
SATU BULAN BERLALU.
*
Angin berhembus kencang, menggoyangkan dedaunan. Daun kering berguguran dan sampah berterbangan. Bibik Walah dan Bibik Tuyi bergegas mengangkat pakaian mereka. Bibik Walah mengangkat sekaligus jemuran aluminiumnya. Karena jemuran masih banyak yang basah. Karena Bibik Walah baru selesai mencuci sudah lewat zuhur. Jadi pakaiannya banyak yang belum kering. Jemuran Bibik Tuyi semunya kering karena dia sudah mencuci sejak pagi.
"Sepertinya akan hujan lebat." Kata Paman Yuro, dia buru-buru memasukkan sepeda motornya ke dalam kontrakan. Sementara Areha sedang asik melipat pakaian ditemani Deak dan Junka, mereka berbincang-bincang.
"Ya, nanti kalau kau sudah masuk sekolah, kita berangkat bersama-sama." Kata Junka.
"Deak masuk juga sekolahkan" Tanya Areha.
"Belum, setahun lagi. Dia baru lima tahun, kalau ada uang mungkin Deak masuk sekolah TK. Kata ibu." Sahut Junka sambil melipat baju.
"Mau hujan lebat sepertinya." Kata Areha, saat merasakan ada hembusan angin masuk.
"Nenek dan Kak Aram belum pulang." Kata Junka. Keduanya pun terus berbincang-bincang, tentang apa saja.
"Deak, kalau hujan jangan main air." Kata Bibik Walah sambil melongok ke dalam.
"Iya Bu." Jawab Deak.
"Junka, sebelum magrib ajak adikmu pulang." Kata Bibik Walah lagi, Junka mengiakan dan Bibik Walah pulang. Angin terus berhembus dan awan hitam terus berarak.
"Eh, ayam belum dikandangkan." Ujar Areha, dia kemudian bangkit dan keluar diikuti Junka. Junka membantu Areha mengkandangkan ayam Aram. Sementara Deak juga sibuk mengejar anak-anak ayam. Dari kejauhan tampak tetangga ibu kontrakan dan warga lain juga sibuk mengangkat jemuran, ada yang mengunci pagar, dan membeli lilin persiapan listrik padam. Ibu pemilik kontrakan dan suaminya mengangkat jemuran kasur ke dalam rumah.
"Hujaaannnn, horeee mandi hujan." Teriak Figan dan Luran sambil berlarian menuju kontrakan. Tiga teman mereka berlari terus menyusuri jalan kompleks.
"Kami pulang Luran." Ujar seorang temannya. Hari mulai rintik-rintik, ada kilat, dan:
"Duarrrrrr." Petir menyambar keras sekali.
"Figan, Luran ayo bantu." Panggil Areha, Deak sudah berada di teras dan hanya menyaksikan. Dia mulai takut karena ada petir, saat petir berbunyi lagi Deak berlari ke dalam kontrakan dan memeluk ibunya. Saat hujan lebat turun, ayam Aram sudah dikandang semua.
"Jangan mandi hujan, nanti sakit. Kalau nenek pulang kalian akan dimarahi." Kata Areha pada Luran dan Figan. Keduanya meminta untuk mandi sebentar saja. Terpaksa Areha mengizinkan. Karena hujan deras membuat Luran dan Figan tidak mendengar suara klakson dan suara mesin sepeda motor Riha.
"Sritttt." Hampir saja Figan menabrak sepeda motor Riha. Tampak Riha menarik nafas dalam saat berhenti tepat di depan Figan.
"Hampir saja, Dik." Kata Riha, Figan berlari menjauh agar tidak dimarahi Riha.
"Maaf Kak." Kata Figan sudah agak jauh.
"Jangan lama-lama mandi air hujan, nanti kakak bilang nenek." Kata Riha. Kemudian dia turun dari sepeda motor dan membuka pintu kontrakannya. Lalu memasukkan sepeda motor dan mengunci pintu dari dalam.
...*****...
Mobil Pak Hadi berjalan pelan dilebatnya hujan. Bibik Juhusi, duduk di samping sambil menggendong bayi mereka. Sementara Gaka tidak ikut, dia tinggal di rumah bersama kakek dan nenek orang tua Pak Hadi. Di belakang mengikuti mobil Pak Leban dan Bibik Tara. Merek menyetir mobil perlahan, karena hujan sangat deras. Pembersih kaca hampir tidak tertampung lagi.
