Kaulah Matahariku

Kaulah Matahariku
Kembalinya Rose


__ADS_3

Elaine terbangun keesokan harinya. Tidurnya semalam sangat nyenyak dan nyaman, badannya terasa segar hari ini dan moodnya sangat baik. Sejak terbangun pagi ini, Elaine sudah tersenyum.


Ia teringat tengah malam tadi saat ia terbangun, ia masih berada dalam pelukan Ellio. Ellio tertidur nyenyak disebelahnya sambil merangkul bahu Elaine, Elaine menggunakan tangan Ellio sebagai bantalan kepalanya. Elaine sempat mengelus wajah Ellio dengan ujung jari-jarinya. Dari mata, hidung, mulut, pipi, dahi dan rambutnya, tidak ada yang terlewat. Ellio sempat bergerak-gerak ketika wajahnya disentuh, namun tidak terbangun. Akhirnya Elaine melingkarkan tangannya di pinggang Ellio dan menyandarkan kepalanya di lengan atas Ellio, lalu terlelap.


Elaine melirik ke sampingnya. Sisi ranjangnya sudah kosong, Ellio sudah pergi.


Mungkin takut tertangkap Papa dan Mama, gumam Elaine geli. Entah apa yang Papa dan Mama buat kalau mereka melihat ada Ellio dikamarku… Nikah paksa mungkin? Elaine tertawa membayangkan Ellio sedang diadili papanya.


Dengan hati yang senang, Elaine bersiap-siap ke sekolah.


🌻🌻🌻


Di atas langit sana…


Plop! Sebuah botol berbunyi nyaring ketika tutupnya dibuka.


Apolo melepaskan Rose dari penjara botolnya. Sudah delapan tahun manusia telah lewat, Rose menjalani hukumannya. Setiap malam hari, Apolo melepaskannya dari botol dan mendidiknya mengenai kewajiban dan larangan dalam keseharian para peri di alam semesta. Untuk Rose, terutama mengenai pengendalian emosional dan tata cara berhubungan dengan manusia.


“Hari ini kau bebas, aku lepaskan kau dari hukumanmu. Ingat, jangan sampai kau masuk lagi ke botol ini untuk kedua kalinya!” Ucap Apolo ketus.


Rose menganggukkan kepalanya. Ia ingin cepat-cepat meninggalkan istana Apolo. Tidak sabar rasanya kembali ke ladang mawar miliknya.


Setelah menundukkan badannya penuh hormat kepada Apolo, Rose keluar dari istana Apolo.


🌻🌻🌻


Rose sudah memulai penjelajahannya hari ini, memantau perkembangan bunga mawar hitam yang sangat langka itu. Karena sangat sedikit, sebenarnya tugas Rose sangat mudah, hanya menjaga agar jenis bunga ini tidak punah.


Sejak pagi hari, Rose sudah berada di luar pagar rumah Elaine. Ia ingat, ada sebuah mawar hitam didalam sana. Ia perlu melihat perkembangannya.


Dengan besar tubuhnya yang hanya sebesar satu ruas jari manusia dan bersayap indah, Rose terbang masuk melintasi tembok rumah Elaine. Ia berkeliling dari kebun depan, kebun samping kiri, kebun belakang, lalu ke kebun samping kanan. Ia mencari dimana mawar hitamnya berada.


Kebun samping kanan adalah kebun yang terletak di depan teras kamar Elaine. Ia menemukan mawarnya merayap ditembok samping. Letaknya sangat terpencil dan menyamping, hampir-hampir tidak menarik perhatian. Rose mendecak kesal, sebagai bunga langka yang dipuja-puja orang, Rose merasa kesal karena mawar hitamnya berada di tempat yang tidak diperhatikan orang. Pusat dari kebun samping itu adalah ayunan Elaine dan taman kecil bunga matahari yang dikelilingi semak bunga melva.


Rose mengintip dari balik tumbuhan putri malu. Ia melihat Ellio sedang berada di putik bunga mataharinya. Ia menggeliat seperti baru bangun, kemudian terbang menuju teras. Ketika mendarat di teras, ukuran tubuh Ellio berubah menjadi sebesar pemuda tampan berusia delapan belas tahun.


Mata Rose membesar. Ellio semakin dewasa semakin terlihat tampan di matanya. Rose melihat kearah tubuhnya, ia baru sadar ia tidak pernah melihat cermin sejak dihukum didalam botol oleh Apolo.


Rose kembali memperhatikan Ellio. Ia melihat Ellio mengetuk pintu teras Elaine. Tirai pintu segera tersibak dan pintu terbuka. Setelah itu seorang gadis cantik keluar melewati pintu itu dan tersenyum manis pada Ellio, kemudian gadis itu memeluknya.


Itu pasti Elaine. Rose menggeretakkan giginya. Jadi Ellio masih terus berhubungan dengan Elaine sampai mereka sedewasa ini?


