Kaulah Matahariku

Kaulah Matahariku
Kembali Menghadapi Apolo


__ADS_3

Papa membelai kepala Elaine tanpa berkata-kata lagi. Banyak pemikiran berkecamuk di kepalanya. Papa terlihat kecewa dengan keputusan Elaine.


Dengan perlahan, ia mengangkat tubuh mama lalu membawanya ke kamar mereka. Papa membiarkan Elaine bersama dengan Ellio yang masih dalam wujud peri.


Elaine kembali mengecup Peri Ellio dengan pucuk hidungnya. Ellio menyodorkan pipi kecilnya agar dapat dikecup Elaine.


“El, kita perlu menghadap Apolo lagi untuk memberitahunya mengenai keputusanku. Apakah kita bisa bertemu dia lagi tanpa dia menghukummu?” Tanya Elaine pelan.


Ellio menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, lalu jari telunjuk dan jempolnya bertemu, membentuk huruf O. Tandanya Ellio setuju bila mereka bertemu dengan Apolo.


Ellio segera menjulurkan sebuah pil dengan tangan kecilnya. Elaine mengenalinya, itu adalah pil yang kemarin membuatnya tidak sadar selama tiga hari.


Elaine segera menuju ke meja belajarnya. Ia menulis sebuah surat pendek lalu membawanya ke ranjang, meletakkannya diatas meja nakasnya. Kemudian Elaine segera menelan pil yang diberikan oleh Ellio.


“Supaya Papa dan Mama ga khawatir karena aku pingsan lagi, aku tinggalkan surat itu.” Senyum Elaine kepada Ellio yang memperhatikan gerak geriknya. Kemudian Ellio ikut tersenyum dan mengangguk.


🌻🌻🌻


Ellio dan Elaine bergandengan tangan di taman Istana Apolo. Mereka sedang menuju Istana Apolo, hendak menyampaikan niat Elaine untuk meninggalkan dunia manusia agar dapat terus bersama Ellio.


Selama perjalanan, Elaine meminta Ellio untuk menceritakan peristiwa yang terjadi hingga papa dan mama Elaine mengetahui bahwa Ellio adalah seorang peri. Elaine tergelak ketika Ellio menceritakan mengenai pingsannya Mama Angel.


“Tega sekali kau, Mama sampai pingsan!” Tawa Elaine.


“Papa Mertua yang menantang aku!” Tawa Ellio, lalu menatap dalam mata Elaine. “Nanti aku akan minta maaf pada Mama Mertua.” Ucapnya sambil tersenyum.


Pipi Elaine memerah ketika mendengar Ellio sudah mengubah panggilannya kepada papa dan mamanya. Elaine menarik tangan Ellio untuk terus berjalan, untuk menutupi wajahnya yang sudah memerah karena malu.


Mereka telah tiba di gerbang Istana Apolo. Tiba-tiba gerbang terbuka, Ellio dan Elaine segera menghampiri tahta Apolo.


“Elaine, kau sudah siap?” Apolo sudah menyapanya bahkan sebelum Ellio dan Elaine sampai di singgasana Apolo.


Elaine meremas tangan Ellio. Ia yakin dengan keputusannya, namun banyak yang masih membebani pikirannya.


“Yang Mulia, aku yakin, tapi… Bagaimana dengan papa dan mamaku? Mereka terlalu banyak menderita untuk mempertahankan hidupku, tapi sekarang mereka harus kehilangan anaknya…” Jawab Elaine sendu.

__ADS_1


“Itu sudah garis hidup mereka, Elaine. Semua sudah ditakdirkan. Kita tidak pernah tahu apa yang sudah mereka lewati di masa hidup mereka sebelumnya, sampai mereka harus menderita dan kehilangan anaknya di kahidupan mereka saat ini. Kita tidak bisa mencampuri apa yang sudah digariskan dalam karma mereka. Yang pasti, kau akan menjalani apa yang kau putuskan saat ini.” Ujar Apolo lagi, memberikan pendapatnya. “Setiap manusia akan mengalami perpisahan di dalam hidupnya, entah karena kepergian atau karena meninggal. Ini hanya salah satu jalan kau terpisah dari mereka.” Tambah Apolo lagi.


Elaine menekur, berpikir lagi. Kembali terbayang wajah papa dan mamanya. Mamanya yang menangis karena ia pingsan berhari-hari. Papanya yang juga menangis namun menyembunyikan air matanya. Elaine mulai goyah dengan keputusannya.


Sampai akhirnya Elaine merasakan remasan di tangannya. Elaine menoleh, mendapati tatapan menenangkan dari Ellio dan senyumannya yang menguatkan.


Elaine teringat juga dengan perjuangan Ellio dan masa lalunya dengan Ellio. Ellio berjuang selama ribuan tahun untuk menemukannya. Apakah tega bila ia meninggalkan Ellio yang sudah begitu banyak mengorbankan dirinya, bahkan sampai kesempatannya untuk bereinkarnasi?


Elaine tersenyum, dia memantapkan hatinya.


