Kedipan Dikalah Senja.

Kedipan Dikalah Senja.
Pencuri Ayam


__ADS_3

Jum dan Lam masih belum mendapatkan pekerjaan. Uang mereka sudah kembali habis. Keseharian waktu keduanya dihabiskan bermain game. Mereka sesungguhnya malas mencari pekerjaan. Sekarang keduanya berpikir bagaimana mencari uang. Yang cepat dan mudah.


"Bagaimana, beras kita sudah habis." Ujar Jum sambil maen handphone.


"Iya Aku juga berpikir, satu Minggu lagi kita akan bayar kontrakan." Sahut Lam.


"Rokoknya bagi dua." Ujar Jum, saat melihat Lam mengambil rokok yang tinggal sebatang.


"Nanti Aku hisap dulu." Kata Jum.


Entah apa yang mereka pikirkan. Namun untuk mencari uang tidak ada pekerjaan. Kecuali mencari uang dengan cara yang tidak halal.


...*****...


"Koyong, Rembo tidak pulang lagi sore ini." Kata Luran, dia menutup pintu kandang ayam. Nama Rembo diambil dari film Upin dan Ipin, ayam jago milik Atok Dalang. Sementara Figan sibuk menangkapi anak-anak ayam dan dia masukkan ke dalam kotak papan. Figan tampak kesal saat beberapa anak ayam melompat lagi ke atas dinding kotak.


"Ciap. ciap. ciap." Anak-anak ayam berbunyi ramai.


Aram melihat semua ayam sudah di dalam kandang. Yang besar, yang kecil sudah di dalam kandang semua. Aram menengok di sisi kandang. Dimana tergantung tiga sangkak tempat ayam betina bertelur. Ketiga sangkak ada telur ayamnya. Aram senang melihat ayamnya akan bertambah lagi. Mengganti yang sudah di jual beberapa waktu lalu.


"Kemarin tidak pulang juga Rembo." Tanya Aram.


"Iya Koyong, tak pulang juga. Mungkin dia pacaran." Jawab Figan dengan polos.


"Ha. ha. ha." Aram dan Luran tertawa mendengar kata-kata Figan. Tampak di bawah lantai kandang, ada sebuah lempengan batu. Seekor induk ayam merekupi anak-anaknya.


"Induk ayam itu tidak pernah di kandang kak. Selalu tidur di situ." Ujar Luran. Mereka khawatir nanti induk dan anak ayam itu dimangsa tikus atau ular. Namun mereka juga sulit menangkapnya karena terhalang dinding kandang ayam.


"Dukk. Dukkk. Dukkk." Suara beduk, kemudian dilanjutkan suara azan. Aram, Luran dan Figan segera masuk kontrakan. Luran dan Figan mandi membersihkan tubuh. Setelah itu keduanya berangkat ke masjid. Aram mandi, membersihkan tubuhnya. Setelah itu dia wudhu dan shalat. Tampak Nenek, Salika, dan Areha selesai shalat berjamaah. Salika dan Areha mencium tangan nenek.


"Aram, ayo kita makan bersama." Ajak nenek, sedang Areha menjaga bayi Salika agar tidak digigit nyamuk. Salika menghidangkan makanan. Aram mengiakan dan mereka makan bersama. Sebelum waktu shalat insya Areha pergi ke masjid bersama Junka belajar mengaji.


...*****...


Malam itu gelap, tanpa rembulan dan bintang. Angin malam berhembus menggoyangkan dedaunan pepohonan. Suara jangkrik terdengar diselingi suara katak memanggil hujan. Waktu menunjukkan pukul satu, malam. Semua orang terlelap tidur nyenyak. Terdengar suara tangisan anak Salika. Salika bangun dan mengganti kain anaknya yang basah oleh air kencing bayinya.


"Anak ibu, jangan nangis." Ujar Salika, setelah selesai mengganti pakaian bayinya, dia memberi anaknya asi. Salika melihat nenek dan Areha tertidur pulas di sebelahnya. Saat memandang anaknya, Salika mengingat Dehan yang telah menghamilinya dan mencampakkannya. Dia juga ingat ibunya, yang selalu menasihati.


