Kaulah Matahariku

Kaulah Matahariku
Kemarahan Dewa Matahari


__ADS_3

“Ellio!”


Sebuah suara menggelegar diatas sana. Ellio tersungkur hingga nyaris menelungkup di lantai awan.


“Bagaimana kau bisa ceroboh begitu! Kau menghabiskan persediaan serbuk bunga matahari kita! Kau mau bunga matahari punah dari bumi, hah?!?” Seru Apolo sang Dewa Matahari dengan penuh kemarahan.


“Aku tidak menghabiskannya!” Jawab Ellio dengan lantang. “Aku memang mengambilnya, tapi aku tidak menghabiskannya.” Sambung Ellio, masih membela dirinya.


“Kau menghabiskan stok untuk tahunan, Ellio! Dan bukan hanya sekali! Kalau kau ulangi lagi, beberapa bulan kedepan kita akan kehilangan bibit bunga matahari. Tidak ada lagi generasi bunga matahari yang akan tumbuh di bumi!” Seru Apolo lagi.


“Aku akan bertanggung jawab! Aku akan berbicara dengan bunga-bunga itu, mereka akan menghasilkan lebih banyak serbuk! Kita tidak akan kehilangan Bunga Matahari!” Seru Ellio lagi.


Dewa Matahari membanting tongkat kebesarannya, ia benar-benar marah karena Ellio terus membantahnya. Semua peri yang ada dihadapannya, sontak tersungkur ketakutan, termasuk Ellio.


“Bukan karena kau Peri Bunga Matahari, kau bisa memaksa bunga-bunga itu untuk menghasilkan lebih banyak! Kita bekerjasama dalam ekosistem, kau harus memperhatikan kelangsungan hidup makhluk yang menjadi tanggung jawabmu. Ekosistem akan terganggu, bunga matahari perlahan-lahan pasti akan menjadi langka! Beraninya kau mengganggu ekosistem dunia!” Suara Apolo menggelegar lagi.


“Mohon maaf Dewa, aku memerlukan serbuk bunga itu,” ujar Ellio lemah, “Seorang…”


“Tidak perlu kau sampaikan alasanmu, aku sudah tahu!” Belum selesai Ellio berbicara, Apolo sudah memotongnya. “Aku tidak akan lupa kenapa kau sampai kesini! Ternyata kau sudah menemukannya, ya? Karena seorang anak manusia, kau mengorbankan ekosistem kita?!” Bentak Apolo lagi, membuat Ellio semakin menunduk. Ia tidak mengira Apolo akan semarah itu.


🌻 flashback 🌻


Korea, tahun 800-an


Jung Yun tidur melingkar di dipan gubuknya. Bocah berumur sepuluh tahun itu menggigil kedinginan sambil memeluk perutnya. Ia kelaparan.


Di musim dingin ini, seharusnya orang tuanya menghidangkan daging hasil buruan mereka. Daging sangat berguna untuk menghangatkan tubuh mereka. Namun jangankan membawa daging; beras, gandum, roti maupun sayur saja jarang dibawa pulang oleh orang tuanya. Mungkin karena semua kepala keluarga di kampung mereka semakin rajin berburu sehingga jumlah hewan pendaging di hutan mereka banyak berkurang. Dan keluarga Jung terlalu miskin untuk membeli daging. Paling ayahnya bisa membawa pulang sedikit beras atau gandum hasil membarternya dengan kayu bakar.


Sehari-hari ayah Jung Yun masih dapat menanam sayur-sayuran di halaman kecil rumah mereka, namun tanaman-tanaman itu mati dimusim dingin seperti ini. Alhasil, keluarga ini sering kekurangan bahan makanan di musim dingin.


Tok.. Tok.. Jung Yun mendengar suara pintu rumahnya diketuk. Siapa yang datang ke gubuk sederhana mereka?


Jung Yun berjalan perlahan menuju pintu rumahnya dan membukanya. Tampaklah seorang wanita yang sangat cantik, menggunakan gaun sutera berwarna putih panjang hingga kemata kakinya. Dikepalanya teranyam sebuah mahkota dari dedaunan yang diselingi bunga berwarna ungu. Wanita itu tersenyum menatap Jung Yun.




