
Matahari pagi sudah meninggi. Di rumah keluarga Edward, keluarga kecil itu sudah duduk mengitari meja makan. Mereka akan sarapan, hanya tinggal menunggu Elaine keluar dari kamarnya.
Namun setelah ditunggu-tunggu, Elaine tidak juga keluar dari kamarnya. Akhirnya Mama Rosa memutuskan untuk mengetuk pintu kamar Elaine, mungkin Elaine tertidur, pikirnya.
Mama Rosa membuka pintu kamar Elaine setelah beberapa saat mengetuk pintu namun tidak ada jawaban. Dilihatnya Elaine masih berbaring di ranjangnya, tubuhnya bagian bawah tertutup selimut, tangannya mengenggam bunga matahari. Melihat wajahnya yang pucat, membuat wajah Mama Rosa ikut memucat.
Dengan jantung berdebar, Mama Rosa meraba nadi di leher Elaine. Ia tersentak ketika merasa betapa dinginnya tubuh Elaine.
“Aaaaaaa!!!!” Mama Rosa menjerit histeris, menyadari bahwa Elaine telah tiada.
Papa Hans dan Edward datang tergopoh-gopoh karena mendengar jeritan Mama Rosa. Mama Rosa segera menghambur ke pelukan Papa Hans dan menangis tersedu-sedu.
“Pa… Elaine, Pa.. Elaine…” Dia terbata-bata mengadu pada suaminya.
Wajah Edward ikut pias. Perlahan-lahan disentuhnya pipi Elaine, ia terkejut ketika merasakan betapa dinginnya tubuh Elaine. Dirabanya nadi di pergelangan tangan Elaine, hasilnya nihil.
Mata Edward tertumbuk pada tangan Elaine yang menggenggam bunga matahari. Cincin pertunangan mereka telah menghilang, digantikan oleh rumput putih yang dirajut menjadi sebuah cincin.
Air mata Edward menetes, ia sadar Elaine telah meninggalkannya. Bahkan sebelum Elaine berpulang dalam tidurnya, Elaine telah melepaskan cincin lambang ikatan mereka.
Papa Hans segera menelepon Papa Dylan, mengabarkan kejadian ini. Kemudian ia segera menghubungi ambulans dan aparat pemerintah daerah untuk melaporkan kejadian dirumahnya ini.
🌻🌻🌻
Papa Dylan dan Mama Angel datang ke rumah Edward dengan berurai air mata. Mama Angel bahkan histeris dan sampai pingsan beberapa kali ketika sudah berada disamping jenazah Elaine.
Dewa Alam Baka langsung membawa jiwa Elaine untuk menghadap Apolo. Hal ini adalah permintaan Ellio, agar Elaine tidak terlalu sedih melihat fisiknya ditangisi keluarganya.
Apolo sudah menunggu Elaine di istananya.
“Kau akan melewati api penyucian dulu, untuk mempertanggungjawabkan perbuatan baik dan perbuatan jahatmu selama di dunia. Ikutlah ke alam baka, lewatilah itu dulu untuk memantaskan dirimu untuk Ellio, sementara kami bersiap-siap untuk pernikahan kalian.” Demikian titah Apolo.
Jiwa Elaine pun di bawa oleh Dewa Alam Baka, sementara Ellio bekerja seperti biasa seperti peri bunga matahari. Karena harinya yang bahagia, jumlah bunga matahari di dunia meningkat pesat. Setiap pagi banyak kuncup bunga matahari yang menatap memuja kepada matahari, membuat Apolo senang. Hal ini dibuat oleh Ellio sekaligus untuk penghargaan dan rasa terima kasihnya untuk Apolo, karena membantunya mencari solusi hingga dirinya dan Elaine bisa bersatu.
🌻🌻🌻
Elaine hanya dihukum selama tiga tahun manusia di api penyucian, karena Elaine berpulang pada usia muda sehingga tidak banyak dosa yang ia buat. Selain itu, Elaine memang anak yang baik dan pantang menyerah, sehingga selalu membahagiakan orang-orang di sekitarnya.
