
Sore itu, Aram dan ketiga adiknya pulang dari toko alat pancing. Aram membeli tali dan mata kail satu kotak. Dia ingin memancing dan membuat tajur. Tajur nama jenis pancing bertali pendek ditancapkan di sisi tebing.
Kalau dipasang sore hari, besok paginya baru di angkat. Biasa selalu mendapat ikan lele yang besar-besar. Dulu ayahnya yang mengajarkan membuat tajur. Dia menggali cacing di bawah-bawah pohon atau menangkap katak untuk umpan.
Ketiga adiknya begitu gembira diajak keluar sebentar. Aram juga membelikan mereka minuman ringan. Betapa gembiranya mereka, bercanda dan berlarian di sisi jalan. Sebelum masuk pagar tembok hutan mereka bermain di dalam bangunan bekas orang jualan di sisi jalan raya.
"Koyong, kalau dapat uang lagi. Belikan lagi minuman ini, banyak-banyak." Kata Figan. Minum itu dia sedot sedikit demi sedikit. Begitu enak rasanya di lidahnya.
"Iya, nanti kalau dapat uang koyong belikan." Kata Aram. Luran diam saja, dia terus minum dan memecah minumannya yang beku dengan vivet. Tampaknya dia sangat suka, dingin dan segar.
Angin berhembus deras, membawa awan hitam menutupi sekitar itu. Lalu hujan turun lebat mendadak. Banyak pengendara sepeda motor berhenti di bangunan itu.
"Aduhhh, hujan lagi - hujan lagi. Seharusnya sudah kemaru, tapi mengapa hujan terus." Seorang pengendara yang berteduh, menggerutu.
"Sekarang musim tidak lagi teratur, waktu musim kemarau hujan, waktu musim hujan kemarau."Jawab temannya.
Sebuah sepeda motor berhenti. Dua gadis buru-buru berteduh. Bersamaan itu juga muncul dua pemotor lagi dan berlari berteduh. Tampak bagian depan bajunya sedikit basah. Beberapa pemotor sepeda motor yang berhenti, ikut berteduh.
"Kakak AF." Kata hati Aram. Dia memperhatikan empat anak muda yang datang. Ketiga adiknya juga ingat dengan pemuda berbaju merah biru dengan logo AF.
"Itu kakak yang mengantarkan kita pulangkan." Ujar Areha.
...*****...
BERTEDUH.
*
"Nanti kalau sudah beli mobil, tak bakalan lagi kita kehujanan di jalan begini, Arip." Kata Dani memulai obrolan.
"Kalau sudah punya mobil, pasti mobilmu penuh oleh cewek-cewek adik tingkat. Yang kau modusi setiap saat. Dan kau akan lupa dengan kami-kami ini." Sahut Arip nyeletuk.
"Setuju." Sahut Alpin sambil tertawa.
"Astagfirullah, kok pemikiran kau suburuk itu." Ujar Dani sambil membelai janggutnya. ketiganya terus bertengkar entah apa yang di pertekarkan. Sementara Bang Jon sibuk dengan buku barunya, berjudul Sumatra tulisan M. Loeb.
"Dari mana dik." Tanya Dani pada dua gadis cantik dengan hijab syar'i di sebelah yang berteduh.
"Dari rumah mau ke kampus, Kak." Jawab singkat.
"Kuliah di mana." Dani bertanya kembali.
"Di UNSRI, bukit." Jawabnya, yang satunya tetap diam. Banya yang mereka tanyakan dan terus mengakrabkan diri. Tapi hujan tiba-tiba berhenti, Dani, Alpin dan Arip ingin meminta nomor telepon atau WhatsApp.
"Dek, boleh kenalan lebih dekat." Tanya Alpin.
"Boleh kak. Maaf kak, kami jalan dahulu, sudah berhenti hujan. Soalnya jam dua nanti kami UTS." Kata temannya. Lalu mereka bersiap dan motor melaju. Begitu juga dengan orang-orang yang berteduh tadi telah berjalan semua.
"Yaaaa." Ketiganya kecewa.
"Bang, bagaimana kedua cewek tadi." Tanya Arip.
"Tadi ada cewek." Bang Jon tanya balik.
"Aduuuu." Lalu ketiganya memukul kening.
"Seharusnya, Abang nomor satu dari kami karena lebih senior dalam misi-misi seperti tadi." Kata Alpin.