“Noona, mencari siapa?” Tanya Jung Yun sopan.


“Apa orang tuamu ada?” Tanya wanita itu.


Jung Yun menggelengkan kepalanya. “Mereka sedang mencari makanan dan belum pulang.” Ujarnya perlahan sambil mengelus perutnya yang sakit karena lapar.


“Kamu lapar?” Tanya wanita itu.

__ADS_1


Belum sempat Jung Yun menjawab, wanita itu menunduk dan mengambil segenggam salju, lalu masuk ke gubuk sederhana keluarga Jung.


Wanita tersebut langsung melangkah menuju dapur. Dengan segenggam salju yang ia bawa, ia mempersiapkan panci dan kayu bakar. Lalu meraih tas yang ia bawa, mengeluarkan dedaunan dari tasnya. Mata Jung Yun melebar, ia baru menyadari wanita itu membawa sebuah tas berisi banyak daun sejenis sayuran.


Wanita itu langsung mengolah daun-daunan itu dengan peralatan dan bumbu sederhana yang ada di dalam dapur tersebut, menjadi sebuah menu yang aromanya menggugah selera. Mata Jung Yun tidak lepas dari wanita itu selama ia mengolah makanan.


“Makanlah.” Wanita itu meletakkan sayur hasil masakannya di piring di hadapan Jung Yun. Tanpa ragu, Jung Yun segera meraihnya dan melahapnya. Wanita itu duduk di hadapan Jung Yun selama Jung Yun makan, menatapnya sambil tersenyum.


Rasa hangat sayur itu segera menjalar dari mulut hingga perut Jung Yun. Lama kelamaan badannya pun mulai hangat, ia tidak menggigil kedinginan lagi. Pipinya juga mulai bersemu merah.


Jung Yun menatap wanita itu dengan penuh terima kasih.


“Terima kasih, Noona.” Ucap Jung Yun sambil menundukkan kepalanya, kemudian ia tersenyum.


“Kamu sudah kenyang? Sayurnya belum habis.” Wanita itu menunjuk panci yang masih berisi sayuran.


Jung Yun menggelengkan kepalanya.


“Ayah dan Ibu belum pulang, mereka masih mencari makanan. Aku tidak tahu mereka berhasil mendapatkan bahan makanan atau tidak. Jadi, sayur itu biar untuk Ayah dan Ibuku, Noona. Untukku sudah cukup.” Ujar Jung Yun perlahan.


Wanita itu tersenyum sambil mengelus kepala Jung Yun.


“Kamu anak yang sangat baik. Tidak pernah memikirkan kepentinganmu sendiri. Terimalah ini,” wanita itu menyodorkan sekantung kecil biji-bijian. “Tanamlah ini bila menjelang musim dingin, ia akan tumbuh selama musim dingin dan dapat mencukupi kebutuhan makan keluargamu. Bila nanti tanamanmu tumbuh, ambillah bijinya untuk kau tanam bila menjelang musim dingin berikutnya.” Tambah wanita itu lagi.


“Noona harus pergi.” Wanita itu beranjak dari duduknya. “Teruslah jadi anak baik, berbaktilah pada orang tuamu.” Ia mengelus kepala Jung Yun lagi.


Wanita itu menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. “Waktu Noona sudah habis, jangan lupa pesan Noona ya?” Ujarnya lagi.


Jung Yun terpaksa mengangguk. “Baiklah Noona, terima kasih karena Noona sudah sangat baik padaku. Boleh aku tahu nama Noona?”


“Panggil saja aku Melva.” Jawab wanita itu sambil keluar dari gubuk keluarga Jung, lalu ia melambaikan tangannya. “Selamat tinggal Jung Yun, jadilah anak baik!” Serunya.


Jung Yun terjengat kaget. Noona tahu namaku? Aku bahkan belum memberitahukan namaku!


Namun belum sempat Jung Yun berteriak ke arah Melva, angin salju yang cukup besar bertiup hingga Jung Yun terpaksa memalingkan wajahnya. Pada saat ia melihat ke arah Melva lagi, Melva sudah lenyap.


