Kedipan Dikalah Senja.

Kedipan Dikalah Senja.
Tetangga Baru


__ADS_3

Sebuah mobil Avanza hitam terparkir di sisi halaman kontrakan Aram. Halaman kontrakan cukup luas sehingga mobil tidak parkir di depan bangunan kontrakan.


"Sudah siap pindah Dik Riha." Sahut ibu pemilik kontrakan dari teras dapurnya. Dia sibuk dengan baskom yang penuh cucian. Seorang gadis memakai almamater Universitas Sriwijaya datang mendekat. Dia tampak cantik dengan hijab pink-nya. Dia pamit dan mencium tangan ibunya. Lalu pergi sambil mengucapkan salam.


"Iya Bu, hari ini beres-beres dan membawa pakaian dan perlengkapan." Sahut Riha, sambil mengangkat kopor pakainya. Tampak Gapa mengangkat dua kasur olimvix tebal. Seorang anak jahil sibuk buat video snapshot.


"Ini kondisi pindahan kami. Ibu Riha dan Bapak Gapa yang jarang shalat." Ujar Hapa.


"Woy, sembarangan ngomong. Bawak itu kardus." Ujar Gapa.


"Ha. ha. ha." Tawa Riha melihat tingkah dua kakak beradik itu.


"Jangan diambil hati, bapak itu orang kasar dan pemarah karena tidak pernah puasa di bulan Ramadhan." Ujar Hapa tidak memperdulikan, dia terus berkata menjahili. Riha hanya tertawa terkekeh-kekeh.


...*****...


Riha sibuk mengepel lantai, sementara Gapa sibuk main game. Barang bertumpuk di ruang tengah kontrakan. Belum ada yang di atur. Hapa sibuk memeriksa di sekitar kontrakan. Matanya jelalatan memperhatikan, pepohonnan dan halaman. Berjalan ke samping melihat pintu kontrakan Aram terbuka. Lalu dia melihat kandang ayam milik Aram. Tumpukan barang bekas tersusun di dalam karung-karung. Hapa membuat video life dari akun Facebook miliknya. Puluhan ayam berlalu lalang.


"Ini ternak ayam kampung yang sukses. Lihat ayam jagonya besar dan berkokok merdu. Ayam, ayam. Kur. Kur. Kur." Kata Hapa melalui video lifenya. Mendekati anak-anak ayam. Areha keluar membawa kantong plastik sampah dan menengok ke samping. Kebetulan Hapa juga melihat ke arahnya. Hapa tampak malu, dan menghentikan videonya.


"Broommmmm." Sebuah sepeda motor dikendarai dua anak muda, melintas dan berhenti di kontrakan paling ujung. Sekilas dia melihat Gapa yang sibuk maen game. Riha sedang menyapu lantai juga melirik kedua anak muda itu. Paman Ruyo naik sepeda motor dan pergi entah kemana. Deak malu-malu keluar karena ada Gapa di depan teras. Melihat Areha yang berjalan dari arah kotak sampah, Deak berlari kearahnya. Deak memanggil dengan manja seolah-olah Areha adalah kakak kandungnya.


"Deak sudah mandi." Tanya Areha.


"Sudah, mandi sama ibu." Jawab Deak.


"Ibu lagi apa." Tanya Areha.


"Ibu mandi, lagi nyuci baju " Jawab Deak. Tampak bedak Deak yang tidak beraturan dan cara pakai pakaiannya yang kurang pas. Tanda kalau dia melakukan sendiri.


...*****...


Sementara itu, Lam dan Jum duduk bersandar di dinding. Keduanya tampak lelah, keringat membasahi baju mereka. Berbincang sambil memainkan handphone. Lam membuka facebook, sementara Jum membuka akun instagram.


"Paket data hampir habis." Ujar Lam nada lirih tapi terdengar oleh Jum di sampingnya.


"Yang Aku juga, teman-teman ngajak mabar." Jawabnya.


"Yang baru seminggu sudah habis. Yang benar saja Jum. Unlimited punyamu." Tanya Lam merasa heran.


"Ya, tergantung pemakaian." Jawab Jum, dia kehabisan paket data karena sering bermain game online nonstop.


"Semoga saja, lamaran kerja kita ada yang diterima. Kalau tidak kita akan kelaparan dan di usir dari kontrakan." Keluh Lam, dia melike setiap foto dan status teman facebooknya.


"Pulang kampung saja Jum, untuk sementara kalau kita tidak ada pekerjaan." Saran Lam.


"Kau tidak malu pulang ke kampung dengan keadaan begini. Uang tidak ada sedikit pun." Jawab Lam.


