
Nenek Cik Rumi berangkat berjualan kue. Dia menggendong keranjang yang berisi macam-macam kue, dan di atas kepala juga menjunjung wadah kue berbentuk bulat lebar.
"Kue, gorengan. Kue-kue. Gorengan. Mpek-mpek telur." Kata Nenek Cik Rumi menawarkan dagangannya. Rasa lelah dan panas matahari tidak dia hiraukan. Dia terus berjualan sampai semua dagangannya laku. Kadang ada waktunya hari hujan terus menerus, membuat nenek rugi. Tapi nenek tidak putus asah, keesokan dia kembali berjualan.
...*****...
Alasan Aram memilih kontrakan yang paling ujung. Dia ingin punya tempat meletakkan gerobak dan membuat kandang ayam. Nenek juga akan menanam laos, sere, cabai, kunyit, kencur, dan tomat.
"Boleh menanam, tapi gunakan pot atau plastik volibek. Kalau kandang ayam buat di ke belakang dan rajin-rajin dibersihkan." Kata ibu pemilik kontrakan.
Saat mendapat ember plastik bekas, kaleng roti yang besar Aram jadikan pot untuk nenek menanam tanaman. Sehingga di samping kontrakan banyak pot-pot tanaman. Lumayan untuk bumbu dapur tidak membeli ke warung, sehingga sangat membantu menghemat belanja.
"Tok. tok. tok." Suara palu Aram terdengar di sekitar kontrakan. Seorang ibu-ibu dan anak berjalan ke arah rumah pemilik kontrakan. Kemudian terus entah kemana. Tak berapa lama sepeda motor metik Mio 125 datang dari arah jalan dan menuju kontrakan ujung sebelah. Dua pemuda berumur dua puluh empat tahun turun. Entah dari mana, melepas helm, dan membuka kunci pintu, dan masuk kontrakan mereka.
Menjelang siang, kandang ayam Aram selesai. Figan dan Luran begitu antusias bermain di halaman. Apalagi saat sudah kenal anak-anak sekitar kontrakan. Areha sibuk mengurusi kontrakan. Dia mengepel, menyapu, memasak, mencuci perabotan dan mencuci pakaian.
"Pandai kau bikin kandang ayam." Tanya seorang laki-laki berumur lima puluhan tahun. Dia mengenakan sarung, baju teluk belanga dan berkopiah. Tangan dia silang di belakang pinggang.
"Ah, tidak juga Pak. Masih belajar juga." Ujar Aram. Laki-laki melihat pekerjaan Aram rapi, ada pembuang kotoran dan wadah air minum. Tempat induk bertelur dan kandang khusus anak-anak ayam baru menetas. Untuk anak seumuran Aram itu sudah sangat luar biasa.
"Banyak juga ayan mu."
"Alhamdulillah."
"Namamu siapa nak."
"Aram."
"Saya Pak RT di sini. Sengaja datang berkunjung, ada warga baru. Karena sudah beberapa hari orang tuamu tidak datang melapor." Kata Pak RT.
"Maafkan saya Pak. Lupa melapor sama pak RT."
" Tak apa, nanti bilang sama ayahmu. Kerumah saya, bawak foto copy KK dan KTP." Kata Pak RT. Aram diam beberapa saat, kemudian dia mengiakan. Pak RT memberi tahu rumahnya tepat di belakang kontrakan. Tapi karena terhalang tembok dan rumah warga, jadi jalan memutar dari depan. Setelah itu, Pak RT pamit dia akan ke lapangan bola menyaksikan pertandingan bola volley antar RT di Kelurahan Talang Kelapa.
...*****...
Sementara itu, dikontrakan dua pemuda tampak sibuk dengan handphone. Mereka bermain game online tiada henti. Kadang mereka juga bermain judi online.
"Anak sebelah baru pindah itu, bikin kandang ayam." Ujar temannya sambil bermain game.
"Iya, badannya kurus dan kurang terawat. Macam tidak ada orang tua saja." Jawab temannya.
"Tapi kayaknya memang tidak ada orang tua. Dia sendiri yang cari kontrakan, dan saat pindah hanya adik-adiknya dan neneknya." Jawab satunya.
"Lam, air sudah mendidih. Bikin kopi woy." Ujarnya.
"Na. na. mati Aku." Lam tampak kesal sekali, tangannya memukul-mukul lantai. Kemudian dia bangkit membuat kopi panas.
"Jum, kau kopi apa teh." Tanyanya.
...*****...
Sementara di kontrakan yang paling tengah. Sepasang suami istri sedang bertengkar.