"Ibu, maafkan Salika. Salika mohon, ibu." Kata lirih dari mulutnya. Air matanya menetes membasahi bantal bayinya. Rasa sakit hati Salika, terobati saat dia memandang bola mata anaknya. Rasa sayang dan cintanya terus bertumbuh pada anaknya. Salika benar-benar tidak menyangka kalau Dehan selama ini hanyalah mempermainkannya.


"Keeookkkk. Keeookkkk." Terdengar beberapa kali suara ayam Aram. Setelah itu, kembali sunyi. Salika pun tertidur bersama bayinya.


Sementara itu, dua sosok tampak sibuk di sekitar kandang ayam Aram. Dua sosok itu menangkapi satu demi satu ayam Aram.


"Potong." Ujar salah satunya, sambil memegang ayam kuat-kuat. Sementara satunya memotong leher ayam dengan pisau. Setelah ayam mati, dia memasukkan ke dalam karung goni. Hal itu, mereka lakukan berulang-ulang sampai ayam di dalam kandang ayam habis. Ada juga ayam yang masih agak kecil. Tidak mereka potong, hanya dimasukkan kedalam kotak kardus perlahan. Sehingga tidak ada suaranya. Beberapa jam kemudian mereka pergi meninggalkan kandang ayam Aram yang sudah kosong.


...*****...


Sepeeti biasa, kalau bangun masih pagi. Aram akan memberi makan ayam-ayam terlebih dahulu sebelum berangkat mencari barang bekas. Dia membawa pakan ayam, terdiri dari campuran jagung dan beras. Kalau siang, ayam Aram diberikan nasi yang dicampur air saja. Kalau siang Areha, Figan dan Luran memberikan makan ayam. Aram benar-benar serius ingin menjadi pengusaha ternak ayam kampung. Dia selalu menyisihkan uang penjualan barang bekas untuk membeli pakan ayam.


Aram tiba di dekat kandang ayamnya yang lebar memanjang. Tapi kali ini dia terkejut dan dadanya bergemuruh. Kandang ayam sepi, tidak ada ayam lagi. Dia hanya melihat satu induk ayam yang nakal. Induk ayam itu selalu tidur di bawah kanda beralas lempengan bekas beton bangunan. Ada delapan anak ayam itu. Sementara seluruh ayam di kandang habis. beberapa pintu kandang terbuka.


"Darah." Kata Aram terkejut, saat dia melihat ke samping kandang banyak sekali darah. Ayam yakin kalau itu darah ayamnya yang di curi orang.


"Kreettt." Aram membuka pintu kotak wadah anak ayam yang baru menetas. Tidak ada induk ayam lagi. Hanya tinggal anak-anak ayam kecil. Aram menarik nafas dalam, dan duduk bersandar pada dinding kontrakan. Pakan ayam terlepas dari tangannya. Aram begitu sedih menyadari kalau semua ayamnya telah habis dicuri.


"Yaah Allah, mengapa hidupku begitu tidak beruntung." Kata hati Aram, dia tampak duduk merenung.


...*****...


Nenek sudah selesai memasak, dan shalat subuh. Nenek bermaksud mengajak Aram sarapan. Lama dia menunggu Aram di hadapan hidangan sederhana.

__ADS_1


"Nek, kenapa belum sarapan." Tanya Salika, dia keluar dari kamar mandi. Salika wudhu, dia agak telat shalat subuh. Karena bayinya bangun dan lama makan asi.


"Nenek menunggu Aram, dia sedang memberi makan ayam." Kata nenek. Nenek memutuskan untuk memanggil Aram. Dia keluar dan menengok ke samping kontrakan.


"Aram, kalau sudah memberi makan ayam. Mari kita sarapan." Kata nenek.


"Nenek duluan saja, nanti Aram menyusul." Kata Aram lesu. Nenek melihat pakan ayam tergeletak di tanah. Saat nenek melihat ke sekeliling kandang dia melihat hamparan cairan merah. Nenek merasa curiga dan dia mendekati. Sekitar kandang juga sepi, tidak terlihat ayam berkeliaran seperti biasa.