"Iya juga, bagaimana ini. Masak rokok saja tak ada." Jum membenarkan. Kemudian dia mengalihkan pembicaraan. "Itu cewek baru pindah, cantik juga." Kata Jum.


"Belum tahu juga, cewek apa istri orang. Ada laki-laki di teras." Jawab Lam.


"Mungkin saudaranya, beda tampilan orang sudah menikah atau belum." Ujar Jum.


"Iya kayaknya, tapi belum pasti." Sahut Lam.


...*****...

__ADS_1


Waktu berlalu cepat. Tak terasa sudah hampir malam lagi, memasuki waktu shalat Ashar. Di ruang shalat di rumah Pak Hadi. Istri Pak Hadi selesai shalat. Anaknya yang kecil bermain di samping bersama kakaknya Gaka.


"Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku dan dosa suamiku. Serta ampunilah dosa ibu dan dosa ayahku. Ampunilah dosa kedua mertuaku. Nenek dan kakekku dan dosa semua keluarga juga dosa seluruh kaum muslimin. "Ya Allah, dimana ibuku, apakah sudah mati atau masih hidup. Kalau dia masih hidup mohon pertemuklah kembali Aku dan ibuku. Ya Allah lindungilah ibuku dimana pun dia berada. Mudahkan semua urusan dan jalanan. Kalau dia telah pergi selamanya, tempatkan dia di tempat terbaikmu, surga firdaus bersama orang-orang beriman." Doa istri Pak Hadi untuk ibundanya, Nenek Cik Rumi.


"Adik, main ini." Ujar Gaka pada adiknya yang sudah bisa berjalan. Dia meletakkan mainan dinosaurus di lantai.


...*****...


Lima anak-anak berlari di jalan kompleks perumahan menuju kontrakan Aram. Semuanya membawa layangan, dengan semua kesibukan cerita mereka. Mereka tidak memperdulikan orang-orang yang berlalu di sekitar. Beberapa saat kemudian tiba di depan kontrakan.


"Luran, ada lem kertas tidak." Ujar temannya.


"Tak ada, pakai nasi saja." Jawab Luran.


"Bisa apa." Kata temannya lagi.


"Bisa, dulu Aku pernah mengelem pakai nasi." Sahut Luran dengan nafas memburu. Kelimanya duduk di teras kontrakan.


"Kopek, minta nasi sedikit. Untuk lem layangan." Kata Luran.


"Kalau kaki kotor jangan masuk dulu, baru selesai di pel." Jawab Areha dari dalam. Hapa dari Kontrakan Riha muncul. Saat melihat anak-anak ramai teras. Dia mendekati dan memperhatikan cara mengelem layangan robek. Tampak Luran merobek kertas buku untuk tambal kertas layangan.


"Ini nasinya, awas jangan berantakan."Kata Areha dari muara pintu, sekilas Areha melirik Hapa.


"Jangan begitu Dik, nanti layangannya terbang miring karena berat sebelah. Sini kakak yang rekatkan." Kata Gapa. Dia kemudian masuk kontrakan Riha, lalu mengambil gunting. Sementara Gapa telah terbaring tidur di ruang tengah. Riha mengatur perlengkapan dan pakaiannya. Tanpa permisi Hapa menyambar gunting kertas dan lem kertas kecil.


"Pinjam sebentar Kak." Katanya sambil berlari keluar. Riha tidak memperdulikan adik sepupunya. Dia terus berbenah agar pekerjaan cepat selesai. Di luar Hapa membantu Luran memperbaiki layangan. Dia menggunting kertas dan memasangkan.


"Di mana kalian beli layangan." Tanya Hapa, seorang teman Luran menjawab. Sementara Figan dan yang lainnya hanya memperhatikan.


"Nani temani Kakak beli ya." Kata Hapa, mereka mengiakan. Setelah itu, Hapa pergi bersama Figan dan teman-teman. Hapa membeli layangan dan membelikan Figan, Luran dan tiga temannya. Hapa juga mentraktir mereka minuman segar. Sehingga Hapa telah menjadi teman mereka. Kemudian bersama-sama bermain layangan di lapangan bola.


...*****...


Azan magrib berkumandang, suasana sepi dan pintu-pintu rumah tertutup. Aram datang ke kontrakannya bersamaan azan berkumandang. Dia dengan perlahan mendorong gerobak ke samping kontrakan. Melihat ayam-ayam sudah berada di dalam kandang. Beberapa ekor induk ayam tampak merekupi anak-anaknya. Biasanya Areha, Luran dan Figan yang mengkandangkan ayam Aram yang terus bertambah. Aram tidak mengurusi gerobak yang penuh dengan barang bekas. Di letakkan saja di samping kontrakan.


