
Pesta sore itu kelihatannya akan berjalan baik. Suasana hati Elaine membaik, pertama karena perhatian dan surat cinta (Elaine menganggapnya surat cinta) dari Ellio dan kedua karena kabar bahagia kesembuhannya dari hasil test lab rumah sakit.
Ruang tamu rumah Elaine dan taman area depan dan samping kiri sudah disulap menjadi area pesta indoor dan outdoor. Meja-meja prasmanan berhiaskan balon-balon cantik berjejer, sudah diisi dengan piring-piring saji yang isinya sangatmenggugah selera. Sebuah panggung kecil disiapkan dengan balon-balon indah berwarna merah muda metalik dan silver. Sebuah kue ulang tahun bertingkat tiga telah tersedia diatas meja panggung.
Satu persatu teman Elaine mulai berdatangan. Mereka mengucapkan selamat kepada Elaine dan membawa rupa-rupa hadiah, besar dan kecil, semuanya ditumpuk di sebuah meja disamping panggung.
Michelle dan Oliver ikut hadir di pesta itu. Mereka datang berdua, langsung memeluk Elaine dengan erat, mengecup pipinya dan mengucapkan selamat ulang tahun yang agak nyeleneh. Maklum, teman dekat.
“Semoga dapat gandengan ganteng di tahun ini.” Seloroh Michelle. Elaine tertawa mendengar doa Michelle.
“Amiinnn…” Doa Michelle malah diaminkan oleh Oliver. Elaine langsung menggeplak lengan teman karibnya itu.
“Aduh! Tulangku patah! Kau harus tanggung jawab, nikahi aku!” Jerit Oliver sambil memonyongkan bibirnya. Elaine dan Michelle terpaku sejenak, kemudian tertawa terbahak-bahak.
“Amit-amit mesti nikahin cumi-cumi kayak kamu! Sana ke dapur, cari ikan lele yang belum dimasak, siapa tau dia mau jadi istrimu!” Balas Elaine, membuat Michelle dan Oliver tertawa keras.
Di pintu masuk utama, masuklah sepasang suami istri dan anak laki-laki yang berusia sekitar enam belas tahun. Mereka berjalan menghampiri Papa Dylan dan Mama Angel yang sedang ngobrol dengan dokter yang merawat Elaine selama ini.
“Rosa!” Senyum Mama Angel menyambut tamunya. Ia memeluk tamu wanitanya dan menyalami tamu prianya.
“Halo Hans, apa kabar?” Papa Dylan ikut menyapa tamu laki-lakinya, lalu menjabat tangannya. Setelah itu Papa Dylan menyalami tamu wanitanya yang disapa Rosa oleh Mama Angel.
Baru kemudian Papa Dylan dan Mama Angel memperhatikan anak laki-laki yang datang menyertai Hans dan Angel.
Hans dan Rosa, adalah teman keluarga Dylan dan Angel. Persahabatan antara Rosa dan Angel terjalin sejak mereka SMA. Setelah mereka menikah dengan pasangan masing-masing, Rosa pindah ke kota lain mengikuti suaminya, Hans, yang baru merintis usahanya. Saat ini, Hans dan Rosa sedang merintis kantor cabang di Jakarta, jadi untuk sementara waktu mereka akan tinggal di Jakarta.
“Ini Edward?” Sapa Mama Angel pada anak laki-laki itu. Anak laki-laki itu tersenyum dan mengangguk sopan.
“Halo, Tante, Saya Edward.” Ujarnya sambil sedikit menganggukkan kepalanya.
“Wah, kamu sudah besar ya. Tampan sekali!” Puji Mama Angel kagum, Edward hanya tersenyum menanggapinya.
“Iya, ini Edward. Ini pertama kali kalian bertemu Edward, ya? Waktu itu kamu hanya menerima kabar kehamilanku saja.” Ujar Mama Rosa sambil tersenyum.