"Darah." Ujar nenek terkejut, dia mencium bau amis. Saat memperhatikan kandang ayam, tampak kosong. Nenek menarik nafas dalam, sambil mengucapkan, Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un.


"Ya Allah, ada orang yang tega pada kami. Ayam usaha anak kecil yang sudah yatim-piatu. Masih ada orang yang tega." Kata nenek lirih, air matanya memercik. Nenek kasihan sekali pada Aram. Sambil memandang Aram, nenek teringat kata-kata Aram dua tahun lalu.


"Nek, Aram ingin membangun usaha peternakan. Aram akan menjadi pengusaha ekspor impor daging ayam kampung." Kata Aram. Saat itu, mereka masih tinggal di hutan tepi kota. Lalu nenek menghampiri Aram.


"Kamu sabar Aram, kalau kamu sabar dan rhidah atas kehilangan ayam ini. Allah akan menggantikan yang hilang dengan yang lebih banyak dan lebih baik." Ujar nenek.


"Iya Nek. Aram ikhlas dan akan memulai lagi dari awal." Ujar Aram lesuh dan tidak semangat.


"Kamu memang hebat Aram, tak patah arang." Kata nenek, air mata nenek tidak lagi terbendung. Usaha dan jerih payah Aram bertahun-tahun sekarang habis semalam.


"Uukkuuuhhhhkkkkkk." Terdengar kokokan ayam jantan besar. Aram melihat ke samping kontrakan di antara semak kecil di tepi lapangan yang banyak dedaunan kering.


Ternyata Salika, Luran, Figan dan Areha mendengar kata-kata nenek menasihati Aram. Sehingga mereka berempat keluar dan ke samping kontrakan.


"Remmmbbooo." Kata Figan gembira sekali. Sudah tiga hari ayam jantan mereka tidak pulang. Ayam jantan tampak berkais, lalu memanggil ayam betina yang masih merekupi anak-anaknya. Mendengar panggilan ayam jantan. Induk ayam dan anaknya pergi mendekati ayam jantan itu.


Anak-anak ayam tampak sibuk mematuk serangga kecil. Hati Aram sedikit terhibur melihat ayam jantan kesayangannya pulang. Dia sekarang mengerti mengapa induk ayam itu tidak mau di kandang. Mungkin ayam itu tahu, kejahatan manusia lebih buruk dari perbuatan pemangsa. Dari ayam jantan dan ayam betina itulah, ayam Aram awalnya. Semuanya sedih, terutama Figan yang menangis tersedu-sedu saat mengetahui ayamnya di curi.


...*****...


Matahari sudah bersinar terang. Jalanan sudah sibuk, dan suara klakson terdengar di sepanjang jalan. Begitu juga pasar rakyat di Talang Kelapa.


"Sepatu murah, sepatu murah. Beli dua hanya bayar seratus ribu." Teriak pedagang sepatu.


"Ayam kampung murah. Ayam kampung murah." Kata Jum menawarkan dagangan ayamnya.


"Mari Pak, mari Bu." Kata Lam.


"Berapa ayamnya, Dik." Tanya seorang ibu-ibu.


"Murah Bu. Hanya tiga puluh ribu satunya." Jawab Lam. Karena murah, ibu itu membeli dua ekor.


"Murah sekali." Tanya seorang bapak-bapak penuh selidik.


"Murah karena ayamnya tidak dibersihkan Pak." Alasan Lam. Bapak-bapak itu menerima alasan itu, masuk akal pikirannya. Dia kemudian membeli satu ekor ayam yang sudah di potong.


"Pak, ayam kecil untuk peliharaan. Borongan saja pak." Tawar Jum. Bapak-bapak itu melihat ke dalam kotak yang dipenuhi anak ayam sudah cukup besar. Akhirnya bapak itu membeli sepuluh ekor. Menjelang sore semua ayam dagangan Jum dan Lam habis.


"Oh, tinggal satu ini, Bu." Kata Lam.


"Iya tak apa." Kata ibu itu. Lalu dia membayar dan pergi.


