Kedipan Dikalah Senja.

Kedipan Dikalah Senja.
Rumah Tepi Kota


__ADS_3

Pak Kino terbaring di atas tikar plastik. Wadah obat di sisinya. Dia perlahan bangkit dan menggeser ke tepi tikar. Dia ingin minum obatnya.


"Uhukkk. Uhukkk." Terdengar suara batuk istrinya dari dapur. Suara anak kecil bermain dengan memukul-mukulkan kaleng bekas wadah roti ke lantai. Sementara istrinya memasak daun singkong dengan cara di gulai. Daun singkong dia petik di sekitar rumahnya diantara semak-semak. Dulu di sekitar itu pernah menjadi kebun singkong pemilik rumah.


Pak Kino menyewa rumah itu sejak tiga tahun lalu. Walau terletak di sisi hutan belukar, dan jauh dari perkampungan. Tapi sewanya murah, hanya dua juta setengah per-tahun.


Gulai daun singkong mereka tidak banyak bumbunya, hanya garam, penyedap rasa, lengkuas dan sere yang ditanam di samping rumah.


"Dinda, tolong ambilkan air minum. Ini sudah habis." Kata Pak Kino, dia menarik kakinya yang tertusuk besi behal seminggu lalu. Wajahnya tampak meringis. Walau sudah disuntik, obat diminum rutin tapi kaki Pak Kino belum ada tanda-tanda sembuh. Bahkan bertambah bengkak dan nyeri.


"Pak, kalau selama minum obat belum sembuh, dan kaki bapak tidak ada perubahan yang baik. Bapak sebaiknya segera berobat ke rumah sakit. Itu kemungkinan kaki bapak infeksi atau tetanus." Pesan ibu bidan seminggu lalu. Lamunan Pak Kino berhenti saat istrinya datang membawa cerek berisi air minum.


"Aaaaaakkk." Anak Pak Kino berlari dari dapur dan memeluk Pak Kino, sambil tertawa manja. Di tangan ada sepatulak yang dia pukul-pukul ke dinding. Pak Kino tertawa ringan saat anak datang. Seketika hilang rasa sakit dan nyeri kakinya.


"Creekkkk." Air tertuang ke cangkir. Melihat itu, anak Pak Kino melepaskan sepatulak dan mendekati ibunya. Saat cerek plastik itu diletakkan, dia langsung mengangkat dan menuangkan lagi ke dalam cangkir yang belum penuh. Pak Kino dan istrinya tertawa, melihat tingkah anak mereka yang pintar dan lucu.


"Ha. ha. ha. ha." Tawa mereka.


"Pandai sekali anak Bak." Ujar Pak Kino.


"Dak pandai menuangkan air minum." Sahut istri Pak Kino sambil mencubit pipi anaknya. Mereka merasa bahagia sekali.


"Pak, tadi ada Gera mengirim pesan. Dia minta di kirim uang tiga ratus ribu. Katanya untuk beli buku dan uang makan." Kata istri Pak Kino. Gera anak sulung mereka, sekarang sedang belajar di sebuah Pesantren di Musi Banyuasin.


"Iya, kirimkan Dinda, kalau sudah sembuh nanti kanda akan kerja lagi." Jawab Pak Kino.


"Tapi uang di ATM kita tinggal empat ratus ribu saja. Sedangkan di rumah, hanya sisa honor bapak seminggu lalu seratus ribu lagi." Jelas istri Pak Kino.


"Tak apa, kita makan apa adanya." Jawab Pak Kino.


"Yang saya pikirkan bukan makanan, tapi bagaimana mengobati luka kaki kanda." Ujar istrinya.


"Insyaallah segera sembuh, kasihan kalau Gera sampai tidak membayar uang makan di pesantren, nanti dia malu sama teman-temannya." Kata Pak Kino.


"Iya, nanti saya transfer dari ATM." Jawab istrinya. Pak Kino meminum sisa obatnya, kepalanya terasa pusing dan kembali berbaring.


"Uhukkk. Uhukkk." Kembali istri Pak Kino terbatuk-batuk, kali ini keras dan lama. Dadanya terasa nyeri dan sesak. Kemudian istri Pak Kino berlari ke dapur dan meludah. Betapa terkejutnya dia saat yang dia ludahkan ternyata darah. Cukup banyak darah keluar dari mulutnya. Cepat-cepat istri Pak Kino mencuci mulut dan darah. Dia siram dengan air dan tempat pembuangan air kembali bersih.


