Kedipan Dikalah Senja.

Kedipan Dikalah Senja.
Adik Bayi


__ADS_3

SATU MINGGU BERLALU.


*


Pagi yang cerah, tampak rona merah di upuk timur. Matahari sedang bersiap-siap dengan tugasnya. Aram memberi makan ayam-ayam peliharaannya. Setelah itu Aram segera berangkat mencari barang bekas. Aram menggantungkan bekalnya di dinding gerobak. Persis seperti yang ayahnya lakukan dulu. Terkadang Aram teringat dengan Ayahnya. Bagaimana dulu bekal ayahnya masih tergantung di gerobak saat dia meninggal dunia di bunuh perampok.


"Nenek, Kopek, Aram pergi mencari barang bekas dulu." Kata Aram pada Nenek dan Salika yang sedang menyapu lantai. Luran dan Figan tampak masih tertidur.


"Iya Aram, hati-hati. Pulang jangan terlalu soreh." Ujar Nenek, Salika tersenyum pada Aram sambil mengangguk. Nenek sedang mengemas dagangan kuenya. Aram mengucapkan salam dan berangkat. Sepanjang jalan terdengar suara-suara benturan ban gerobak pada lobang-lobang jalan.


"Grudukk. Grudukk." Bunyi gerobak Aram.


Sementara di rumah, nenek siap berangkat. Memasang gendongan bakul dan menjunjung wadah kue lebar.


"Aduuuhhh." Keluh Salika, dia tampak bersandar pada dinding dan memegangi perutnya.


"Kamu kenapa Lika." Ujar Nenek. Salika diam beberapa saat dan perutnya baikan lagi.


"Tidak apa-apa Nek. Mungkin Lika mau buang air besar." Ujar Salika, lalu meneruskan menyapu lantai.


"Oh, syukurlah kalau begitu. Kau jangan terlalu capek, siang banyak istirahat. Tapi Salika juga harus sering jalan-jalan. Bagus untuk usia kandungan sepertimu." Kata Nenek, dia kemudian melangkah keluar sambil menjunjung dagangan di atas kepala. Salika mengantar ke depan pintu. Suasana masih temaram, jalanan masih sepih. Nenek mengucapkan salam, dan berangkat berdagang.


"Kue. Kue. Sarapan pagi, sarapan pagi." ujar nenek sepanjang jalan.


"Aduuuhhh." Ujar Salika lagi, dia merasakan sakit di perutnya. Dia kembali duduk dan beberapa saat kemudian perutnya baikan lagi. Salika menyelesaikan menyapu lantai, dia menyelimuti Luran dan Figan yang masih tertidur pulas. Kemudian dia mencuci piring, dan sakit perut seperti tadi kembali datang. Salika merasa aneh, dia mandi dan mencuci. Saat mandi juga beberapa kali rasa sakit berulang-ulang.


"Kopek, kenapa." Tanya Areha saat melihat Salika meringis kesakitan keluar dari kamar mandi. Salika bilang dia sakit perut. Setelah memakai gamis hitam dan hijab hijau muda yang dikasih nenek. Salika kemudian menjemur pakaian. Salika buru-buru, karena dia ingin segera berbaring.


"Kopek, pakaian kotor biarlah Areha yang mencuci. kopek jangan capek, nanti sakit." Kata Areha.


"Tidak apa, hanya mencuci saja." Kata Salika, dia merasa tidak enak kalau hanya makan tidur. Beberapa saat setelah menjemur pakaian.


"Salika, sudah mandi dan mencuci." Tanya Bibik Tuyi, dia menjinjing kantong plastik berisi sampah menuju bak sampah.


"Iya Bik." Jawab Salika, sambil menahan sakit. Bibik Tuyi melihat wajah Salika yang pucat. Bibik Walah ke depan, menggantung pakaian yang belum kering kemarin. Bibik Walah melihat Salika yang buru-buru masuk sambil menjinjing ember dan baskom. Setelah meletakkan ember dan baskom, Salika berbaring di sisi dinding beralas tikar. Areha sedang sarapan melihat Salika yang meringis kesakitan. Dia tampak gelisah, kadang tenang, kadang bergerak bolak-balik.


"Kopek kenapa. Apa kopek masuk angin, mau Areha kerok." Tanya Areha, dia duduk di sisi Salika sambil makan mpek-mpek dan cuka. Salika hanya menggeleng, dia memejamkan matanya.


...*****...


