Kedipan Dikalah Senja.

Kedipan Dikalah Senja.
Selamat Tinggal Gubuk Bambu


__ADS_3

Pagi sedikit mendung, awan kelabu menutup cahaya matahari pagi. Rupanya, hujan semalaman tidak membersihkan awan hitam di langit. Tetes talutuh masih tersisa di dedaunan hutan. Beberapa tupai berlompatan di dahan pepohonan. Sekelompok burung punai terbang melintas di udara. Beberapa kupu-kupu menghinggapi bunga-bunga tapak bintang yang di tanam Areha di sekitar gubuk.


"Tok. Tok.Tok." Nenek Cik Rumi memotong kayu bakar. Dia sering menggunakan kayu bakar untuk memasak, agar gas tidak cepat habis. Kain dia lilitkan di kepala untuk menghalangi rintik-rintik kecil yang berjatuhan.


"Nenek, anyaman apa yang sudah siap di jual." Kata Aram, dia sedang sibuk bersiap. Mengambil gancu, karung plastik, botol air minumnya dari bekas botol air mineral Aqua.


"Itu, nyirau dan bakul nasi. Semua sudah selesai." Jawab nenek tanpa menoleh.


"Nyirau ada empat, bakul nasi lima. Saya bawa semua Nek." Kata Aram, kemudian mengambil tali dan menggantung satu persatu di dinding luar gerobak agar dilihat orang. Nenek mengiakan, dia sudah selesai memotong kayu bakar.


"Apa baiknya kau istirahat hari ini, masih gerimis." Kata nenek. Aram bilang gerimis tidak begitu lebat. Lalu Aram pamit dengan nenek, Luran dan Figan ingin ikut. Tapi Aram melarang karena mereka kemarin sudah ikut. Lagian hari juga gerimis, nanti sakit.


Aram juga tidak ingin kedua adiknya terlalu capek. Keduanya hanya memandangi Aram pergi dari balik lobang tembok hutan.


"Tutup pintu lobang tembok Luran. Mari, ikut nenek mengambil bambu untuk anyaman." Kata nenek, takut ada orang gila lagi masuk. Keduanya mau, dan bergembira karena akan mengambil bambu kecil untuk membuat bedil bambu untuk mainan mereka. Tiba di dekat rumpun bambu, nenek menebang batang bambu. Menemukan rebung dan mengambilnya juga.


...*****...


TIM SURVEI.


*


Dua mobil Avanza satu warna silver dan satu hitam berhenti di sisi jalan raya. Jalanan ramai, jadi mereka tidak bisa memarkirkan mobil di jalan. Lalu masuk sedikit ke luar jalan raya. Mobil warna silver memuat lima orang, dan mobil hitam memuat enam orang. Mereka semua mengenakan helm kerja berwarna kuning. Membawa kamera, buku, dena tanah, kompas, dan meteran manual, trifoot, bekal, dan air minum. Dua orang anggota memikul tangga. Yang bisa ditarik memanjang dan memendek.


"Ini hutan bos." Ujar anak muda berumur tiga puluhan tahun bertanya sambil melihat-lihat.


"Iya, inilah lokasinya." Jawab laki-laki bertubuh gemuk dan pendek.


"Luas juga hutannya, bisa-bisa sampai sore kita keliling ini." Jawab yang paling muda.


"Ayo, kita mulai. Semakin cepat semakin baik." Jawab yang paling senior, dia pemimpin tim survei, tangan kanan Pak Katara. Dia senior lapangan, kalau proyek sudah jalan bisa dia menjadi mandor lapangan.


"Dio ajak temanmu letakkan tangga, kita masuk tembok. Dua pemuda membawa tanggal. Keduanya berjalan lebih dahulu, melompat semak dan berjalan puluhan meter menuju tembok. Yang bernama Dio menarik tangga memanjang. Kemudian meletakkan di dinding tembok. Dia naik, dan meminta teman memberikan tangga yang dia bawa padanya. Lalu dia pasang pada bagian dalam tembok. Dia memberikan kode siap. Lalu diikuti yang lain, dan masuk ke dalam tembok hutan itu.


