Kaulah Matahariku

Kaulah Matahariku
Menggoda Edward


__ADS_3

“Kenapa kau jadi mendadak baik sama Edward?” Tanya Elaine sambil mengayun-ayunkan tangan Ellio. Mereka sedang berjalan menuju rumah Elaine sepulangnya dari sekolah.


“Siapa yang jadi baik? Aku biasa saja.” Jawab Ellio datar. Elaine melirik menggoda.


“Ayo cerita! Pasti ada yang kau sembunyikan!” Seru Elaine sambil menggelitik pinggang Ellio. Ellio tertawa keras sambil meliukkan badannya, menghindari gelitikan Elaine.


“Iya, iya! Aku cerita! Stop, stop!” Gelak Ellio, ia sudah kewalahan menghadapi gelitikan Elaine.


Ellio duduk di bangku taman di pinggir jalan. Ia terengah-engah kehabisan napas.


Elaine menertawakannya. “Rasakan, itu akibatnya ga jujur sama aku!” Sindirnya. “Ayo cerita!” Paksa Elaine sambil duduk di samping Ellio.


Ellio mengambil napas panjang untuk menenangkan jantungnya. “Aku sudah dengar semuanya.” Ujarnya setelah napasnya telah teratur.


“Dengar apa?” Tanya Elaine tidak mengerti.


Ellio tersenyum simpul. “Pembicaraanmu dengan Edward, aku sudah dengar semuanya.”


Elaine termangu, ia mengingat-ingat apa yang ia bicarakan dengan Edward. Sampai suatu saat, wajahnya memerah. Dia melirik gusar ke Ellio.


“Bagaimana kamu bisa mendengar semuanya?” Ucapnya curiga. “Jangan-jangan…”


Ellio tersenyum lebar. “Apa gunanya jadi peri kalau ga bisa menguping pembicaraanmu? Aku tinggal bersembunyi di bawah kursimu pun kau ga akan tahu.” Ucapnya sambil tertawa.


“Eh, tapi tadi aku lupa, kamu panggil aku apa ya? Pacar… Pacar ya kalau ga salah?” Ucap Ellio sambil memiringkan kepalanya dan melihat ke mata Elaine langsung. Ellio sangat suka melihat wajah Elaine yang sudah berubah merah seperti sekarang.


“Iihhh, Ellio jahaaatt!!” Elaine langsung berdiri dan berjalan cepat meninggalkan Ellio menuju ke rumahnya. Ia tidak tahan digoda seperti itu, Elaine sangat malu.


Ellio tertawa dan ikut berdiri, mengejar Elaine. Mereka berlari-lari saling menyusul hingga ke rumah Elaine.


 


🌻🌻🌻


 


Setelah Elaine pulang dengan Ellio, Edward masuk ke dalam mobilnya. Ia duduk di kursi belakang, sementara supirnya mengendarai mobilnya. Namun baru saja mobilnya bergerak hendak keluar dari tempat parkir mobil, seseorang mengetuk kaca mobilnya.


Edward terkejut, ternyata Rose yang mengetuk kacanya.

__ADS_1


“Halo!” Ucapnya sambil tersenyum dan melambaikan tangan. Edward menarik napas panjang, dia benar-benar lelah meladeni Rose.


Ini sudah yang kesekian kali Rose menghampiri dan membujuk Edward untuk mendekati Elaine.


“Kamu lagi. Mau apa lagi?” Tanya Edward dingin setelah membuka kacanya.


Diluar dugaan, Rose dengan cepat mengulurkan tangannya dan membuka kunci mobil. Membuka pintu mobil, lalu segera menjejalkan tubuhnya masuk ke mobil dan duduk disebelah Edward.


Edward sangat terkejut, ia tidak menyangka Rose akan menyeruduk masuk ke mobilnya. Dengan terburu-buru, Edward menggeser tubuhnya hingga Rose bisa duduk.


“Aku ikut kau pulang ya, kita bicara di rumahmu saja.” Ucap Rose sambil tersenyum manis.


“Aku ga mau pulang!” Seru Edward keras.


Ciiitt! Edward dan Rose terkejut karena mobil direm tiba-tiba.


“Den, ga jadi pulang?” Ujar si sopir ragu-ragu sambil melirik melalui kaca spion tengah. Edward mendelik kesal sedangkan Rose tertawa lebar tanpa bersuara.


“Kita ke café saja, yang di ruko depan kompleks rumah, Pak.” Ujar Edward jengkel.


“Baik, Den.” Si sopir kembali menjalankan mobilnya.


Sesampainya di café, mereka duduk berseberangan sambil menghadapi secangkir kopi dan jus jeruk.


“Apa lagi yang mau kau bicarakan?” Tanya Edward kesal.


“Sebenarnya aku hari ini tidak mau ke café.” Ujar Rose dengan mudahnya, membuat Edward semakin jengkel. “Hari ini aku mau menemanimu saja. Aku sudah bilang tadi kan, aku ikut ke rumahmu saja?” Ucap Rose ringan.


“Cuma menemaniku saja?” Tanya Edward lagi. Rose mengangguk. Tiba-tiba terlintas ide di kepala Edward. Ia menyeringai.