"Assalamualaikum." Kata Aram, dan membuka pintu yang tidak di kunci. Terdengar suara jawaban dari dalam. Tampak Luran dan Figan melihat layangan baru mereka. Areha baru selesai shalat magrib bersama nenek.


"Kenapa sore sekali Aram." Tanya Nenek.


"Aram terlalu jauh Nek, sampai ke daerah Gandus. Aram tersesat dan berputar-putar di daerah kompleks-kompleks di sana." Jawab Aram.


"Oh, jauh sekali. Sudah mandilah, setelah itu makan. Kami semua sudah makan sebelum magrib." Kata nenek. Aram mengiakan, lalu mengambil handuknya dan mandi. Setelah makan Aram bergabung duduk di ruang depan. Nenek, Areha, Luran, Figan duduk bercengkrama dengan semua cerita hari itu. Aram duduk bersandar di dinding melihat ke luar kontrakan. Tampak hilir mudik kendaraan di jalanan kompleks. Jum dan Lam keluar dengan motor mereka entah kemana. Paman Yugus pergi narik objek. Sedangkan Paman Yuro baru pulang dari kerja.


"Nek, di sebelah ada yang nyewa." Kata Areha, Nenek merapikan rambut Areha dengan sisir. Lalu membuat kepang di kiri dan kanan.


"Sudah berkeluarga apa belum." Tanya Nenek.


"Belum Nek, masih gadis. Dia sendiri ngontrak. Tapi dia ada keluarga, kakak sepupu dan adik sepupu." Jawab Areha.


"Iya Nek, ini Aku dan Figan dibelikan adiknya layangan tadi." Cerita Luran, keduanya begitu gembira karena sekarang memiliki dua layangan.


"Kak Hapa namanya." Kata Figan. Mendengar nama Hapa, Aram merasa tidak asing. Sepertinya dia pernah mendengar nama itu. Tapi entah di mana.


"Assalamualaikum, Kak Areha, Kak Figan." Suara ibu-ibu dari luar. Tampak bibik Walah dan Deak masuk. Nenek menyambut mereka dengan riang, begitu juga Areha.


Nenek dan Bibik Walah bercerita tak ada habisnya. Dia menceritakan tetangga baru mereka. Namanya Riha, bekerja di Indomaret di sisi jalan masuk kompleks mereka. Lusa siang dia mulai menginap dikontrakan.

__ADS_1


Bibik Walah juga menceritakan kalau suaminya sepertinya tidak lagi berhubungan dengan wanita lain. Tapi dia tidak pernah memainkan smartphonenya di rumah. Tapi yang jadi aneh Bibik Walah tidak dia izinkan membuka smartphonenya. Dia masih curiga, tapi pura-pura tidak tahu dan tidak mau tahu. Kedekatan Bibik Walah dan nenek seakan keluarga yang saling mencintai. Nenek menganggap Deak dan Junka anak Bibik Walah seperti cucunya sendiri. Aram berbaring dengan lamunannya sendiri. Saat matanya terpejam bayangan wajah Ayah dan ibunya melintas di pelupuk mata. Ada buliran air mata mengalir perlahan. Andai Ayah dan ibunya masih ada. Tentu ruangan ini akan sangat indah pikirnya.


...*****...


Sementara itu, di sebuah rumah sederhana di tepi kota Palembang. Rumah berdinding papan dan beratap seng yang sudah berkarat. Halaman rumah tampak berantakan karena sudah lama tidak di bersihkan. Lantai rumah hanya terbuat dari semen yang dipasang seadanya. Di kiri kanan rumah pepohonan liar. Sebuah sungai kecil penuh sampah di samping kanan rumah.


Jalan raya cukup ramai hanya berjarak sepuluh meter dari rumah. Untuk melewati parit ada jembatan terbuat dari papan. Di dalam rumah tidak ada yang istimewa, selain perabotan sederhana. Sebuah poto ukuran sepuluh R, tertempel di dinding. Jam dinding dan sebuah kalender. Lampu minyak jadi penerangan ruangan rumah.


Seorang anak laki-laki berumur dua tahun menangis rewel. Ibunya yang kurus dan terus terbatuk-batuk dengan sabar menenangkan anaknya. Tapi anak tetap saja terus menangis. Lalu dia gendong dengan kain. Dan dia ajak jalan-jalan di halaman. Anaknya diam juga memperhatikan jalanan yang sering terang oleh sinar lampu kendaraan berlalu. Terasa berat sekali anaknya, untuk tubuhnya yang sakit.