"Tak menyangka ada hutan luas di tepi kota." Kata salah satunya.


"Sekitar 30 hektar semuanya." Ujar pemimpin Tim. Mereka mulai berjalan meninjau keadaan seraya bermusyawarah. Tiba di suatu lokasi strategis.


"Pak Budo, saya rasa di sini cocok untuk membuat tempat parkir, dan basecamp para pekerja. Tanahnya datar, dan tidak terlalu banyak pengerukan atau penimbunan. Cukup 'surrrrr' dorong, beres." Kata pemimpin tim survei. Tangannya memperagakan gerakan mendorong tanah alat berat.


"Saya sependapat dengan Pak Lotu. Mulai, buat patok, buat sketsa dan dena." Jawab Pak Budo. Semua yang bertanggung jawab atas tugas mulai bekerja, ada yang membuat patok sementara dari kayu, dan membuat dena.


"Pagar dirobohkan, jalan lurus sampai di sini." Ujar Pak Lotu sambil menunjuk dan mengira-ngira. Dia jam kemudian, mereka pun menyelesaikan tugas disitu, sekarang mengecek lokasi seluruhnya. Mulailah berkeliling hutan lagi.


*


TEPIAN MANDI.


*


"Eh, bambu ini sering diambil orang, kayaknya sering juga." Ujar Dio, semua memperhatikan.


"Ini masih baru." Ujar salah satu anggota lainnya.


Pohon dan kayu yang sering diambil orang. Mereka mengira penduduk sekitar yang mengambil, jadi tidak dibahas. Sekarang mereka lokasi mendekati rawa-rawa. Memperkirakan seberapa banyak tanah diperlukan untuk penimbunan. Memastikan luas dan lebar rawa-rawa dan pemanfaatan airnya.


"Ini tepian mandi orang, dan banyak pancing ikan." Ujar Pak Lotu memperhatikan tepian mandi di pinggiran rawa-rawa. Ada kain basahan saat mandi. Tempat mandi juga licin tanda setiap hari ada yang mandi di situ. Setelah selesai di sana, mereka melanjutkan survei. Menjelang siang mereka istirahat di lokasi tanah yang lapang. Makan dan minum sambil bercanda ria di bawah pepohonan rindang.


...*****...


JUAL ANYAMAN.


*


"Bakul nasi, bakul nasi. Nyirau untuk menempi beras. Lima belas ribu satunya." Kata Aram menawarkan dagangannya, saat melalui kompleks perumahan warga. Kadang Aram melihat-lihat di tempat sampa warga, kalau ada barang bekas, seperti kardus, botol plastik, besi, kaleng-kaleng, buku bekas, botol gelas, dia ambil. Kemudian terus menawarkan dagangannya.


Aram lewat di kerumunan ibu-ibu, entah apa yang mereka bicarakan. Di sebelah mereka sebuah warung jajanan yang ramai, tersedia bakso dan mie ayam. Aram menawarkan dagangannya sambil melangkah pelan.


"Dik, coba lihat." Ujar ibu-ibu yang sedang hamil tua.


"Bagus, ibu-ibu bakul nasi dan nyiraunya." Kata si ibu. Beberapa ibu-ibu mendekati dan ikut melihat-lihat juga.


"Anyamannya rapat dan rapi, seperti anyaman nenek saya di desa." Seorang ibu-ibu berkata sambil memperlihatkan anyaman.


"Berapa tadi harganya dik." Tanya ibu hamil itu.


"Satu, harganya lima belas ribu, Bu. Baik nyirau atau bakul nasi." Jawab Aram.


"Wah, murah sekali." Jawab seorang ibu-ibu. Mendengar harganya murah, semua jadi mendekati dan memilih.


"Aku beli nyirau satu dan bakul satu." Ibu hamil langsung bayar. Akhirnya semua anyaman Aram habis diborong ibu-ibu di situ. Bahkan, ada ibu-ibu yang tidak kebagian dan merasa kecewa.


"Ya, habis." Kata si Ibu.