“Iya, kita hamilnya bareng, jadi ga bisa saling mengunjungi waktu itu. Hm, sebentar ya, Tante kenalkan kamu dengan Elaine ya?” Mama Angel menoleh-nolehkan kepalanya mencari Elaine. “Ah, itu dia. Ayo, Tante perkenalkan kalian.” Sambung Mama Angel lagi sambil menggandeng Edward.
Mereka berjalan menuju Elaine yang masih bercanda dengan Michelle dan Oliver.
Mata Michelle yang jeli langsung menangkap sosok Edward. Ia segera menyikut Elaine dan berbisik, “Len, lihat Len. Ganteng, Len.” Ujar Michelle pelan sambil tetap menancapkan tatapannya ke Edward.
Elaine menoleh, menatap Edward yang sedang berjalan bersama Mama Angel untuk menghampirinya. Mata mereka bertemu.
“Elaine, kenalkan ini Edward. Edward anak Tante Rosa teman Mama, dia seumuran dengan kamu. Kalian berteman ya?” Ujar Mama Angel.
Edward tersenyum ramah, lalu menyodorkan tangannya ke Elaine. “Edward.” Ujarnya, suaranya yang dalam sungguh mempesona Michelle. Gadis itu sampai terbengong-bengong dengan mulut terbuka.
“Elaine.” Jawab Elaine sambil tersenyum, ia menyambut uluran tangan Edward. Mereka berjabat tangan.
“Happy birthday ya, selalu sehat dan sukses.” Sambung Edward lagi, belum melepaskan genggaman tangannya di tangan Elaine.
“Terima kasih.” Ujar Elaine pelan sambil melepaskan tangan Edward. Edward sedikit menurunkan matanya, melihat tangannya yang dilepaskan oleh Elaine. Entah mengapa, ia merasa Elaine tidak tertarik padanya. Padahal, ia cukup tertarik pada Elaine. Menurutnya, Elaine cantik.
“Kenalkan, ini teman-temanku. Ini Michelle,” sambung Elaine lagi sambil melambai ke arah Michelle, “Dan ini Oliver. Mereka teman-teman baikku di sekolah.” Ujar Elaine lagi sambil melambai ke Oliver.
__ADS_1
“Halo.” Edward menganggukkan kepalanya ramah pada Michelle dan Oliver, yang hanya disambut anggukkan kepala dari Oliver. Sedangkan Michelle, ia langsung tertunduk malu dengan wajah semerah kepiting rebus melihat ketampanan Edward. Edward tertawa kecil melihat respon Michelle.
Selama pesta berlangsung, apabila Elaine sedang tidak diharuskan berada di panggung, Elaine lebih banyak bersama Michelle, Oliver dan Edward. Sesekali Elaine masih terbayang Ellio, menyayangkan Ellio yang tidak bisa hadir di pestanya. Untuk suapan kue pertama untuk teman laki-laki dan dansa pertama, mau tak mau Elaine memberikannya kepada Edward, karena Mama Angel dan Mama Rosa yang ribut menyoraki pasangan itu. Oliver yang melihar itu, menekuk mukanya dan ditertawakan oleh Michelle.
Elaine menjadi sangat malu kepada Edward. Walaupun Edward bersikap ramah padanya, namun mereka baru saling mengenal hari ini. Tapi Edward sudah dapat suapan pertama dan menggenggam tangan Elaine pada saat dansa. Teman-teman Elaine saling berbisik-bisik melihat Elaine dan Edward, menyangka mereka adalah pasangan kekasih. Apalagi melihat Edward yang begitu lembut pada Elaine.
🌻🌻🌻
Pesta telah usai. Elaine sedang duduk dikamarnya, belum melepaskan gaun pestanya.
Elaine mohon diri untuk beristirahat dengan alasan lelah, sementara di ruang pesta sedang dibersihkan. Tamu Papa Dylan dan Mama Angel yang masih ada, telah pindah ke ruang baca. Diantaranya ada Om Hans, Tante Rosa dan Edward. Elaine sengaja beralasan lelah agar terhindar dari Edward.
Tuk, tuk tuk! Terdengar suara ketukan di kaca pintu teras kamar Elaine. Elaine tersentak mendengarnya.