"Sritttt." Mobil Pak Hadi mengerem mendadak saat dia hampir menabrak gerobak pemulung.
"Hampir saja." Ujar Bibik Juhusi mengelus dada. Mereka melihat seorang anak laki-laki mendorong gerobak penuh barang bekas. Seorang anak perempuan dan seorang anak laki-laki mengikutinya. Mereka muncul tiba-tiba dari balik kerapatan mobil di jalan raya. Rasa dongkol juga ada di dalam hati pak Hadi. Dia melihat anak itu berjalan ke tepi jalan. Di seberang, Pak Hadi dan Bibik Juhusi melihat anak pendorong gerobak berpisah dengan kakak beradik yang menggendong karung plastik berisi barang bekas.
Mobil Pak Hadi dilewati mobil Pak Leban. Pak Leban membuka pintu. Memberi isyarat kalau mereka akan mengambil jalan berbeda di lampu merah simpan Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, dan langsung pulang ke rumah. Pak Hadi mengangguk dan mereka menutup kembali kaca mobil. Pak Leban akan mengambil jalan pintas nantinya dari jalan Soekarno Hatta supaya terhindar dari macet. Walau agak berkeliling tidak masalah asal lancar. Di sebuah tikungan tajam, ada simpangan jalan kecil menuju pemukiman. tiba-tiba:
"Sritttt." Pak Leban hampir saja menabrak seorang nenek-nenek menggendong bakul besar dan menjunjung wadah kue lebar di atas kepalanya. Pak Leban ingin marah tapi dia tahan. Si nenek itu tanpa menoleh menepi dan masuk jalan perumahan ke arah Perumnas Talang Kelapa. Tampak dia ketakutan sekali.
"Nenek-nenek, harusnya tahu kalau ini Kota Palembang. Jadi hati-hati menyeberang jalan atau pun berjalan di sisi jalan raya." Kata hati Pak Leban. Bibik Tara diam saja mengamati si nenek. Dia merasa tidak asing dengan nenek itu. Tapi dia tidak melihat wajah si nenek. Hatinya berkata-kata siapa nenek itu. Saat Bibik Tara menoleh ke belakang, dia hanya bisa melihat punggung si nenek dan segera menghilang dari pandangan seiring mobilnya melaju kencang.
...*****...
__ADS_1
Sementara itu, nenek terus berjalan menerobos hujan. Tubuhnya basah kuyup dan badannya terasa sangat dingin. Sesekali dia menoleh ke belakang sambil menjunjung wadah kue di atas kepalanya. Wadah lebar sedikit melindungi wajahnya dari air hujan. Nenek ingin cepat menyemberang jalan. Dia tidak sadar ada sebuah mobil melaju agak kencang dan hampir menabraknya dari samping. Beberapa mobil mengerem dan banyak juga yang membunyikan klakson sepeda motor dan klakson mobil di dua arah berlawanan. Nenek segera tiba di tepi seberang jalan tanpa menoleh, lalu masuk jalan ke arah kontrakan.
...*****...
Nenek dan Aram tiba di kontrakan menjelang magrib. Tubuh mereka basah kuyup oleh air hujan. Hujan sudah mereda tapi belum berhenti. Setelah membersihkan badan, shalat magrib lalu mereka makan malam bersama.
"Lebat sekali hujan sore ini." Kata nenek, sambil makan.
"Iya Nek, sampai kedinginan sekali tubuhku." Kata Aram.
"Nenek mau tidur cepat sepertinya, capek dan dingin sekali cuaca." Ujar nenek.
"Iya Nek, Areha juga." Kata Areha. Setelah makan nenek segera menggelar tikar dan menyelimuti tubuhnya. Areha mencuci piring, Luran dqn Figan masih bermain mobil-mobilan. Aram berbaring melepas lelah dan menyelimuti tubuhnya yang kedinginan.
Beberapa saat kemudian Aram tertidur pulas. Sementara Nenek dan Areha masih berbincang di ruang tengah.
"Tabunganku semakin banyak, hari ini bertambah lima belas ribu keuntungan jual keripik." Kata Areha dan nenek tersenyum, dia bilang agar Areha terus berusaha. Tak lama kemudian nenek tertidur pulas. Begitu juga Areha tertidur lelap dan tabungan uang dari plastik masih terpegang di tangannya. Sementara Luran dan Figan akhirnya juga tertidur pulas di atas tikar di samping Aram.
