
BEBERAPA BULAN BERLALU.
*
Siang itu, di hutan tepi kota begitu sejuk. Matahari bersinar terang, tapi pepohonan meneduhkan halaman dan gubuk Aram. Nenek sedang menganyam keranjang. Tampak beberapa hasil anyamannya tergantung di dinding gubuk. Beberapa yang setengah jadi diletakkan di atas bangku bambu di teras gubuk. Nenek memang pandai menganyam dan membuat keperluan rumah tangga dari bambu. Karena dia berasal dari desa.
"Srekkk. Srekkk." Areha menyapu halaman. Sementara Luran dan Figan bermain bedil-bedilan dari bambu.
"Tarrr. Tarrr." Bunyi ledakan bedil bambu mereka. Keduanya berteriak bergembira saat bermain.
"Kukukrakikkk." Ayam jantan mereka berkokok merdu. Ayam Aram sudah bertambah banyak sekarang. Buah ketekunan Aram merawat dan mengikuti panduan dari buku yang dia baca. Beberapa ayam juga pernah di potong Aram. Maklum mereka tidak punya uang untuk membeli daging ayam di pasar.
...*****...
SORE.
*
Sementara itu di jalan raya. Tidak jauh dari hutan tepi kota. Seorang laki-laki dalam gangguan jiwa berjalan di jalan tanpa alas kaki. Diperkirakan berumur tiga puluh lima tahun. Tubuhnya tinggi besar, kulit coklat, dan baju compang-camping. Dia menggendong karung plastik yang penuh muatan, entah apa. Sedangkan diketiaknya dia mengempit sebuah boneka beruang yang kotor dan kusam. Sesekali dia tampak marah-marah. Sumpah serapah dan kata ngelantur tidak tahu arah. Keluar dari mulutnya, membuat semua orang memperhatikan. Ada yang acu, ada juga yang takut.
"Pommm. Pommm." Bus Transmusi membunyikan klakson agar dia menepi. Tapi seakan-akan dia tidak mendengar. Terus berjalan dan kadang melenggak-lenggok. Terpaksa sopir yang mengalah. Jalan mulai macet dan para pengguna jalan terpaksa sabar.
"Minggir Bang." Ujar seorang pesepeda motor, tapi tidak di pedulikan.
"Dasar orang gila." Sopir Transmusi menggerutu, menyalahkan lampu sen dan keluar jalurnya untuk melewati orang gila itu. Begitu juga mobil selanjutnya.
"Hei Bang, ini minum dan roti." Seorang sopir mobil pickup yang menjadi angkutan grab box, sejenis taksi online. Barulah orang gila itu menepi, sambil berlenggok. Selain kesal orang-orang juga dibuat tersenyum.
Setelah itu, dia pergi entah kemana. Setengah jam kemudian tibalah orang gila di dekat hutan yang di kelilingi tembok. Berjarak dari tembok ada bangunan terbengkalai tidak dihuni yang kotor dan berantakan. Di dalam itu, orang gila tadi tampak duduk dan merenung. Kadang dia berkata-kata, dan menjerit.
"Ahhhh, anakku. Jangan nakal. Ibu sebentar lagi pulang." Katanya berulang-ulang. Kemudian dia menangis beberapa menit. Lalu berubah marah-marah. Kemudian meras ketakutan dan berlari-lari. Seakan-akan ada yang akan membunuhnya.
Orang gila berlari masuk semak-semak dan bersembunyi di balik sebatang pohon. Dari sana dia mengintip-intip. Tanpa sengaja dia melihat lobang tembok terbuka. Kemudian melangkah mengendap-endap menuju lobang tembok.
Dari luar tembok kepala melongok ke dalam. Memperhatikan ke kiri-kanan lalu masuk. Dia mengendap-endap memperhatikan dua anak laki-laki bermain beril-bedilan. Anak perempuan yang sedang menyapu halaman. Seorang nenek yang sedang menganyam. Orang gila terus melangkah perlahan tanpa diketahui mereka semua.
"Tap." Tangan Areha di pegang orang gila. Areha berbalik dan terkejut setengah mati saat dia melihat laki-laki tinggi besar, wajah berewokan, baju compang-camping, ada boneka usang, dan karung plastik entah apa isinya.
"Anakku, mari pulang. Ayo pulang. Ibu kamu sudah pulang Anakku." Katanya.
