Kedipan Dikalah Senja.

Kedipan Dikalah Senja.
Tangisan Di Rumah Tepi Kota.


__ADS_3

"Nek, kita menginap saja di teras ruko kosong itu saja. Dulu kami pernah tinggal di sana beberapa Minggu." Kata Aram. Hari sudah gelap, magrib hampir berlalu. Mereka tidak punya waktu lagi untuk berjalan. Apalagi mencari kontrakan.


Mereka tiba, kondisi di sekitar begitu berantakan. Sampa dimana-mana, rumput lebat. Langit tampak mendung, angin selalu berhembus. Kadang pelan dan kadang kencang. Nyamuk sangat banyak. Malam itu, mereka tidur di emperan ruko.


"Eakkkkk. Eakkkkk." Anak Salika menangis di tengah malam. Saat Salika melihat di sekitar yang remang-remang. Nenek, Aram, Areha, Junka, Deak, Figan, Luran, tertidur saling bersandar. Semuanya anak-anak yang tidak beruntung. Tapi mereka punya hati yang baik dan tulus. Air mata Salika menetes saat menatap wajah anaknya. Masa lalu yang menyakitkan terbayang dan dia mencoba kuat. Tubuhnya terasa dingin, dan tangannya selalu mengipasi nyamuk yang berterbangan di sekitarnya.


...*****...


Hari sudah pagi, jalanan sudah ramai. Mereka sudah menyelesaikan hajat masing-masing. Nenek selesai memasak nasi dan membuat sambal. Pagi itu mereka hanya makan nasi dan sambal.


Semua telah siap, matahari sudah menegak dan cukup panas. Mereka berjalan beriringan menuju kota. Mencari kontrakan yang dapat mereka sewa nantinya. Menjelang siang mereka istirahat di bawah sebatang pohon. tidak jauh dari mereka, tampak sebuah rumah di antara pepohonan.


"Nek, ada suara tangisan anak-anak dari rumah itu." Ujar Salika, terdengar sayup-sayup.


"Kalau dari suaranya, seperti dia sudah lama menangis." Kata nenek, dia sudah pengalaman dengan tangisan anak-anak. Nenek juga sudah mendengar dari tadi.


Figan dan Luran berlari ke halaman rumah sederhana itu. Keduanya memunguti sampah botol-botol plastik di sekitar itu. Aram duduk menyendiri di bawah sebatang pohon sambil memejamkan mata.


"Itu banyak." Kata Figan, menunjuk ke samping rumah.


"Ada anak menangis." Ujar Figan, tampak tangannya banyak memegang botol bekas. Luran mendekat dinding dan mengintip. Dia melihat anak berumur dua tahunan menangis merangkak-rangkak ke sana kemari menghampiri ibu dan ayahnya yang terbujur kaku.


"Ayah dan ibunya tidur." Kata Figan. Luran mengiakan, dan mereka mencium bau busuk.


"Luran, kalian sedang apa. Tidak boleh begitu." Kata nenek, tampak nenek duduk sambil bermain dengan anak Salika.


"Aram, seberapa jauh lagi kota Dari sini." tanya nenek, anak Salika tampak tertawa ringan bermain.


"Kita lurus saja, sekitar lima belas menit lagi sampai di jalan besar dan ke kiri masuk Kota Palembang." Kata Aram, dia bangkit dan memilah sampah plastik. Duduk santai, Aram merasa capek, dia mendorong gerobak penuh barang-barang.


"Kenapa anak orang itu menangis terus dari tadi." Ujar Salika lagi.


"Iya, sudah dari tadi. Nenek mendengar sayup-sayup sebelum kita sampai." Sahut Aram. Sementara Junka, Areha dan Deak duduk di tanah berumput di bawah sebatang pohon. Ketiganya bermain boneka dan masak-masak.


"Rumah ini terpencil." Sahut nenek. Mereka semua mengamati Figan dan Luran berlari meninggalkan halaman rumah sederhana itu. Mereka banyak membawa botol plastik bekas. Saat berlari ada beberapa botol jatuh, mereka berhenti dan memunguti lagi. Lalu berlari lagi dan tiba di dekat nenek dan semuanya.


"Apa yang kalian lakukan tadi, tidak boleh mengintip rumah orang." Kata nenek menasihati Figan dan Luran. Keduanya mengangguk dan meletakkan botol plastik di karung plastik yang tergantung di dinding gerobak.