Rose memperhatikan Ellio dan Elaine lagi. Apakah mereka berpacaran? Mereka sudah sedekat itu rupanya. Gadis itu sudah tidak sungkan lagi memeluk Ellio. Apakah aku telah kehilangan Ellio?


Berbagai pikiran berkecamuk di benak Rose. Dengan lemah, ia terbang keluar dari rumah Elaine, menuju sebuah danau yang ada didalam perumahan itu.


Rose mengerahkan kekuatannya untuk berubah menjadi manusia. Seperti Ellio yang mengambil rupa seorang pemuda berusia delapan belas tahun, Rose berubah menjadi seorang gadis berusia delapan belas tahun.


Rose berdiri di tepi danau, ia berusaha melihat ke dalam air. Rupanya ia bermaksud menggunakan air danau sebagai cerminnya.


Segera tampak wajah seorang gadis yang cantik dengan rambutnya yang hitam panjang dan ikal. Rose tersenyum, ia merasa tidak kalah cantik dari Elaine.

__ADS_1


“Aku harus bisa mengambil hati Ellio. Aku masih menyukainya, bahkan sekarang aku makin menyukainya. Dia semakin tampan.” Gumamnya penuh tekad.


 🌻🌻🌻


Seorang peri kecil duduk di lampu ruang kelas Elaine. Dia menyamarkan tubuhnya menjadi bening, serupa dengan air. Dengan demikian, tidak ada mata manusia yang dapat menangkap rupa dirinya.


Peri itu mengamati Elaine yang sedang duduk dan belajar di kelas. Peri itu juga memperhatikan Edward yang sesekali berbicara dan tertawa dengan Elaine.


Anak itu lumayan tampan, gumamnya, aku mencium adanya rasa suka disini…


Sampai akhirnya jam sekolah Elaine berakhir dan Elaine beranjak pulang, peri itu tetap mengikuti Elaine. Elaine tidak sadar ia sedang dimata-matai.


Ketika Elaine sudah sampai di tempat parkir mobil, tiba-tiba dengan cepat Elaine berjalan mendekati pagar sekolah. Peri itu dengan cepat segera terbang menyusul Elaine, namun ia segera menghentikan usahanya ketika melihat Elaine menemui Ellio di pagar sekolah.


Mata Ellio yang tajam menangkap pergerakan peri itu. Ellio segera mencari dengan matanya, siapa yang sedang terbang dekat Elaine dan apa tujuannya? Peri itu segera bersembunyi di balik sebuah mobil, ia takut Ellio menangkapnya.


“Ellio!” Seru Elaine senang. Ia segera menggandeng tangan Ellio dan menariknya untuk meninggalkan area sekolah.


Ellio tersenyum, perhatiannya teralihkan.


"Ayo, kita pulang." Ujar Ellio sambil balas menggenggam tangan Elaine. Mereka bergandengan tangan sambil berjalan pulang.


🌻🌻🌻


“Halo, Edward.”


Edward menolehkan kepalanya. Ia sedang berlatih basket ketika mendengar seseorang menyapanya. Edward melihat seorang gadis cantik, berambut hitam, ikal panjang sedang berdiri di belakangnya sambil tersenyum.


“Kenalkan, aku Rose. Kamu belum mengenalku, tapi sekarang kita kenalan, kan?” Jawab Rose ramah. “Boleh kita bicara?” Sambung Rose lagi.


Edward tersenyum lalu mengangguk. Kebetulan ia mau beristirahat sejenak. Edward melihat kearah teman-teman berlatihnya, lalu berteriak, ”Guys, gue off dulu!” Sambil melambaikan handuknya. Teman-temannya menganggukkan kepala dan mengangkat tangan mereka.


“Mau bicara apa?” Tanya Edward, setelah ia dan Rose duduk di sebuah minimarket yang menjual minuman dan makanan kecil.


“Kamu tertarik dengan Elaine?” Tanya Rose frontal. Edward memicingkan matanya ketika mendengar nama Elaine.


“Kamu teman Elaine?” Tanyanya.


Rose menggeleng.


“Elaine mendekati pacarku, Ellio. Kalau kamu mau, aku bisa membantumu mendekati Elaine, supaya Elaine tidak menggangguku dengan Ellio.” Ujar Rose lagi.


“Ellio?” Edward mengingat-ingat, ia merasa tidak mengenal orang bernama Ellio. Elaine juga tidak pernah bercerita mengenai Ellio.


“Aku butuh bantuanmu untuk mendekati Elaine. Kejarlah dia sampai dapat. Kau akan bahagia dengannya. Disisi lain, aku juga akan tetap mempertahankan Ellio, dan juga membuatnya menjauhi Elaine agar kau lebih mudah mendapatkan Elaine. Bagaimana, apakah kau setuju?” Tanya Rose lagi, ia menganggap Edward terlalu lama berpikir.