Hari ini adalah hari kebebasan Elaine dari alam baka. Ellio telah berjanji untuk menjemput Elaine di gerbang alam baka.
__ADS_1
Elaine tampil sangat sederhana namun cantik. Ia seperti menggunakan baju daster polos berwarna putih, rambutnya yang panjang ikal terurai indah di punggungnya.
Elaine menghambur ke pelukan Ellio, ia merasa rindu karena sudah tiga tahun tidak bertemu dengan Ellio.
“Ellio, aku kangen.” Bisiknya.
Ellio memeluk Elaine dan mengecup kepalanya beberapa kali. “Aku juga rindu.” Sahut Ellio. “Kita akan menuju Istana Apolo. Ada tempat yang ingin kau kunjungi sebelum kita ke Istana Apolo?”
Elaine tampak berpikir, lalu bertanya dengan ragu-ragu. “Apakah aku boleh melihat keadaan Papa dan Mama?”
Ellio tersenyum dan mengangguk, lalu ia menggandeng Elaine dan membawanya terbang menuju pintu penghubung dunia peri dengan dunia manusia. Ellio mengantarkan Elaine ke rumah Papa Dylan dan Mama Angel.
Hari menjelang malam ketika mereka sampai di rumah Elaine. Rumah terdengar ramai, membuat Elaine penasaran apa yang terjadi di dalam rumahnya.
Elaine tersenyum melihata papa dan mamanya. Ternyata Ellio selalu mendampingi keluarga itu dan tanpa mereka sadari, Ellio selalu mengarahkan Mama Angel ke sebuah rumah yatim piatu. Disana, ia jatuh cinta dengan seorang anak perempuan berusia dua belas tahun yang sangat manis bernama Melia. Setelah membicarakannya dengan Papa Dylan, akhirnya mereka sepakat untuk mengadopsi Melia.
Setelah beberapa bulan mengadopsi Melia, Mama Angel dinyatakan positif hamil. Papa, mama dan Melia sangat senang. Kini bayi itu sudah berusia satu tahun, bayi laki-laki bernama Aaron.
Elaine meneteskan air mata bahagia melihat keluarganya. Ia menggenggam erat tangan Ellio dan tersenyum padanya. “Aku sudah lega sekarang. Terima kasih sudah selalu mendampingi keluargaku.”
Ellio tersenyum, lalu ia kembali terbang membawa Elaine kembali ke dunia peri. Disana, Elaine sedang dinanti oleh Apolo di istananya.
🌻🌻🌻
“Kau sungguh cocok berpasangan dengan Ellio.” Ujarnya, membuat Elaine dan Ellio berpandangan. “Aku sudah membayangkan sepasang sayap tumbuh dipunggungmu, kau pasti sangat cantik.” Sambungnya lagi.
Elaine tersenyum manis dan menganggukkan kepalanya. “Terima kasih, Yang Mulia. Aku akan sangat senang bila diijinkan punya sepasang sayap, supaya aku bisa ikut Ellio terbang kemanapun.” Jawab Elaine sambil tersenyum.
“Tentu saja!” Jawab Apolo tegas. “Sebagai calon istri Ellio, kau tidak boleh berbentuk sesosok jiwa saja. Aku akan menugaskanmu sebagai peri, jadi selain kau juga bisa membantuku mengawasi ekosistem, kau juga menjadi sangat pantas untuk mendampingi periku.” Ujarnya lagi.
Elaine dan Ellio tersenyum bahagia. Mata mereka berbinar-binar senang.
“Hmm, mari kita pikirkan. Kira-kira, kau pantas menjadi peri apa?” Apolo nampak berpikir, sedangkan Elaine dan Ellio menunggu keputusan Apolo dengan antusias.
“Peri Melva?” Celetuk Ellio, membuat Apolo dan Elaine menoleh.