"Aaauuuuuuu." Areha menjerit melengking ketakutan setengah mati. Nenek terkejut, dia berbalik dan melihat orang gila itu menyeret Areha. Tanpa pikir panjang nenek mengambil tongkat kayu, lalu berlari memukul orang gila itu kuat-kuat.
"Buukkk. Buukkk." Berulang-ulang. Orang gila marah dia melepaskan Areha dengan cara mendorong ke depan. Lalu dia menangkap tongkat di tangan nenek. Kemudian memukul wajah nenek kuat-kuat.
"Pakkkkk." Tamparan keras mendarat di wajah si nenek. Dia terjatuh ke tanah, dan orang gila menendang sehingga nenek jatuh tertelentang. Orang gila melompat dan menduduki perut nenek. Tentu saja membuat tubuh nenek tidak dapat bergerak. Lalu tangan orang gila mencekik leher.
"Akkkk. Aaaak." Tangan mencoba melepaskan cekikan, tapi tangan orang gila sangat kuat. Nenek mulai kesulitan bernafas, wajahnya merah.
"Heeeaaaa. Heeaaaa." Luran dan Figan melompat ke bahu orang gila, lalu memukul kuat-kuat. Tapi pukulan mereka bukan apa-apa. Bahkan sekali lempar keduanya melayang jatuh ke tanah. Betapa sakitnya tubuh dua bocah laki-laki itu.
"Pak. Pak." Berulang-ulang Areha memukul orang gila dengan sapu lidi. Tapi itu juga tidak ada artinya. Areha di tarik dan di dorong hingga dia tersungkur.
"Ha. ha. ha." Tawa orang gila, dia mendelik-delik seakan melihat nenek musu yang lama dia buru. Tubuh nenek mulai lemah, dia tidak lagi bisa bernafas. Persediaan oksigen tubuhnya menipis. Belum lagi tubuhnya ditindih badan besar orang gila itu. Tentu membuat nenek bertambah sulit.
"Aaaak." Mulut nenek ternganga, dan matanya mulai mendelik. Sementara orang gila terus mencekik sambil tertawa-tawa.
...*****...
KAYAK SINETRON.
*
Yuzaka turun dari mobil, diikuti kakak sulungnya yang sudah duduk di bangku kuliah. Hari itu pembagian raport, dan Yuzaka mendapat ranking pertama. Tapi dia tidak begitu gembira. Setelah itu pulang, dan makan siang di ruang makan. Ibu Yuzaka tampak melihat-lihat raportnya.
"Yuzaka, kau sekarang sudah kelas tiga SMP. berarti tahun depan kamu akan masuk SMA. Kau mau sekolah umum atau di pesantren." Tanya ibunya.
"Kalau Zaka ikut saja, Bu. Asal sekolah tetap di Kota Palembang." Jawab Yuzaka sambil makan, kebetulan ibunya memasak ikan kembung bakar kesukaannya. Tampak ibu Yuzaka tersenyum bangga melihat nilai raport anaknya.
"Heeee, ketahuan. Kenapa maunya di Kota Palembang. Tidak mau di luar kota, tidak mau jauh dari Palembang." Tiba-tiba muncul adik laki-laki Yuzaka dari ruang tengah.
"Iya, biar dekat rumah dan mudah pulang." Jawab Yuzaka keras.
"Ahh, bohong. Kalau di sinetron-sinetron TV, biasanya cewek yang tidak mau pergi dari suatu tempat, pasti ada yang spesial." Kata adik laki-laki sambil duduk di kursi menghadap meja. Yuzaka yang baru mau menyuap nasi jadi tertunda.
__ADS_1
"Sinetron lagi, sinetron lagi. Basi tau gak." Jawab Yuzaka ketus.
"Nah, orang cuma bilang saja kalau di sinetron. Ini kakak marah-marah, ayoooo." Ujar sang adik sambil kedip-kedip kedua matanya membuat Yuzaka kesal setengah mati.
"Siapa yang marah." Kata Yuzaka ketus.
"Pasti gara-gara kakak yang nama Aram itu kan." Kembali sang adik menggoda. Yuzaka benar-benar kesal sekarang, dia berdiri dan mengambil sapu. Lalu mengejar sang adik yang bandel dan jahil.
"Mulaiiiii, Yuzaka. Adekkk. Kapan kalian akurnya." Teriak si ibu, sementara kakak-kakak mereka tidak mendengar karena telinga di tempel headset.