Riha berangkat kerja, tampak sudah rapi dengan baju khas indomaret. Mengunci pintu dan memasang sepatu. Paman Yuro mengeluarkan sepeda motor dan dua anaknya juga sudah berseragam sekolah dasar mengikuti keluar. Bibik Tuyi berdiri di teras, dua anaknya mencium tangan Bibik Tuyi.


"Ayo, ayah sudah menunggu." Ujar Bibik Tuyi. Dia membantu anak bungsu naik ke atas motor.


"Bu, kami berangkat ya." Ujar Paman Yuro, kemudian dia berangkat kerja sambil mengantar anaknya sekolah. Riha mulai naik motor dan memanggil Bibik Tuyi.


"Kerja Bik." Kata Riha.


"Iya Riha, kerjalah sebelum kerja itu dilarang seperti bibik." Sahut Bibik Tuyi sambil tersenyum. Riha tertawa, lalu berangkat kerja. Maksud Bibik Tuyi perempuan sering kehilangan kesempatan kerja saat dia telah menikah karena ikut suami dan mengurus keluarga.


...*****...


Pak Leban dan dua orang adiknya berjumpa di sebuah tempat makan di taman wisata Benteng Kuta Besak Kota Palembang. BKB istilah masyarakat Kota Palembang menyebut tempat wisata itu. River Side nama cafe yang mereka datangi. View mereka Jembatan Ampera, Sungai Musi, dan kapal-kapal hilir mudik di sungai. Pengunjung tempat wisata hilir mudik, ada yang berfoto-foto di dekat tugu ikan belida. Kapal ketek tampak berayun-ayun menjual mpek-mpek dan makanan ringan.


Ketiga kakak beradik itu semuanya baru pulang dari kerja. Bermusyawarah bagaimana cara menemukan ibu mereka. Pak Leban benar-benar serius ingin mencari ibunya lagi sampai bertemu. Dalam percakapan ketiganya sepakat.


"Baiklah, kalau koyong benar-benar yakin Umak masih hidup. Kita cari sampai bertemu." Ujar Paman Barda, dia setuju dengan kakaknya.


"Baiklah, Aku juga setuju." Sahut Zeta, menanggapi perkataan dua kakaknya.


Dua orang waiters datang membawa pesanan mereka. Minuman jus buah, nasi ikan sambal dan pindah tulang. Mereka berbincang-bincang bagaimana cara agar dapat menemukan ibu mereka. Pak Leban juga bercerita tentang mimpinya. Walaupun sebelumnya dia sudah bercerita melalui handphone.


Dia juga memberi tahu kalau sudah sebulan lebih dia mencari seorang diri. Kadang ditemani istrinya. Kadang di temani Pak Hadi, adik iparnya.

__ADS_1


Pak Leban berhasil meyakinkan kedua adiknya kalau ibunya masih hidup. Mereka berbagi arah dan wilayah di dalam Kota Palembang mencari sang ibu. Kesepakatan mereka, setiap hari Sabtu dan Minggu akan mencari ibu mereka, Nenek Cik Rumi.


Seiring waktu, sinar matahari terus condong ke barat. Lalu menimpa permukaan sungai Musi dan Jembatan Ampera. Tampak cahaya kuning redup memapar permukaan sungai.


...*****...


Nenek tiba di kontrakan pukul lima sore. Saat dia masuk mendengar suara erangan kesakitan Salika. Areha tampak menangis di sisi Salika. Areha khawatir dan takut karena Salika sakit perut dari siang. Salika dan Areha tidak mengerti mengapa perut Salika terus sakit. Luran dan Figan hanya duduk bersandar memperhatikan Salika. Keduanya ingin membantu tapi tidak tahu apa yang harus diperbuat.


"Assalamualaikum." Terdengar suara dari lorong pintu kontrakan.


"Nenek, kopek sakit perut." Ujar Figan saat melihat nenek masuk ke dalam kontrakan. Nenek terkejut dan dia mulai mengerti. Sakit perut Salika dari pagi pertanda dia akan melahirkan. Nenek bergegas, dia meletakkan bakul dan wadah kue. Lalu menghampiri Salika yang terbaring sambil bolak-balik.


"Aduuuhhh." Desah mulut salika sambil memejamkan matanya.


"Salika, sudah lama sakitnya." Tanya nenek, lalu nenek menyentuh perut Salika yang hamil besar.


