Kedipan Dikalah Senja.

Kedipan Dikalah Senja.
Bulan Yang Padam


__ADS_3

Pak Leban mencari ibunya setiap akhir pekan, hari Sabtu dan Minggu. Sejak dia bermimpi di datangi almarhum ayahnya. Pak Leban yakni kalau ibunya masih hidup. Sementara dua adiknya antara percaya dan tidak. Tapi dua adik Pak Leban juga mencari di wilayah yang berbeda dengan Pak Leban.


"Ibu, pernah berjumpa dengan ibu di foto ini." Tanya Pak Leban pada ibu penjual gado-gado. Nenek Cik Rumi atau ibu Pak Leban, suka makan gado-gado. Hampir setiap kali kalau dia mencari sang ibu selalu mampir di warung gado-gado di setiap tempat yang dia datangi.


"Rasanya, tidak pernah Dik." Jawab si ibu sambil memperhatikan foto ukuran lima R itu. Foto nenek Cik Rumi yang memakai baju kurung, dan berhijab hitam.


"Oh, iya Bik." Sahut Pak Leban lesu. Sementara istrinya, Bibik Tara terus makan gado-gado. Dia kemudian meminta dibuatkan es jus mangga.


"Sulaisah, bikin jus mangga." Si ibu pedagang meminta anaknya yang gadis remaja membikin jus buah mangga. Anaknya tampak sibuk maen handphone di bangku papan beralas tikar plastik di ruang tengah warung.


"Siapanya Adik." Tanya si ibu, lalu mengembalikan foto pada Pak Leban.


"Dia ibu saya." Jawab Pak Leban.


"Sudah lama perginya." Tanya si ibu lagi.


"Sudah bertahun-tahun, Bu." Jelas Pak Leban.


"Kenapa tak lapor polisi, Dik." Ujar si ibu pedagang.


"Sudah ibu, bahkan berbulan-bulan mencari. Kami juga terus mencari sampai hari ini." Jawab Bibik Tara.


"Semoga ibu kalian cepat bertemu." Kata ibu pedagang gado-gado. Keduanya mengaminkan doa ibu itu.


Pak Leban dan istrinya pergi setelah membayar. Beberapa pelanggan ibu-ibu datang, lalu memesan gado-gado. Ada beberapa bapak-bapak datang masuk warung. Ada yang memesan kopi, gado-gado, lontong sayur, dan mie rebus plus telur. Mobil Pak Leban melaju dan menghilang di kelok jalan.


...*****...


Lampu merah menyalah, dan mobil-mobil berhenti. Sementara di lajur kanan lampu hijau menyalah. Kendaraan melaju dengan cepat seperti kawanan kerbau. Dua orang polisi tampak berdiri santai mengamati jalanan. Pak Leban dan istrinya dengan sabar menunggu lamu hijau menyalah. Tampak mobil-mobil telah bertumpuk di belakang mobil mereka.


"Aaahhhh." Bibik Tara terlalu kuat membuka bungkus sate. Sehingga ada beberapa tusuk sate terjatuh dan kua kacang sate tercecer. Pak Leban membantu membersihkan ceceran kua sate dengan tissue. Bibik Tara menunjuk-nunjuk beberapa tusuk sate yang terjatuh. Pak Leban merunduk mengambil tusuk sate terjatuh. Saat itulah, Nenek Cik Rumi dan Areha lewat di depan mobil mereka.


"Nek, beli di sana murah harga singkong dan buah pisang. Tapi sayang jauh tempatnya." Kata Areha. Nenek menggendong keranjang penuh singkong untuk buat keripik dagangan Areha. Areha menjinjing dua sisir pisang mentah.


"Iya, begitulah kalau berdagang. Biar jauh dan capek asal dapat bahan baku murah. Sehingga, dapat menjual harga murah juga, dan lancar dagangannya." Jelas nenek.


"Oh, begitu Nek." Areha baru tahu alasan nenek selalu mengajaknya mencari ubi dan pisang harga paling murah.


Keduanya lewat di antara mobil-mobil dan sepeda motor. Sesampai di trotoar seberang, mereka terus berjalan ke arah berlawanan dengan arah yang dilalui Pak Leban.


...*****...


Di kantornya, Pak Katara menikmati jam istirahat. Setelah makan siang dia duduk santai di kursi kerjanya. Menikmati alam sekitar kantor dan hilir mudik kendaraan di jalanan. Seorang OB datang masuk membersihkan meja Pak Katara.


"Tok.Tok. Tok." Pintu ruang kerja di ketuk.


"Masuk." Ujar Pak Katara tanpa menoleh, dia asik berselancar di internet dari smartphonenya. Semua media sosialnya dia buka. Pintu pun terbuka, dan sekretaris masuk.