“Ellio!” Bisiknya, lalu ia segera berlari menuju teras dan membuka pintunya. Benar saja, Ellio berdiri di teras dengan menggunakan jas lengkap, membuatnya sangat tampan.
“Ellio!” Seru Elaine senang, ia langsung melompat ke pelukan Ellio.
“Happy birthday, Princess. Bagaimana, kamu bahagia hari ini?” Bisik Ellio di telinga Elaine.
Elaine melepaskan pelukannya lalu memajukan bibirnya.
“Ga asik, ga ada kamu.” Sungutnya, membuat Ellio tersenyum lebar melihat bibir Elaine yang meruncing.
“Kenapa?” Bisik Ellio lagi, ia merapikan rambut Elaine, menyelipkannya dibelakang telinga Elaine.
“Aku memberikan kue pertamaku ke orang lain. Dansapun dengan orang lain.” Suara Elaine bergetar, ia merasa moment tersebut menjadi kurang berkesan baginya karena ia melakukannya dengan orang asing.
Ellio tersenyum, lalu ia meraih pinggang Elaine dan memeluknya. Tubuh Ellio yang lebih tinggi dari Elaine, membuat kepala Elaine bersandar di dada Ellio. Lebar bahu Ellio sangat pas dengan lebar bahu Elaine. Elaine bersandar dengan nyaman di dada Ellio.
Kedua tangan Ellio melingkar di pinggang ramping Elaine, mengajaknya berdansa. Dengan lampu teras yang remang dan bunyi semilir angin sebagai musiknya, mereka bergerak kesana kemari di area teras itu.
Elaine melampirkan tangannya di bahu Ellio. Dia sesekali menatap mata Ellio, namun lebih sering tertunduk karena malu. Ellio tersenyum gemas, ia mendekatkan wajahnya dan mencuri beberapa ciuman di pipi Elaine.
Elaine semakin tertunduk malu. Ellio membelai pipi kiri Elaine dengan tangan kirinya, membuat Elaine menengadahkan wajahnya. Lalu Ellio kembali mencium pipi kanan Elaine beberapa kali.
“Ellio.” Desah Elaine, tidak tahan lagi. Jantungnya berdebar sangat keras hingga terasa di telinganya.
Ellio tersenyum dan berhenti menciumi Elaine.
“Itu kadomu, Sayang, semoga kamu suka.” Bisiknya. Elaine menggeleng-gelengkan kepalanya, berusaha mendapatkan kesadarannya lagi.
“Aku punya kue untukmu.” Ujar Elaine perlahan, melepaskan diri dari pelukan Ellio. Bisa berbahaya bila dilanjutkan, gumamnya, jantungku bisa melompat keluar.
Elaine segera berlari masuk kekamarnya, mengambil sekotak kue ulang tahun yang sengaja disisihkannya untuk Ellio.
Ketika kembali keluar dari kamarnya, Elaine tercengang. Sebuah tenda kecil berwarna putih dikelilingi lampu-lampu kecil berkelap kelip, sudah berdiri di pojok tamannya.
“Ayo!” Ajak Ellio, meraih tangan Elaine yang masih tercengang melihat tenda itu. Ellio menuntun Elaine untuk menghampiri tenda itu lalu duduk didepan tenda, di rumput yang sudah dialasi sebuah karpet.
“Kueku mana?” Tanya Ellio, menyadarkan Elaine yang masih terkesima.
“Ini,” ujarnya sambil menyodorkan kue itu kepada Ellio.
__ADS_1
“Suapannya mana?” Tanya Ellio, menggoda Elaine.
Elaine tersenyum, ia mengambil kue itu dengan jari tangannya dan menyuapkannya ke Ellio. Ketika suapannya habis, Ellio mengangguk-angguk sambil melirik ke arah kue itu lagi.
“Tambah?” Tanya Elaine sambil tersenyum. Ellio mengangguk lagi sambil mengunyah.
Hap! Ellio kembali memakan potongan kue dari tangan Elaine. Hap! Hap! Sesuap lagi, lagi, lalu lagi, sampai akhirnya kue itu tak bersisa.