"Ah, kanda jangan banyak alasan. Hidup sudah susa, kau juga main gila sama perempuan. Hidup di kontrakan, bertahun-tahu. Anak semakin besar dan kebutuhan terus bertambah. Tahun depan Deak akan masuk sekolah. Kakaknya juga masuk sekolah. Tapi kau tidak pernah berubah." Kata istrinya.
"Kau ini, siapa pula main perempuan. Cuma kau itu yang cemburuan tanpa alasan. Curiga terus seenaknya." Jawab suami.
"Kau pikir Aku ini anak-anak, Tidak mengerti, dan tidak tahu apa-apa." Jawab istrinya. Istrinya sering mendengar ada panggilan telpon masuk. Saat berbicara sang suami sibuk, bicara bisik-bisik. Kemudian keluar atau menjauh membawa handphone. Saat ditanya dia bilang teman kerja atau nomor salah sambung.
"Ya sudah, terserah. Perempuan mulut ember, tidak punya malu. Setiap hari bikin masalah. Tidak malu di dengar tetangga." Jawab suaminya.
"Apa kau bilang, kau yang tidak punya malu. Kau lah yang tidak punya maluuuuu." Teriak istrinya. Kemudian dia melempar apa saja di dekatnya.
"Tar, tar." Beberapa cangkir gelas pecah berantakan di tengah kontrakan mereka. Suami ibu itu keluar, dan baskom berisi pakaian kotor tampak melayang keluar. Pakaian kotor berhamburan. Di susul ember-ember yang berterbangan. Suami naik sepeda motor yang terparkir di depan kontrakan, dan pergi tergesa-gesa. Terdengar suara motor menggaung. Areha keluar dan berdiri di muara pintu, dia melihat baskom terlempar dan suami ibu itu pergi dengan sepeda motor.
"Hu. hu. hu." Seorang anak perempuan berumur lima tahun mengais, dia duduk di depan pintu kontrakan yang masih kosong. Tampak gembok menggantung di kuncinya.
"Deak, jangan nangis. Ayo main sama kakak." Ajak Areha, anak itu mengangguk dan mengikuti Areha ke dalam kontrakan.
__ADS_1
"Ada apa Areha." Tanya Aram pada adik perempuannya. Dia melongok ke dalam kontrakan.
"Ibu Deak dan ayahnya bertengkar lagi." Jawab Areha.
"Deak, main saja sama Kak Areha." Ujar Aram, dia kembali ke samping menyelesaikan kandang ayam. Dua anak muda minum kopi di teras kontrakan mereka. Melihat Aram yang melangkah ke samping. Dari arah jalan datang sepeda motor.
"Brummmm." Sepeda motor besar berhenti. Seorang laki-laki tinggi besar, istrinya dan dua anaknya tiba. Keduanya masuk ke dalam kontrakan mereka di samping kontrakan Lam dan Jum.
"Dari mana Kak Ruyo." Tanya Jum.
"Dari pasar, belanja." Jawabnya singkat.
"Oh, borong apa." Tanya Lam.
"Tak ada, cuma nyetok sayuran." Kali ini sang istri yang menjawab. Dua anak mereka perempuan semua, satu kelas dua, satunya kelas empat SD.
"Kalian tidak kerja hari ini." Ujar Paman Ruyo sambil melirik sepeda motor penuh paket. Dari kemarin sepeda motor keduanya penuh paket online. Mereka sepertinya tidak melaksanakan tugas kerja. Tapi sibuk main game online.
"Lagi istirahat Kak." Jawab Jum.
"Masuk dahulu, capek." Kata Paman Ruyo, keduanya mengiakan. Di dalam kontrakan dia melepaskan baju. Duduk di lantai, mengambil remote TV. Lalu menghidupkan kipas angin dan menonton TV. Istrinya sibuk mengurusi belanjaan, sementara dua anaknya sibuk makan jajanan.
"Adu paket Aku habis." Kata Jum. Keduanya kemudian pergi ke konter milik ibu kontrakan di bagian depan.
...*****...
"Nek. Beli kuenya." Seorang anak perempuan berumur sepuluh tahunan memanggil dari muara pintu rumah. Dia masih berseragam sekolah SMP. Dia memanggil ibunya untuk keluar juga.
"Oh, iya cucu." Si nenek berhenti, lalu masuk ke halaman rumah.
"Kue apa saja, Nek." Seorang ibu-ibu juga muncul dari dalam.
"Inilah yang masih ada, lainnya sudah habis." Kata nenek.
"Mpek-mpek juga habis." Tanya anaknya. Nenek juga mengiakan, tinggal beberapa potong tahu, tempe goreng, ubi jalar goreng, dan pisang goreng.
"Adik, ini pilih sendiri, mau kue apa." Kata si ibu. Seorang anak berbadan gemuk, di tangan ada tablet, muncul keluar. Dia meminta apa saja, pisang goreng coklat di Borong. Sehingga kue nenek tinggal sedikit.