"Rasa sakit yang kuat sejak tengah hari tadi, Nek" Ujar Salika.


"Kau mau melahirkan, sepertinya." Kata nenek.


"Benarkah Nek, Salika tidak tahan lagi Nek. Sakit sekali rasanya." Ujar Salika.


"Sabar, ayo kita ke ruma ibu bidan." Kata nenek, lalu dia membantu Salika bangkit. Salika terus mengerang dan bangkit perlahan di bantu Nenek.


"Nenek Salika kenapa." Tanya Bibik Walah, saat melihat nenek memapah Salika keluar kontrakan.


"Sepertinya dia akan melahirkan, ini mau ke rumah ibu bidan." Jawab nenek, Bibik Walah kasihan pada nenek. Tenang nenek lemah karena sudah tua dan capek.


"Junka, jaga Deak. Ibu mau mengantar Salika ke rumah ibu bidan." Ujar Bibik Walah, Junka mengiakan. Areha keluar dari dalam Kontrakan dan menjinjing tas berisi pakaian dan kain. Figan dan Luran tampak memperhatikan dari lorong pintu. Menjelang magrib Aram baru pulang. Figan dan Luran menceritakan kalau Salika akan melahirkan. Setelah shalat isyah Aram juga menyusul ke rumah ibu bidan. Rumah ibu bidan tidak jauh, hanya dua blok perumahan dari kontrakan Aram. Memang mereka sudah tahu rumah bidan, karena sudah beberapa kali berobat.


...*****...


Ibu bidan mulai memeriksa Salika. Mulai dari tekanan darah dan kesehatannya. Dua perawat juga mendekat, mereka mempersiapkan alat-alat, terutama kaos tangan.


"Kalau mulai sakit dari pagi. Saya pikir cuma sakit perut saja. Sesekali sakit, sudah itu berhenti dan sakit lagi. Semakin siang dan sampai sore bertambah sakit." Jelas Salika sambil meringis. Ibu bidan mengerti dan menjelaskan kalau Salika akan melahirkan. Waktu pagi Salika mulai bukaan pertama kata ibu bidan. Saat diperiksa ibu bidan, Salika sudah masuk bukaan empat. Masih ada enam bukaan ibu bidan menjelaskan. Maka Salika harus sabar.


"Anakmu, sepertinya laki-laki. Sulit dan lama sekali proses bukaannya." Ujar nenek.


"Iya sepertinya." Sahut Bibik Walah.


"Aduuuhhh." Ujar Salika, nenek memijit punggung dan Bibik Walah menggosok pundak Salika. Areha duduk diam memperhatikan. Semua menunggu sampai Salika memasuki bukaan sepuluh. Menjelang subuh baru Salika melahirkan.


"Aduuuhhh." Jerit Salika tak pernah berhenti, dan tangan tidak pernah diam. Ibu bidan terus mengajari Salika. Salika menjerit, sambil mengejan dan akhirnya anaknya lahir dalam perjuangannya.


"Tarik nafas, Dorong. Dorong trus." Begitulah ibu bidan mengajarkan Salika. Salika menarik nafas kemudian mengejan perlahan. Beberapa kali dia lakukan terus. Bukan main sakitnya, air mata Salika berurai.


"Ibu. Ibu. Ampunilah Aku ibu." Itulah jeritan yang keluar dari mulut Salika saat anaknya hampir lahir. Nenek dengan sabar memangku Salika dan membelai rambutnya. Tangan Salika memegang besi pembaringan dengan kuat. Salika menahan rasa yang amat sakit saat proses melahirkan. Terutama saat kepala bayinya masih tersumpal di ***********.


"Sedikit lagi, sedikit lagi." Semua berkeringat dingin menanti lahirnya. Lalu, barulah bayi Salika dapat dia lahirkan.


"Uuuwwwaaaaaa." Salika menjerit panjang. Darah membanjiri alas berupa karpet plastik. ******** Salika robek dan air mata berlinang deras. Rasa sakit yang amat sangat tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata.


"Eakkkkk. Eeaaakkkk." Bayi laki-laki Salika menangis. Semua tertawa bahagia bayinya lahir selamat.


Salika menatap lesu bayinya di gendongan ibu bidan. Dua perawat mengurusi bayi, memandikan dan memasang kain. Salika masih merasakan sakitnya, saat ibu bidan dan seorang bidan muda menjahit ***********. Pengalaman yang menyakitkan dan membahagiakan. Takkan terlupakan dalam hidupnya.