"Ya, Allah penyakit apa ini. Tidak mungkin kalau hanya batuk biasa. Bagaimana mana ini, anakku masih kecil dan suamiku tidak punya uang untuk berobat. Turak, maafkan ibu nak. Ibu sayang padamu, bagaimana kalau sampai terjadi sesuatu padaku." Kata hati istri Pak Kino. Dia sangat mengkhawatirkan Turak anak laki-laki mereka yang baru berusia dua tahunan.


...*****...


Salika masuk sekolah hari itu. Dia begitu sedih, dan tidak semangat hidup lagi. Bayangan wajah ibunya terbayang di pelupuk matanya. Rasa penyesalan begitu memukul jiwanya. Dia benar-benar tidak menyangka karena kenakalannya. Ibunya meninggal dunia karena terserang penyakit jantung mendadak. Sepertinya ibunya sangat mengkhawatirkan sesuatu akan terjadi pada anak gadisnya. Kalau terlalu dekat dengan laki-laki dan bergaul semuanya.


"Uwaakkkkk. Uwakkkk." Salika terasa ingin muntah, tapi tidak jadi.


"Kamu di sini Salika." Tiba-tiba sebuah suara menegur dari belakang. Salika melirik ke belakang, lima temannya datang menghampiri. Lalu duduk bergabung bersama. Salika tetap murung, tapi temannya mengerti.


"Ini es crem kesukaan kamu, Ka." Ujar Sufo. Salika mengambil es dengan berat.


"Iya terimakasi Sufo." Jawab Salika lesu. Tiba-tiba kembali Salika mau muntah.


"Uweeekk. Uweeekk." Ujar Salika, sambil menutup mulutnya.

__ADS_1


"Aduuu, Kau masuk angin sepertinya." Kata Giru.


"Eh, kau sudah punya sakit mag." Ujar Tasti.


"Gak sarapan pagi, si." Sahut Gatna.


"Tidak apa-apa, sepertinya Aku masuk angin." Jawab Salika.


"Kau minta obat sama Bu bidan pulang sekolah, entar Aku antar." Tawar Elyi.


"Iya, nanti Aku kabarkan. Apa Kalian lihat Dehan." Jawab Salika dan bertanya dimana Dehan.


"Saya lihat Dehan di kantin, tadi." Kata Gatna.q


Bel tanda berakhirnya jam istirahat berbunyi. Mendengar itu, mereka segera masuk kelas. Saat masuk mereka mengikuti mata pelajaran biologi. Guru pengajar biologi seorang gadis yang cantik bernama Sahya. Lulusan dari Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang. Bukan hanya cantik wajahnya, dia juga salihah. Cara mengajar yang lembut dan bijaksana. Membuat ruangan kelas nyaman dan tentram.


Saat jam mata pelajaran berganti. Ibu Sahya meninggalkan kelas. Saat itulah Salika memperhatikan Dehan. Tapi Dehan tidak memperdulikannya. Dia asik berbincang dengan teman yang berbeda di samping tempat duduknya. Keduanya tampak begitu akrab dan mesra. Membuat Salika begitu cemburu dan air matanya memercik. Entah mengapa akhir-akhir ini Dehan menghindar dan menjauhi Salika.


...*****...


Malam itu hujan deras, petir dan kilat tiada henti menyertai hujan. Jalanan kota Palembang sudah sepi dan bertambah sepi saat hujan turun.


"Leban, kau sedang apa." Tanya seorang laki-laki tua, dia memakai kain sarung dan berbaju teluk belanga putih, berpeci hitam.


"Oh, Bak. Kapan Bak datang." Tanya Leban.


"Baru saja. Anak bini kau dimana, sepi begini." Tanya ayah Pak Leban.


"Mereka sudah tidur, Bak. Bak duduk dahulu, Aku buat kopi." Kata Pak Leban. Pas suasana hujan minum kopi panas.


"Bak, Bak. Nantilah, tugu hujan redah. Kalau tidak, bawa payung atau jas hujan." Tapi ayah pada Leban terus melakah.


"Assalamualaikum." Ujarnya, kemudian terus berjalan. Menghilang di balik hujan yang lebat. Kemudian Pak Leban mengejar dan terus berteriak-teriak memanggil. Namun sampai suaranya serak ayahnya tak muncul lagi.


"Bak. Bak. Baakkkkk." Teriak Pak Leban.