...*****...
Hujan redah beberapa jam. Tinggal rintik-rintik hujan yang jatuh ke bumi. Tapi menjelang pukul 22:00 malam. Hujan kembali lebat dan angin menderu-deru menerpa dedaunan. Kilat dan petir kembali datang. Membuat orang-orang bertambah nyenyak tidurnya.
"Bagaimana, sepertinya malam ini mendukung rencana kita." Ujar Lam.
"Iya, kita tunggu tengah malam. Agar semuanya dalam tidur nyenyak." Jawab Jum. Kemudian Jum bangkit dan mengambil puntung rokok di sudut ruangan. Lalu dia menyalakan korek dan menghisap dengan nikmat.
"Sudah seminggu tidak merokok." Kata Jum lirih. Tapi terdengar oleh Lam. Melihat Jum menyulut puntung rokok. Lam mencari juga puntung rokok. Dia juga sudah sangat ingin merokok sampai air liurnya menetes. Akhirnya dengan susah paya dia menemukan di dalam wadah untuk membakar obat nyamuk. Dia ingat terakhir merokok dia letakkan di situ puntung rokoknya.
...*****...
Malam semakin larut dan hujan tetap turun dengan derasnya. Sementara Nenek, Aram, Areha, Figan dan Luran tertidur sangat nyenyak sekali. Suara dengkuran mereka terdengar teratur.
Sementara di luar kontrakan, dua sosok bayangan hitam dan bertopeng berdiri di depan pintu kontrakan Aram. Keduanya memegang linggis. Satu linggis besar dan satu linggis kecil, bentuknya agak tipis. Mereka meraba-raba pintu dan memperkirakan dimana letak engsel pintu.
"Ini, kita ungkit perlahan." Kata yang memegang linggis besar.
"Iya, jangan sampai terdengar bunyi." Jawab satunya, mereka menandai tempat engsel pintu.
"Kita matikan lampu dahulu, lepas bola listriknya." Kata satunya lagi, kemudian salah seorang duduk. Temannya naik ke atas bahunya, kemudian berdiri. Setelah itu, yang di atas bahu temannya melepaskan bola lampu listrik itu. Memutar perlahan dan lampu padam saat terlepas dari putaran kepala lampu. Perlahan dia turun, lalu mereka melakukan hal yang sama dengan lampu di depan pintu kontrakan Riha. Setelah itu, sekitar pintu kontrakan Aram menjadi gelap gulita.
"Kreeeeetttttt." Suara engsel pintu terlepas perlahan. Karena hujan lebat disertai petir, suara tidak terdengar sama sekali oleh Aram, Nenek dan adik-adiknya. Berulang-ulang mereka mencongkel engsel pintu dan akhirnya pintu terlepas. Mereka masuk dari selah pintu dan melepaskan kunci pintu. Pintu mereka sandarkan dan mematikan lampu depan dimana Aram dan dua adiknya tertidur pulas. Baru setelah itu mereka mengendap-endap menjelajahi kontrakan Aram.
Dua pencuri bertopeng hitam itu bergerak hati-hati. Menyusuri setiap sudut dan setiap tempat di dalam kontrakan. Membongkar lemari pakaian, ember wadah aluminium tergantung mereka buka, dan semua jenis tas dan ransel. Setelah selesai, mereka perlahan pergi dan menghilang di gelap malam.
...*****...
Menjelang subuh hujan berhenti. Langit tampak cerah dan berawan putih. Sisa-sisa hujan di dedaunan masih menetes. Halaman dan jalan berlobang penuh oleh air. Beberapa titik dan ruas jalan di Kota Palembang terendam banjir.
"Kukukrakikkk." Beberapa ekor ayam Aram berkokok seperti biasa.
"Dukkk. Duukkkk. Dukkkkk." Suara beduk yang kemudian diikuti suara azan yang merdu. Beberapa saat setelah azan nenek terbangun dan dia segera shalat Subuh. Areha tampak terbaring tidur pulas. Karena cuaca dingin dan nenek berniat untuk libur jualan kue hari itu. Setelah shalat dia kembali berbaring tidur-tiduran. Aram juga biasanya sudah bangun, tapi entah mengapa dia terus tertidur sampai matahari hampir terbit.
...*****...