"Maaf Pak, mengganggu." Kata sekretaris hormat. "Ada Pak Hadi, tiba di kantor." Lanjut sekretaris.


"Oh, iyalah. Persilakan dia masuk." Kata Pak Katara.


"Dia bersama Pak Leban dan sekarang sedang ke kamar kecil." Ujar sekretaris. Beberapa saat kemudian Pak Hadi dan Pak Leban masuk. Pak Katara duduk menunggu di kursi tamu.


"Kalian ini, tidak perlu minta izin segala. Tinggal buka saja ruangan saya." Ujar Pak Katara saat Pak Hadi dan Pak Leban duduk di kursi tamu ruangan kantor. Dia bangkit dan berjalan ke kursi tamu.


"Kalian dari mana?. Tanya Pak Katara sesaat dia sudah duduk.


"Kami keliling mencari ibu." Jawab Pak Leban, dengan lesu. Pak Katara terkejut, sudah sekian lama mereka kembali melanjutkan pencarian.


"Kalian mencari ibu kalian lagi. Setelah sekian lama berhenti. Itu berarti ada hal yang khusus." Tanya Pak Katara.


"Sebulan lalu, Aku bermimpi Ayah datang ke rumah. Dia mengadu padaku kalau ibu keras kepala sekali. Ibu ingin mewujudkan cita-cita ayah yang belum tercapai. Waktu Ayah masih ada, kebiasaan ayah menceritakan sesuatu padaku. Aku mengerti, itu berarti dia meminta Aku melakukan sesuatu. Atau dia meminta bantuan, dengan cara tidak langsung." Jelas Pak Leban.


"Kau cari tahu, apa yang menjadi cita-cita ayahmu yang belum tercapai itu." Kata Pak Katara. Mereka bertiga banyak berbincang tentang apa saja. Di sela-sela obrolan, Pak Katara memperlihatkan publikasi perusahaan saat launching perumahan elit mereka.


"Oh, ini perusahaan pers Apero Fublic itu. Bagus, iklan dan artikelnya." Ujar Pak Hadi sambil membuka website. Saat membuka website itu dia memperhatikan sebuah artikel Cerita Kita.


"Di Ujung Senja: Nenek CR Pahlawan Tanpa Jasa." Judul artikelnya, pak Hadi sangat penasaran dengan foto punggung nenek-nenek di artikel. Dia merasa tidak asing, tapi lupa siapa.


"Walau umur sudah di atas lima puluh tahun. Nenek CR tetap kuat merawat empat anak yatim-piatu. Sekarang dia datang ke sekolah untuk memasukkan kembali tiga anak yatim-piatu itu ke sekolah. Bagi nenek CR sekolah adalah hal yang sangat penting untuk masa depan mereka. Nenek sangat menginspirasi kami." Begitulah penggalan satu alenia artikel itu.

__ADS_1


*****


Salika duduk dengan tenang. Dia melihat kontrakan yang sederhana sekali. Sangat jauh dibandingkan dengan rumahnya dulu. Lantai kontrakan hanya semen tanpa keramik. Lantai rumah Salika terbuat dari granit licin. Tapi Salika melihat kehangatan dan kaaih sayang yang tulus. Dia melihat kekayaan dalam bentuk lain.


"Areha, Luran, Figan, ini kakak baru kalian. Namanya Salika, jangan nakal dan hormati dia. Seperti kalian menghormati kakak kandung kalian." Kata nenek.


"Iya Nek." Jawab Salika dan dua adiknya hampir bersamaan. Kemudian Areha memeluk Salika dengan hangat, Luran dan Figan meraih tangan Salika dan meletakkan di kening keduanya.


"Kopek, jangan nangis lagi ya." Ujar Figan yang polos. Salika mengangguk dan terharu melihat tiga kakak beradik yang baik. Aram tampak mulai mengkandangkan ayam-ayam miliknya.


...*****...


Lam dan Jum berjalan dari kontrakannya. Keduanya mau membeli paket data internet untuk maen game. Keduanya melirik kontrakan Aram. Saat itu tampak Aram sedang memberi makan ayam-ayam.


"Kukukrakikkk." Seekor ayam jago berkokok.


"Koyong, rembo sudah pulang." Ujar Areha.


"Iya sepertinya." Jawab Aram. Dia melihat ayam jago paling besar di antara ayam-ayam yang dia miliki. Memang ayam jago Aram itu sering tidak pulang ke kandang.


Sementara Jum dan Lam terus berjalan menuju konter pulsa milik anak ibu pemilik kontrakan.


"Banyak juga ayam anak itu." Ujar Jum.


"Iya, sepertinya." Jawab Lam.


"Rajin sekali dia merawat ayam-ayam miliknya." Ujar Lam. Keduanya tiba di konter dan membeli paket internet unlimited khusus main game online. Kalau dulu mereka di pecat dari tempat kerja karena keseringan main game. Sekarang mereka lupa mencari kerja karena main game.