"Nek, adik bayi itu menangis, merangkak ke ibunya, merangkak ke ayahnya. Tapi ayah dan ibunya tidur saja." Kata Figan.


"Ada bau busuk di situ." Sahut Luran, sambil menginjak beberapa kaleng minuman, aluminium. Setelah itu dimasukkan kedalam karung khusus aluminium. Beberapa mobil material bangunan berlalu bersamaan beberapa sepeda motor di jalan.


"Benar Figan." Kata nenek, mereka saling pandang satu sama lain. Kemudian nenek menyerahkan bayi pada Salika. Lalu dia dan Aram pergi karena penasaran. Nenek merasa ada yang aneh dan hatinya bergetar.


"Jangan-jangan." Entah apa yang nenek pikirkan. Dia melangkah mendekati rumah sederhana itu. Saat mendekati rumah semakin keras suara tangisan anak-anak terdengar.


"Tok. Tok. Tok." Nenek mengetuk pintu. Berulang-ulang dengan cukup kuat.


"Permisi, assalamualaikum." Nenek memanggil kuat-kuat. Luran dan Figan diikuti Junka mendekati rumah itu juga. Sementara Areha, Salika dan Deak menunggu di dekat gerobak.


"Coba dari belakang." Saran Aram. Mereka berjalan menuju pintu belakang melalui halaman samping. Saat di ketok oleh nenek pintu tampak menggeser sedikit. Nenek perlahan mendorong, dan pintu tergeser. Ternyata pintu tidak dikunci, hanya diletakkan penghalang sebuah kursi berkaki besi tua. Busa tempat duduknya sudah rusak.


Nenek, Aram, Junka, Luran dan Figan masuk beriringan. Suara tangisan anak-anak terdengar semakin jelas, suaranya serak.


"Bau sekali." Kata Areha, merek semua menutup hidung. Di pintu kamar nenek mengetuk dan tidak ada jawaban. Nenek memberanikan diri membuka.


"Krekkk." Nenek membuka dengan cara memutar gagang kunci. Saat pintu terbuka, nenek dan semuanya terkejut setengah mati.


"Ya Allah, innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un." Ujar nenek, dia hampir terpekik. Aram dan Areha termundur beberapa langkah. Luran dan Figan biasa saja karena mereka belum mengerti, layaknya anak-anak.


"Orang mati." Kata Luran, dia masuk melihat dengan seksama.


"Adek itu." Kata Figan sambil melongok.


Paman Kino dan Bibik Sulak telah meninggal beberapa hari lalu. Jasad mereka sudah membusuk. Sedangkan anak mereka yang baru berumur dua tahun hanya bisa menangis. Bungkus snack, roti tampak berserakan. Air mineral di dalam kardus berserakan. Dengan itulah anak mereka bertahan beberapa hari ini.


"Cucu ke sini." Panggil nenek sambil menangis. Jiwa manusia nenek tidak bisa menerima kejadian itu. Tapi anak itu takut dan dia memeluk jasad ibu.

__ADS_1


"Mak. Mak." Panggilannya mendorong-dorong wajah ibunya. Figan merogoh sakunya, dia mengambil dua buah robot-robot kecil dan diberikan pada anak Paman Kino. Melihat itu, anak Paman Kino yang tidak pernah memiliki mainan menjadi suka.


"Adik, ayo kita main." Ajak Figan, anak itu mengangguk dan mengikuti Figan dan Luran keluar kamar.


"Aram, pergilah ke kantor polisi." Ujar nenek, Aram mengiakan dan pergi. Nenek bangkit lalu mengambil kain dan menyelimuti jenazah Paman Kino dan jenazah Bibik Sulak. Nenek melihat ke sekeliling kamar yang sederhana dan berantakan itu. Di atas lemari plastik dimana pintunya sudah lepas. Nenek menemukan selembar kertas di tindih dengan sebuah botol bekas sirup.


"Siapa pun kamu, Aku mohon tolonglah anakku. Paling tidak pertemukan dia dengan kakaknya yang belajar di pesantren di Musi Banyuasin. Terimakasih, semoga Allah memberikan pahala yang berlimpah padamu."


Itulah isi surat Bibik Kino. Di bagian bawah ada nomor handphone, alamat pesantren, nama kedua anaknya, namanya dan dirinya. Nenek memasukkan surat itu ke kantong saku bajunya. Nenek ke luar, tampak Luran dan Figan bermain dengan anak Paman Kino. Keduanya gembira dapat teman bermain sama-sama anak laki-laki.