"Ibu si, tadi hanya diam dan tidak peduli. Duduk dan ngerumpi terus." Ujar temannya.


"Aku pikir mahal seperti di pasar, bakul nasi itu kalau di pasar harganya tujuh puluhan ribu." Katanya.


Sungguh jauh berbeda, dengan harga jual Aram. Aram tersenyum senang karena jualan anyamannya laku. Dia juga mendapat cukup banyak barang bekas hari itu.


"Aram mendengar Azan shalat Ashar dari sebuah masjid. Dia kemudian berhenti dan shalat ashar. Sejak ada nenek Cik Rumi Aram selalu shalat karena nasihat nenek selalu dia dengarkan. Termasuk nasihat agar dia selalu shalat di manapun. Aram juga memasukkan uang sepuluh ribu di dalam kotak amal masjid saat dia akan pulang.


...*****...


GUBUK BAMBU.


*


Sementara itu, tim survei lokasi terus melangkah mengelilingi hutan dengan cara memutari. Sampai akhirnya mereka menemukan sebuah gubuk bambu. Atap dan dinding terbuat dari bambu, berlantai tanah. Mereka mendengar kokok ayam jantan dan ramainya suara anak ayam.


"Tar. Tar." Suara ledakan bedil-bedilan bambu dan diikuti sorakan anak-anak. Tim survei Merasa aneh dan terus mendekati gubuk bambu. Tampak sekeliling gubuk bersih, banyak bunga tapak bintang berbunga indah. Tanaman seperti cabai, Laos, sereh, tomat, kunyit, kencur tumbuh subur. Seorang nenek-nenek sedang memotong dan membelah bambu. Suara memotong bambu terdengar oleh tim survei.


"Kukukrakikk."


"Kot. Kot. Ketik. Kot. Kot. Ketik." Suara ayam betina selesai bertelur.

__ADS_1


"Ada gubuk, ada juga orang yang menempati hutan ini sepertinya." Ujar Pak Lotu. Semua mengiakan dan mereka terus mendekati gubuk. Semua meresa heran dan bertanya-tanya.


"Assalamualaikum, selamat sore Nek." Ujar Dio. Nenek Cik Rumi terkejut melihat banyak orang datang entah dari mana.


"Wassalamualaikum. Ada apa." Tanya nenek yang belum tahu duduk perkaranya.


"Maaf Nenek, kami bertanya sebentar. Sebelumnya nenek sudah izin dengan yang punya tanah, membangun rumah di hutan ini." Tanya Pak Lotu penuh selidik. Agak lama nenek baru menjawab. Setelah menarik nafas panjang dia baru menjawab.


"Kami tidak meminta izin pada yang punya, hanya menumpang tanpa permisi. Kami tahu ini tanah orang kaya. Tapi kami akan pergi kalau pemilik meminta kami pergi. Apa bapak-bapak semuanya pemiliknya." Jawab nenek sambil bertanya. Nenek berhenti menganyam, dia mempersilakan bagi yang mau duduk di bangku teras gubuk. Areha, Luran dan Figan mendekati nenek.


"Begini Nek, kami ini hanya karyawan dan menjalankan tugas dari perusahaan dan dari pemilik tanah ini. Rencananya, hari Senin, minggu depan ini, hutan akan dibabat dengan buldoser. Kemudian akan dikeruk, atau di ratakan." Kata Pak Lotu. Sementara Pak Budo, Dio, dan rekannya diam saja sambil mengamati sekeliling.


"Oh, begitu. Tidak apa, kami akan pergi. Tapi berilah waktu satu atau dua hari, kami akan mencari kontrakan dan mengangkut barang-barang." Kata si nenek.


"Baiklah, kalau nenek mengerti. Kami tidak mengusir nenek, kami hanya memberi tahu dan kami hanya karyawan." Pak Budo berkata.


"Iya, nenek mengerti tidak perlu khawatir atau kalian merasa bersalah. Kami akan pindah, memang kami sudah merencanakan untuk pinda. Agar cucu-cucu nenek dapat sekolah." Jawab nenek.


"Ayah cucu nenek sedang kerja, apa." Tanya seorang rekan mereka.