"Kanda. Kanda." Istri Pak Leban mengguncang tubuhnya sambil memanggil berulang-ulang sampai Pak Leban terbangun.


"Ohh, Aku bermimpi." Kata Pak Leban sambil mengucak-ngucak matanya. Dia pun mendengar suara hujan lebat di luar. Pak Leban berpikir kalau arwah ayahnya benar-benar datang menemuinya. Dia juga menceritakan mimpinya pada istrinya. Dia yakin kalau ibunya Cik Rumi masih hidup. Tapi apa cita-cita ayahnya yang belum terwujud dan ibunya yang ingin mewujudkannya.


"Kanda akan mencari ibu, setiap ada waktu senggang, terutama di hari libur. Ayah datang di malam ini, keadaan sama persis, terutama hujan lebat." Kata Pak Leban, kemudian menarik nafas dalam-dalam.


"Iya kanda, dinda akan membantu. Semoga ibu cepat ditemukan. Dinda akan meminta maaf padanya. Kata ustadz, berdosa pada ibu mertua sama halnya berdosa pada ibu kandung." Ujar istri Pak Leban, mereka akhirnya sepakat untuk mencari orang tua mereka, dan mengajak adik-adiknya juga.


...*****...


Bibik Sulak, istri Pak Kino berjalan perlahan di halaman rumah. Dia membersihkan halaman yang sudah beberapa hari tidak dia sapu. Setiap kali berjalan ada rasa sakit dan nyeri di dadanya. Tubuhnya juga lesu juga lemas. Tapi ini kesempatan membersihkan halaman karena anaknya sedang tidur.


"Uhukkk..." Uhukkk." Dia terbatuk-batuk beberapa kali. Lalu duduk bersandar di sebatang pohon liar di tepi halaman. Memegangi dadanya yang terasa sakit. Beberapa kali batuk lagi dan mengeluarkan darah. Tapi tidak begitu banyak, sehingga hanya dia lap menggunakan ujung bajunya. Sesekali di jalan raya ada kendaraan berlalu. Terdengar suara tangisan anaknya dari dalam rumah. Bibik Sulak menyandarkan sapu lidi di dinding samping rumah. Dia belum menyimpannya karena ada sedikit halaman belum dia bersihkan.


"Anak bujang Umak sudah bangun." Ujar Bibik Sulak saat di dekat anaknya yang sudah berhenti menangis. Bibik Sulak melihat suaminya terbaring yang tampak diam berkeringat dingin.


"Kanda, bagaimana keadaanmu." Tanya istrinya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, sepertinya kanda sedang demam. Badan kanda teras dingin." Jawab Pak Kino. Bibik Sulak memegangi kening suaminya. Terasa panas sekali, lalu dia bangkit ingin mengambil handuk untuk mengkompres suaminya. Tapi belum begitu tegak tubuhnya kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke lantai.


"Uuhhhh. Dukkk." Pak Kino melirik, dan dia tidak bisa membantu. Hanya mata dan hatinya yang khawatir sekali. Anaknya hanya melihat sambil duduk.


"Tak apa, Dinda hanya pusing sedikit." Kata Bibik Sulak. Dia duduk menenangkan dirinya, anak datang dan duduk di pangkuannya. Bibik Sulak memeluk anaknya, dan air mata mengalir di pipinya.


"Maaakkkk." Ujar anaknya. Sepertinya anak kecilnya merasa khawatir, namun dia belum bisa mengungkapkan.


"Iya, anak sayang Umak. Duduk temani Bak, Umak nak ambil kompres. Biar bak cepat sembuh." Katanya, anaknya walau belum bisa bicara tapi sudah mengerti kata-kata. Anaknya bangkit dan duduk di sebelah ayahnya. Pak Kino tersenyum simpul, lalu tangannya membelai lembut rambut anaknya yang lebat dan hitam.


Bibik Sulak datang dengan baskom kecil dan handuk kecil. Dia mengkompres kening suaminya. Dia kemudian memijit-mijit kali suaminya. Saat dia menarik kain suaminya untuk merapikan. Dia melihat kaki Pak Kino yang semakin bengkak dan membiru. Lalu dia tutupi lagi.


"Uhukkk. Uhukkk."


"Kanda, apa sebaiknya berobat lagi ke ibu bidan atau kemana." Ujar istrinya lembut, lalu berbaring di samping suaminya.