"Bum. Bum." Mereka bertiga menarik mobil-mobil bermain.


"Ya Allah, mengapa kau perlihatkan padaku penderitaan di dunia ini." Kata nenek duduk merenung.


"Tidak. Ya Allah, anak itu." Kata nenek berulang-ulang.


...*****...


Sementara Aram berlari ke jalan raya. Dia tidak tahu harus kemana mencari kantor polisi. Aram memutuskan untuk bertanya.


"Pak, kantor polisi di mana." Tanya Aram.


"Saya tidak tahu, kalau Kapolda di tengah kota. Atau Polresta di seberang Ulu, lewat Ampera." Jawab si bapak itu, lalu dia pergi menjajakan dagangan ciloknya. Beberapa saat kemudian Aram menemukan warung dan ruko-ruko. Disana banyak orang dengan kesibukan. Ada tokoh barang pecah belah, warung nasi Padang, usaha galon air, bengkel motor, warung manisan, tokoh bangunan dan lainnya.


"Pak, kantor polisi dimana ya." Tanya Aram.


"Kurang tahu, saya baru pindah ke sini." Jawab laki-laki itu.


"Kenapa tanya kantor polisi." Tanya satunya, dia sedang memindahkan barang-barang masuk ke dalam tokonya.


"Ada dua orang meninggal, sepertinya suami istri, meninggal di rumahnya." Kata Aram, beberapa orang saling pandang.


"Benar katamu Dik." Ujar orang itu, dia langsung meletakkan barang walau belum sampai ke dalam toko. Beberapa orang yang mendengar mendekat dan meyakinkan pada Aram.


"Dimana." Tanya satunya, tukang galon dan beberapa warga yang sedang di bengkel motor mendekat. Suasana jadi ramai dan aktivitas mendadak berhenti dengan sendirinya.


"Di rumah yang di pinggiran jalan simpang sana. Rumah tidak ada tetangga, di dalam hutan." Kata Aram sambil menunjuk arah. Hampir semua tahu rumah itu. Salah satu pekerja bangunan kenal baik dengan Paman Kino.


"Tolong pompa ban, Pak." Ujar orang itu, semua orang memandangi si tentara baru tiba. Tentara merasa aneh dan bertanya-tanya mengapa warga berkerumun. Pemilik bengkel mendekat sambil membawa mata ponpa angin.


"Pak, kata anak ini ada orang meninggal." Kata pemilik toko yang mengangkat barang tadi. Tentara itu lalu menanyakan dengan seksama pada Aram. Kemudian dia segera bertindak sigap dan cepat layaknya seorang tentara. Dia menelpon Kapolsek, Pak Lurah, dan mengajak warga, juga Aram menuju rumah Paman Kino. Tak selang lama, puluhan polisi datang dan mengamankan TKP. Segera memasang garis polisi. Wartawan pun berdatangan untuk meliput. Warga sekitar semakin banyak pula berdatangan.


...*****...


"BREAKING NEWS"


*


Hampir semua media nasional meliput peristiwa itu. Sehingga dengan cepat berita menyebar. Dari layar televisi, YouTube, dan media sosial lainnya.


"Penyebab kematian sedang kita selidiki. Ada dugaan mereka meninggal karena sakit." Jawab Pak Polisi saat di wawancara wartawan.


"Apakah ada indikasi perampok dan penganiayaan." Tanya seorang wartawan.


"Belum bisa dipastikan, kita tunggu hasil penyelidikan dan otopsi." Jawab pak Polisi itu.


"Yang menemukan pertama siapa Pak." Tanya wartawan lainnya sambil menyodorkan alat rekam.


"Yang menemukan seorang nenek dan cucu-cucunya." Jawabnya. "Ok teman-teman, saya rasa cukup untuk saat ini." Kata pak polisi itu, lalu dia meninggalkan para wartawan yang terus mengejarnya.


Saat para wartawan mengambil video tampak Aram, Luran, Figan, Areha, Salika, Junka, Deak terekam kamera berulang-ulang. Nenek juga terekam, tapi punggungnya saja sebab negek menggendong anak Paman Kino agar tidak menangis. Nenek dan yang lainnya dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan.


...*****...


Sementara itu, Pak Leban sedang makan siang di sebuah rumah makan. Istrinya, anak-anaknya ikut juga. Pak Leban memesan makanan favoritnya, gulai pindang tulang.