"Kak Aram. Kak Aram." Katanya sambil menggoyangkan pantatnya ke arah Yuzaka berulang-ulang. Yuzaka tambah naik pitam, maka dia terus mengejar adiknya sampai akhirnya adiknya mengurung diri di kamar.
"Durr." Pintu kamar tertutup, Yuzaka memukul-mukul pintu kamar. Sementara ibunya terus berteriak-teriak meminta mereka berhenti dan makan siang bersama.
...*****...
ARAM PULANG TEPAT WAKTU.
*
"Heeaaaa." Aram berteriak marah, dia mendorong gerobak kuat-kuat dan mengenai bahu kanan orang gila. Sehingga tubuhnya terpental ke samping. Aram menarik gerobak lagi, dan mendorong kembali ke arah orang gila. Nenek Cik Rumi terbatuk-batuk dan megap-megap sulit bernafas karena cekikan orang orang gila. Dia bangkit, sementara Areha, Figan dan Luran bangkit juga langsung menolong nenek.
"Heeeaaaa." Teriak Aram sambil mendorong gerobak.
"Duk." Tubuh orang gila itu kembali tersungkur di tanah terhantam gerobak sampah. Bahkan banyak sampah plastik yang berhamburan karena benturan keras itu. Wajah orang gila terbenam di tanah berpasir putih. Dia kemudian bangkit perlahan sambil memegang pinggul. Belum lurus badan berdiri dalam posisi menungging.
"Heeaaaaa." Aram mendorong gerobak kuat-kuat. "Duukkkk." Kembali gerobak Aram menghantam pinggul orang gila. Sehingga orang gila kembali terjatuh dengan keras dan menyasar semak-semak. Ada bongkahan batu bata sisa orang membangun tembok dulu tepat membentur kening orang gila. Sehingga keningnya terluka dan berdarah. Orang gila mencoba untuk bangkit lagi dan dia langsung berlari cepat.
"Heeaaaaa." Gerakan cepat dan bertubi-tubi Aram membuat orang gila tidak punya kesempatan membalas. Kali ini gerobak menghantam pinggang dan orang gila kembali terjungkal. Kepala lebih dulu dan menerabas semak-semak. Orang gila menjerit dan menangis. Kemudian dia bangkit berdiri dan berlari menuju lobang tembok. Aram kembali mengejar dengan gerobak tanpa ampun. Sehingga tumbuh orang gila kembali terjungkal. Aram kembali hendak menabrak gerobak pada orang gila.
"Arammm, sudah cucuku. Cukup. Dia orang gila, biarkan dia pergi." Teriak nenek. Aram berhenti dan nafasnya memburu. Tampak orang gila bangkit dan langsung berlari sambil menangis. Dia berlari keluar tembok, terus ke jalan.
Semua barang berupa karung berisi sampah dan boneka beruang yang kotor dan usang tertinggal. Di jalan raya hampir saja orang gila itu di tabrak mobil.
"Nenek tidak apa-apa." Tanya Aram, mereka duduk di tepi bangku di mana nenek sering menganyam kerajinan.
"Tidak apa-apa Aram. Untung kamu pulang, hampir nenek mati." Keluh si nenek. Mereka bercengkerama dan berbincang tentang kejadian tadi. Setelah suasana tenang Aram berkata.
"Alhamdulillah, uang ini kita kumpulkan untuk menyewa kontrakan." Kata nenek.
"lima belas ribunya Aram belikan buah pisang dan rambutan ini." Kata Aram. Kemudian dia mengambil kantong plastik tergantung di dinding gerobak. Mereka makan buah pisang putri dan rambutan bersama-sama. Areha, Luran dan Figan begitu gembira makan buah-buahan itu.
...*****...
BUAT PINTU LOBANG TEMBOK.
*
Matahari bersinar terang, cahayanya menembus kelebatan dedaunan. Suara deru kendaraan terdengar tidak henti. Nenek sedang mengolah batang bambu untuk anyaman, Areha, Luran dan Figan tampak sibuk membaca majalah bekas dan buku-buku bekas.
"Tok. Tok.Tok." Suara palu Aram terdengar. Pagi itu dia membuat pintu pada lobang tembok dengan seng berkarat yang dulu dia jadikan pintu rumah karung mereka. Seng berkarat itu dia apit dengan bila-bila bambu. Selesai, saat dipasangkan pas sekali. Kemudian, Aram membuang barang dan boneka milik orang gila jauh dari tempat mereka.
