Kaulah Matahariku

Kaulah Matahariku
Siapakah Aku?


__ADS_3

Keesokan harinya, pagi hari.


Elaine merasa tidak enak badan. Ia tidak bersemangat untuk bangun dan bersiap untuk ke sekolah. Elaine mengerang, kepalanya terasa sakit dan tubuhnya seperti tidak bisa digerakkan. Elaine masih ingat, semalam dia meninggalkan Ellio di teras. Ia masuk sendiri kekamarnya tanpa ditemani Ellio.


Elaine kembali mengingat hari buruknya kemarin. Kedatangan Rose yang memperkenalkan dirinya sebagai kekasih Ellio, lalu memporakporandakan hatinya dengan berbagai kenyataan dan pembuktian bahwa Ellio bukanlah manusia seperti dirinya. Suatu kenyataannya yang menyakitkan hati bahwa mereka tidak dapat bersatu karena mereka di dua alam yang berbeda. Perasaan Elaine tersakiti, perasaan yang baru disadari Elaine bahwa mungkin ia mencintai Ellio. Selama ini Elaine hanya terbiasa menjalani hari-harinya bersama Ellio. Ia menganggap Ellio seperti belahan jiwanya, namun tidak terpikir untuk menyatakan cinta.


Elaine mengerang lagi. Rasa sakit itu kemudian menyerang jantungnya.


“Mama…” Desahnya lemah. Dengan denyutan kepalanya yang semakin menyiksa, Elaine kembali tertidur.


🌻🌻🌻


Papa Dylan dan Mama Angel berlarian di koridor rumah sakit, mengikuti brankar yang membawa tubuh Elaine. Elaine dalam keadaan tidak sadarkan diri. Ini kejadian pertama sejak Elaine berusia delapan tahun, saat ia sudah teratur menerima serum bunga matahari. Elaine tidak pernah kambuh lagi sejak saat itu.


Pagi itu, Mama Angel mengetuk pintu kamar Elaine, bermaksud memanggilnya untuk sarapan. Elaine gadis yang mandiri, ia terbiasa terbangun sendiri dan bersiap untuk ke sekolahnya. Mama dan papa hanya perlu menunggunya di meja makan untuk sarapan.


“Papa!” Jeritan Mama mengagetkan Papa yang sedang menghirup kopinya di meja makan. Tergopoh-gopoh, ia menghampiri istrinya di kamar Elaine.


Mama langsung menubrukkan dirinya ke Papa saat Papa sudah memasuki kamar Elaine.


“Elaine, Pa… Elaine…” Ujarnya terbata-bata sambil melirik ke Elaine yang terbaring tak bergerak. Sepeti tidur biasa, namun tidak bisa dibangunkan.


Papa segera menghampiri Elaine dan menepuk-nepuk pipinya sambil memanggil namanya. Tidak mendapatkan tanggapan, Papa segera menggendong Elaine dan bergegas menuju mobilnya. Bersama Mama Angel, mereka membawa Elaine ke rumah sakit.


“Bapak dan Ibu, mohon menunggu disini ya. Dokter akan menanganinya dulu, kami akan mengabarkan Bapak dan Ibu secepatnya.” Ujar perawat sambil menutup tirai ruang UGD, meninggalkan papa dan mama yang hanya dapat menunggu kabar dengan cemas.


Setengah jam kemudian, dokter meminta papa dan mama menemuinya di ruang praktek.


“Kami mohon maaf sebelumnya pada Bapak dan Ibu, kami sudah mencoba semaksimal kemampuan kami. Elaine saat ini masih berada dalam keadaan tidak sadar. Semua tanda vital pasien sudah kami periksa, semua berfungsi normal kecuali detak jantungnya yang sedikit dibawah normal. Namun ada satu kondisi yang unik pada Elaine, otaknya tidak bereaksi saat kami memberikan rangsangan. Dia seperti tertidur saat ini.” Ucap dokter perlahan, mencoba meminimalisir guncangan yang mungkin terjadi pada papa dan mama.


Papa dan mama hanya terdiam dan terus menatap kosong pada sang dokter, berusaha mencerna informasi yang disampaikan.


“Bila Bapak dan Ibu setuju, kami akan memasang alat penunjang kehidupan di tubuh Elaine. Semoga pusat kesadaran Elaine segera bereaksi dan Elaine dapat segera sadar. Biasanya keadaan ini maksimal memerlukan waktu tiga hari. Bila dalam waktu tiga hari Elaine belum sadar, bisa dikatakan Elaine dalam kondisi koma.”


Mama Angel mulai terisak, ia memeluk suaminya. Papa Dylan yang jauh lebih kuat, mengelus bahu istrinya, berusaha menenangkannya. Lalu ia menganggukkan kepalanya kepada dokter.