Sebuah mobil pickup berhenti di depan rumah. Si ibu memandang dengan penuh tanda tanya. Tampak ada yang terbaring di bak mobil. Lalu dua orang turun dan mengangkat turun. Sopir turun juga, dia menyalakan senter handphone. Agar jalan dua orang terlihat. Ibu itu begitu takut dan gemetaran. Apa gerangan yang terjadi kiranya.


"Aduuuhhh." Ujar orang yang diangkat dengan cara di rangkul.


"Pelan-pelan Jul." Kata yang paling depan, karena yang merangkul paling depan merasa terdorong.


"Ada apa ini." Ujar ibu yang berumur tiga Limaan tahun.


"Kakak Kino kecelakaan kerja Ayuk Sulak." Ujar satunya.


"Innailaihi wainailaihi rojiun. Astagfirullah, Ya Allah." Kata ibu kurus dan kulit kuning. Air matanya langsung berjatuhan, dia masuk rumah lalu menggelar tikar di kamar.


"Uhukkk. Uhukkk." Ibu terbatuk-batuk terus. Pak Kino dibaringkan di atas tikar plastik. Bantal yang lapuk diletakkan di punggungnya agak tinggi. Tubuh kurusnya berkeringat dingin. Tampak kaki kanan di mata kaki ada perban.


"Kanda, bagaimana bisa terjadi." Kata ibu khawatir sambil memperhatikan kaki suaminya.


"Tidak apa-apa, kaki kanda tertusuk besi behal." Ujar suaminya.


"Sudah kak, kami mau pulang. Ini obat dari ibu bidan tadi. Nah, honor kakak hari ini dari bos." Ujar sopir mobil pickup. Mereka semua juga belum pulang kerumah, langsung dari tempat kerja mengantar Pak Kino pulang setelah berobat ke bidan.


"Iya Handi, terimakasih banyak." Jawab Pak Kino. Tiga teman kerja pergi, beberapa saat kemudian terdengar suara mobil berjalan meninggalkan rumah Pak Kino. Pak Kino bekerja sebagai kuli bangunan harian.


...*****...


Sementara itu, di rumah Salika sedang tahlilan malam ke tiga. Ruang tengah rumah penuh oleh masyarakat sedang membaca surah Yasin. Setelah itu, baru bacaan zikir tahlilan. Tampak Pak RT, Pak Haji, Ketua pengurus masjid, dan warga sekitar.


"Lahilahailallah. Lahilahailallah." Ucapan itu berulang-ulang diucapkan oleh semua orang.


Sementara itu, di dalam kamar Salika terus menangis. Lima orang teman sekolahnya terus menghibur dan menguatkannya. Mereka bergantian memeluk Salika.


"Dehan dimana, apa kalian tahu." Tanya Salika, lima temannya saling pandang dan menggeleng-geleng.


"Kalau Houri, yang suka sama kamu itu ada. Dia berpakaian kayak pak ustadz." Ujar temannya. Membuat semua tersenyum simpul, begitu juga Salika. Salika tahu kalau Houri menyukainya. Dia berjanji akan melamar Salika nantinya. Tapi dia tidak mau pacaran-pacaran seperti anak-anak lain. Dia laki-laki muslim katanya, menghormati wanita dan cintanya bukan karena nafsu.


"Teni, Kita, Pia dan yang lain ada semua. Kalau Geng Heko ada di luar, duduk-duduk mabar. Taulah mereka itu bagaimana." Kata teman Salika bergamis hijau muda. Guru-guru sekolah Salika juga hadir.


"Kamu jangan memikirkan apa-apa dahulu, Lika." Ujar seorang temannya, dia cantik dengan hijab hitam dan gamis pink.


"Dua tiga hari ini, kau tidak apa-apa kalau mau istirahat dan tidak hadir ke sekolah." Kata teman di samping Salika.


"Iya Lika. Pak Kepsek yang bilang." Jelas sebelah kanannya.


"Terimakasih kalian selalu ada untuk Aku, Elyi, Tasti, Sufo, Giru, Gatna." Kata Salika, lalu mereka berpelukan bersama. Tangisan Salika kembali terdengar, saat terdengar suara Pak Haji membaca doa selamat.


Di sisi Pak Haji ada tiga laki-laki. Mereka memakai baju teluk belanga dan berpeci. Ketiganya kakak laki-laki Salika, tapi lain ibu. Istri ayah Salika yang pertama meninggal di usia muda. Kemudian menikahi ibu Salika, dan tinggal di rumah itu. Rumah itu harta ayah Salika dan istri pertama ayahnya. Nantinya akan menjadi rebutan ketiga kakaknya. Akhirnya rumah itu dijual dan uangnya mereka bagi bersama.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2