"Nenek, saya mau pergi mencari barang bekas, pintu lobang tembok sudah selesai. Jadi, kalau ada yang masuk dapat diketahui, sebab saat dibuka akan berisik." Aram pamit.
"Koyong, Aku ikut hari ini." Kata Luran, dan Figan. Aram setuju tapi untuk hari itu saja. Aram tidak ingin adiknya capek. Tapi hari itu dia akan mengajak adiknya untuk bermain di luar. Karena mereka tidak pernah keluar tembok sejak berbulan-bulan lamanya.
"Tutup pintu masuk, Areha. Biar orang gila tidak lagi masuk." Kata Aram dari luar tembok.
"Iya." Sahut Areha, dan menuju tembok untuk menutup lobang.
...*****...
KABAR PINDAH KE KALIMANTAN.
*
Ayah Yuzaka pulang sudah malam. Ibu Yuzaka menyambut suaminya dengan penuh kasih sayang. Mereka makan berdua di ruang makan. Karena anak-anak mereka sudah makan terlebih dulu. Bahkan anak bungsu mereka yang jahil sudah tidur. Setelah makan mereka duduk diruang tengah, secangkir kopi sudah tersedia.
"Nilai Yuzaka bagus sekali Pak pada semester ini, dia peringkat pertama." Kata sang istri bangga.
"Mana, coba ayah lihat." Ibu Yuzaka menyodorkan raport, sang ayah tersenyum puas dengan nilai Yuzaka. Kemudian sang ayah menghirup kopi sambil bolak-balik raport.
"Mengapa ayah pulang malam sekali, tidak biasa." Tanya istrinya.
__ADS_1
"Tadi ada rapat perusahaan, cabang di Kalimantan bermasalah karena manager kurang cakap dan ada unsur tidak jujur dalam laporan. Perusahaan menjadi rugi besar. Jadi diputuskan jajaran direksi kalau ayah tahun depan akan ditugaskan di sana." Kata Ayah Yuzaka.
"Jadi kita pindah juga." Tanya sangat istri.
"Iya terpaksa, kalau tidak ayah akan kehilangan pekerjaan. Atau diturunkan jadi karyawan biasa." Jawab Ayah Yuzaka.
"Pindah sekolah, pindah kuliah." Tanya istrinya.
"Tidak juga, Andre tetap kuliah di Palembang. Kalau dia mau. Rumah ada, kita kirim saja biaya. Yuzaka, Adek, dan Titah yang ikut pindah. Pas tahun tahun ajaran baru tahun depan, saat Yuzaka masuk SMA." Jelas ayah Yuzaka. Tanpa di ketahui mereka berdua, percakapan itu di dengar Yuzaka yang mau ke kamar mandi. Entah mengapa tiba-tiba hati Yuzaka menjadi sedih.
...*****...
KENANGAN.
*
Yuzaka berbaring di atas kasur yang tebal dan empuk. Dia melihat jam dinding menunjukkan pukul 23:12 WIB. Yuzaka yang tadi ngantuk berat tiba-tiba rasa kantuknya jadi hilang. Pikirannya melayang kemana-mana, dia gelisah dan tidak bersemangat. Dicobanya memejamkan mata, untuk memulai tidur. Tapi tetap tidak bisa tidur. Terngiang kembali di telinganya kalau tahun depan mereka akan pindah satu keluarga ke Kalimantan. Di sebuah kota dimana ayahnya akan bertugas.
Entah mengapa Yuzaka tiba-tiba teringat kejadian menimpanya dua tahun lalu.
Waktu itu, dia baru dua bulan duduk di bangku sekolah SMP yang sekarang. Yuzaka bersama Disin, Nuha, sedang berjalan menuju tempat fotocopy.
"Ijazah mu sudah dapat juga Nuha." Tanya Disin.
"Iya sudah lama, satu bulan lulus SD ijazah sudah dibagikan." Jawab Nuha.
"Kok lambat menyerahkan kesekolah." Sahut Yuzaka.
"Belum sempat legalisir dan lupa." Jawab Nuha.
"Ya, kalau di SD kami baru kemaren di bagikan. Selama ini, yang diberikan ke sekolah cuma keterangan lulus. Ini baru mau fotocopy untuk syarat di SMP." Jelas Yuzaka, mereka tiba di toko ATK yang tidak jauh dari sekolah mereka.
"Buat enam lebar, Mbak." Kata Yuzaka, Disin juga menyarankan ijazah juga diperbanyak seperti Yuzaka.
