tapi kasihan dia kalau dibuang, Pak.” Tutur Elaine lagi, sedih.
“Begini saja. Bapak tanam di pot saja ya? Jadi jangan dipelihara terlalu dekat dengan Non Elaine. Bapak khawatir ini pertanda tidak baik, Non. Nanti potnya kita bisa taruh di sekitar pagar saja, jangan mendekat ke Non Elaine.” Saran Pak Kus lagi. Perasaannya mengatakan hal yang kurang baik mengenai bunga ini.
Elaine terpekur memikirkan saran Pak Kus. “Baik pak, boleh juga seperti itu. Dipindahkan ke pot saja ya.” Ujar Elaine.
Setelah itu Pak Kus mengerjakan apa yang Elaine minta, dan Elaine kembali ke kamarnya.
🌻🌻🌻
“Kenapa kau ada disini?” Ellio menggeram gusar menatap Rose.
Rose, sang peri bunga mawar, menaikkan dagunya.
__ADS_1
“Aku diminta Apolo mengawasimu! Apolo masih khawatir kau akan menghabiskan serbuk bunga matahari tanpa berpikir!” Jawab Rose ketus.
“Aku sudah bilang, aku akan melaporkan semuanya ke Apolo! Aku tidak perlu pengawasanmu!” Ketus Ellio.
“Apolo tidak percaya padamu! Kalau sudah jatuh cinta, semut pun akan bertindak bodoh, sama sepertimu! Menunggu kau melapor… Huh! Semua sudah akan terlambat!” Gerutu Rose.
Ellio tertegun. Jatuh cinta? Apa aku sudah jatuh cinta pada Elaine?
Rose pergi saat Ellio sedang terdiam. Saat Ellio sadar, Rose sudah menghilang.
🌻🌻🌻
Suatu pagi.
Elaine sedang menjenguk bunga mataharinya. Ia berdiri di hadapan bunga matahari yang tinggi menjulang, setinggi tubuh Elaine. Elaine tampak mengelus-elus kelopak bunga matahari itu.
“Sunny, Ellio ada dimana… Kamu tahu ga Ellio dimana… Sudah lama sekali Ellio ga datang… Aku kangen Ellio, kamu kangen Ellio ga?”
“Aku juga kangen kamu.”
Elaine terlonjak, terkejut karena Ellio tiba-tiba muncul dibelakangnya.
“Jadi, namanya Sunny? Bahagia sekali dia, diberi nama oleh kamu. Aku juga mau dong! Kamu mau panggil aku apa?” Ellio menggoda Elaine, dia berbicara sambil berjalan mendekat ke Elaine.
“Kamu kan sudah punya nama…” Gumam Elaine pelan sambil tertunduk. Dia masih merasa malu Ellio mendengar kata-katanya tadi. Rasanya ingin lari dan sembunyi di dalam kamar saja.
“Tapi itu bukan nama dari kamu,” ujar Ellio lagi, “Kalau boleh, aku ingin punya nama panggilan dari kamu.”
“Hmm… Apa ya…” Elaine memaksa untuk berpikir, walaupun jantungnya masih berdegub kencang karena rasa malu yang masih melingkupinya. Gawat, aku ga ada ide, gumamnya.
“Aku ga ada ide, maaf ya…” Ujar Elaine pelan. Dia menundukkan kepalanya sambil mengosok-gosokkan kakinya di rumput tebalnya.
“Hmm… Begitu ya. Bagaimana kalau.. ‘Sayang’? Goda Ellio lagi.
“Sa-sayang?” Elaine tergagap. Apa aku ga salah dengar ini? “Sa-sayang?” Ulang Elaine lagi.
Akhirnya Ellio tidak tahan lagi, ia tertawa terbahak-bahak. Wajah Elaine yang memerah dan kebingungan sangat lucu baginya.
“Ellio!” Seru Elaine gusar, namun kemudian ia tersenyum. Elaine sadar Ellio mengganggunya. Tawa Ellio membuat hatinya senang.
