
Aram dan Yuzaka duduk di ruang depan kontrakan. Nenek dan Areha duduk di sisi dinding berhadapan dengan mereka.
"Ini Yuzaka Nek, teman Aram waktu di sekolah dulu." Ujar Aram agak kikuk. Entah mengapa dia begitu kaku, padahal sudah lama tidak berjumpa dengan sahabatnya.
"Oh, nenek sudah kenal dengan Yuzaka, tapi belum tahu kalau dia teman sekolah Aram." Nenek sudah kenal saat Yuzaka datang ke kontrakan Riha. Waktu pertama Riha pindahan. Waktu itu, Yuzaka tampak berbincang-bincang dengan Areha.
...*****...
"Yuzaka, Hapa kemana." Tanya ibu Yuzaka yang melongok ke dalam ruangan.
"Dia main bersama Luran dan Figan, Bu." Jawab Yuzaka.
"Iyalah, sebentar lagi bantu kakakmu, memasak. Ayah sama ibu mau keruma Pak RT." Kata ibu Yuzaka lagi. Ibu Yuzaka kemudian menanyakan peristiwa kejadian semalam pada nenek. Nenek membenarkan dan menceritakan sekilas tentang pencurian semalam.
"Sabar saja, Yuk. Insyaallah semua ada hikmahnya, dan Allah akan mengganti dengan yang lebih baik." Ujar Ibu Yuzaka. Lalu dia pamit karena Ayah Yuzaka sudah menunggu di halaman. Pak RT kompleks itu memang sangat ketat. Dia selalu ingin memastikan kalau warga tinggal di dalam RT yang dia pimpin jelas dan aman. Dia sangat bertanggung jawab dan teliti terhadap warga-warga yang datang dan pergi.
...*****...
Setelah shalat Zuhur Aram dan Yuzaka pergi ke sebuah tokoh bakso tidak jauh dari Kontrakan. Mereka memesan bakso sambil berbincang-bincang. Menceritakan tentang teman-teman sekolah dulu. Juga kenangan mereka saat Aram masih sekolah. Setelah itu, mereka berjalan di taman kompleks. Disana ada taman bermain anak-anak, lapang boleh voli, dan tempat duduk di bawah pohon rindang. Tampak Hapa, Luran, dan Figan bermain kelereng bersama puluhan anak-anak.
"Kamu suka rasa apa Aram." Tanya Yuzaka.
"Rasa apa saja saya suka." Jawab Aram, Yuzaka menghampiri penjual es krim. Hapa melihat, dia mengajak Luran, Figan dan tiga temannya mendekat.
"Kak, Aku juga mau, sekalian teman-temanku." Ujar Hapa sambil senyum-senyum.
"Iya sudah tak apa-apa, pilih yang mereka sukai." Jawab Yuzaka. Setelah itu, Yuzaka dan Aram main ayunan sambil minum es krim. Beberapa anak-anak seumuran Figan main perosotan dan duduk di bangku taman. Ada seorang gadis duduk telponan sambil senyum-senyum.
Aram dan Yuzaka menikmati pemandangan danau kecil di samping taman. Ada bunga lotus yang mekar dan indah terapung. Dari sana mereka melihat ke jalan raya dimana kendaraan berlalu lalang.
"Itu, sepertinya Yuzaka." Ujar Riha, dia menyetir sepeda motor. Di belakang ibu Yuzaka menenteng kantong plastik hitam. Ibu Yuzaka membeli ikan kering di sebuah tokoh. Dia sangat suka masakan ikan kering. Sulit mendapatkan ikan sungai kering di kota.
"Iya sepertinya." Ujar ibu Yuzaka, dia mengamati. "Disini tempat anak-anak kompleks ini bermain-main." Katanya lagi, keduanya juga melihat dua tim pemain voli datang hendak berlatih.
...*****...
KEESOKAN HARINYA.
*
Langit cerah, waktu sudah menjelang sore. Sekitar pukul dua siang. Nenek berjalan menjunjung wadah kue di atas kepala. Ditutupi dengan plastik bening agar terlihat oleh pembeli dan terlindung dari debu jalanan.