...*****...


Siang pun berlalu, seiring sirnanya sinar matahari. Langit di upuk barat bagaikan di cat dengan tinta-tinta merah. Lalu gelap merayap dan bulan mengintip di balik awan kelabu tipis. Suara azan terdengar merdu. Dan kaum muslimin melaksanakan shalat isya.


"Surat pindah ayah sudah keluar. Tinggal manajemen perusahaan mengatur waktu perpindahan ayah." Kata ayah Yuzaka sambil menghirup teh manisnya. Canal televisi yang dia tonton menayangkan berita kasus pembunuhan berencana seorang anggota polisi. Kasus yang sangat memalukan institusi polisi. Sehingga tingkat kepercayaan masyarakat sangat rendah karena kejadian itu.


"Kalau bisa ayah harus minta penundaan sampai urusan sekolah Hapa dan Yuzaka selesai. Paling tidak selesai ujian akhir sekolah." Ujar ibu Yuzaka.


"Jadi Aku sendirian di Palembang." Ujar Gapa, dia duduk sambil membuka media sosial miliknya.


"Yuzaka, kapan kalian ujian akhir sekolah." Tanya ayah Yuzaka. Yuzaka diam beberapa saat lalu berkata. Mengatur nada bicara agar tidak diketahui kalau dia sedang bersedih.


"Dua Minggu lagi, setelah itu libur dan kelas meting." Ujar Yuzaka, dia tidak menoleh dan terus membaca buku modul sekolahnya. Dia mempelajari Sejarah Peradaban Islam di Indonesia.


"Iyalah, nanti ayah bicara sama manajemen perusahaan." Ujar ayah Yuzaka.


"Ibu, mpek-mpek masih ada, kalau tidak ada ibu bikin saja apa." Ujar Hapa sambil cengengesan, Gapa dan Ayah tertawa terbahak-bahak.


"Sekalian, Bu bikin air cuka yang enak." Sahut Gapa, lalu dia menjewer telinga Hapa. Hapa meringis dan menarik tangan Gapa.


"Aduuu." Jerit Hapa.


"Ahhhh, kakak malu-malu tapi doyan." Ujar Hapa. Ibu mereka tampak cemberut, tapi hatinya juga bahagia dapat memberikan sesuatu untuk keluarga yang sangat dia cintai. Dia bangkit dan membikin mpek-mpek dengan rasa lezat. Yuzaka datang membantu dan dia belajar membuat mpek-mpek ikan khas orang Sumatera Selatan.


"Krettt." Yuzaka menutup pintu kamar, dan merebahkan tubuhnya. Perlahan bayangan wajah sahabat dan teman-teman datang satu persatu. Di tempat baru dia akan memulai lagi dari awal. Berjumpa dengan orang-orang baru, dan mencari teman baru. Kemudian dia mengenang Aram, masa-masa sekolah. Teringat saat Aram membantunya diserang anjing jalanan. Entah mengapa dia begitu terharu dengan kejadian itu. Yuzaka begitu gelisah, lalu dia tergerak untuk membuka jendela kamarnya. Angin malam berhembus menerpa wajahnya. Kelap-kelip lampu-lampu menerangi jalanan.


"Oh, bulan penuh. Apakah malam ini bulan purnama." Kata Yuzaka, sambil menatap langit malam. Langit Indah sekali, bertabur bintang-bintang. Namun sayang, awan hitam datang berarak. Menutupi langit dan bulan menghilang. Bumi bagaikan kehilangan cahaya, seperti lampu yang padam.


...*****...


Malam itu, di rumah Paman Kino keadaan sunyi lengang. Anaknya sudah tidur nyenyak, sedangkan Pak Kino tetap terbaring. Dia hanya dapat melihat saja, tanpa dapat bergerak lagi. Tubuhnya lemah dan tidak ada daya lagi. Kakinya yang tertusuk besi behal bertambah bengkak dan bernanah.


"Istriku." Paman Pak Kino memanggil dengan nada lemah.


"Iya, ada apa kanda." Jawab istrinya.


"Minum." Ujarnya. Lalu istrinya memberikan minum dengan bantuan sendok. Sampai sepuluh sendok Paman Kino dapat mereguk air putih. Kemudian matanya kembali memejam. Bibik Sulak menggenggam erat tangan suaminya. Lalu mata melihat anak mereka yang tertidur pulas.


"Uhukkk. Uhukkk." Bibik Sulak terbatuk-batuk, dan semakin keras. Dia bangkit dan pergi ke arah jendela kamar. Pintu dia buka, dan meludah ke luar. Gumpalan darah terjatuh di tanah dan dadanya terasa sangat nyeri sekali. Nafasnya sesak dan pandangan berkunang-kunang.