"Misi?. Oh, Visi misi maksudnya." Bang Jon belum mengerti. Ketiga menggelekan kepala, dan mengakat bahu. Mereka menoleh ke samping, tampak empat anak-anak duduk bersama. Pakaian mereka kusam dan tubuh tidak bersih. Dua bocah laki-laki meminum - minuman yang sudah hampir habis.
"Aram, kamu Aram-kan." Kalian dari mana." Tanya Bang Jon.
"Dari beli alat pancing, tiba-tiba hujan." Jawab Aram.
"Oh, rumah kalian di mana." Tanya Bang Jon.
"Di sana." Jawab Figan menunjuk ke arah hutan lebat di dalam tembok.
"Jauh, disana kak. Figan tidak mengerti arah." Jawab Aram sambil tersenyum.
"Iyalah, kalau tinggal di sana anak hantu, namanya" Kata Dani. Keempat pemuda itu tidak percaya kalau keempatnya tinggal di dalam hutan itu. Selain hutan lebat, juga dikelilingi tembok tinggi.
"Pandai juga lucu-lucuan adiknya." Ujar Alpin.
"Ayo kita ke kampus, hujan sudah reda." Ajak Arip. Mereka bersiap pergi ke kampus, Bang Jon mengambil uang sepuluh ribu dan diberikan pada Aram.
"Jajanlah sama adikmu Ram." Kata Bang Jon. Melihat itu, Arip,Dani dan Alpin juga memberikan uang masing-masing sepuluh ribu.
"Astagfirullah, Alpin. Uang jajan Kau lima juta sebulan kau kasi adik-adik itu cuma sepuluh ribu." Kata Dani merasa tidak percaya.
"Tenang es, salah tarik." Ujarnya sambil tersenyum-senyum, kemudian Alpin memberikan uang seratus ribu rupiah pada Aram. Arip, Dani dan Bang Jon terlonjak kaget. Aram tidak percaya pada kejadian itu, baru sekali ini dia mendapatkan uang sebanyak itu diberikan orang. Ayah ibunya pun belum pernah. Andai di Dunia ini semua orang seperti mereka. Tentu dunia ini akan indah sekali, pikir Aram. Dia tidak mengemis, tapi diberikan jajan oleh orang baik yang menganggap mereka saudara. Aram melihat empat anak muda itu pergi dengan sepeda motornya.
"Kakak yang baju merah biru itulah, yang memberikan ayam." Cerita Aram.
"Oh." Ujar ketiga adiknya.
"Kalau Aku besar nanti mau juga kuliah." Kata Areha.
...*****...
BERTAMU.
*
Sebuah rumah panggung basepat berdiri Kokoh di sisi tebing Sungai Musi. Rumah vernakular Sumatera Selatan itu bercirikan dengan lantai menurun dua, tiga, empat dan ada yang sampai lima turunan. Rumah itu sudah tua, bertiang kayu ulin. Rumah-rumah sejenis di sekitar tidak lagi di huni karena sudah sangat tua. Di bawah rumah tergenang air.
Pada jembatan yang menghubungkan serambi rumah dan jalan raya berdiri dua nenek-nenek. Satu nenek menjinjing tas pakaian dan tas alat shalatnya. Semuanya mengenakan gamis hitam tua.
__ADS_1
"Aku pergi dulu Nurbaya. Sudah dua Minggu Aku tinggal di rumahmu. Mau pulang ke rumah anak-anak." Kata seorang nenek-nenek.
"Tak apa Cik Rumi, seminggu, sebulan, setahun, tak apa. Anak-anak senang sebab Aku ada teman tinggal. Jadi mereka tak hawatir di tempat kerjanya. Aku berharap kau lebih lama di rumahku." Jawab Nenek Nurbaya.
"Insyaallah nanti, untuk sekarang saya pulang terlebih dahulu. Izin dengan anak-anak." Nenek bernama Cik Rumi pamit. Dia mengucapkan salam, kemudian mulai melangkah meninggalkan rumah nenek Nurbaya.
...*****...
KESEDIHAN YUZAKA.
*
Yuzaka duduk seorang diri di taman sekolah. Dia melamun, sesekali memakan bekal nasinya. Sayur bening bayam dan lauknya ikan goreng. Dia tidak semangat, bahkan mereka tidak enak badan.
"Ehh, kamu di sini Yuzaka." Seorang temannya memanggil. Ada tiga temannya melangkah ke arah Yuzaka.