"Iya, nanti mampir lagi." Jawab nenek sambil tersenyum, dia menerima bayaran dan bersiap melangkah keluar halaman.
"Pelan-pelan, malu sama nenek." Kata ibunya, melihat tingkah anak seperti orang sudah tiga hari tidak makan.
"Ehh, enak Bu." Kata gembul.
"Pelan-pelan, keselak di tenggorokan bagaimana." Kata si ibu.
"Ayukk, jangan abisin." Gembul berteriak protes. Ibu geleng-geleng kepala.
"Ayuk minta dua saja, mau masuk." Ujar kakak perempuannya. Gembul takut kue habis, si ibu hanya mengurut dada. Dia berkata, kau ini batu saja kalau dibumbui pasti kau bilang enak. Nenek yang masih mendengar dari jalan senyum-senyum.
...*****...
Menjelang sore nenek Cik Rumi tiba di kontrakan mereka. Figan dan Luran melihat dari kejauhan nenek yang berjalan. Keduanya berlari meninggalkan teman-temannya.
"Nenek, sudah pulang." Kata Figan.
"Iya, kalin mengapa belum pulang hari sudah sore." Kata Nenek.
"Kami tunggu nenek." Jawab Luran. Keduanya berkata pada teman-temannya kalau mau pulang. Teman-teman juga mau pulang ke rumah masing-masing.
"Lain kali jangan pulang kesorean lagi. Kan mau shalat magrib dan mengaji di masjid." Nasihat nenek sambil berjalan. Luran mengambil nampan jualan di tangan nenek dan membawanya. Tinggal bakul kosong yang di gendong. Luran bertanya jualan nenek habis. Nenek menjawab iya dan mereka pun sampai di kontrakan.
"Nenek, sudah pulang." Tanya Areha, ada anak berumur lima tahun di dekatnya.
"Deak, kenapa sedih." Tanya nenek, sementara Deak diam merunduk. Nenek menengok Aram di samping kontrakan, dia masih sibuk mengisi wadah-wadah dengan tanah. Agar nenek besok dapat menanam tanaman. Dia bisa kembali mencari barang rongsokan. Aram bertekad, tahun ajaran baru di tahun depan. Adik-adiknya kembali ke bangku sekolah. Kalau mendapatkan uang, dia akan menabung untuk keperluan sekolah adiknya dan untuk modal berternak ayam kampung.
"Aram, sudah sore. Istirahat, besok dilanjutkan." Kata nenek.
"Iya Nek, sebentar lagi selesai juga." Jawab Aram.
__ADS_1
...*****...
"Kukukrakikkk." Ayam jantan berkokok nyaring. Pagi telah datang kembali.
Seorang anak perempuan seumuran dengan Areha bersiap ke sekolah. Dia memasang sepatu di teras kontrakannya. Adiknya, Deak datang menghampiri dari dalam sambil membawa boneka. Di punggung tergantung tas kecil untuk anak-anak. Saat tiba di dekatnya, Deak memeluk kakaknya.
"Kak, boleh ikut ke sekolah. Deak mau juga sekolah." Katanya.
"Deak masih kecil, tahun depan baru boleh sekolah. Kalau Deak mau sekolah, harus rajin belajar dan jangan nakal di rumah." Ujarnya, menasihati Deak. Deak merasa kecewa tapi dia segera gembira karena tahun depan dia akan sekolah juga.
"Iya, Deak tidak nakal." Jawab Deak.
"Kakak berangkat dulu ya. Jangan nakal adik kakak yang cantik." Kata kakak perempuan Deak, lalu dia mencium pipi Deak. Deak memanggil ibunya, pamit untuk berangkat sekolah. Ibunya mengiakan, dia sedang memasak. Sementara ayahnya sedang tidur di ruang tengah dengan nyenyak. Terdengar dengkuran, karena dia bergadang semalaman.
"Tak pernah mau mengantarkan anak sekolah. Tidur terus sampai siang, narik ojek sudah menjelang sore. Laki-laki seperti apa suamiku ini, Ya Allah." Keluh ibu Deak.
...*****...
Sementara itu, Aram bersiap pergi untuk mencari barang rongsokan. Seperti biasa dia hanya membawa air minum saja.
"Nek, Aram berangkat." Kata Aram sambil mencium tangan nenek. Nenek membelai rambutnya yang lurus dan kasar. Ada nafas prihatin di hati nenek. Bagaimana tidak, anak berumur baru menginjak tiga belas tahun itu harus berjuang keras untuk kehidupannya dan adik-adiknya.
"Iya, hati-hati Aram." Ujar nenek, saat Aram akan pergi nenek menyodorkan wadah kecil yang di bungkus kantong plastik.