Edward masih terdiam, dia memikirkan setiap kata-kata Rose. Rose memandang Edward, melihat Edward hanya merenung memandanginya.


“Intinya, apakah kita bisa bekerjasama?” Tanya Rose tidak sabar. Ia mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Edward.


Edward memandang tangan Rose yang terulur, dia tidak menyambutnya.

__ADS_1


“Siapa kau sebenarnya?” Tanya Edward sambil memandang wajah Rose lagi. Rose menghela napasnya, berusaha menahan kesabarannya.


“Aku pacar Ellio. Elaine menggoda Ellio. Aku perlu bantuanmu untuk menjauhkan Elaine dari Ellio. Kau menyukai Elaine, bukan?” Rose berbicara perlahan seakan mendikte Edward, berharap Edward mengerti dan tidak bertanya-tanya lagi.


Edward membulatkan mulutnya, membentuk huruf O. Ia mengangguk-anggukkan kepalanya.


“Kami cuma berteman,” ujarnya santai, “Aku dan Elaine hanya teman.” Sambungnya.


Rose mendelikkan matanya, ia tersenyum tipis.


“Saat ini kau bisa berbicara begitu. Aku sudah melihat kalian berdua, ada rasa suka diantara kalian.”


Edward memandang Rose lagi dengan dingin. “Kau mengamati kami?”


Rose berdiri dari duduknya.


“Kau akan membutuhkan aku saat kau sudah menyadari perasaanmu. Pada saat itu, aku akan datang lagi dan kita akan bekerjasama.” Ucap Rose lagi sambil beranjak menjauh. Edward hanya terdiam sambil memandang punggung Rose.


🌻🌻🌻


“Rose! Rose!”


Ellio berteriak-teriak di istana mawar hitam milik Rose. Rose segera keluar dari salah satu kelopak bunga tempatnya beristirahat.


“Ellio!” Sambutnya dengan gembira. Matanya bercahaya dan bibirnya tersenyum melihat kedatangan Ellio. “Kau datang? Aku kangen.” Ucapnya lagi sambil mengulurkan tangannya, ingin memeluk Ellio.


Ellio menepis tangan Rose yang sudah terulur ingin memeluknya. Ia menempatkan telunjuknya didepan wajah Rose.


“Kau datang-datang sudah mau mencari urusan denganku? Kenapa kau memata-matai Elaine? Katakan apa maumu!” Serunya marah.


“Aku tidak memata-matai Elaine!” Elak Rose. Dia bergerak mundur karena Ellio terus mendesaknya.


“Jangan bohong! Kau yang membuntuti Elaine di sekolah tadi, kan? Tidak usah mencoba membohongi aku! Mataku tidak buta, aku tahu itu kau walaupun kau berkamuflase tadi!” Teriak Ellio lagi.


“Ellio! Kasar sekali kau! Aku baru keluar dari botol Apolo, kau bukannya menyambutku malah memarahiku?” Isak Rose, air matanya mulai merebak. Kemudian ia menutup matanya dengan kedua tangannya.


“Aku pikir kita teman, kau akan menyambutku dengan gembira karena aku sudah bebas. Tapi kau malah memarah-marahi aku.” Isaknya.


Ellio mendengus.


“Dulu kita berteman, waktu kau belum berniat jahat pada Elaine! Sekarang, aku harus menjaga Elaine darimu. Jangan harap aku percaya bahwa kau sudah bertobat dan tidak akan berbuat jahat lagi.” Cetusnya blak-blakan.


“Itu karena aku menyukaimu, Ellio.” Ujar Rose lagi disela-sela isakannya. “Aku sudah menyukaimu dari dulu, sejak kau belum bertemu Elaine. Kita selalu berdua sejak ribuan tahun lalu, kan? Aku juga sudah sering menginap di bunga mataharimu, dan kau menginap di istanaku ini. Kau berubah sejak bertemu Elaine. Kau tidak pernah lagi bersama-sama denganku. Kau…”


“Seperti yang kau bilang, kita hanya teman.” Ujar Ellio dingin, memotong kata-kata Rose. “Tapi sejak kau berusaha mencelakai pasanganku, kita sudah tidak berteman lagi. Jadi aku minta, sebagai permintaanku yang terakhir, jauhi Elaine!”


Ellio membalikkan tubuhnya dan berjalan keluar dari istana mawar. Rose memandangnya sambil menangis.


“Ellio!” Jerit Rose, berharap Ellio membalikkan tubuhnya lagi. Namun Ellio terus berjalan tanpa ragu, meninggalkan Rose dan air matanya.


Rose terdiam ketika Ellio sudah menghilang. Matanya menyorot marah dan dendam.

__ADS_1


__ADS_2