“Aku akan sangat senang kalau kamu bisa memanggilku ‘sayang’, tapi kalau belum bisa juga ga apa. Berjanjilah, suatu hari nanti, panggil aku ‘sayang ‘ ya?” Pinta Ellio sambil menatap Elaine dalam.
__ADS_1
Wajah Elaine semakin memerah, ia menunduk setelah melihat tatapan mata Ellio yang begitu serius padanya. Elaine menunduk, tapi kemudian ia mengangguk.
Ellio tersenyum lebar, lalu menarik tangan Elaine untuk duduk di ayunan. Ellio berdiri dibelakang Elaine, mendorong-dorong ayunannya.
“Bagaimana kabarmu beberapa hari ini? Sunny belum cerita padaku.” Sambung Ellio lagi sambil tersenyum.
“Ellio!” Seru Elaine malu, lagi-lagi Ellio mengganggunya. Ellio terbahak.
“Aku akan memanggilmu ‘princess’, karena kamu adalah sang putri, dewiku.” Ucap Ellio lagi.
Elaine akhirnya memilih diam saja, dia semakin malu karena Ellio tidak berhenti mengganggunya.
“Ellio, aku punya bunga baru.” Akhirnya Elaine memilih mengalihkan pembicaraan. Ia menunjuk ke arah pagar rumahnya.
“Disana ada bunga mawar hitam yang langka. Tidak tahu dari mana, tahu-tahu pagi ini aku baru mulai sadar kalau ada bunga itu disana. Kamu mau lihat? Bunga yang cantik, tapi kata Pak Kus bunga itu punya arti yang tidak baik. Menurut kamu bagaimana? Kalau menurutku, semua yang diciptakan itu pasti baik. Mana ada bunga yang tidak baik, betul tidak, El? El?” Tanya Elaine.
Elaine menoleh, karena ia tidak mendengar Ellio menjawab. Elaine melihat Ellio tertegun menatap kearah mawar hitamnya.
Elaine turun dari ayunannya, lalu menarik tangan Ellio kemudian mereka menghampiri bunga mawar hitam itu.
Mereka berdua terdiam, berdiri didepan bunga mawar hitam itu. Kemudian Elaine menunduk, mengangkat pot bunga itu.
“Pak Kus sudah memindahkan bunga itu ke pot. Jadi kita bisa meletakkannya dimana yang kita suka. Tapi Pak Kus bilang, jangan dekat-dekat dengan terasku. Kata Pak Kus, bunga ini artinya tidak baik.”
“Memang tidak baik!” Potong Ellio cepat. “Buang saja dia, jangan ditanam disini.”
“Tapi, kenapa?” Tanya Elaine lagi. “Dia bunga yang cantik!” Tambah Elaine lagi, sambil membelai kelopak bunga mawar hitam itu.
“Aduh!” Tiba-tiba duri mawar hitam itu menggores jari Elaine. Elaine sontak menjerit.
“Elaine!” Seru Ellio. Ia segera merampas pot bunga itu lalu melemparnya ke pinggir pagar. Sontak bunga itu terlempar keluar dari potnya dan tanahnya berantakan. Ellio segera meraih jari Elaine, lalu memasukkannya ke mulutnya untuk menghentikan perdarahan.
“Ellio!” Seru Elaine perlahan. “Aku tidak apa-apa.” Sambungnya.
Ellio memperhatikan Elaine yang mengusap jarinya yang tidak lagi berdarah, namun tampak sebuah goresan kecil di jarinya.
Kau mau menyingkirkan aku? Tidak akan bisa! Itu peringatan kecil dariku untuk kekasihmu, bersiap-siap saja kalian!
Sebuah suara menggema di telinga Ellio, ia mengenalinya sebagai suara Rose. Ellio menggeram marah, Rose sudah berani melukai Elaine.
Dengan cepat Ellio menarik tangan Elaine untuk segera meninggalkan tempat itu.
__ADS_1