"Ini bekalmu, untuk makan siang." Kata nenek lagi.
"Tidak usah Nek, biar untuk nenek dan adik-adik saja. Agar beras kita tidak cepat habis." Kata Aram.
"Sudah, jualan nenek kemarin habis. Jadi nenek banyak membeli beras. Bawaklah." Kata nenek, setelah itu dia berbalik saat Aram sudah mengambil bekalnya. Air mata nenek tiba-tiba keluar saat mendengar kata-kata Aram itu. Aram melangkah keluar, tampak Areha sedang mencuci piring. Figan dan Luran bermain kelereng di halaman. Aram mendorong gerobak, tak ketinggalan gancu, karung plastik, dan bekal dia gantung di gerobak.
"Kak Aram, mau kemana." Tanya anak perempuan berseragam sekolah SD saat mereka berpapasan. Mereka berjalan bersebelahan, sambil berbincang. Beberapa sepeda motor berlalu, dua orang ibu-ibu pulang dari belanja sayuran. Tiga orang anak laki-laki seragam SD bersepeda berlalu.
"Kakak mau mencari barang bekas, Junka." Jawab Aram mantap.
"Kenapa kakak tidak sekolah lagi." Tanya Junka.
"Tidak, mungkin tahun depan, atau tahun kemudian lagi kakak akan sekolah." Jawab Aram sambil tersenyum tipis.
"Insyaallah, Kak." Jawab Junka.
"Junka kelas berapa sekarang." Tanya Aram sambil mendorong gerobak.
"Saya sudah kelas enam, Kak. Insyaallah, tahun depan saya tamat SD." Jawab Junka. Aram mengaminkan kata-kata Junka. Tiba di jalan utama, suasana bertambah ramai. Melewati Sekolah Dasar Junka, mereka berpisah. Aram terus melangkah dan Junka masuk halaman sekolah. Aram melihat Junka, dan baru berpaling saat ada mobil berpapasan kiri-kanan jalan. Jalan sempit membuat mobil harus ada yang berhenti.
"Minggir, pemulung sialan. Tidak terdidik dan bodoh." Kata pengendara mobil Rush merah. Dia membentak Aram karena mendorong gerobak di sisi jalan. Dia menilai gerobak sampah jalannya diluar aspal. Sehingga mengganggu jalan mobilnya. Sopir itu seorang wanita, berseragam PNS, berumur sekitar tiga puluh limaan tahun. Aram diam, dan bersegera menepikan gerobaknya di luar jalan.
"Ibu itu, seragam abdi negara kasar sekali." Kata ibu-ibu itu.
"Iya sih, mentang dia kaya jadi abdi negara. Pada anak itu bersikap begitu. Kasih tau saja yang baik-baik pasti anak itu keluar jalan." Kata yang satunya.
"Mentang-mentang sekali. Bikin jijik melihatnya. Memang orang berpendidikan belum tentu beradab." Ujar ibu yang satunya lagi.
...*****...
Siang itu, di sebuah ruangan perusahaan jasa pengiriman. Dua anak muda duduk di depan HRD mereka. Keduanya diam tanpa menanggapi sedikit pun kata-kata si HRD.
"Jum, Lam. Kalian berdua sudah tidak disiplin lagi. Datang menjelang siang dan banyak paket diantara salah alamat, paket rusak padahal dari gudang paket baik. Paket seharusnya tiba, tapi tertunda tiga sampai empat hari. Kalian kerja berantakan sekali sekarang. Jangan salahkan saya kalau kasar, saya juga punya atasan. Kalau kalian tidak berubah, terpaksalah kalian akan di pecat." Ujar HRD berbadan tinggi besar itu. Seorang wanita masuk ruangan memberi beberapa map untuk ditandatangani. Setelah meletakkan dia keluar kembali. Sepertinya dia juga takut di semprot pak HRD.
"Baik Pak, kami akan berubah dan akan berkerja dengan baik." Jawab Jum.
"Akhir-akhir ini, kami banyak urusan keluarga, jadi sibuk." Kata Lam memberi alasan.
"Saya tidak mau tahu apa kerja kalian di luar. Yang saya tahu kalian itu kerja di sini. Jadi jalankan tugas kalian itu." Jawab HRD.
"Iya pak, kami janji Pak." Kata Lam.
"Ingat janji kalian, ini surat peringatan pertama kalian." Ujar Pak HRD.
"Iya Pak." Jawab keduanya hampir bersamaan.
__ADS_1
"Sudah, ambil SP, itu. Kembali kerja." Ujar HRD yang sudah membuka tumpukan map. Karena Jum dan Lam diam saja tanpa bergerak bagai patung. Keduanya keluar dengan wajah muram.
...****"...