"Kue. kue. kue." Kata nenek sepanjang jalan. Kendaraan berlalu lalang, klakson terus terdengar. Jalan kompleks yang padat.
"Nek beli, Nek." Panggil seorang ibu-ibu. Nenek menoleh, di teras rumah seorang ibu-ibu menggendong anak bayinya. Ada seorang anak laki-laki berumur lima tahun berdiri di sampingnya.
"Lima ribu saja, Bik." Ujar si ibu saat nenek telah meletakkan dagangannya.
"Mau kue apa." Tanya Nenek.
"Kakak mau kue apa. Bilang sama nenek." Kata si ibu. Anak itu malu-malu menunjukkan kue yang dia mau. Nenek mengikuti dan langsung dia masukkan ke dalam mangkok yang sudah disiapkan.
"Nenek, dua hari ini tidak jualan." Tanya si ibu.
"Iya, ada kerjaan sedikit." Ujar nenek, dia tidak menceritakan kalau kontrakan dimasuki pencuri.
"Kakak nanya terus, kenapa nenek tidak jualan. Dia mau makan kue. Kue dagangan nenek enak katanya." Cerita si ibu. Setelah memberikan kembalian uang. Nenek pamit dan meneruskan jualan. Beberapa saat kemudian nenek melihat jalan yang sering dia lalui di tutup. Nenek jadi bingung, bagaimana dia lewat.
"Jalan masih baru sekali Nek, paling satu atau dua jam, belum kering." Ujar penjaga.
"Iya, nenek cari jalan lain." Jawab nenek, dia kemudian lurus terus. Beberapa saat kemudian ada dua pembeli. Berjalan beberapa belokan nenek menemukan jalan kompleks lagi.
"Mungkin jalan ini sama, dengan jalan yang biasa Aku lalui. Karena arahnya juga sama." Pikir nenek, kemudian nenek berjalan menyusuri jalan itu. Memang jalan itu, ada bagian yang tembus ke jalan yang sering nenek lewati. Tapi nenek salah pilih jalan saat menemui simpang empat. Nenek terus menyusuri jalan sesuai perkiraan saja. Itulah mengapa dia tidak menemukan jalan yang dia cari.
"Aduuu, sepertinya Aku tersesat." Pikir nenek, banyak juga yang membeli walaupun bukan langganan nenek.
__ADS_1
...*****...
Seorang pemuda duduk di ruang kantor sebuah perusahaan pers. Dia sebagai wartawan muda sedang menulis berita. Harus sering belajar menulis dan membangun jaringan. Itulah, pesan seorang wartawan seniornya di organisasi Persatuan Wartawan Indonesia. Tiba-tiba:
"Ttiiinnn. Ttiiinnn." Smartphone bergetar, kontak baru menghubungi melalui WhatsApp. Dia menerima panggilan masuk itu.
"Iya, halooo. Ada yang bisa dibantu." Katanya menjawab panggilan handphone.
"Assalamualaikum, Kak. Saya mau publikasi tulisan, di kolom Cerita Kita. Kalau boleh, bagaimana syaratnya." Suara dari penelpon.
"Boleh, kirim file dalam bentuk word, foto pendukung kirim terpisah." Jawab pemuda berbaju merah biru, khas perusahaannya.
"Ok, saya kirim melalui email, redaksi." Ujar penelpon yang ingin mempublikasikan tulisannya.
"Ingat, tulisan jangan melanggar hak cipta, tidak boleh rasial, dan kalau cerita benar terjadi usahakan nama inisial saja. Foto jangan menampilkan wajah penuh, begitu juga foto anak-anak." Jawab pemuda itu. Dia memberitahu syarat menulis. Beberapa saat kemudian email masuk dengan file artikel dan foto. Editor tampak mengolah dan mengedit file tersebut. Setelah dianggap layak segera dipublikasikan.
"Arip, saya mau meliput di perusahaan Pak Katara. Hari ini mereka launching perumahan perdana. Kalian siap di kantor, pasti banyak publikasi hari ini." Kata wartawan muda itu.