"Kamu lagi makan, Ka." Tanya Disin, lalu duduk di sebelah kanan. Yuzaka hanya mengangguk. Sementara Halimah dan satu temannya duduk di sebelah kiri. Dari sana mereka memperhatikan ke lapangan sekolah yang luas dan panas. Bendera di atas tiang berkibar karena hembusan angin. Dedaunan kering pohon angsana yang kering berguguran. Ada beberapa berlalu dan menyapa mereka.
"Tak biasa kamu sendiri di sini." Tanya temannya di samping Halimah. Dia menyedot beberapa kali pop ice melonnya.
"Lagi pengen saja, Niara." Jawab Yuzaka.
"Belajar apa kita masuk siang ini." Tanya Halimah.
"Fisika, Halimah yang ku sayang." Jawab Disin singkat. Dia memakai permen tusuk rasa susu coklat.
"What." Kedua temannya terperanjat. Mereka berdua tidak suka dengan mata pelajaran Fisika.
"Kemarin waktu pulang dari pasar, Aku melihat Aram di trotoar jalan. Dia mendorong gerobak dan memunguti sampah plastik. Badannya kurus dan terlihat lebih hitam." Cerita Yuzaka sedih. Tiga temannya terdiam dan mereka juga ikut bersedi. Sekaligus tahu penyebab sedihnya Yuzaka.
"Tinggal dimana Aram Sekarang." Tanya Disin, Yuzaka menggeleng.
"Trus, adiknya bagaimana, siapa yang urus." Tanya Niara.
"Siapa yang tahu, kasihan sekali Aram ya." Ujar Halimah.
"Aram yang menjaga adik-adiknya." Ujar Disin. Mereka berempat terus membicarakan Aram yang tidak beruntung. Ingin mereka membantu, tapi apa yang harus diperbuat. Tak lama kemudian bel tanda masuk terdengar.
...*****...
KANTOR PAK KATARA.
*
Siang itu Pak Katara pergi ke kantor. Dia pengusaha properti yang sukses di kota Palembang. Selain itu, dia juga punya usaha SPBU dan toko bangunan, puluhan ruko yang disewakan.
"Pagi Pak." Sapa karyawan saat dia masuk ruang kantor.
"Iya, pagi." Jawabnya. Dia terus berjalan dan kemudian naik tangga ke ruang atas. Di lantai dua ruang kerjanya.
"Ibu Hayi, nanti buat surat kontak dengan perusahaan Pak Karim. Sudah itu, kirim email ke Bank BTN kalau kita siap menjadi partner pengadaan rumah Rumah Sederhana sesui ketentuan pemerintah." Kata Pak Katara, kemudian dia masuk ruang kerjanya yang luas. Tampak sudah bersih dan rapi, tim OB telah bekerja sejak pagi. Untuk beberapa saat dia sibuk dengan skatsa arsitektur.
"Coba di cek kontrak dan suratnya Pak. Kalau ada yang tidak sesuai tinggal bapak coret, nanti saya perbaiki." Kata sekretaris.
"Ok, Hayi. Nanti saya koreksi." Jawab Pak Katara dan mulai mengkoreksi. Ibu Hayi keluar ruangan dan mengerjakan tugas yang lain. Setelah selesai, Pak Katara Ingat kalu dia ada janji menelpon seseorang. Dia mulai membuka smartphone dan memilih kontak bernama Pak Hadi.
"Haloo, waalikum salam. Bos Katara." Jawab suara dari telpon diikuti tawa ringan. Kemudian keduanya tertawa seru.
"Ada apa. Tak biasa bos yang selalu sibuk nenelpon." Kata Pak Hadi lagi dari telpon.
"Iya, mau bahas tentang kerjasama kita. Bagaimana, mau bikin perumahan di hutan milikmu itu." Kata Pak Katara.
"Sudah Aku duga, pasti ini urusan pekerjaan. Ya, kau buatlah planning-nya. Nanti Aku pelajari. Bertandang ke rumah saja, istriku sering demam-deman tak tahu kenapa. Jangan ngajak ketemu di mana gitu." Pak Hadi. Pak Katara suka dengan jawaban itu. Dia berjanji akan segera membuat planning property yang akan dia bangun di hutan milik keluarga teman dekatnya.
...*****...
FIGAN SAKIT.
*
Ayam milik Aram sudah belajar berkokok sekarang. Walau belum nyaring dan merdu, tapi sudah cukup kuat untuk membangunkan Aram di waktu subuh. Aram bangun dan mendengar suara azan subuh dari masjid. Dia berdiri dan membuka pintu rumah karungnya. Terdengar suara berkelontangan yang membuat Areha juga terbangun. Aram kemudian mendekati baskom air yang dia letakkan di samping rumah karungnya. Lalu dengan gayung plastik yang sudah lapuk dia mengambil air. Mencuci wajah dan berwudhu. Aram akan shalat subuh. Areha muncul dan dia juga melakukan yang sama.