"Pena warna merah dan hitam ada, mbak." Nuha bertanya.
"Ada dik, lihat di dalam lemari." Jawab si Mbak yang sedang fotocopy. Yuzaka dan Disin juga membeli pena. Setelah selesai ketiganya kembali ke sekolah. Beberapa siswa-siswi juga datang dengan keperluannya. Keduanya berjalan beriringan, dan mengambil jalan pintas di sisi rumah warga. Agar mereka lebih cepat sampai di sekolah.
Jalan setapak melewati sebuah tanah lapang yang tidak terawat, banyak semak. Dari sana mereka sudah melihat bangunan sekolah. Seorang ibu-ibu penjual jamu dengan sepeda motor berlalu. Ketiga menepi agar si ibu jualan jamu bisa lewat.
"Dekat sekali dari sini." Kata Nuha.
"Memang dekat, tapi jalan agak sepi dan bersemak." Ujar Disin.
"Guk. Guk. Guk." Tiba-tiba anjing hitam besar dan mulut dengan air liur menetes menghadang mereka. Lalu mulai menyerang dan menggigit-gigit. Rok Disin robek, dan dia berlari masuk semak. Sepatu Nuha di gigit, tapi dia bisa berlari menjauh saat sepatu terlepas. Berusaha naik kayu tapi tidak bisa-bisa. Yuzaka langsung berlari, tapi sayang anjing itu lebih gesit. Baru berjarak lima belas meter rok sudah di gigit anjing itu. Untung dia memakai ****** ***** panjang.
"Graaarrrrr." Bretttt." Suara anjing menggeram, dan rok Yuzaka robek. Setelah itu, anjing menggigit rok bagian lain, dan robek juga. Yuzaka menjerit ketakutan sambil menangis. Dia berusaha melepaskan gigitan anjing. Tapi sia-sia. Sementara Disin dan Nuha menggigil ketakutan. Kaki mereka tidak bisa di gerakkan.
"Pakkkkk." Suara pukulan mengenai badan anjing.
"Kaing. Kaing." Anjing itu berbunyi kesakitan. Rok Yuzaka dilepas, sementara anjing itu berbalik menyerang siswa SMP laki-laki yang memukul tadi.
"Guk.Guk." Anjing menyalak. "Greeeerrrr." Anjing melompat dan hinggap di dada anak itu, lalu menggigit baju. Tubuhnya terdorong kebelakang, membuat dia terjatuh ke semak-semak.
"Pakkk. Pakkk." Anak itu terus memukul kuat-kuat, sampai akhirnya pukulan mengenai moncong mulut anjing. Sehingga anjing kesakitan dan moncong anjing berdarah. Lalu anjing hitam besar itu berlari menjauh.
"Arammm." Teriak Yuzaka, dia berlari menghampiri Aram yang baru mau bangun dari semak-semak.
"Kau tidak tergigit anjing gila itukan." Tanya Aram, dia memperhatikan Yuzaka yang compang-camping karena digigit anjing.
Disin dan Nuha berlari mendekati keduanya. Semua baik-baik saja. Aram melangkah mengambil sepatu Nuha. Saat itulah, ketiganya melihat ada sebatang ranting menancap di punggung Aram.
"Ya Allah." Ketiganya terkejut dan takut. Ada darah mulai mengalir dari luka Aram. Mereka segera ke sekolah.
Aram kemudian ke ruang kesehatan sekolah. Ranting di cabut dan ada darah keluar muncrat. Semua teman Aram menjerit terutama Yuzaka. Kemudian luka diobati dan di perban. Sedangkan baju Aram yang robek di jahit. Sementara Yuzaka dan dua temannya diizinkan pulang terlebih dahulu.
*
Yuzaka tertidur bersama kenangan itu. Sekarang dia terbawa mimpi. Dalam mimpi itu, dia datang ke sebuah pernikahan. Tapi anehnya pengantin wanita itu wajahnya sangat mirip dengannya, dan pengantin laki-laki mirip dengan Aram.
Selain itu, saat dia melihat ke samping. Terlihat juga seorang pemuda berpakaian seperti pengantin. Dia melambaikan tangan pada pengantin wanita itu dan melambaikan tangan pada Yuzaka. Lalu pergi bersama cahaya yang sangat terang. Wajahnya juga bersinar indah sekali. Yuzaka merasa bingung dengan kejadian itu.
...*****...
__ADS_1