Sekarang mata Salika terbuka, cinta dan hayalan yang dia mimpikan selama ini tidak ada di dunia nyata. Inilah hasil kenakalan selama ini. Apa yang ibunya katakan dan nasihat-nasihatnya sekarang semua terbukti. Salika benar-benar terpukul, namun semua sudah terlambat.


Sekarang tinggal dirinya melakukan perbaikan pada jalan hidupnya. Cinta bukan permainan kata-kata, tapi kesungguhan dan tanggung jawab. Cinta bukan ****, bukan pula perhatian dan keromantisan. Tapi, cinta adalah pengertian dan kebersamaan.


...*****...


"Bibik, di mana suami Salika." Tanya Ibu bidan. Salika tidak mendengar pertanyaan ibu bidan. Karena mereka berada di ruangan obat. Nenek menatap ibu bidan dalam-dalam. Nenek meminta bicara berdua saja. Lalu ibu bidan mengajak masuk ke dalam ruangan kerja bidan. Duduk di kursi di hadapan meja kerja.

__ADS_1


"Maaf ibu bidan, saya mau bercerita sebentar. Tapi ibu bidan harus merahasiakan dan tidak bertanya pada Salika siapa ayah anaknya." Kata nenek.


"Baiklah Bik." Ujar bidan berumur empat puluhan tahun itu. Tubuhnya gemuk berisi, tinggi badan sekitar 169 sentimeter. Berkulit putih dan berambut panjang. Dia tidak berjilbab karena tidak ada laki-laki dewasa. Nenek menceritakan semua tentang Salika. Mendengar itu ibu bidan menjadi prihatin dan sedih. Dia pun mengerti maksud nenek.


"Baiklah kalau begitu Bik. Untuk membuat keterangan lahir, tanyakan padanya, dibuat nama siapa." Kata ibu bidan. Ibu bidan ingin menjaga perasaan Salika. Tapi keterangan lahir diperlukan untuk administrasi penduduk, dan identitas anak yang nantinya diperlukan saat sekolah.


"Duk. Duk. Duk." Suara beduk terdengar, kemudian terdengar suara azan Subuh.


"Sudah subuh." Kata mereka, Aram tampak masih tertidur di tikar di ruang depan rumah ibu bidan. Dua perawat keluar masuk, Salika terbaring lemah dan infus tergantung di sampingnya. Areha membangunkan Aram, dia diminta untuk mengumandangkan azan di telinga bayi anak Salika. Aram mengazakan perlahan di telinga kiri dan kanan bayi.


"Adik bayi." Panggil Areha pelan, bayi Salika sudah mulai belajar minum air asi.


...*****...


"Biaya persalinan Salika satu setengah juta. Tapi ibu bidan minta dibayar satu juta saja. Dia membantu kita, membayarnya juga tidak perlu tergesa-gesa kata ibu bidan." Ujar nenek pada Aram di pagi itu.


"Aram sudah dari tadi memikirkan biaya persalinan kopek. Bagaimana kalau kita jual ayam Aram lagi." Kata Aram, nenek diam beberapa saat.


"Kamu ikhlas Aram, ayam kamu di jual lagi." Kata nenek.


"Ikhlas Nek. Aram teringat dengan kakak AF yang memberikan ayam itu. Dia membeli ayam itu dari seorang ibu-ibu yang sedang kesusahan. Anak ibu itu sakit dan suaminya belum pulang ke kota. Jadi dia tidak punya uang mengobati anaknya. Kakak itu membeli karena dia ingin membantu. Lalu ayam itu dia berikan pada Aram. Ayam itulah yang sekarang menjadi banyak. Aram belajar dari kakak itu. Jadi Aram ikhlas dan ingin menjadi seperti kakak itu." Kata Aram.


"Kau memang anak yang baik dan hatimu bersih Aram. Nenek bangga padamu. Ayah dan ibumu beruntung punya anak seperti kamu. Keduanya juga bangga padamu. Kalau semua gadis di dunia ini mengetahui hatimu. Pasti semuanya akan jatuh cinta padamu." Kata nenek.


"Nenek, jangan memuji." Ujar Aram sambil tersenyum.


"Sekalian kita belikan alat-alat bayi, Aram." Kata nenek.


"Iya Nek." Sahut Aram. "Kopek sudah punya nama untuk adik bayi." Tanya Aram lagi. Lalu dia menghirup teh manis hangat-hangat kuku.