"Saya kopi minumnya, Bu." Kata Pak Leban saat Bibik Tara ingin memesan minuman. Anak-anak minum teh hangat. Karena mereka tidak dibolehkan terlalu sering minum es, karena akan merusak lambung.

__ADS_1


"Kasihan sekali, anaknya sudah berhari-hari di antara jenazah kedua orang tuanya." Kata seorang ibu-ibu di meja di samping meja keluarga Pak Leban.


Beberapa orang juga mengomentari hal yang sama tentang berita itu. Pak Leban yang dari tadi melihat handphone miliknya, sekarang melihat berita breaking news dari televisi nasional itu. Dia mengamati video yang ditayangkan. Tampak anak-anak dengan pakaian lusu. Seorang nenek-nenek duduk membelakangi kamera. Dia memangku seorang anak-anak berumur dua tahun.


"Baju itu, sepertinya Aku kenal." Kata Pak Leban, dia berharap si nenek di dalam berita berbalik. Tapi video beralih ke revorter televisi.


"Menurut nenek yang tidak mau disebutkan namanya: Awalnya mereka hanya lewat, dan mendengar tangisan anak-anak. Dua cucunya yang mencari barang bekas mengintip ke dalam rumah. Menurut cucunya orang tua anak itu sedang tidur. Tapi nenek dan seorang cucunya merasa curiga. Lalu mendatangi rumah dimana ada anak menangis itu. Mereka masuk dari pintu dapur yang hanya di halangi dengan kursi. Saat mereka masuk, menemukan keadaan mengenaskan terlihat di dalam kamar. Anak dalam keadaan kelaparan dan jenazah orang tuanya hampir berulat. Demikian Reza, kembali ke studio." Ujar reporter, lalu kembali tayang video ke pembaca berita.


"Selain itu, nenek baik itu bersedia merawat anak malang yang ditinggal pergi selamanya, oleh kedua orang tuanya. Padahal nenek itu sudah merawat banyak anak yatim-piatu." Ujar pembaca berita.


Pak Leban berharap video berita di putar ulang. Tapi berita langsung dari studio saat berakhir maka akan tayang acara lainnya. Kemudian, berita itu viral dan begitu banyak menarik perhatian masyarakat Indonesia.


"Baik sekali hati nenek itu, dia yang merawat anaknya." Ujar nitizen dunia maya. Banjir pujian dan doa, tapi orang tidak tahu nama dan wajah si nenek. Karena nenek tidak mau wajahnya diketahui orang banyak. Nenek melakukan ikhlas, bukan untuk sebuah pujian atau popularitas.


...*****...


Nenek, Aram dan yang lainnya kemudian sudah diperbolehkan pergi dari kantor Polisi setelah selesai memberikan keterangan. Sekarang anggota keluarga mereka bertambah.


Semua data mereka di ambil, termasuk anak yang malang itu. Polisi berjanji akan menghubungi kakak anak itu yang belajar di sebuah pesantren.


"Kalau mau, nanti dibantu ke dinas sosial Ibu. Agar dapat santunan. Kalau di kantor polisi tidak bisa membantu karena diluar kewenangan kapolisian." Ujar Pak Komandan.


"Tidak apa, biar saya yang mengurus dan bertanggung jawab. Kalau kakaknya pulang dari pesantren agar mencari saya." Kata nenek, Pak Komandan mengiakan. Pak Komandan memberikan uang lima ratus ribu pada nenek secara pribadi. Tapi nenek menolak dengan halus. Lalu nenek mengajak semuanya pergi.


Aram berjalan paling depan mendorong gerobak, Luran membawa ayam jago dan menjinjing kardus. Salika menggendong anaknya, Junka dan Areha juga banyak bawaan. Deak berjalan perlahan di sisi Junka. Nenek berjalan paling belakang sambil menggendong anak Pak Kino.


Di punggung nenek juga menggendong bakul jualan yang diisi buntalan pakaian, wadah jualan nenek, di jinjing. Mereka menapaki jalan raya yang panas. Diantara hiruk-pikuk kendaraan bermotor yang padat merayap. Pak Komandan dan yang lainnya memandangi kepergian mereka dengan hati yang terenyu.


...*****...


Sementara itu, Lisam, Bagit dan ibunya sudah pergi dari gubuk bekas jualan orang. Mereka berjalan entah kemana, sementara ibu mereka masih sakit. Selain itu, dia masih harus menggendong keranjang dan menuntun bagit berjalan. Tubuh Bagit juga bertambah panas. Sementara Lisam sambil berjalan dia terus memunguti botol plastik.