"Mereka yatim-piatu, hanya nenek keluarga mereka di Kota Palembang ini." Kata si nenek yang membuat semuanya merasa prihatin. Tapi mereka juga tidak dapat berbuat apa-apa.


"Kalau nenek mau, nanti kami sampaikan pada bos saya, untuk minta ganti rugi." Ujar Pak Lotu.


"Tidak perlu, kami sudah menempati tidak izin seperti ini sudah cukup berdosa. Memalukan sekali kalau kami meminta ganti rugi." Jawab nenek. Cukup lama mereka berbincang-bincang dengan nenek. Setelah itu, baru mereka melanjutkan tugas mereka.


"Aku merasa tidak asing dengan nenek itu. Perasaan sering berjumpa, tapi tidak tahu di mana." Ujar Dio.


"Aku juga merasa demikian." Ujar Pak Lotu, saat mereka mulai meninggalkan gubuk Aram.


"Kasihan juga, mereka." Ujar salah satunya, dan semua merasakan hal yang sama.


"Gubuk bambu kecil, tanpa listrik dan air bersih. Cucunya tidak sekolah lagi, yatim-piatu pula." Yang lain berkata.


Setelah itu, tim survei meneruskan tugas mereka. Berjalan terus sampai ke tangga mereka masuk pagi tadi, dan kemudian pulang. Saat pulang Azan shalat Ashar terdengar dari masjid yang tidak jauh dari sana.


...*****...


MENCARI KONTRAKAN.


*


Aram tiba di gubuk bambu menjelang magrib. Dia membeli minyak tanah, beberapa bungkus snack untuk adik-adiknya. Sayur kangkung satu ikat, dan tahu dua belas potong. Saat masuk waktu magrib, mereka semua shalat dan Aram menjadi imam. Nenek mengajak mereka makan malam. Di terangi lampu minyak, mereka makan dengan lahap. Setelah selesai makan, Nenek berbincang dengan Aram.


"Aram, besok kau jangan mencari barang bekas dulu. Tapi mencari kontrakan untuk kita sewa." Kata Nenek.


"Kenapa mendadak, Nek." Tanya Aram.


"Tadi ada orang-orang datang, mereka bilang kalau hutan ini akan di babat dan tanah akan di keruk." Jelas nenek.


"Oh, begitu. Baiklah Nek, besok Aram akan cari. Tapi, kontrakan yang bagaimana kita sewa." Ujar Aram.


"Cari yang murah saja Aram, kira-kira kita bisa membayar setiap bulan. Di pinggiran kota tidak apa. Kalau bisa si, dekat SD. Agar adik-adikmu bisa sekolah." Kata nenek, sementara Areha, Luran dan Figan bermain bersama.


"Ini uang anyaman tadi, terjual semua Nek." Kata Aram, memberikan uang seratus enam puluh ribu pada nenek. Dia juga berkata, yang lain dia belanjakan sayur dan tahu. Nenek mengiakan, dan menerima uang. Kemudian dia mengambil dompetnya. Mengeluarkan uang dan menggabungkan semua.


"Iya Nek, Aram akan mencari kontrakan yang sesuai dengan uang kita." Kata Aram.


"Kalau bisa cari yang harga empat ratus ribu sebulan. Karena dua ratus ribu, akan nenek gunakan untuk membuat kue. Sisanya untuk belanja kita." Jelas nenek.


"Keranjang dan wadah untuk jualan kue nenek sudah jadi." Tanya Aram.


"Keranjang sudah, tinggal bakul yang belum. Tapi besok akan nenek selesaikan." Kata nenek.


Setelah itu, angin malam berhembus dan masuk ke dalam gubuk. Tak seberapa lama hujan deras turun dengan lebatnya. Mereka semua tertidur lelap. Dalam tidurnya, Aram bermimpi berjumpa dengan Yuzaka. Yuzaka datang menemuinya di gubuk. Kemudian mengajak Aram masuk sekolah lagi. Tapi Aram merasa malu dan dia tidak mau. Namun Yuzaka tetap memaksa sehingga Aram pun bersekolah walaupun mengenakan pakaian lapuk dan kotor karena sering dia bawa memulung.