"Belum, nanti kita tanyakan." Ujar Nenek.


Diam-diam Salika mendengar percakapan Nenek dan Aram. Salika terharu dan matanya berkaca-kaca. Dia benar-benar menyadari kalau hidupnya bukanlah siapa-siapa. Demikianlah, Salika pun akhirnya menjadi rendah hati dan lembut. Keindahan hidup ternyata terletak pada kebaikan hati.


...*****...


"Karena ayam cukup banyak, jadi sewa tempat menjadi dua ratus ribu, Uwa." Ujar security pasar pada nenek. Nenek terkejut setengah mati. Bagaimana mungkin dia berdagang satu hari saja sewanya sampai dua ratus ribu rupiah. Sedangkan sewa lapak untuk satu bulan hanya tiga ratus ribu rupiah.


"Aduh, kok mahal sekali Dik." Ujar nenek.


"Memang begitu Nek, sudah aturannya dari pimpinan saya." Kata security itu. Nenek melirik Aram, dan Aram begitu bingung. Aram tahu kalau security itu membodohi mereka. Memanfaatkan kesusahan hidup mereka. Kalau mereka menolak, maka sulit mencari lokasi yang baik untuk menjual ayam-ayam Aram. Sedangkan kebutuhan mendesak, nenek akan membeli pakaian dan perlengkapan bayi Salika. Juga untuk membayar biaya persalinan Salika. Aram berpikir sejenak, dan nenek menunggu keputusan Aram.


"Iya, tidak apa Nek." Ujar Aram. Nenek menarik nafas dalam-dalam, jauh di dalam hatinya mendongkol atas perbuatan security pasar itu. Mereka menjual tiga puluh ekor ayam Aram.


Setengah dari ayam peliharaan Aram telah di jual dalam bulan ini. Aram sedih, cita-citanya ingin menjadi peternak ayam kampung sepertinya tidak akan terwujud. Apabila ayam-ayam miliknya terus di jual. Tapi apa mau dikata, karena kebutuhan sudah mendesak. Mereka berjualan sampai pasar tutup. Alhamdulillah, menjelang sore semua ayam-ayam Aram terjual.


"Ha. ha. ha." Tawa dua security pasar.


"Lancar terus." Ujar salah satunya, kemudian mengipas-ngipaskan uang lembaran seratus ribu di wajah mereka. Aram dan nenek pulang, keesokan harinya nenek belanja pakaian dan alat-alat bayi Salika. Malamnya mereka berkumpul di sekitar bayi Salika.


"Tandrun." Kata Salika, memberi tahu nama anaknya pada semuanya. Nenek, Aram, Areha, Luran dan Figan gembira. Semua menyayangi Salika dan anaknya. Mereka mulai memanggil-manggil anak Salika.


"Andru." Panggil Areha. "Kita panggil Andru saja ya." Saran Areha, semua setuju. Dari luar terdengar suara ramai sekali. Ternyata Ibu pemilik kontrakan, beberapa ibu tetangga, Bibik Walah, Bibik Tuyi, Riha, Deak, Junka, datang menjenguk bayi anak Salika. Semuanya membawa hadiah, ada yang memberi hadiah pakaian, uang, alat mandi bayi, dan deterjen. Salika sekarang merasakan bahagia hidup berkeluarga. Saat dia memandang bola mata anaknya, hati Salika menjadi bahagia. Semangat hidupnya bertambah besar. Dia bertekad akan menjaga dan membesarkan anaknya.


...*****...


Suatu malam hujan sangat deras. Dari sore hingga menjelang siang besoknya. Hampir seluruh Kota Palembang tergenang air. Rawa-rawa melimpah ruah, sungai-sungai mengalir deras.


Sementara itu, seekor buaya muara sungai Banyuasin menjelajahi sungai-sungai dan rawa-rawa. Sungai Banyuasin memang banyak buaya sungai yang ganas.


Buaya itu, selama hujan deras dan saat banjir melipah ruah, terus menjelajah berenang tanpa arah. Sehingga buaya itu tersesat jauh dari sarangnya.


Buaya itu akhirnya tiba di sebuah rawa-rawa di tepi Kota Palembang. Hujan pun berhenti dan air semakin surut. Sehingga buaya itu tidak dapat pergi kembali ke sarangnya. Maka buaya itu, tetap tinggal di dalam rawa-rawa yang terletak di sisi jalan raya.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2