"Ok, Bang." Sahut editor berita, sambil mengangkat jari jempol.
...*****...
Aram mendorong gerobak menyusuri jalan. Dia menuju tempat pembuangan sampah oleh masyarakat di sekitar Talang Jambe. Kemudian menuju Talang Keramat dan sekitarnya. Aram tahu di sekitar itu, banyak masyarakat membuang sampah sembarang di pinggiran jalan-jalan.
"Wussss. Bugggg." Sebuah mobil mewah lewat, kaca terbuka dan muncul tangan wanita cantik dan berhijab. Dia melemparkan kantong plastik berisi kulit-kulit buah, kotak makanan, dan botol-botol minuman ringan. Kantong plastik sampah jatuh di bahu jalan dan berserakan. Aram melihat kejadian itu. Tapi dia biasa saja, karena memang begitulah kelakuan kebanyakan orang.
"Kaya, cantik, dan suaminya berdasi. Sepertinya mereka orang berpendidikan dan kaya. Tapi kelakuannya seperti kera di dalam hutan. Lempar sampah sembarang, dari dalam mobil." Kata hati Aram. Kemudian dia berhenti dan mengambil kotak, botol-botol itu. Kemudian dia membersihkan bahu jalan dari bekas sampah.
"Berhenti sembarangan, dasar pemulung tidak berpendidikan." Kata orang itu, dia berseragam PNS, mengendarai motor Mio hitam. Karena ada dua mobil lewat bersamaan membuat jalan tersendat. Karena gerobak Aram di sisi jalan. Seorang sopir mobil pickup mendengar dan melihat kejadian itu.
"Dasar manusia sombong, mentang-mentang PNS, seenaknya memaki orang. Tidak malu dengan seragam yang dia pakai. Seharusnya dia lebih rendah diri, dan prihatin. Jangan mentang-mentang begitu." Komentar sopir mobil pickup ngomong sendiri. Perlahan dia menyetir mobilnya.
"Lagi apa Dik." Ujar sopir mobil pickup, lalu dia berhenti sebentar.
"Terimakasih sudah bersihkan jalannya. Itu, ada tiga kardus bekas, di bak. Ambillah, dari pada om buang." Ujar sopir mobil, keneknya tersenyum dan menunjuk-nunjuk. Sopir bilang kalau keneknya bisu. Aram dengan senang hati mengambil kardus itu. Lalu sopir pergi berlalu. Aram meneruskan perjalanan, dan tiba di onggokan sampah yang menggunung.
"Kak Arammm." Dari seberang jalan tampak dua kakak beradik membawa karung plastik berisi barang bekas, dan membawa gancu di tangan kanan. Anak perempua itu menenteng beberapa kardus bekas. Aram tersenyum melihat dua anak itu.
"Bagit. Lisam." Ujar Aram. Dua kakak beradik menyemberang jalan, sambil menoleh ke kiri dan ke kanan. Sebuah sepeda motor berlalu. Lulu:
"Wussss. Gedebukk." Sampah plastik sekantung besar dia lempar dari atas motor tanpa berhenti. Beberapa saat kemudian juga ada lagi. Seorang gadis memakai almamater universitas ternama di kota Palembang juga membuang sampah seperti itu. Padahal di sisi jalan sudah ada tulisan. "Jangan buang sampa di sini."
"Wahh, sudah kuliah, gadis cantik juga. Tapi kelakuannya kayak tidak pernah sekolah." Ujar seorang laki-laki pemulung juga. Dia baru tiba dengan sepeda anginnya. Dua keranjang menggantung di sepedanya, setiap keranjang telah terisi setengah. Aram, Bagit, Lisam dan laki-laki tua itu mencari barang bekas bersama.
"Cucu, hati-hati, nanti ada gelas pecah yang dibuang orang. Kalau terinjak, luka kakimu nanti." Si Kakek memperingatkan Bagit, yang berjalan di atas tumpukan sampah hanya beralas sendal jepit biasa. Bagit mengiakan dia mulai hati-hati.