Elaine tertawa, krim kue menempel di sekitar bibir Ellio. Elaine membersihkan krim itu dengan tangannya yang bersih. Namun sebelum Elaine sempat berdiri untuk mencuci tangan, Ellio langsung menangkap tangan Elaine, menjilati jarinya satu persatu hingga bersih dari krim kue.
“Ellio!” Elaine tercengang lagi ketika Ellio membersihkan jari-jarinya yang tadi dijilatnya, kali ini dengan tissue.
“Terima kasih ya.” Ujar Ellio sambil tersenyum lagi. Ia mengelus-elus tangan Elaine yang masih ada dalam genggamannya.
“Kamu sudah nggak kecewa lagi kan? Kita sudah berdansa dibawah sinar bulan dan semilir angin. Aku juga sudah makan kue suapanmu.” Ujar Ellio lembut.
Elaine menggeleng sambil tersenyum manis.
“Ayo.” Ellio kembali mengenggam tangan Elaine, mengajaknya masuk kedalam tenda.
Mereka berbaring didalam tenda. Elaine berbaring berbantalkan lengan Ellio. Mereka berdua menatap langit-langit tenda yang berwarna putih bening, menampakkan kelipan bintang di langit.
“Bagaimana harimu hari ini? Ceritakan padaku.” Pinta Ellio.
Dan mengalirlah cerita dari Elaine mengenai hari itu. Mengenai rasa senangnya menerima bunga matahari dari Ellio, bersyukurnya ia menerima berita kesembuhannya, mengenai pesta ulang tahunnya hari ini, bahkan mengenai Edward pun diceritakannya.
“Dia tampan?” Tanya Ellio.
“Siapa? Edward? Iya, dia tampan. Michelle kelihatannya suka padanya.” Elaine terkikik, teringat lagi betapa meronanya wajah Michelle setiap kali Edward menyapanya atau menatapnya.
“Kalau kamu? Apa kamu suka?” Tanya Ellio sambil menoleh, memandang wajah Elaine.
Elaine menggelengkan kepalanya. “Bagiku, dia orang asing. Biasa saja.” Ucap Elaine jujur.
Ellio mendengus.
“Awas saja. Sekarang bilangnya biasa saja, besok bilangnya luar biasa.” Gerutunya.
Elaine menolehkan wajahnya, memandang Ellio sambil tertawa. “Kau cemburu?” Tawanya. “Oh ya, satu lagi. Kata Mama, Edward akan pindah sekolah ke sekolahku. Mungkin kami akan sekelas.” Sambung Elaine sambil tersenyum menggoda Ellio.
Ellio membuang mukanya dan kembali mendengus. “Huh!” Dengusnya sebal. “Awas kau, kalau sampai aku dilupakan, aku ga akan datang lagi.”
“Ellio! Jangan mengancamku!” Elaine mencubit pinggang Ellio.
“Aduh! Aduh! Ampun!” Ellio tergelak sambil bergerak menghindari cubitan Elaine. Ketika ada kesempatan, Ellio balas menggelitik pinggang Elaine.
“Aduh, aduh! Ellio, stop!” Elaine tergelak, kali ini dia yang bergerak menghindari kelitikan Ellio. Mereka berdua tertawa hingga akhirnya Ellio meraih kepala Elaine dan mendekapnya didadanya.
“Ingat Princess, pokoknya jangan sekali-kali kau melupakan aku. Aku tidak akan terima kalau kau sibuk dengan lelaki itu dan mengacuhkan aku. Kamu mengerti?” Bisiknya di telinga Elaine.
Elaine mengangguk sambil menikmati detak jantung Ellio yang terdengar di telinganya. Dia menikmati kehangatan pelukan Ellio, sangat nyaman apalagi ditambah Ellio yang membelai-belai rambut dan punggungnya. Tidak sadar, Elaine jatuh tertidur dalam pelukan Ellio, didalam tenda dibawah taburan bintang-bintang.
🌻🌻🌻
__ADS_1
Next: Aku mencintaimu, jangan acuhkan aku...