"Ibu, Bagit pusing. Kita istirahat dulu sebentar." Kata Bagit, memelas. Tubuh yang kurus tampak pucat, lemah tak berdaya.


"Iya, kita cari tempat istirahat, sabar Bagit." Ujar ibunya.


"Bagit haus." Ujar bagit lagi.


"Kita cari minum, nanti." Kata ibunya.


"Ibu, Lisam dapat kardus banyak di sini. Ada juga aluminium." Teriak Lisam di lembah jalan raya.


"Iya Lisam, hati-hati. Kita segerah cari tempat istirahat. Kasihan Bagit." Kata ibu Lisam, kemudian dia batuk-batuk. Lisam tampak kewalahan membawa kardus-kardus itu. Berulang-ulang Lisam naik turun, tubuh kurus itu tampak basah oleh keringat.


Setelah diikat, kardus dan barang bekas lainnya dia bawa. Lisam tampak keberatan membawa kardus dan barang bekas.


"Brummmm." Dua mobil puso besar lewat dengan kecepatan sedang menciptakan angin yang cukup kencang. Kardus dibawa Lisam diterpa angin dan membuat Lisam terdorong dan terhuyung.


"Uhhh." Keluh Lisam, ibunya memanggil khawatir. Air mata ibu Lisam memercik saat melihat itu. Dia merasa bersalah pada dirinya. Seharusnya dia yang bekerja, bukan anaknya yang kecil itu.


Mereka kemudian memutuskan istirahat di sisi jalan. Dimana terdapat beberapa pohon rindang cukup besar. Kardus bekas menjadi alas mereka duduk. Bagit di baringkan oleh ibunya berbantal buntalan pakaian. Lisam duduk di sisi Bagit.


"Ibu Bagit haus." Kata Bagit. Ibu mereka berpikir bagaimana mendapatkan air minum. Mereka tidak ada air minum.


"Tunggu, ibu cari air minum." Jawab ibunya, lalu menoleh ke arah Lisam dan berkata agar Lisam menjaga adiknya. Ibu mereka pergi membawa botol bekas air mineral cukup besar.


Mereka memandangi kepergian sang ibu. Tampak menyusuri jalan raya ke arah depan. Lalu menghilang di balik kelok jalan. Beberapa mobil melaju, puluhan sepeda motor lalu lalang. Seorang laki-laki tua bersepeda angin mengayuh perlahan. Dia menjual mpek-mpek dengan wadah kotak kaca. Melihat itu, Lisam dan Bagit meneteskan air liur. Perut lapar dan membayangkan betapa enaknya mpek-mpek itu. Orang tua itu melihat sekilas, dia merasa kasihan pada keadaan Lisam dan Bagit.


"Srittt." Kakek itu berhenti dan menunjang sepeda dengan sebuah tongkat. Dia memasukkan sepuluh potong mpek-mpek ke dalam plastik. Lengkap dengan air cuka. Kakek itu menghitung, dia ingin memberi lebih.


Tapi sepertinya dia juga menghitung keuntungannya. Kalau lebih dari sepuluh, pikirnya. Untungnya sedikit sekali untuknya hari itu. Ternyata si kakek hanya menjualkan mpek-mpek usaha seseorang. Dia berbagai keuntungan saja. Tapi hatinya ingin memberikan makanan untuk anak-anak itu. Akhirnya hatinya mantap dan melangkah, lalu memberikan sepuluh potong mpek-mpek pada Lisam.


"Cucu, ini mpek-mpek hangat. Dimakan yah, sama air cuka yang panas." Kata kakek itu sambil tersenyum. Lisam mengambil plastik sambil bengong. Dia tidak menyangka di kasih gratis oleh si kakek. Sampai dia lupa mengucapkan terimakasih. Kakek pergi menuju sepedanya.


"Kakek siapa." Tanya Lisam.


"Kakek Ruri." Jawab kakek sambil menoleh diikuti senyuman, Ruri nama cucunya. Dia perlahan meletakkan tongkat di atas kotak kaca jualan. Diikat agar tidak jatuh, lalu pergi mengayuh sepedanya dengan perlahan.

__ADS_1


"Mpek-mpek. Mpek-mpek." Kata kakek saat melewati jalan yang ada orang-orang.


...*****...


__ADS_2