"Allah Huakbar." Aram mulai shalat subuh, dengan khusuk. Areha tampak berdoa setelah wudhu, dia shalat juga di belakang Aram. Setelah shalat Aram berdoa.
"Ya Allah, ya Tuhanku. Ampunilah dosa-dosaku dan dosa-dosa ibu bapakku. Terangilah kubur ayah dan ibu dengan amal dan kebaikan mereka. Berilah mereka ketenangan dan kedamaian serta hindari mereka dari azab kubur. Ya Allah, berilah kami rezeki dan lindungi kami dari mara bahaya. Dari hewan melata berbisa dan kejahatan manusia. Hari ini, semoga banyak mendapat barang bekas, beras kami sudah habis dan Aku ingin menabung untuk usaha dan menyewa kontrakan. Tuntunlah Aku, dan bimbinglah jalan ku agar menuju kebaikan hidup." Doa Aram disertai linangan air mata.
Setelah itu, Aram mulai memasak beras yang mereka miliki. Beras habis, hanya tingal itu saja cukup sekali masak. Sementara Luran dan Figan tampak masih tertidur pulas.
"Koyong, kemarin Figan rewel dan buang air besar terus. Badannya panas dan tidak mau makan." Kata Areha, dia membersihkan daun singkong yang dipetik Aram saat mencari barang bekas.
"Oh, nanti kau kerok saja badannya. Gunakan kaleng bekas dan minyak tanah. Mungkin dia masuk angin. Setelah itu kau bikinkan oralit ya. Kalau sudah makan nanti, Koyong nak langsung berangkat mencari barang bekas." Kata Aram. Setelah nasi masak, Areha menggunakan belanga membuat gulai daun singkong. Dia masukkan daun singkong ke dalam belanga, dan diberi garam dan penyedap rasa. Setelah masak, Areha membangunkan Luran dan Figan. Kedua adiknya tampak lesu untuk bangun dan masih mengantuk. Aram melepaskan kelambu dan menyimpan.
"Ayo makan, nanti tidur lagi. Jangan lupa lepaskan ayam ya, Figan." Kata Aram membujuk adik bungsunya. Figan hanya mengangguk lesu, sementara Luran, Areha telah makan dengan lahap walau hanya gulai daun singkong hanya berbumbu garam dan penyedap rasa. Figan mencoba makan, tapi sedikit sekali. Nasi sudah di bagi porsinya oleh Aram. Tinggal sedikit dan di bagi tiga untuk adiknya siang nanti.
Setelah makan Aram melangkah sambil mendorong gerobak sampah.
"Areha, jaga adik-adik. Koyong nak berangkat." Kata Aram.
"Koyong tak bawa bekal apa." Tanya Areha.
"Koyong makan di luat nanti." Jawab Aram, Areha hanya diam saja. Walau dia masih sepuluh tahun umurnya, tapi sudah mengerti. Kakaknya tidak pernah membawa uang untuk makan di luar. Kalau ada uang selalu dia tinggalkan. Karena Aram takut kalau terjadi apa-apa dengan dirinya, setidaknya adik-adiknya ada sedikit uang. Aram tidak pernah makan di luar, paling minum air keran masjid. Dia mendorong gerobak peninggalan ayahnya dan mulai mencari barang bekas.
Sepeninggal Aram, Figan merasa tidak nyaman perutnya, mual dan merasa pusing.
"Uwaakkkkk." Figan tiba-tiba muntah, kemudian tubuhnya menjadi lemah. Areha membantu adiknya, dia minta adiknya berbaring telungkup. Areha akan mengerok belakang Figan. Sementara Luran bermain dengan ayam, dan mobil-mobilnya di luar. Matahari pagi pun telah bersinar terang. Bersamaan dengan suara burung-burung di hutan itu.
...*****...
__ADS_1
IBU JUHUSI HAMIL.
*
Sebuah mobil portuner berhenti di depan sebuah klinik kesehatan. Dua satpam memandu sopir untuk parkir. Setelah mobil terparkir turun keluarga kecil. Seorang anak laki-laki berumur empat tahun melompat lincah.
"Gaka, hati-hati."Kata ibunya.