Elaine mengangkat kepalanya, memandang Apolo. “Baiklah, aku sudah yakin. Aku memilih akan bersama Ellio. Namun, Yang Mulia, apakah aku masih diberi kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal pada keluarga dan teman-temanku?” Tanya Elaine lagi.


Apollo menganggukkan kepalanya. “Waktumu seminggu.” Ujarnya singkat.


🌻🌻🌻


Elaine terbangun dari tidurnya. Segera ia mengitari kamar dengan matanya, ia masih berada di kamarnya, diatas ranjangnya. Di tangannya tertancap jarum infus. Elaine tersenyum. Ah, ternyata Papa membaca pesanku, gumamnya dalam hati.


Elaine segera bangkit dari ranjangnya, kemudian ia keluar dari kamarnya dan berjalan menuju pintu teras. Elaine menghampiri bunga mataharinya dan mengelus mahkotanya.


“Sunny, seminggu lagi kita berpisah… Tapi jangan sedih, aku akan menghampirimu dalam bentuk yang lain.” Senyum Elaine sambil berbisik pada bunga mataharinya.


“Halo, Elaine.”


Elaine menoleh dan terkejut.


“Edward!” Serunya tertahan. Ia tidak menyangka Edward datang ke teras kamarnya.


Edward tersenyum. Ia menarik kursi dan duduk di sebelah Elaine.


“Aku datang untuk menjengukmu. Om Dylan bilang kau jadi ‘putri tidur’ lagi.” Senyum Edward. “Aku sedang berkeliling sebentar sebelum menjengukmu dikamarmu, ternyata kau sudah sadar dan sedang duduk disini.” Sambung Edward, menjelaskan situasinya.


“Oh, begitu. Berapa lama aku tertidur?” Tanya Elaine lagi.


“Dua hari.” Jawab Edward lagi. “Papamu sampai memanggil dokter untuk memasang infus, beliau takut kau tidur untuk waktu yang lama.” Jelasnya.

__ADS_1


Elaine tersenyum, lalu tidak mengatakan apa-apa lagi. Edward memainkan ponselnya, tidak berbicara dengan Elaine.


“Baiklah, aku pulang ya. Aku hanya mau memastikan keadaanmu baik-baik saja.” Ujar Edward  sambil bangkit dari kursinya.


Elaine menganggukkan kepalanya. “Hati-hati di jalan, ya. Terima kasih sudah menjengukku.” Ujarnya pelan.


Edward menanggukkan kepalanya. “Besok kau sekolah?” Tanyanya lagi.


Elaine mengangguk. Edward tersenyum sekilas, kemudian melambaikan tangannya dan meninggalkan teras rumah Elaine.


🌻🌻🌻


Malam itu, Elaine duduk di terasnya sendirian. Dia sangat berharap dapat bertemu Ellio malam ini.


“Ellio… Ellio…” Ujarnya pelan. Elaine berharap Ellio dapat mendengar panggilannya.


Tiba-tiba Elaine merasa sesuatu menghinggapi lengannya. Setelah diperhatikan, terlihat Ellio dalam bentuk peri kecilnya, sudah duduk di lengan Elaine. Elaine tersenyum dan meraih tubuh mungil Ellio agar duduk di temapak tangannya.


“Halo, apa kabarmu? Baru setengah hari kita ga ketemu, aku kangen sekali.” Bisiknya sambil mengecup pipi Ellio dengan ujung hidungnya. 


Ellio mengangguk-angguk senang, mendapatkan beberapa kecupan dari Elaine. Dengan Ellio di telapak tangannya, Elaine masuk kekamarnya, lalu segera mengunci pintu teras, menutup hordennya, dan mengunci pintu kamar. Lalu diletakkannya Ellio di ranjangnya.


"El, membesar dong. Aku mau tidur sama kamu malam ini. Aku mau minta dipeluk." Bisik Elaine dihadapan Ellio.


Lagi-lagi Ellio mengangguk, lalu tiba-tiba tubuhnya membesar. Elaine menutup matanya karena lagi-lagi Ellio hanya menggunakan celana pendeknya.


"Ih, pakai baju kek El!" Bisik Elaine, masih menutup matanya dengan tangan.


Ellio tersenyum, ia langsung menyerbu selimut Elaine dan bersembunyi didalamnya, menggunakan selimut itu untuk menutupi setengah tubuhnya. Kemudian ia menggapai-gapai, berusaha menarik tubuh Elaine agar mendekat.


"Sini... Sini..." Ucap Ellio, lalu menepuk-nepuk ranjang yang sisinya masih kosong.


Elaine menatapnya ragu, namun akhirnya dia mendekat dan naik ke ranjang, kemudian masuk ke dalam selimut.


Ellio langsung meraih tubuh Elaine dan mendekapnya erat. Kepala Elaine disandarkan ke dadanya.

__ADS_1


"Selamat tidur, Sayang." Ucap Ellio sambil mengelus-elus kepala Elaine, lalu mengecupnya beberapa kali.


Merasa nyaman, Elaine akhirnya tertidur.


__ADS_2