"Aram, apa pun yang terjadi dan apa pun keadaan kamu, kau harus sekolah." Ujar Yuzaka di dalam mimpi Yuzaka.


...*****...


DIKONTRAKKAN ALPIN.


*


Bang Jon dan Arip tiba di kontrakan Alpin. Arip mau bermain gabung dengan teman kelas kuliah mereka, di kontrakan Alpin. Mereka suka kumpul-kumpul kebiasaan anak muda, dan suka nonton bola bersama.


"Bang Jon, mampir dulu. Asdi di sini." Panggil Alpin. Tampak Dani duduk santai dan Adi main gitar. Asdi Juga melambaikan tangan pada Bang Jon.


"Lain kali saja, Aku mau menulis di blog, jadwal latihan menulis." Jawab Bang Jon.


"Mampir dahulu Bang." Ujar Arip.


Lain kali jawab Bang Jon, kemudian langsung tancap gas. Arip kehausan, dia minum beberapa cangkir. Di kontrakan Arip menceritakan kejadian bersama Bang Jon tadi.


*


CERITA ARIP.


*


Dua anak muda sedang berjalan mendorong motor di jalan raya. Kedua baju mereka basah oleh keringat. Mobil dan motor berjalan lambat seperti bebek. Klakson tiada henti terdengar dari pengendara yang tidak sabar.


"Beli minum dulu Bang." Kata pemuda di belakangnya, tampak capek ikut mendorong motor.


"Oke, Rip." Keduanya kemudian ke warung yang berbentuk kotak. Pedagang duduk di dalam warung sempit itu.


"Sudah berapa sampel masjid penelitian Abang." Tanya Arip.


"Sekitar tiga puluh dari enam kecamatan." Ujar Bang Jon.


"Sudah banyak, berapa Abang perlu." Tanya Arip.


"Sebanyak-banyaknya." Ujar bang Jon, kemudian dia minum air mineral. Terasa sejuk sekali di tenggorokan.


"Sebentar lagi, kita tiba di kawah tengkurep. Kau cari data apa." Tanya Bang Jon.

__ADS_1


"Wawancara dulu dengan kuncen." Sahut Arip. "Bagaimana dengan penelitian Asdi, selesai juga." Tanya Arip.


"Belum juga, tiga bulan di desa, dia asik jatuh cinta. Tak sedikitpun dia mengerjakan skripsi." Ujar Bang Jon. Keduanya tertawa ringan mendengar itu.


"Anak muda-anak muda." ujar keduanya sambil tertawa.


"Motornya kenapa tidak hidup bang. Masak, motor baru, sudah macet." Tanya Arip.


"Tak tahu juga Rep. Dihidupkan tak hidup-hidup." Jawab Bang Jon.


Kemudian Arip melangkah dan mencoba menghidupkan. Dia putar kunci kontak, saat dia starter motor langsung hidup. Arip mendengarkan suara, bagus.


"Ini hidup Bang. Sudah mendorong tiga puluhan kilo meter." Kata Arip protes sambil memukul setang sepeda motor. Bang Jon tersenyum saja, kemudian mereka menuju lokasi pemakaman Sultan-Sultan Palembang.


*


"Ha. ha. ha." Dani, Alpin, Asdi, dan Adi, yang sedang kumpul di kontrakan Alpin tertawa keras, mendengar cerita Arip. Sampai perut mereka sakit.


"Brummm. Tin. Tin." Sebuah mobil datang ternyata juga teman kelas mereka, Ririn dan teman-teman.


...*****...


KONTRAKAN IBU NURUL.


*


Aram berjalan ke sana kemari, dia masuk dan keluar kompleks penduduk. Sudah setengah hari dia mencari kontrakan. Sekarang dia berjalan menyusuri jalan menuju sebuah perumahan yang sudah lama berdiri. Dikenali dari rumah-rumah tampak sudah berubah bentuk dan ada juga yang roboh. Dinding batako memang ada batasan usia ketahanannya. Jalan tampak banyak lobang-lobang, dan hancur.