"Nanti jatuh adek." Seorang satpam menyapa Gaka dengan lembut. Gaka menggeleng, dia merasa sudah besar dan tidak akan jatu.
"Silahkan Pak, Ibu." Satpam satunya mempersilahkan dengan rama.
"Ibu Dokter Amalia ada Pak." Tanya si ayah Gaka.
"Kebetulan ada Pak. Langsung saja ke ruangannya." Jawab si satpam.
"Ayo, Gaka. Jangan ke sana. Nanti saja mainnya, Ayah dan ibu mau masuk." Kata si ibu. Mereka masuk dan langsung menuju ruangan dokter Amalia ahli penyakit dalam. Gaka berlari mendahului, dan hampir menabrak dua perawatan yang lewat membawa obat.
"Aduuu, hampir nabrak Adek. Comelnya." Kata perawat itu, kemudian mereka berlalu. Masuk ruangan Dokter Amalia dan banyak konsultasi. Semua keluhan-keluhan ibu Gaka di utarakan.
"Hammy, tolong periksa ibu Juhusi. Sudah itu laporan ke ibu." Kata Bu dokter. Perawat bernama Hammy memeriksa ibu Juhusi dari berat badan sampai tekanan darah.
"Kalau saya amati, semuanya normal. Seperti Dik Juhusi hamil, tapi untuk memastikan baiklah tesfek dan ke dokter kandungan. Kalau mau tambah yakin langsung USG sekalian." Jelas Dokter Amalia. Pak Hadi dan Ibu Juhusi saling pandang, Pak Juhusi tersenyum lebar dan ibu Juhusi masih belum puas. Jadi mereka memutuskan untuk tesfek besok pagi, dan pamit pulang.
Keesokan paginya, saat di tes ternyata memang benar ibu Juhusi hamil muda. Dua garis merah terlihat cerah, setelah di celupkan di air seninya. Pak Hadi menjadi sangat bahagia dan mereka pun berpelukan.
"Selamat datang dedek, cepat besar cepat keluar." Kata pak Hadi sambil memeluk perut istrinya. Ibu Juhusi tertawa bahagia sekali. Apalagi saat Pak Hadi memanggil-manggil cabang bayi di dalam harim. Keluarga mereka pun bahagia semuanya saat mendengar kehamilan Ibu Juhusi.
...*****...
Aram pulang sudah menjelang senja. Dia datang ke rumah karung mereka di hutan tepi kota. Tampak gerobaknya hampir penuh oleh barang plastik, kaleng minuman, besi tua dan kardus. Saat tiba, dia melihat Luran berdiri di depan pintu.
"Koyong, Figan sakit." Kata Luran sedih, dia menangis tersedu.
"Areha, Figan sudah di kerok." Tanya Aram. Dia melihat Figan terbaring lemah, di keningnya ada kain basah. Areha mengkompres Figan karena tubuhnya panas sekali. Aram memegang keningnya, dan memanggil Figan.
"Figan, adik Koyong mengapa. Pusing, apa sakit perut." Tanya Aram, dia memegang tangan Figan. Figan menggeleng kepala, dia tetap memejamkan mata.
"Koyong, nanti Figan mati." Kata Luran tampak takut, kemungkinan dia trauma dengan kematian ibu dan ayah mereka. Aram, Areha dan Luran tidak mau kehilangan lagi anggota keluarga mereka.
"Tidak, Figan cuma demam. Besok akan sembuh." Ujar Aram.
"Dik, besok sembuh. Agar kita dapat bermain lagi." Ujar Luran. Areha juga menangis, dia juga takut kalau Figan akan mati. Figan sering menangis sambil memanggil ayah dan ibu mereka. Membuat ketiganya bertambah sedih dan pilu.
Pada malam hari Figan sering terbangun dan menangis juga memanggil ibu dan ayah mereka. Aram tidak bisa tidur, bagaimana pikirnya. Dia melihat uang pemberian empat pemuda beberapa hari yang lalu. Mungkin uang ini cukup berobat ke bidan. Sisanya Aku belikan beras. Sepertinya tabung untuk modal menyewa kontrakan Aku pakai dulu untuk mengobati Figan, kata hati Aram.
"Maaakkkk. Baakkkkk. Umakkkkk. Baakkkkk." Kata Figan, kemudian dia menangis sedih.