...*****...
Matahari terik, dengan sinar menyengat kulit. Salika duduk di atas pembaringan. Matanya sudah bengkak, dan tubuhnya bertambah kurus. Di ruang tamu terdengar suara tiga orang kakak laki-laki lain ibu, yang sedang berniaga tentang harga rumah. Ketiga kakak laki-laki Salika tidak ada yang memperdulikannya. Mereka hanya datang kalau ada urusan saja. Terutama saat ibu Salika meninggal dan urusan menjual rumah.
Ketiganya tidak pernah bertanya apakah Salika masih sekolah, apa Salika sudah makan, atau apakah Salika ada sedikit uang. Salika benar-benar merasa tidak dianggap. Padahal dirinya, walau adik berbeda ibu. Tetap adik kandung mereka, dan mereka wali Salika. Dua jam berlalu, akhirnya rumah Salika Dil dibeli oleh pembeli itu. Dengan harga tiga ratus juta rupiah. Pembeli memberikan DP sepuluh persen dan kuitansi bermeterai.
"Bagaimana barang dan yang masih menempati rumah ini." Tanya istri pembeli, tampak pengacara mencatat dan merekam proses niaga jual beli itu.
"Itu urusan kami pak, setelah bayar dan tanda tangan sertifikat. Kami minta waktu tiga hari untuk mengurusi itu." Ujar Paman Gerik. Akhirnya sepakat dan bersalaman. Pembeli pulang bersama istrinya, dan dua pengacara, dengan mobil Xenia silver.
"Salika, kami pulang. Rumah ini sudah terjual. Kau tinggal pilih mau tinggal di mana." Ujar kakak tertua Salika. Hanya itu kata-kata kakak Salika. Kakak Salika, yang tertua bernama Gerik, kedua bernama Hukul, dan ketiga bernama Jukol.
"Iya Kak." Jawab Salika dari dalam kamar. Dia menghapus air mata dan akr hidungnya. Kemudian tiga kakaknya pulang. Sementara Salika kembali menangis. Dia tidak tahu harus bagaimana. Salika merasakan di dalam perutnya ada gerakkan kuat. Salika juga merasakan lapar. Tapi dia tidak peduli lagi dengan dirinya.
"Tititt. tititt." Houri menghubungi dari panggilan WhatsApp. Tapi Salika tidak menjawab. Dari tadi semua temannya menelpon dan mengirim pesan. Tapi tidak satupun yang Salika balas. Dari pesan Houri dan beberapa temannya. Mereka akan ke rumah Salika sore nantinya. Salika juga sudah satu Minggu tidak masuk sekolah.
Dari semua keputusasaan itu. Tiba-tiba Salika jadi berubah. Tidak ada jalan lagi dalam hidupnya. Sehingga keputusan menjadi mantap. Entah apa yang akan dia lakukan.
"Untuk semua yang pernah terluka olehku. Aku mohon maaf yang sebesar-besarnya. Untuk yang telah menghancurkan hidupku. Semoga Allah mengampuni kamu. Terkhusus untuk ibu, Aku mohon ampun padamu, semoga Ibu bahagia disisnya. Untuk Ayah, maafkan Aku atas kenakalan selama ini. Aku telah mengecewakan kalian berdua. Untuk sahabat-sahabat Aku, terimakasih telah menjadi yang terbaik. Terkhusus buat Houri, maafkan Aku. Aku tidak pantas menjadi wanita pilihanmu. SELAMAT TINGGAL SEMUANYA." Begitulah isi status Facebook dan story WhatsApp Salika. Saat semua membaca status Salika membuat semuanya panik.
__ADS_1
Salika bangkit meletakkan handphone di atasi bantal. Kemudian dia keluar rumah. Melihat jemuran almarhum ibunya terbuat dari tali nilon. Lalu melihat kursi plastik tanpa sandaran, tempat duduk ibunya menjaga warung dulu. Sementara handphone Salika di dalam kamar terus berbunyi
"Ttiiiitt. Ttiiittt. Tttiiittt." Panggilan masuk tak henti-henti pada handphone Salika. Membuat bantal tempat diletakkan handphone bergetar terus. Sampai akhirnya handphone Salika habis pun batre.