"Ibu RT ayo pulang." Panggil seorang ibu-ibu. Ibu RT mengiakan, dan pulang bersama ibu itu. Saat pulang Jum dan Lam membayar uang lapak pada security pasar tiga ratus ribu rupiah. Dua security pasar itu begitu gembira dan bahagia sambil tertawa puas.


...*****...


Yuzaka datang ke kontrakan Aram. Sekarang dia sudah tidak lagi belajar di sekolah. Karena sudah selesai ujian semester akhir. Tinggal menunggu pengumuman kelulusan dan mendapat ijazah. Yuzaka membawa hadiah untuk adik bayi anak Salika. Susu ibu setelah melahirkan, deterjen, pakaian bayi, payung, dan oleh-oleh buah untuk Areha dan yang lainnya.


Aram pulang dari menjual barang bekas. Hasil pengumpulan beberapa hari lalu. Hari itu, Aram tidak pergi mencari barang bekas. Aram istirahat saja di kontrakannya. Dia juga bersedih atas musibah menimpanya. Aram memang tidak pernah main atau pergi jalan-jalan. Selain menghemat uang, dia juga mengumpulkan tenaga untuk mencari barang bekas besoknya.


"Yuzaka, terimakasih sudah datang. Banyak sekali hadiah untuk adik bayi." Ujar Nenek.

__ADS_1


"Tak apa, Nek. Siapa nama adik bayi." Tanya Yuzaka.


"Tandrun. Kalau nama panggilannya, Andru." Jawab Salika.


"Oh, bagus sekali namanya, nama asli orang Palembang." Kata Yuzaka. Dari luar Junka datang mencari Areha.


"Assalamualaikum." Salam Junka. Semua menoleh dan melihat Junka datang. Junka bertanya apakah Areha ada.


"Oh, iya. Aku siap-siap." Jawab Areha, mereka akan ke rumah teman Junka yang mengadakan acara ulang tahun. Beberapa saat kemudian Areha dan Yuzaka pergi. Yuzaka pun kemudian ke kontrakan Riha.


...*****...


Setelah shalat Zuhur Aram menemani Yuzaka belanja di Indomaret. Keduanya kemudian duduk di bangku istirahat di depan Indomaret. Mereka duduk menghadap jalan raya. Yuzaka mentraktir Aram membeli minuman dan makanan. Keduanya bercerita apa saja, terutama tentang teman sekolah mereka.


"Yuzaka, Aku ingin sekolah lagi." Ujar Aram.


"Bagus Aram, Aku juga suka kalau kau masih mau sekolah. Kata orang, hanya dengan sekolah kita bisa merubah hidup." Jawab Yuzaka.


"Iya, Aku pernah bercerita dengan kakak mahasiswa. Dia bilang dulu dirinya juga putus sekolah. Karena keluarganya sangat miskin. Tapi, dia melanjutkan sekolah Paket. Jadi dia bisa bekerja sambil sekolah. Kemudian dia menabung, dan bisa kuliah. Sekarang dia kuliah, dan hidup hemat. Kadang dia mendorong sepeda motornya, agar hemat. Dia makan satu kali sehari. Dia mengurangi makan karena dia ingin membeli buku. Kakak itu bercita-cita ingin membangun sebuah perusahaan, untuk membantu pemerintah menciptakan lapangan pekerjaan. Tapi itu hal yang mustahil katanya. Tapi dia akan berusaha, walau dirasakan mustahil." Cerita Aram.


"Oh, siapa nama kakak mahasiswa itu, Aram." Tanya Yuzaka.


"Aku lupa bertanya namanya. Saya menyebutnya kakak AF saja. Karena pada bajunya ada tulisan AF." Kata Aram.


"Aram, kamu sabar ya. Kata nenek ayam-ayam kamu habis di curi orang tadi malam." Kata Yuzaka. Aram diam beberapa saat, dan menarik nafas dalam.


"Iya Zaka. Ayam itu juga pemberian kakak AF itu. Setiap kali Aku ingat kakak itu, Aku selalu tergugah untuk berjuang terus. Tak patah arang, dan berhenti karena cobaan hidup." Kata Aram, dia meminum minuman segar, panta. Yuzaka begitu terharu dan kagum pada Aram. Aram memiliki semangat tinggi dalam kehidupan walau dalam sejuta kekurangan, kemiskinan dan kemalangan hidup.