"Figan, ini Koyong di dekatmu. Jangan menangis ya, hari tengah malam." Kata Aram sambil mengelus kening Figan. Tangisan Figan terdengar di luar rumah karung itu. Suasana sunyi dan sepi. Tangisan Figan seperti mengusik malam. Membuat angin tidak berhembus, jangkrik tidak berbunyi, sedang seekor ular kobra yang hendak masuk rumah karung Aram menjadi pergi menjauh.
Keesokan harinya, Figan masih sakit dan bertambah parah. Aram yang akan mencari barang bekas, tidak jadi. Dia hanya membersihkan barang bekas yang dia dapatkan kemarin. Memilah dan membuat wadah sesuai jenisnya. Luran membantu dan sesekali menjenguk Figan.
...*****...
BEROBAT KE BIDAN.
*
Menjelang sore, matahari sudah agak condong ke barat. Aram menggendong Figan mencari rumah bidan. Dia masuk jalan perumahan di sebuah kompleks perumahan. Berkilo-kilo meter dia berjalan. Kemudian bertanya pada setiap orang yang dia temui. Tiba di sebuah warung, dimana ada tiga ibu-ibu sedang belanja.
"Assalamualaikum, Bu." Sapa Aram. Semua ibu-ibu menjawab dan menoleh padanya.
"Ada apa Dik." Tanya ibu pemilik warung.
"Dimana rumah bidan." Tanya Aram.
"Di sana dik, kamu jalan terus sampai mentok tembok, terus belok kiri. Di depan rumah ada tulisan, ada bidan." Jelas ibu-ibu yang belanja, dia mengenakan hijab dan berbaju gamis.
"Terimakasih Bu." Jawab Aram. Dia pergi menuju sesuai petunjuk ibu-ibu itu. Aram belok kiri setelah mentok tembok. Benar di sana ada tulisan ada bidan praktek.
"Assalamualaikum." Aram memanggil dari luar pagar. Terdengar jawaban dari dalam, kemudian seorang ibu-ibu berbaju putih-putih muncul. Dia membuka pintu teralis dan menyapa Aram.
"Ibu, adik saya sakit. Tolong Bu, obati." Kata Aram.
"Oh, astagfirullah. Kamu tidak pakai payung. Rumah di mana, hari masih panas sekali. Tambah panas adikmu." Kata ibu bidan.
"Tidak begitu jauh." Jawab Aram berbohong. Kemudian membaringkan Figan di atas ranjang. Ibu bidan memeriksa dari mata, dada, Perut. Bidan itu memperhatikan kedua anak yang tidak terawat itu.
"Apa kerja ibu kalian." Tanya Bu bidan.
"Kami keluarga pemulung Bu." Jawab Aram, dia sadar kalau keadaan mereka tidak bersih seperti anak-anak zaman sekarang. Ibu bidan hanya diam saja. Kemudian dia membuat resep obat. Ada sirup, obat, dan obat khusus korengan. Karena ada korengan di kaki Figan.
"Obatnya di minum, ya. Sampai habis, terutama anti biotik ini. Ini vitamin juga di habiskan." Jelas Ibu Bidan tentang obat Figan.
"Iya Bu."Jawab Aram.
"Adikmu juga kurang gizi, banyak makan sayur dan buah-buahan. Nanti, kalu obat habis dan adikmu belum membaik. Bawak lagi ke sini. Ini ada stok oralit, kalau sakit perut segeralah minum." Kata Ibu Bidan.
"Iya Bu." Jawab Aram, dia mengambil kantong obat, kemudian memberikan uang seratus ribu. Entah kasihan atau apa, ibu bidan menolak. Agar Aram menyimpan uangnya.
"Ibu Bidan, kalau ibu tidak menerima bayaran obat, nanti saya malu berobat lagi sama ibu. Nanti kalau saya tidak punya uang, baru saya meminta tolong." Kata Aram.
"Baiklah."Jawab ibu bidan, dia mengambil uang dan memberikan kembalian tujuh puluh rupiah. Berarti ibu bidan hanya mengambil tiga puluh ribu saja. Aram terkejut, obat sebanyak itu, hanya seharga itu. Aram diam dan mengambil kembaliannya, kemudian pulang. ibu Bidan tampak prihatin melihat kakak beradik itu, tampak Aram menggendong Figan di tengah terik matahari sore.
*
"Figan minum sirupnya, biar cepat sembuh." Kata Areha yang siap menyuapi Figan. Figan menurut dan miminum semua obat sesuai aturan resep.
__ADS_1
"Cepatlah sembuh, ayam kita sudah mulai bertelur." Kata Luran, dan membuat Figan semangat lagi.
...*****...