Kaulah Matahariku

Kaulah Matahariku
Tumbuh Bersama


__ADS_3

Setelah selesai melaporkan pelanggaran yang dilakukan oleh Rose kepada Apolo, Ellio kembali ke rumah Elaine. Ia sangat ingin mengetahui perkembangan kesehatan Elaine setelah kejadian pingsannya Elaine kemarin.


Ellio mengendap-endap melalui pintu teras kamar Elaine, mengintip dari pintu kaca teras itu. Ini merupakan rahasia yang disembunyikan Ellio selama ini. Ia selalu mengecilkan dirinya terlebih dulu sampai sebesar buku jari lalu terbang melewati pagar rumah, kemudian menyelinap langsung ke kebun samping dengan tubuhnya yang sudah sebesar anak-anak usia sepuluh tahun pada umumnya. Bagi Ellio yang seorang peri, hal ini tidak sulit baginya.


Ellio melihat Elaine yang masih terbaring di ranjangnya. Ellio mengetuk-ngetuk pintu kaca hingga akhirnya Elaine terbangun. Ia tersenyum ketika melihat wajah Ellio di pintu terasnya.


“Ellio!” Ujar Elaine sambil tersenyum. “Tumben, kamu mampir sore-sore begini. Biasanya pagi saja.” Ujar Elaine senang.


Ellio tersenyum, kemudian meraih tangan Elaine. Dengan lembut dituntunnya Elaine untuk duduk di kursi teras.


“Bagaimana keadaanmu? Sudah enakan?” Tanya Ellio lembut. Elaine menganggukkan kepalanya.


“Sebenarnya aku sudah ga apa dari pagi tadi, tapi Papa dan Mama masih khawatir jadi aku tetap disuruh tiduran saja.” Jawab Elaine.


Ellio menganggukkan kepalanya. “Lebih baik memang kamu istirahat dulu. Ngomong-ngomong, apa kamu tahu kamu pingsan karena apa?” Tanya Ellio.


Elaine mengangguk. “Iya, dokter sudah bilang, aku keracunan serbuk sari mawar. Ternyata aku alergi serbuk mawar, kami semua baru tahu loh. Selama ini dirumah ini ga ada yang pelihara mawar, aku juga ga pernah terima mawar dari mana-mana.” Jawab Elaine lagi.


“Kalau dari aku, mau?” Tanya Ellio, menggoda Elaine.


“Ih, kamu… Aku kan alergi!” Tukas Elaine sambil menahan malunya. Wajahnya mulai memerah lagi. Kalau dari kamu, alergi-alergi juga aku mauuuu… Jerit Elaine dalam hati.


Ellio tersenyum. Bukan perkara susah untuknya membaca pikiran Elaine. Dia tertawa dalam hati, gadis kecil ini sudah mulai genit rupanya…


“Kalau dari aku, bunga matahari saja ya? Bunga matahari itu artinya pengharapan, jadi boleh dong aku berharap bakal dipanggil ‘sayang’ sama kamu?” Tembak Ellio lagi, ia tersenyum menggoda Elaine.


Wajah Elaine memerah seperti kepiting rebus. Cepat-cepat ia menutup wajahnya dengan telapak tangannya. Ellio tertawa terbahak-bahak melihatnya.

__ADS_1


“Ayo dong, coba panggil ‘sayang’, begitu.” Pintanya. “Ayo, dicoba.” Pintanya lagi sambil menarik tangan Elaine.


“Nggak mau!” Seru Elaine tertahan sambil terus mempertahankan tangannya agar tetap menutup wajahnya.


“Idih, kamu kok begitu? Ayo dong! Aku sudah sering datang menemani kamu, bawain kamu bunga, masa kamu panggil sekali saja ‘sayang’ ke aku kamu ga mau?” Ellio mulai mengungkit-ungkit jasanya, membuat Elaine mulai berpikir untuk mengabulkan permintaan Ellio.


“Tapi…” Elaine masih ragu-ragu.


“Ayo dong!” Desak Ellio.


“Iya, iya!” Seru Elaine dengan wajahnya yang memerah, kemudian ia segera menundukkan wajahnya. “Iya, Sayang.” Sambungnya lirih, hampir tidak terdengar.


Ellio tersenyum lebar.


“Apa? Ga kedengeran!” Tukasnya.


“Ayo dong, tadi ga kedengaran!” Desak Ellio lagi.


Elaine menggeleng lagi.


“Elaine!” Seru Ellio lagi, namun Elaine tetap menggeleng. Malah ia kembali menutup wajahnya malu.


“Ah ya sudahlah,” ujar Ellio pura-pura sedih dan putus asa, “Aku memang berharap dengan sia-sia selama ini. Ternyata selama ini kamu ga pernah menanggapi harapanku. Kamu…”


“Iya, iya, Sayang!” Seru Elaine keras, masih dengan menutup wajahnya dengan tangannya.