...*****...


Istri Pak RT tiba di rumah. Dia membawa banyak barang belanjaan dari pasar. Terutama stok sayur dan lauk.


"Banyak tamu, maaf baru pulang dari pasar." Tanya ibu RT saat dia masuk rumah. Tampak suami ibu pemilik kontrakan, Pak Kamtibmas, dan beberapa warga ada di ruang tamu.


"Bikin kopi, kalau ibu sudah pulang." Ujar Pak RT. Istri Pak RT menuju dapur, dia kemudian memanaskan air. Selain untuk membuat kopi, dia juga memanaskan air untuk membersihkan ayam kampung yang dibeli di pasar tadi. Beberapa saat kemudian dia mengantarkan kopi ke ruang tamu.


"Ini kopi panas, semunya, silahkan diminum." Ujar istri Pak RT ramah, semua mengiakan dan dia kembali ke dapur. Sementara Pak RT dan yang lainnya melanjutkan obrolan.


"Sepertinya, pencuri itu tidak jauh dari sini. Karena dia tahu lokasi dan tahu keadaan. Sehingga warga jaga semalam dan ronda tidak menjumpai mereka." Kata seorang warga.


"Benar Pak RT, kami semalam tidak tidur di pos, maen catur sampai pagi." Kata seorang warga. Dia memakai kopiah hitam dan kain dia sandangkan di bahu.


"Baiklah, kita mulai selidiki dari sekitar kontrakan." Ujar Pak Kamtibmas. Semua setuju, dan akan memulai mengawasi kontrakan. Mereka akan mengintai dari pukul 12 malam sampai pukul empat pagi. Karena jam-jam itulah saat orang tertidur lelap dan pencuri suka beraksi.


...*****...


Istri Pak RT selesai memasak, ayam kampung yang dia beli di pasar dia gulai pindang asam pedas. Waktu menunjukkan jam makan siang. Karena tamu belum pulang, maka mereka diajak makan bersama. Semua awalnya menolak, tapi karena Pak RT memaksa. Maka semua tamu ikut makan.


"Ayolah, sekali-kali makan di tempat pak RT." Ujar Pak Kamtibmas. Semua akhirnya setuju dan makan bersama Pak RT. Duduk di meja menghadap makanan sedap. Aroma tercium sedap dan enak.


"Anak saya kalau siang tidak di rumah semua." Ujar Pak RT, dia kemudian menyuap nasi dan mengigit daging ayam.


"Anak Pak RT sudah kerja semua." Ujar warga yang ikut makan, dia tampak lahap sekali makan. Dia merasakan betapa enaknya gulai pindang ayam kampung istri Pak RT. Sesekali dia menghirup kuahnya. Lalu memecahkan cabai, karena suka pedas.


"Anak pertama dan kedua masih kuliah. Yang dua laginya di pesantren. Jadi tinggal berdua di rumah." Ujar Pak RT.


"Beli di mana ayam kampungnya." Tanya suami ibu pemilik kontrakan.


"Beli di pasar. Itu dua anak muda yang menempati kontrakan bapak yang jual ayam. Siapa namanya, Pak, lupa saya." Jawab istri Pak RT. Dia memasukkan kembali gulai kedalam baskom kecil. Untuk, kalau ada yang masih mau nambah.


"Ooohhh." Semua saling pandang dan mulai berhenti makan. Entah apa yang mereka pikirkan. Tapi semuanya tampak berhenti makan serentak. Istri Pak RT tampak bingung dan merasa aneh melihat semuanya terdiam dan saling pandang. Yang bertambah aneh semunya berhenti makan secara bersamaan juga seperti dikomandoi.

__ADS_1


"Saa, saya salah ngomong, ya." Ujar istri Pak RT sambil bengong dan berdiri mematung. Lalu semuanya memandang istri Pak RT. Istri Pak RT bertambah bingung.


__ADS_2