Bibik Sulak melihat jalanan mulai sepi. Hanya sesekali saja ada kendaraan melintas. Bibik Sulak melihat bulan yang bercahaya penuh. Bintang-bintang bertaburan di sekeliling bulan. Air mata Bibik Sulak meleleh di pipinya. Jatuh perlahan tepat di dua tangannya yang memegang kusen jendela.


"Ya Allah, Aku relah pergi ke sisimu. Aku rhido apabila kau menjemput suamiku. Tapi, Aku titipkan anak-anak kami padamu. Pertemukan keduanya dengan manusia-manusia baik dan menyayangi mereka dengan tulus dan ikhlas." Kata hati Bibik Sulak. Lama dia memandang bulan dan bintang-bintang.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian angin berhembus kencang, menggoyangkan dedaunan. Awan hitam berarak terus dan menutupi langit laman. Bulan menghilang dan langit menjadi gelap gulita.


...*****...


Malam itu juga, Salika susah memejamkan matanya. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Aram, Luran dan Figan telah tertidur nyenyak di ruang depan. Di ruang tengah Areha juga tertidur nyenyak. Nenek belum tidur, dia menyiapkan bahan untuk jualan kue besok pagi.


"Nenek, belum selesai." Tanya Salika pada nenek. Nenek menoleh ke samping dan tersenyum.


"Hampir selesai, mpek-mpek dan yang lainnya siap di goreng. Jawab Nenek. "Kenapa belum tidur, Salika." Tanya Nenek.


"Belum, susah tidur. Nenek mau Salika bantu." Kata Salika.


"Sudah, kau tidak boleh capek. Kasihan dedek bayi. Ini tinggal yang ini saja." Kata nenek menujuk beberapa potong kue.


"Salika boleh duduk di luar sebentar." Tanya Salika. Nenek menatap Salika dalam-dalam. Dia menangkap kalau Salika sedang resa.


"Boleh, tapi kau pakai baju tebal ya. Nanti masuk angin." Kata Nenek. Lalu Salika bangkit dan membuka pintu. Dia duduk di teras kontrakan. Memandang sekitar dan memandang langit malam yang cerah. Bulan tampak bulat penuh. Bintang bertaburan menemani bulan.


Salika perlahan terbawah kenangan masa lalunya. Mulai dari wajah Ayah, Ibu dan sahabatnya. Kemudian kenangan manis dan pahit mengingat Dehan. Air mata Salika beruraian. Penyesalan yang tidak ada artinya lagi. Yang paling menyakitkan hatinya adalah, tidak mematuhi nasihat ibunya. Bahkan dengan kurang ajar dia melawan ibunya. Betapa bodoh dirinya lebih percaya kata-kata orang lain yang bukan siapa-siapa baginya.


Dehan tidak melahirkan dirinya, tidak menyekolahkan dirinya, tidak merawat dan memberinya makan, tidak membesarkan dirinya. Dehan hanya sengan modal kata-kata gombal saja, dirinya malah memberikan segalanya. Sampai akhirnya dia hancur-sehancurnya.


"Hu. hu. hu. hu. Andai waktu bisa kembali, Aku akan mematuhi ibu dan menjadi gadis yang baik dan menjaga kehormatan diriku. Ibu. Ibu. Ibu. Maafkan Aku." Kata Salika perlahan. Tiba-tiba tangan nenek memeluknya dan membelai rambutnya. Ternyata Salika tidak tahu nenek mendatanginya. Salika menangis dalam pelukan nenek. Dia melepaskan semua perasaannya dan tekanan batinnya.


Angin datang berhembus kencang. Membawa awan hitam dan menutupi langit. Cahaya bulan padam dan bumi dalam kegelapan.


"Menangislah, tumpahkan semua air matamu. Habiskan semua sesal dan keluh kesah hidupmu. Agar besok kau tersenyum, dan melihat jalan yang baru. Kau hidup di masa sekarang dengan tujuan masa depan. Jadi masa lalu jangan pernah kau datangi lagi. Salika, dengarkan kata nenek." Ujar nenek sambil memeluk dan membelai rambut Salika.


*


Bulan yang padam.


Langit pun menghitam.


Bintang pun telah pergi.


Bumi gelap dan gulita.


Bagaikan di telan zaman.


Aku menangis.


Seperti rintik malam ini.


Bunyi hatiku yang menjerit.


Bagaikan rintik menimpa atap.


Jerit takdir dan deritaku.


Bagaikan langit terusir oleh awan.


Yang di hembus angin malam.


Tak ada yang tahu.


selain Aku.


Yang merasakan.


Malam.


Dalam relung mataku.


Dalam nafasku.


Harapan dan mimpi yang hilang.


Seperti bulan yang padam.


*****

__ADS_1


__ADS_2