...*****...
Aram, Lisam dan Bagit berjalan menyusuri jalan kecil menuju sebuah perkampungan. Di sisi jalan banyak barang bekas. Sepertinya di sana jarang dimasuki pemulung. Pepohonan tumbuh subur di sisi jalan. Sesekali ada sepeda motor atau mobil berlalu.
"Kita istirahat di sini, makan siang." Kata Aram, sementara Lisam dan Bagit diam saja. Duduk di bawah pohon rindang, beralas kardus.
"Kak, kami tidak bawa bekal. Kakak makanlah, kami tunggu." Kata Lisam lesu.
"Iya, kami kenyang kak." Ujar Bagit, tapi suara perutnya tidak bisa berbohong.
"Sudah, makan bersama kakak." Kata Aram.
"Tapi, nanti kakak kurang." Jawab Lisam.
"Tidak, cukup." Ajak Aram, lalu membagi nasi. Seperti biasa, Aram meletakkan nasi di atas tutup wadah bekal. Lisam dan Bagit makan bersama di wadah. Sebotol air minum menyegarkan tenggorokan mereka. Saat mereka sedang asik makan, mereka melihat dari jauh seorang nenek-nenek berjalan menggendong bakul dan menjunjung wadah kue.
"Nenek, kenapa jauh sekali jualan kuenya." Kata Aram terkejut dan setengah tidak percaya.
"Oh, Aram. Syukurlah bertemu kamu. Nenek tersesat sepertinya Aram. Ada jalan yang ditutup. Karena ada pengerjaan perbaikan, sedang di cor beton. Jadi nenek lewat jalan berbeda. Dari tadi nenek merasakan jalannya sudah sangat jauh. Rumah-rumah yang berbeda dan belum pernah nenek lalui." Jawab nenek, lalu dia duduk bergabung. Nenek ternyata juga belum makan.
"Pulang bersama Aram saja, Nek. Setelah ini, langsung pulang. Pasti nenek kecapean jalan sejauh ini." Kata Aram.
"Baiklah Aram." Kata nenek mulai makan. "Ini teman kamu Aram." Tanya nenek melihat dua kakak beradik yang makan bersama Aram. Nenek tahu, pastilah Aram membagi nasi bekalnya yang sedikit itu. Nenek hanya menarik nafas dalam. Betapa baik hati Aram, kata hati nenek. Setelah makan, nenek membagi kue pada Lisam dan Bagit.
"Terimakasih Nek." Kata Lisam, Bagit begitu senang. Lisam yang diberikan tiga buah kue. Hanya Lisam makan satu. Dia meminta kantong plastik, untuk wadah kue itu.
"Untuk makan di jalan Nek." Ujar Lisam, tapi sesungguhnya dia ingin memberikan kue itu pada ibunya di rumah yang terbaring sakit. Melihat itu Aram mengerti dan dia meminta nenek menambah menjadi sepuluh potong kue. Nenek bertanya nama keduanya, dan dijawab dengan lugas.
"Aku mau buang air kecil." Ujar Bagit, anak laki-laki itu berlari menjauh dan agak masuk ke dalam hutan. Dia duduk di balik semak-semak, dan buang air kecil. Saat itulah bagit mendengar suara tangisan.
"Hu. hu. hu. hu." Suara tangisa halus, dari balik sebatang pohon. Bagit yang masih anak-anak langsung ketakutan, dia berpikir kalau itu suara hantu di hutan pinggir jalan itu. Dia berlari pontang-panting sambil menarik celananya.
"Ada hantu menangis di sana, Kak." Kata Bagit, nenek yang sudah tua tahu kalau di dunia ini tidak ada hantu, menjadi penasaran.
"Mana ada hantu, Igit." Kata nenek sambil tersenyum lucu melih tingkah Bagit.