Apolo menggelengkan kepalanya, ia tersenyum. “Itu sempat terpikir olehku, tapi tidak bisa. Posisi Peri Melva sudah ditempati oleh Peri Geraldine,” ujar Apolo sambil melambaikan tangannya ke seorang peri kecil perempuan berambut ungu yang memiliki senyum snagat manis, “Jadi aku akan menempatkan Elaine menjadi peri lain.” Sambungnya.
“Aku sudah memikirkannya beberapa hari ini,” sambung Apolo sambil tersenyum, “Elaine, kau akan menjadi Dewi Cahaya. Semangatmu membahagiakan orang lain selama kehidupanmu, membuatmu bagaikan cahaya di tengah hidup orang lain. Bahkan sejak jaman kau menjadi Peri Melva, kau telah mengorbankan hidupmu sendiri untuk menyelamatkan manusia. Kini, kau bisa membantuku mengawasi daerah-daerah bumi, tidak boleh ada yang tertutup cahaya selain di malam hari. Apakah kau sanggup?” Tanya Apolo lagi.
__ADS_1
Mata Elaine dan Ellio membesar. Luar biasa, bukan hanya menjadi peri, namun menjadi seorang dewi! Satu tingkatan di atas peri dan bisa dianggap sebagai pengakuan Apolo terhadap kebaikan Elaine selama hidupnya.
Elaine menundukkan tubuhnya dengan hormat didepan Apolo. Ia sangat berterima kasih atas kemurahan hati Apolo untuknya.
Apolo mengulurkan tongkatnya sebagai lambang pengangkatan Elaine menjadi seorang dewi. Sekonyong-konyong, tubuh Elaine dilingkupi oleh butiran-butiran emas, yang ternyata membentuk gaun indah berwarna kuning emas. Elaine menjadi sangat cantik.
“Sayapmu hanya akan muncul pada saat kau akan terbang. Untuk keseharianmu, itulah gaunmu.” Ucap Apolo lagi. “Satu lagi, namamu akan tetap Elaine, yang artinya ‘cahaya’.”
Sesudah mengatakan itu, Apolo meninggalkan singgasananya.
Elaine sangat senang, ia berputar-putar mengembangkan gaunnya. Ia terus berputar-putar hingga satu waktu mendarat di pelukan Ellio.
“Aku bahagia sekali.” Bisiknya di telinga Ellio. Ellio mengangguk sambil tersenyum, ia membelai-belai rambut Elaine dengan sayang.
“Ayo, aku akan tunjukkan rumah kita.” Ucap Ellio sambil menarik tangan Elaine.
Sesampainya di halaman Istana Apolo, pakaian Elaine berubah seperti seorang peri. Peri Cahaya.
“Wah, kau sangat cantik!” Seru Ellio kagum. Elaine tersenyum senang sambil mengepak-ngepakkan sayapnya.
Mereka terbang tinggi mengangkasa, menuju ladang bunga matahari, kediaman Ellio.
Elaine berdecak kagum ketika melihat ladang bunga matahari.
“Wah, banyaknyaaa… Dari sinikah kau memanen serbuk bunga matahari?” Tanya Elaine sambil membelai kelopak sebuah bunga matahari yang sangat besar.
Ellio menganggukkan kepalanya.
“Kau ingat lagu yang dulu kuajarkan?” Tanya Ellio, Elaine menganggukkan kepalanya.
“Itu adalah lagu untuk pertumbuhan dan memanen serbuk bunga matahari.” Ujar Ellio lagi.
Elaine mengelus bunga matahari itu satu persatu, sebanyak mungkin dibisikkannya ucapan terima kasih karena bunga-bunga itu membantu kesembuhannya. Elaine bahagia melihat bunga-bunga itu mengangguk-angguk seakan-akan menanggapi ucapan terima kasihnya.
Ellio juga menunjukkan bunga matahari raksasa yang merupakan rumah bagi Ellio.
__ADS_1
“Ini akan menjadi rumah kita nantinya. Sekarang, kita hanya perlu fokus memikirkan pernikahan!”
Ellio dan Elaine saling memandang penuh cinta dan bahagia. Mereka menghitung hari menuju hari bahagia yang akan mempersatukan mereka selamanya.