"Bagaimana biayahnya Dinda, kita benar-benar tidak punya uang. Insyaallah kanda segera sembuh." Ujar Pak Kino, istrinya diam dan menyadari semua itu. Lalu dia memeluk suaminya. Air matanya meleleh dan bertambah tersayat hatinya saat melihat anak kecil mereka. Tampak Turak sudah mulai bermain-main sendiri. Badannya sudah kuat setelah beberapa saat bangun tidur. Pak Kino tidak tahu dan tidak menyadari kalau istrinya sedang sakit para.


...*****...


Sementara itu, di sekolah Salika sedang jam istirahat. Salika mencari Dehan kekasi hatinya. Salika ingin mencari tahu apa maksud Dehan yang selalu menghindar darinya. Saat itu Dehan sedang berbincang-bincang dengan beberapa temannya. Dua siswi dan tiga siswa.


"Dehan, kau kan pacaran sama Salika. Mengapa malah jadian sama Wirasi." Tanya teman ceweknya.


"Sepertinya saya tidak cocok sama dia. Lagian ibunya tidak merestui hubungan kami." Jawab Dehan mencari alasan pembenaran.


"Kan ibu Salika sudah meninggal, berarti tidak ada masalah lagi." Jawab teman siswi satunya.


"Dia ini hebat, cowok keren playboy. Semua wanita mau dia dapatkan." Ujar temannya yang laki-laki. Sambil menepuk-nepuk bahu Dehan.


"Pemburu wanita. Hati-hati nanti kalian berdua juga jadi korban." Sahut teman satunya. Dehan dan dua temannya tertawa senang. Dehan juga merasa bangga dirinya diakui sebagai playboy.


"Dehan." Panggil Salika. Semuanya menoleh ke samping, tampak Salika berdiri tidak jauh dari mereka.


"Sudah, kau temui dia." Ujar teman siswinya. Dari jauh Dehan melihat Wirasi bersama dua temannya. Dehan tidak mau membuat cemburu Wirasi. Karena Wirasi pacar barunya, juga korban barunya.


"Sini saja." Jawab Dehan ketus. Melihat Dehan tidak peduli membuat Salika menjadi kecewa. Dia merasa tidak dihargai, dan memilih pergi. Wirasi melangkah mendekati Dehan dan teman-temannya.


"Kau ini, kau pilih satu Dehan. Biar ada kepastian. Jangan begitu, kasihan Salika yang sudah kau permainkan. Nanti kamu kena hukum Allah. Dia sudah yatim-piatu sekarang, dan kau buat dia menderita begitu. Kau pikir hebat berbuat demikian. Kau itu namanya bajingan istilah novel-novel." Ujar teman siswi satunya.


"Bajingan, sekalian saya jadi Rahwana seperti film sastra." Ujar Dehan, bukan sadar malah dia berbangga diri, lalu dia dan dua temannya tertawa.


"Apa yang kalian ceritakan, kok ketawa-ketawa begitu." Ujar Wirasi sesaat dia tiba dan bergabung dengan Dehan dan teman-temannya.


"Tidak ada yang diceritakan, selain tentang kecantikan kamu Wirasi." Ujar Dehan gombal, membuat Wirasi senang walau dia pura-pura tidak suka.


Wirasi benar-benar yakin kalau Dehan sayang padanya. Bahkan menurut Dehan demi Wirasi dia relah memutuskan hubungannya dengan Salika. Dua Minggu sebelum ibu Salika meninggal Dehan dan Wirasi jadian. Itulah mengapa Dehan tidak hadir di acara tahlilan ibu Salika dan dia menjauhi Salika.


...*****...


Salika merasa aneh dengan perut dan kesehatannya. Dia merasa tidak masuk angin dan tidak mengidap penyakit mag. Salika melamun sendiri di dalam kamar. Rasa khawatir timbul karena sudah tiga bulan dia tidak datang bulan. Salika belum mengerti hal demikian, apakah dia sakit atau hamil. Beberapa kali dia mencari tahu melalui google. Tapi yang paling banyak menjelaskan tanda-tanda dia hamil.


Sementara itu, tiga orang kakak Salika sedang musyawarah di ruang tengah rumah. Mereka mengurusi harta warisan dan bagaimana membaginya. Terutama rumah, yang kemungkinan akan dijual. Kemudian uangnya akan mereka bagi tiga. Ketiganya tidak memikirkan Salika. Karena dia anak perempuan tidak dilibatkan. Mungkin Salika akan ikut salah satu dari mereka.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2