"Bagit, Nek. Bukan Igit." Kata Bagit, dia polos dan pasti tidak berbohong pikir nenek. Nenek kemudian bangkit lalu melangkah diikuti Aram, Lisam dan Bagit. Beberapa saat kemudian mereka tiba di tempat yang dimaksud Bagit.
"Hu. hu. hu. hu." Suara tangisan halus tersedu terdengar jelas, mereka berempat saling pandang. Dada Aram, Lisam dan Bagit berdebar. Sementara nenek menjadi penasaran. Menurut nenek, mendengar suaranya, pasti tangisan wanita yang masih gadis remaja. Perlahan mereka mengintip dari balik sebatang pohon cukup besar itu.
Mereka melihat seorang perempuan berumur enam belasan tahun sedang menangis. Ada seutas tali nilon tergantung pada cabang pohon, dan sebuah kursi. Lalu si perempuan itu bangkit berdiri, air matanya jatuh berurai. Dia sudah yakin dengan keputusannya. Lalu dia melangkah dan naik di atas kursi. Kemudian bulatan tali dia letakkan di leher. Dia menggantung, dan kakinya menendang kursi sampai terbalik. Tubuhnya tergantung, meronta-ronta, dan kakinya bergerak-gerak seperti menendang.
"Jangan, berhenti." Teriak nenek, dia berlari berusaha mencegah agar remaja perempuan itu tidak bunuh diri. Aram, Lisam dan Bagit juga berlari mengikuti. Remaja perempuan itu tampak tercekik, wajahnya merah dan matanya menutup rapat.
"Heekkkk. Huukkkk." Suaranya tergantung tercekik. Aram mengambil kursi, dan nenek memeluk kaki si perempuan. Lisam dan Bagit memegang ujung kakinya agar tidak bergerak. Nenek mengangkat sedikit tubuhnya, sementara Aram meletakkan kursi. Perempuan itu akhirnya dapat bernafas lagi, beberapa saat kemudian dia berkata.
"Biarkan Aku mati, Aku lebih baik mati. Aku memang sudah mati. Biarkan Aku mati, Aku mau mati." Kata perempuan itu setengah berteriak.
"Cucu, ingat dosa, ingat Allah. Jangan begini menghadapi masalah. Ayo turun, nenek janji akan membantu semua permasalahan kamu. Ayo kita bicara, coba katakan apa masalahmu. Sehingga kau mau bunuh diri." Kata Nenek.
"Tidak, kalian siapa. Kalian bukan keluarga Aku. Tidak perlu peduli, biarlah Aku mati. Mati." Kata remaja perempuan itu masih ingin bunuh diri.
"Cucu, dosa besar. Sebesar apapun masalah, pasti ada jalan keluarnya." Kata nenek, dia membelai punggung remaja perempuan itu, sambil terus membujuk. Akhirnya, gadis remaja itu mau mendengarkan Nenek. Aram membatu turun. Kemudian mereka duduk bersama di bawah pohon besar. Lisam memberikan botol air minum. Gadis itu menceritakan jalan hidupnya.
Dia menyebutkan namanya, Salika. Masih sekolah kelas sebelas di sebuah SMA. Mulai bercerita dari saat ayahnya meninggal. Sampai ibunya juga meninggal dan dia hamil oleh pacarnya. Pacarnya tidak mau bertanggung jawab dan rumahnya sekarang telah dijual ketiga kakaknya. Dia tidak lagi punya uang, karena tokoh ibunya sudah bangkrut. Ketiga kakaknya tidak pernah memberinya uang dan mereka juga tidak peduli.
"Sudah, mulai saat ini Salika menjadi cucu nenek." Kata nenek lembut.
"Iya, jadi kakak kami juga." Ujar Lisam dan Bagit, keduanya menganggap Salika sebagai kakak perempuannya.
"Kopek, Aram sekarang adik kopek." Kata Aram, dia juga menganggap Salika sebagai kakak perempuannya juga. Lalu semuanya memeluk Salika bersama-sama. Salika menangis haru.
__ADS_1