Ellio bersorak, ia berhasil membuat Elaine mengucapkan kata-kata yang diidam-idamkannya. Dengan cepat Ellio meraih kepala Elaine, menariknya dan mendekapnya lekat di dadanya.

__ADS_1


“Aku juga sayang padamu.” Bisik Ellio perlahan di telinga Elaine, kemudian ia mengecup pucuk kepala Elaine beberapa kali.


Jantung Elaine serasa akan melompat keluar karena terkejut. Debarannya bertalu-talu sangat keras, telinga Elaine rasanya sampai ikut berdenyut karenanya. Wajahnya semakin panas, ia merasa sangat malu karena Ellio memeluknya dengan begitu keras.


“Ingatlah, mulai sekarang jagalah dirimu baik-baik. Apapun yang berbahaya, jangan kau dekati. Jangan mendekat lagi ke bunga mawar, kau sudah mengetahui bahayanya bukan, hmm? Bila ada sesuatu dan kau memerlukan aku, panggillah namaku dalam hatimu, aku akan datang. Aku percaya, hubungan kita berdua bukan hubungan biasa. Aku tetap dapat mendengarmu walaupun kau hanya memanggilku di dalam hatimu. Kamu mengerti?” Bisiknya  Ellio lagi. Elaine mengangguk-anggukkan kepalanya, berusaha menangkap inti kalimat-kalimat Ellio sambil menikmati pelukan Ellio di tubuhnya. Pelukan Ellio hangat, gumamnya.


Ellio tersenyum mendengar gumaman hati Elaine, ia terus memeluk Elaine sambil membelai rambutnya.


 


🌻🌻🌻


 


Beberapa tahun berlalu.


Elaine sudah tumbuh menjadi gadis manis berusia dua belas tahun dan Ellio telah berusia empat belas tahun. Berkat serum yang diterimanya secara teratur, perkembangan kesehatan Elaine semakin baik. Ditahun ini, ia sudah mulai menjalani pendidikannya di sekolah umum, walaupun ia belum dapat mengikuti kegiatan-kegiatan yang berat seperti berolahraga. Untuk kegiatan itu, Elaine terpaksa harus absen dulu, namun untuk kegiatan lainnya, dapat diikuti Elaine dengan baik.


Ellio tetap dengan kemisteriusannya. Sampai saat ini, Elaine dan keluarganya belum dapat mengorek lebih jauh mengenai keluarga Ellio. Ellio menyembunyikannya dengan sangat rapi dan selalu berkelit bila ditanya oleh Papa Dylan dan Mama Angel. Sedangkan Elaine, ia masih lebih banyak lupa bila sudah melihat wajah Ellio. Elaine boleh saja menyusun rencana bahkan sampai mencatat pertanyaan yang ingin dia tanyakan ke Ellio, namun bila sudah melihat wajah Ellio, sontak pikiran Elaine seperti kosong dan lupa pada pertanyaannya.


Papa Dylan sudah tidak menanyakan lagi darimana Ellio mendapatkan serbuk bunga matahari. Baginya sekarang, yang terpenting Ellio dapat berkomitmen akan membantu Elaine menyediakan serbuk itu setiap mendekati waktu Elaine menerima serumnya. Papa Dylan hanya perlu menyediakan dana untuk pengolahan serum itu saja.


Hampir setiap saat Ellio ada di kebun samping Elaine. Tanpa Elaine sadari, sering kali Ellio dalam wujud perinya yang hanya sebesar buku jari, tidur-tiduran diatas bantalan bunga matahari, menikmati empuknya bantalan putik Sunny yang rimbun. Dia sering mengamati Elaine dalam kegiatannya sehari-hari, mengintip lewat pintu terasnya, apakah yang dilakukan Elaine didalam kamarnya. Ellio bahkan dengan jahilnya mencabuti kelopak bunga mawar hitam yang kini diletakkan diujung pagar rumah Elaine. Ya, bunga mawar itu tidak dibuang oleh keluarga Elaine, tapi diasingkan. Apabila Elaine sedang berjalan-jalan di tamannya dan bahkan berbicara dengan Sunny, Ellio akan bersembunyi di rimbunnya semak bunga melva.


Selain dari itu, setiap beberapa hari sekali Ellio sibuk menabur embun dan memanen serbuk bunga matahari untuk serum Elaine.


Apabila Ellio datang menemani Elaine dalam wujud manusianya, seperti biasa ia akan tetap menyelinap dari atas pagar langsung menuju kebun didepan teras kamar Elaine. Kemudian Ellio dan Elaine akan duduk di teras kamar Elaine, tanpa sepengetahuan Papa Dylan dan Mama Angel. Mereka menghabiskan waktu berdua dengan membahas kegiatan yang Elaine lakukan sehari-hari. Ellio sering menggoda Elaine dan Elaine sangat bahagia bila Elllio menghampirinya.

__ADS_1


__ADS_2