Sejak saat itu, Jung Yun tidak pernah bertemu lagi dengan Melva lagi walaupun ia sangat menantikannya.


Jung Yun akhirnya meninggal dunia di usia 99 tahun dengan memendam kerinduan kepada Melva.


Di alam baka, dia mengalami pengadilan yang mempertimbangkan antara kebajikan dan kejahatan yang dilakukannya selama hidup.


Dalam pengadilan itu, beberapa kali Jung Yun memohon para dewa untuk dapat mempertemukannya dengan Melva. Ia merasa berhutang budi pada Melva semasa hidupnya, karena Melva telah menolong keluarga Jung Yun selama musim dingin.


Para dewa tidak dapat mengabulkan permohonannya. Jung Yun hanya diminta untuk menjalani hukumannya sementara waktu atas kejahatan yang pernah dilakukannya, setelah itu ia akan dilahirkan kembali.

__ADS_1


Jung Yun mengiba-iba pada Dewa Keadilan, ia memohon dengan sepenuh hati. Bahkan mengajukan penawaran kepada Dewa Keadilan, ia rela tidak dilahirkan kembali asalkan Sang Dewa mengijinkannya untuk bertemu lagi dengan Melva. Keteguhan hati Jung Yun ini membuat Sang Dewa mempertimbangkan kembali keputusannya.


Setelah berdiskusi dengan dewa lainnya, akhirnya diputuskan Jung Yun tidak akan dilahirkan lagi di dunia. Ia ditugaskan mejadi peri bunga matahari, dikarenakan peri yang lama telah habis masa tugasnya. Jung Yun harus mengatur penyebaran dan jumlah bunga matahari yang ada di dunia, menjaga keberadaannya didunia hingga tidak punah dan berada dalam keseimbangan alam. Jung Yun bertanggung jawab pada Apolo, Dewa Matahari. Nama Jung Yun pun diganti, menjadi Elios/ Ellio (matahari).


Para dewa tidak memberitahukan keberadaan Melva kepada Ellio. Namun dengan mengawasi bunga matahari yang tersebar diseluruh dunia, Ellio dapat mengawasi setiap manusia yang ada, orang perorang. Ia dapat menyelidiki garis hidup orang itu sejak ia dilahirkan, bahkan pada hidup-hidup mereka sebelumnya.


Ribuan tahun Ellio lalui dengan melakukan tugasnya. Ia berkelana dari satu negara ke negara lain, menjalankan tugasnya sambil mengawasi para manusia. Banyak yang diselidikinya, namun tidak ada satupun diantara mereka yang masa lalunya adalah Melva.


Hingga suatu hari, ia yang sedang berada di wilayah pegunungan melihat sebuah kecelakaan yang dialami oleh seorang anak perempuan. Seorang anak perempuan yang akhirnya menderita cacat karena kecelakaan itu, karena sebagian besar sel otaknya mati. Dan yang menarik perhatiannya, anak perempuan itu memerlukan serbuk bunga matahari untuk pengobatannya. Dan keberadaan serbuk itu adalah dibawah kekuasaannya.


Ellio mengawasi anak yang berusia enam tahun itu. Ia menyelidikinya, namun masa lalu anak itu gelap, ia tidak dapat melihatnya. Suatu yang jarang terjadi, biasanya dengan mudah Ellio dapat melihat masa lalu seseorang.


Hingga akhirnya, Ellio meminta pertolongan pada Apolo. Apolo mempertimbangkan banyak hal sebelum mengabulkan permintaan Ellio.


Sambil terus memperhatikan perkembangan kondisi anak itu, Ellio terus memohon-mohon pada Apolo. Ellio melihat keadaan anak itu yang tidak kunjung membaik dan terkadang merosot, dikarenakan keluarganya tidak dapat menyediakan pengobatan yang dibutuhkan anak itu.


Dengan pertimbangan dan kebijakan dari Apolo, akhirnya Dewa Alam Baka memberitahukan rahasianya. Rahasia mengenai sejarah kelahiran kembali anak perempuan itu dan hal ini cukup mengejutkan Apolo.