“Lakukan apapun yang diperlukan untuk menyelamatkan Elaine, Dok.” Ucapnya singkat. Dokter menganggukkan kepalanya.


🌻🌻🌻

__ADS_1


Elaine sudah dimasukkan ke kamar rawat inap. Semua alat-alat menunjang kehidupan berada di sekeliling ranjangnya, menyalurkan energi agar Elaine bertahan hidup.


Disisi lain, seorang gadis berdiri di samping ranjang Elaine, membelai rambut Elaine sambil berbisik.


“Kau tampak begitu lelah. Apa kau mau beristirahat? ” Bisiknya sambil terus mengelus tangan Elaine.


“Selagi kau beristirahat, lebih baik kau ikut denganku. Akan kuperlihatkan banyak hal untukmu.” Ujar Rose tiba-tiba, ia duduk di sofa yang ada di ruangan itu.


Gadis itu menoleh ketika mendengar suara Rose. Ternyata gadis itu adalah jiwa Elaine, yang sedang terapung antara dunia kehidupan dan dunia alam baka.


“Kau lagi!” Desis Elaine marah. Ia tidak suka Rose tiba-tiba muncul di kamarnya.


“Kenapa? Kau tidak suka aku membuka kebenaran?” Ucap Rose sambil berjalan mendekati Elaine. Elaine membuang muka, tidak mau menatap Rose.


Rose tersenyum, lalu mengulurkan tangannya. “Aku beresiko besar membantumu. Tapi apa boleh buat, kalau tidak diperlihatkan kau tidak akan mempercayai kebenaran ini.”


Elaine menatap tangan Rose dengan ragu. Rasa ingin tahu itu menyeruak di hatinya, tapi ia tidak percaya pada Rose.


Tiba-tiba terbayang wajah Ellio. Wajah Ellio yang putus asa ketika mengetahui rahasianya telah terbongkar semalam. Ellio bertekad akan berjuang untuk mereka berdua.


Apakah aku bisa membantu Ellio? Bila aku pergi dengan Rose, apakah aku bisa melihat petunjuk lain yang bisa menjadi celah agar aku dan Ellio bisa bersatu?


Elaine memantapkan hati, ia ingin membantu perjuangan Ellio. Dengan perlahan, diraihnya tangan Rose yang terulur.


“Ayo!” Rose tiba-tiba sudah berada disebelah Elaine. Mereka berjalan menghampiri titik tersebut.


Sesampainya di titik tersebut, ternyata dibawahnya terdapat sebuah pintu. Rose menggapai pintu tersebut dan mendorongnya. Pintu itu terbuka.


Tiba-tiba saja Elaine merasa seperti tersedot kedalam ruangan dibalik pintu itu. Elaine menjerit, namun suaranya tidak bisa keluar. Ia terus tersedot hingga suatu saat tubuhnya terbanting di sebuah ruangan besar dengan banyak layar disekelilingnya.


Mata Elaine terbuka lebar. Ia melihat gambaran dirinya seperti sebuah film di layar-layar tersebut. Yang itu saat aku masuk SMP kemarin, bertemu Leo. Ellio? Itu aku dan Ellio di rumah sakit, waktu dia memberiku serbuk bunga matahari. Yang itu waktu aku kecelakaan saat aku umur enam tahun.


Elaine menoleh lagi, melihat ke layar lainnya. Itu siapa, kenapa mirip sekali dengan wajahku? Kenapa pakaiannya seperti itu, seperti pakaian jaman Ratu Antoinette yang aku nonton di film? Yang itu, kenapa mirip sepertiku juga tapi berpakaian seperti petani? Apa ini, apakah kami kembar?


Ratusan layar menayangkan video hidup dengan wajah-wajah orang yang mirip seperti Elaine, bergantian muncul di hadapan Elaine. Elaine bertanya-tanya setiap video itu berputar, membuatnya kebingungan.


“Selamat datang di dunia alam baka. Itu adalah masa lalumu.” Ucap Rose yang lagi-lagi berada di sampingnya. Ia menunjuk layar-layar itu bergantian.


“Itu adalah kau dimasa sekarang. Yang itu, kehidupanmu sebelum ini, kau menjadi anak petani yang sakit-sakitan. Yang itu, kau menjadi bangsawan tapi dihukum pancung karena menjadi simpanan bangsawan lainnya. Yang itu, kau menjadi ilmuwan tapi dihukum mati karena salah meramu vaksin.”

__ADS_1


Mengapa jalan hidupku selalu jelek? Aku seperti selalu gagal dalam kehidupan, gumam Elaine.


“Dan yang terpenting, kau harus melihat ini,” Sambung Rose lagi sambil menunjuk sebuah layar yang letaknya paling jauh. Layar tersebut bergerak mendekati mereka.