Sementara itu, Yuzaka selesai shalat subuh. Dia kemudian duduk di meja makan. Ibunya sudah memasak sayur dan menggoreng empek-empek ikan yang di beli siang kemarin. Air cuka hangat, kopi dan teh susu sudah terhidang di atas meja.
"Ibu, saya ikut ya ke kontrakan Kakak Riha." Ujar Yuzaka.
"Kau mau ikut, boleh. Hari ini ayahmu juga ikut. Katanya mau bersilaturahmi ke Pak RT. Kata Riha ayahmu diminta Pak RT berkunjung ke rumahnya." Ujar ibu Yuzaka. Yukaza begitu gembira karena dia diizinkan ikut ke kontrakan Riha. Ternyata Hapa sudah bangun dan mendengar permintaan Yuzaka yang mau ikut ke kontrakan Riha. Sesungguhnya, jauh di dalam hati Yuzaka berharap dapat berjumpa dengan Aram. Tak lama kemudian ayah Yuzaka pulang dari masjid selesai shalat subuh bersama Gapa.
__ADS_1
"Menurut sinetron, kalau cewek mau pergi ke suatu tempat sampai termohon dan memohon dan meminta diajak. Itu tandanya disana ada pujaan hatinya." Kata Hapa pada Yuzaka. Yuzaka sangat panas kupingnya mendengar kata-kata Hapa. Lalu Hapa tertawa-tawa, dan Yuzaka mendelikan matanya. Tapi dia menahan tawa juga.
"Iihhhh." Kata Yuzaka marah, lalu dia bangkit cepat dan menjewer telinga Hapa. Membuat Hapa menjerit kesakitan.
"Sinetron lagi, sinetron lagiiii. Sebel, bosan tau gak." Kata Yuzaka kesal.
"Aduuu, ampun kak." Jerit Hapa.
"Lah ilahailallah, kakak beradik ini. Pagi, siang, malam selalu ribut." Ujar ibu Yuzaka, dia Tampak menarik nafas dalam-dalam. Kemudian memasukkan ayam goreng ke wadah piring. Tercium bau harum ayam goreng kremesnya.
"Ada apa ini. Sudah Zaka, jangan diladeni Hapa si jahil ini." Kata Ayah Yuzaka, dia duduk di kursi di sisi Hapa. Dia masih memakai peci, baju koko dan kain shalat. Hapa meringis kesakitan sambil memegangi telinganya yang merah.
"Anak sinetron sama Kakak Ros lagi berantem. Asikkkk." Ujar Gapa, sambil tertawa-tawa. Dia duduk di antara Hapa dan Yuzaka.
"Sudah tutup semua pembicaraan, segera makan." Kata ibu Yuzaka, dia memasukkan nasi ke piring dan menyerahkan pada ayah Yuzaka.
"Ini nasi Ayah." Ujar ibu Yuzaka. Mereka pun makan bersama, dan rencana ke kontrakan Riha jadi, tapi agak siang. Sekitar pukul sembilan pagi berangkatnya. Karena ibu Yuzaka akan ke pasar terlebih dahulu.
...*****...
Figan bangun dari tidurnya. Dia merasa ingin buang air besar. Karena itulah dia segera bangkit dan menuju kamar mandi. Beberapa saat setelah itu dia keluar dan mengelus perutnya yang terasa nyaman. Karena semua kotoran telah terbuang.
"Crooootttt." Figan menuangkan air ke dalam cangkir plastik, dan minum dengan lahap. Setelah minum, dia melangkah ke luar, sekilas melirik nenek dan Areha yang masih tertidur. Kemudian dia mengambil mobilan di sisi dinding. Figan melihat ke pintu, dan dia tidak mengerti. Mengapa letak pintu telah bergeser dan hanya tersadar. Figan mendekati pintu dan memperhatikan. Bagaimana cara keluar dan mengapa pintu tidak seperti biasanya. Mata Figan naik turun memperhatikan, dan tangannya memegang pintu. Tampak paku di engsel pintu terlihat dan terlepas dari kusen pintu.
"Figan, kamu lagi apa." Tanya Luran yang sudah bangun, dia masih berbaring dan melihat ke arah Figan.
"Koyong, mengapa pintu kita seperti ini." Tanya Figan polos. Dia tidak mengerti sama sekali.
"Oh, kok lepas pintunya." Kata Luran setelah dia mendekat.