"Boleh bertanya Bu, di sekitar sini ada kontrakan tidak." Tanya Aram pada seorang ibu-ibu sedang memangkas rumput. Seorang pengantar galon datang. Ibu itu meminta untuk meletakkan di teras rumah. Setelah membayar tukang galon pergi mengantar ke tempat lain.


"Ada nak, tapi tidak tahu ada yang kosong atau tidak. Anak maju saja jalan ini, ikuti tukang galon tadi. Pas di simpang jalan itu belok kanan, lurus. Di sana ada bedengan kontrakan. Rumah pemiliknya di bagian depan kontrakan itu." Jelas si ibu, kemudian dia melanjutkan memotong rumput. Aram mengikuti petunjuk ibu itu. Lalu menemukan sebuah kontrakan lima pintu.


Kalau Aram perhatikan tampak kontrakan tidak jauh berbeda dengan kontrakan mereka dulu. Berdinding papan dari bawah sampai atas. Hanya lantainya tampak baru di semen ulang. Di teras tampak ibu-ibu kumpul, dan di bedeng paling ujung ada dua anak muda duduk-duduk sambil memainkan handphone. Sesekali menghisap rokoknya dalam-dalam.


"Ibu, boleh tanya. Kontrakan ini ada yang kosong tidak." Tanya Aram pada kumpulan ibu-ibu.


"Ada dik yang ujung itu dan yang di sampingnya. Cari kontrakan ya." Tanya ibu itu.


"Iya Bu, harga berapa sebulan, dan siapa yang punya." Kata Aram.


"Pemiliknya saya, kalau bulanan empat ratus lima puluh ribu. Kalau tahunan lima juta, ibu kasih." Kata ibu yang kurus dan agak pendek. Kulit sawo matang dan mengenakan gamis dan berhijab lebar.


"Oh, saya perbulan saja Bu. Bisa besok atau lusa kami pindah." Kata Aram.


"Bisa kalau sudah sepakat dan bayar di muka." Kata si ibu pemilik kontrakan. Aram setuju, dia memberikan DP seratus ribu, dan minta kuitansi bukti. Aram bertanya, apakah di sekitar kompleks itu ada sekolah dasar. Ibu itu memberi tahu kalau tidak jauh dari kompleks itu ada sekolah dasar negeri.


"Nama ibu siapa." Tanya Aram.


"Nama saya Nurul." Jawab si ibu, dia menanyakan nama Aram. Aram memberi tahu, kemudian Aram kembali ke gubuk bambu di tepi hutan.


...*****...


PINDAH.


*


Aram mendorong gerobaknya yang penuh oleh barang-barang mereka. Pagi-pagi sekali Aram yang berangkat seorang diri mengangkut barang-barang. Nenek dan adik-adiknya bersiap. Termasuk menangkap dan mengikat ayam.


Aram pergi mengantar barang dan mengambil kunci dari pemilik kontrakan. Juga membayar sisa uang kontrakan. Setelah itu barang-barang dia letakkan di dalam kontrakan baru. Aram pun kembali menjemput nenek dan adik-adiknya.


"Keoookkkkk. Keoookkkkk." Beberapa ayam Aram meronta-ronta saat dimasukkan kedalam gerobak. Nenek juga membawa bambu untuk anyaman dan hasil anyaman yang sudah jadi. Tanaman yang bisa dibawa kemudian di gali dan dipetik. Nenek menggali laos, sereh, kunyit, kencur dan memanen cabai dan tomat.


"Nanti kita tanam juga kalau diizinkan pemilik kontrakan." Kata nenek.


Setelah selesai, mereka kemudian mulai meninggalkan gubuk bambu yang sudah mereka tempat lebih dari satu tahun. Mereka berjalan beriringan, Luran menjinjing mobil-mobilnya. Figan juga membawa robot-robotnya. Areha membawa boneka dan buku-buku komik dan majalah bekas.


"Koyong, kapan kita ke sini lagi." Tanya Figan yang tidak mengerti.