Sekali lagi Elaine seseorang yang sangat mirip dengan dirinya, namun kali ini ia bersayap dan menggunakan sebuah mahkota bunga. Elaine melebarkan matanya, dia mengenali bunga itu. Aku adalah seorang peri? Bunga itu, bunga Melva?


Seakan-akan baru sembuh dari amnesia, masa lalu itu terpapar jelas di kepala Elaine. Dia adalah Peri Bunga Melva dimasa lalu. Dilahirkan dari setitik embun pagi dimusim gugur. Ia tumbuh di semak Melva yang hanya hidup di musim gugur. Dari sana, ia selalu memperhatikan seorang anak laki-laki petani miskin yang suka bermain di taman rumahnya yang kecil dan sederhana. Pipinya yang kemerahan, senyumnya yang ceria, tidak menyesali hidupnya yang berkekurangan. Anak laki-laki yang selalu membantu orang tuanya merawat rumah dikala orang tuanya pergi mencari rejeki. Anak laki-laki bernama Jung Yun.


Sampai suat hari, anak laki-laki itu hampir mati kelaparan. Dan Melva melanggar aturan semesta. Tanaman Melva yang hanya boleh tumbuh di musim gugur, tumbuh di musim dingin. Bukan hanya sekali, namun berkali-kali selama musim dingin selama Jung Yun masih hidup. Tanaman Melva mematuhi perintah perinya untuk menyediakan bahan baku makanan untuk Jung Yun.


Hal yang berakibat fatal, mengacaukan sistem pertumbuhan ekosistem semesta. Putri Melva dihukum mati dan tidak dapat bereinkarnasi selama Jung Yun masih hidup. Setelah Jung Yun meninggal, Putri Melva dapat bereinkarnasi namun tetap menjadi manusia yang sengsara di kehidupannya. Hukuman yang sangat berat karena mengganggu jalannya ekosistem semesta.


Elaine menangis melihat masa hidupnya di kehidupan yang lalu. Ia terbayang wajah papa dan mamanya. Ternyata kesalahan yang diperbuatnya dimasa lalu membawa kesengsaraan papa dan mamanya dimasa kini. Mereka harus menanggung kesedihan selama Elaine sakit.


Elaine juga terbayang wajah Ellio. Apakah Ellio juga akan sengsara bila dekat dengannya? Takdir Ellio sebagai seorang peri, tidak mengijinkannya dekat dengan manusia.


“Sekarang kau sudah tahu yang sebenarnya. Ini ada satu lagi,” suara Rose kembali terdengar, terlihat dia memegang sebuah botol ditangannya, “Sebenarnya kau ditakdirkan meninggal di usia dua puluh lima tahun karena cacat otakmu, tapi sekarang berubah karena kau mendapat bantuan dari Ellio. Sepertinya kau akan berumur panjang, kau harus berterima kasih pada Ellio.” Sambung Rose lagi sambil menggulung kertas itu dan memasukkannya kembali ke dalam botol.


“Dan sekarang, setelah Ellio berbuat baik untukmu, apakah kau akan membalas kebaikan Ellio dengan kesengsaraannya? Dia akan diasingkan, bahkan mungkin dimusnahkan karena berhubungan denganmu!” Ujar Rose sambil menunjuk-nunjuk Elaine dengan ujung jarinya.


Elaine menoleh gusar ke arah Rose. Walaupun Rose sudah menunjukkan kebenaran, tapi bagi Elaine Rose sungguh menyebalkan. Terlebih suaranya, yang suka mengompor-ngompori Elaine.


“Apakah Ellio tahu kau membawaku kesini?” Ujar Elaine pelan.


“Apa?” Rose merasa sepertinya ia salah dengar.


“Ellio. Apa dia tahu kau membawaku kesini?” Ujar Elaine lebih keras, ia mengangkat wajahnya, menatap langsung ke mata Rose. “Apakah ia akan mendepakmu bila tahu kau menceritakan semua ini kepadaku?” Tanya Elaine tersenyum miring.


Rose terpaku. Apakah Elaine sedang mengancamnya?


“Hei, aku sudah membantumu melihat kenyataan loh. Apa hubungannya dengan Ellio?” Ujar Rose gusar.


“Kau pasti mau aku sedih, kan? Kau ingin aku putus asa dan menjauhi Ellio, kan? Apa kau tahu kalau Ellio akan sangat marah kalau tahu aku sakit hati dan menangis karena ceritamu?” Sahut Elaine lagi, membuat Rose terpaku. Gadis ini benar-benar sedang mengancamnya!


“Huh, tidak tahu terima kasih! Ayo pulang!” Bentak Rose gusar.


Dengan perasaan kacau, Elaine berjalan pulang mengikuti Rose.


🌻🌻🌻

__ADS_1


Next:


Kau bilang kau mencintaiku, kan? Ini jawabanku…


__ADS_2