“Bagus!” Kata Edward tiba-tiba, lalu dengan cepat ia berdiri dan menarik tangan Rose, menyeretnya keluar café.


“Edward! Edward! Apa sih ini? Kenapa aku diseret-seret? Edward!” Protes Rose, ia sampai berlari-lari di samping langkah kaki Edward yang panjang.


Edward mendorong Rose masuk kedalam mobil, lalu memberi perintah singkat ke supirnya.


“Tunggu diluar!” Ujarnya sambil menatap tajam supirnya. Pak supir bergidik, lalu menangguk dan kembali duduk di warung dekat mobilnya terparkir.


Edward masuk ke dalam mobilnya dan mengunci semua pintu mobil. Rose hanya duduk terdiam sambil memperhatikan tingkah laku Edward.

__ADS_1


Tiba-tiba Edward dengan santai membuka kancing kemeja seragamnya, lalu melepaskan kemejanya. Mata Rose langsung melebar.


“Ma-mau a-apa kau?” Ujar Rose, jantungnya berdebar melihat tingkah aneh Edward.


“Kau bilang mau menemaniku? Kalau itu, ga usah nunggu sampai dirumah. Disini juga bisa.” Ujar Edward sambil tersenyum. Lalu dengan perlahan tapi pasti, ia mulai melepaskan ban pinggangnya.


“Kau gila!” Teriak Rose. Dia mulai merasa takut.


“Kenapa?” Tanya Edward lagi, ban pinggang sudah sepenuhnya lepas dari pinggangnya. Edward kini memainkan kancing celana dan resletingnya.


“Aku curiga, sebenarnya selama ini kau bukan suka Ellio, tapi kau suka padaku. Kau hanya mengaku-ngaku suka pada Ellio dan mengenal Elaine supaya bisa mendekatiku. Makanya kau ganggu aku hampir setiap hari. Oke, kalau ini yang kamu mau. Kita akan bersenang-senang sekarang.”


Kriet! Resleting Edward sudah terbuka. Rose menjerit ketakutan. Dengan cepat ia membuka kunci pintu dan mendorong pintu hingga terbuka, lalu lompat keluar dari mobil. Terbirit-birit kabur dari tempat itu.


Edward memperhatikan Rose yang lari tuunggang langgang. Dia terbahak-bahak, lalu membuka jendela mobilnya.


“Pak! Kita pulang!” Serunya pada supirnya.


🌻🌻🌻


Di rumah Elaine.


Dilantai kamarnya, Elaine duduk bersila sambil menangkupkan tangannya. Ia memegang sesuatu yang begitu kecil dan rapuh. Bila diperhatikan lagi, ternyata ia sedang memegang Ellio dalam wujud perinya.


Elaine meminta sebuah permintaan ke Ellio. Ia ingin melihat Ellio dalam wujud perinya.


Ellio mengabulkannya. Kini dengan besar tubuhnya yang hanya seruas jari, bersayap indah, berpakaian dari susunan helaian daun kecil, Ellio berada diatas telapak tangan Elaine. Ia duduk di tangan kiri Elaine, sedangkan jari-jari tangan kanan Elaine sibuk membelai rambut Ellio.


“Kamu mungil sekali sih? Aku suka sekali, kamu lucu. Sayap kamu indah sekali! Kuning, sewarna dengan warna kelopak Sunny! Lucu sekali! Aku makin sayang sama kamu. Eh!” Elaine terkejut, bibirnya seperti tidak ada remnya.


Ellio yang sedang terkantuk-kantuk bersandar pada jari Elaine, membuka matanya lebar-lebar. Ia melihat Elaine, lalu tersenyum senang. Satu lagi pengakuan Elaine tentang perasaannya telah terucap dari bibir Elaine sendiri.


“Idih, mukamu kok begitu? Senyum-senyum itu bibirnya! Kamu kesenangan ya, aku bilang sayang? Enak aja kamu ya, enak aja!” Gerutu Elaine sambil mendorong-dorong kepala kecil Ellio. Ia malu Ellio mendengar ucapannya.


Ellio mendelik kesal karena Elaine mendorong-dorong kepalanya. Dengan cepat, ia melompat dari tangan Elaine dan kembali ke wujud manusianya. Dengan tubuh besarnya dan hanya bercelana pendek, ia berdiri tegap didepan Elaine.


Elaine memekik, terkejut karena Ellio berubah wujud dengan begitu cepat. Ellio langsung menyerbu Elaine dengan pelukan dan kecupannya. Elaine terbahak-bahak sambil menghindar dari pelukan Ellio.


“Apa kamu? Berani ya mendorong-dorong kepalaku? Mentang-mentang aku kecil, kamu begitu ya? Awas kamu, aku balas! Rasakan ini, aku balas!” Seru Ellio.

__ADS_1


Elaine masih tertawa keras saat tiba-tiba pintu kamar terbuka lebar, tampak wajah khawatir Mama Angel didepan pintu. Lengkingan teriakan Mama terdengar, saat ia mendapati Elaine dan Ellio yang hanya bercelana pendek, berpelukan di kamar Elaine.


__ADS_2