Anak perempuan itu bernama Elaine. Di masa awal penciptaan dirinya, jiwanya dilahirkan dari setetes madu yang berasal dari bunga di musim gugur. Dari tetesan madu itu, ia tumbuh dan ditakdirkan menjadi peri bunga bernama Melva. Namun karena salah satu tindakannya yang dianggap sebagai dosa atau kesalahan besar, Melva dihukum mati. Apa jenis kesalahannya, berapa lama masa hukuman dan hukuman apa yang dijalani, rahasia ini disimpan rapat oleh Dewa Alam Baka dan Apolo.


Akhirnya Apolo hanya mengabarkan kepada Ellio, bahwa pada akhirnya Elaine yang saat ini diawasi Ellio adalah benar Melva dimasa lalu.


Tekad Ellio untuk menolong Elaine semakin berkobar setelah mengetahui Elaine adalah Melva di masa lalu. Sejak saat itu Ellio semakin memperhatikan Elaine dan mencari kesempatan untuk mengenal Elaine. Untuk itu, Ellio menjelma menjadi seorang bocah laki-laki berusia sepuluh tahun.


Ellio semakin berusaha membalas budinya kepada Melva melalui Elaine. Dulu Melva telah menyelamatkan hidupnya dan keluarganya, kini Ellio bertekad akan menyelamatkan hidup Elaine.


🌻 Flashback off 🌻


“Maafkan aku, Sang Dewa.” Ujar Ellio lemah. “Maafkan aku bila bersalah dalam mengambil tindakan.  Aku akan bertanggung jawab bila kesalahanku membawa ketimpangan dalam ekosistem. Aku rela kau ubah menjadi buih air bila memang aku gagal mempertahankan ekosistem. Tapi aku mohon, jangan cegah aku menolong Elaine. Dia akan gagal bila hanya mengandalkan orang tuanya.”


Air mata Ellio sudah mengalir, dibenaknya ia terbayang wajah Elaine yang menangis dibelakang orang tuanya, menyembunyikan kesedihannya dan kesakitannya. Juga wajah Elaine yang pura-pura tertawa bahagia. Lalu wajah putus asanya, yang meminta agar Tuhan segera menjemputnya saja. “Ijinkan aku menolongnya dan berikan aku kesempatan untuk membalas budi padanya.”


“Dengan membahayakan dunia?” Sinis Apolo.


“Aku tidak akan membahayakan dunia, aku berjanji!” Seru Ellio lagi. “Kau boleh menghukumku bila…”


“Saat itu sudah terlambat!” Potong Apolo. “Dunia yang sudah terlanjur hancur, dan kau hanya menjadi buih laut? Enak sekali kau tidak merasakan kehancuran dunia!” Seru Apolo lagi.


Ellio menundukkan kepalanya lagi. Ia berpikir keras, apa yang harus dilakukannya agar Apolo dapat menyetujui permohonan apa. Penawaran apa yang sekiranya menarik untuk Apolo?


Apolo memperhatikan Ellio, dalam hatinya tumbuh belas kasihan. Ia tahu perjuangan Ellio selama ribuan tahun untuk menemukan Elaine, dan selama masa bertugasnya selama ribuan tahun itu Ellio belum pernah melakukan kesalahan.


“Aku sudah membuat keputusan.” Ujar Apolo akhirnya. Ellio menangkat kepalanya, menunggu apa yang akan dikatakan oleh Apolo.


“Kau boleh membantu gadis itu. Aku akan mengawasimu. Kau harus melaporkan setiap kali kau mengambil serbuk itu, berapa banyak yang kau ambil dan berapa banyak yang tersisa.” Lanjutnya.

__ADS_1


Ellio menganggukkan kepalanya. Dia sangat senang dan bersyukur mendengar kebijakan Apolo. Ellio berjanji akan mengambil serbuk itu dengan bijak sehingga nantinya tidak mengecewakan Apolo yang sudah memberikannya kesempatan.


__ADS_2