"Entah, mungkin saat kita kaya nanti." Jawab Aram. Karena Aram tahu dari cerita nenek kalau tempat itu akan dibangun kompleks perumahan elit. Aram pun asal menjawab.


"Yee, nanti kita kaya." Kata Figan, sesungguhnya Figan tidak tahu apa itu kaya.


Sebelum keluar tembok mereka semua melihat gubuk bambu mereka untuk terakhir kalinya. Lalu dengan pandangan sayu juga sedih mereka melangkah pergi. Saat mereka pergi, suasana sunyi dan sepi. Angin berhembus dan daun berguguran. Tinggal gubuk bambu itu yang membisu ditinggalkan tuannya pergi. Perlahan halaman mulai dijatuhi dedaunan kering. Beberapa kadal mengintip, lalu perlahan melintasi halaman. Cicak-cicak berbunyi dari balik dinding gubuk. Nyanyian perpisahan dengan anak-anak yang malang.


...*****...


GUBUK BAMBU ROBOH.


*


Hari Senin sesuai jadwal pengerjaan pembabatan hutan dari perusahaan rekanan perusahaan Pak Katara, mulai bekerja. Mereka menemukan gubuk telah kosong. Tampak dedaunan kering telah memenuhi halaman. Cabai dan tomat, dimana buahnya sudah kembali besar dan lebat.


"Sudah pergi nenek dan cucu-cucunya." Ujar Pak Lotu. Pak Budo mengiakan, dan terus mengawasi anak buah mereka yang bekerja mengendalikan buldoser dan kobelco. Keduanya mengamati gubuk dan sekitarnya. Keduanya berdiri di sisi pohon agak besar. Disana tertulis kata-kata pada kulit pohon." Ayah, Ibu, sekarang kami punya nenek yang baik. Ayah, Ibu jangan khawatir lagi. Namanya Nenek Cik Rumi." Pak Budo dan Pak Lotu merasa tidak asing dengan nama itu.


"Bummm. Bummmm." Bunyi buldoser, kemudian diikuti deru pohon tumbang. Mobil Pak Katara berhenti dan memperhatikan lokasi usahanya. Dia melangkah diikuti sopir dan dua orang bawahannya.


"Buummm." Sebatang kayu besar roboh dan menimpa gubuk bambu Aram. Gubuk pun roboh hancur berantakan.


"Itu rumah orang." Tanya Pak Katara pada Pak Lotu saat dia sampai dan melihat kejadian itu. Kemudian puluhan pohon roboh dan gubuk bambu Aram juga di dorong sehingga rata dengan. tanah.


"Sebelumnya gubuk itu di diami nenek dan cucu-cucunya. Cucunya yatim-piatu dan mereka pergi atas kemauan sendiri. Kami hanya menyampaikan kalau hutan akan dibabat dan dikeruk, lalu dibangunan kompleks perumahan elit." Jelas Pak Luto.


"Nenek, dan cucunya yang yatim piatu." Kata Pak Katara. "Mengapa tidak memberi tahu saya." Ujar Pak Katara.


"Maaf Pak saya lupa, mereka pergi atas kemauan sendiri, tidak kami usir. Bahkan kami sudah menawarkan kalau mereka mau, kita ganti rugi atau tempat tinggal sementara pada bapak. Tapi mereka menolak dan akan mencari kontrakan." Jawabnya.


"Benar pak, nenek itu sepertinya bukan nenek biasa. Dia punya pendirian hidup yang kuat." Ujar Pak Budo.


"Ada kalian foto, nenek dan cucunya itu." Pak Katara kembali bertanya. Keduanya menjawab tidak. Pak Katara tampak kecewa dan dia merasa penasaran sekali dengan nenek dan cucunya itu.


"Brummmm." Suara buldoser.


"Rummmm." Kayu besar-besar roboh kesana kemari.


"Nenek dan cucunya yang yatim piatu." Berkali-kali Pak Katara berpikir penasaran. Lalu memerintahkan beberapa orang anak buahnya mencari sekitar itu. Pak Katara akan mengganti rugi gubuk itu walaupun gubuk liar. Pak Katara takut nanti dia mendapat murka Allah.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2