"Oh, pasti karena tertiup angin semalaman." Ujar Figan. Luran kemudian membangunkan Aram.
"Koyong, kenapa pintu kita lepas begitu." Tanya Luran. Aram salah anggapan, dia pikir Luran dan Figan meminta dibukakan pintu.
"Sebentar lagi baru main di luar. Nanti di buka pintunya." Jawab Aram kembali mengeratkan selimutnya. Luran dan Figan diam saja dan mereka hanya bermain di dalam rumah. Beberapa saat kemudian Aram merasakan mau kencing. Dia bangkit dan pergi ke kamar mandi. Nenek dan Areha tampak sudah bangun. Bercerita tentang tidur yang nyenyak dan hujan yang mengguyur lebat.
Aram melangkah ke ruang depan. Dia melihat pintu depan yang posisinya tidak seperti biasanya. Lalu mendekati pintu dan memperhatikan engsel pintu terlepas.
"Oh, ini maksud kata Luran tadi." Pikir Aram.
"Koyong, mengapa pintu kita begitu." Tanya Luran sekali lagi. Aram diam dan hatinya menjadi takut. Dia tahu kalau itu ulah pencuri. Dia meminta Luran memanggil nenek dan Areha. Saat mereka tiba dan melihat pintu. Nenek menjadi takut dan khawatir. Lalu kembali ke ruang tengah. Tampak lemari pakaian, wadah-wadah aluminium telah acak-acakan. Nenek melihat uang modal dagangannya, juga tabungan uang bulanan juga tidak ada. Nenek meletakkan di bawah lipatan pakaian, yang sudah berantakan.
"Areha, dimana tabunganmu." Tanya Nenek, Areha mencari kesana-kemari tapi tidak bertemu. Rupanya tabungan Areha juga hilang. Aram duduk terdiam bersandar di dinding kontrakan. Dia sedih dan lesuh mendengar semua uang nenek dan Areha hilang. Terakhir, beras sepuluh kilo yang mereka beli beberapa hari lalu juga hilang. Mereka tidak punya apa-apa lagi.
Aram merogoh sakunya, dan menemukan uang lima puluh sembilan ribu, tujuh ratus rupiah. Alhamdulillah, masih bisa makan pagi ini. Kata hati Aram. Terdengar suara tangisan pilu Areha. Dia menabung sudah begitu lama. Bahkan dia hampir tidak pernah jajan hanya karena ingin menabung dan bisa sekolah lagi. Nenek juga meneteskan air mata, tapi dia mencoba kuat.
"Ini Nek, bisa untuk kita makan hari ini." Kata Aram, menyodorkan uang lima puluh ribu rupiah. Nenek mengambil uang dan akan segera belanja, terutama membeli beras.
"Iya Aram, terimakasih. Maafkan nenek." Ujarnya sambil menghapus air mata.
"Ini bukan salah nenek." Jawab Aram, dia kemudian mendekati Areha yang sedang menangis sambil memeluk bantal.
"Adik, jangan nangis. Ini uang lima ribu untuk beli tabungan plastik baru. Dua ribu ini untuk Adik mulai menabung lagi." Kata Aram lembut, Areha mengambil uang yang disodorkan Aram. Areha mereka sayang pada kakaknya dan menemukan figur Ayahnya dari diri Aram. Membuat Areha kuat dan menuruti apa kata Aram.
"Iya Koyong." Katanya sambil menghapus air mata.
"Ikut nenek belanja ke warung dan beli tabungan baru." Kata Aram, Areha bangkit dan mengikuti nenek yang siap pergi ke warung. Nenek memakai hijab hijau muda. Aram memberikan uang logam seribuan untuk Luran dan Figan. Keduanya kemudian pergi membeli snack di warung. Kesukaan keduanya, kerupuk cinta yang ada hadiah-hadiah. Figan mendapatkan robot kecil, dan Luran mendapat mobil-mobilan kecil. Aram tak sepeserpun memegang uang lagi. Dia kemudian memberi pakan ayam-ayam miliknya. Jauh di dalam hatinya ada rasa sakit dan marah.
"Kalau ada musibah menimpa, kamu jangan bersedih Aram. Semua itu ada hikmahnya. Yang perlu kau lakukan adalah terus berusaha." Aram teringat pesan ayahnya. Aram berniat menjual beberapa ayam-ayam miliknya.
__ADS_1