Kedipan Dikalah Senja.

Kedipan Dikalah Senja.
Pertemuan


__ADS_3

Nenek memberi tahu kepada ibu pemilik kontrakan. Kalau kontrakan mereka dimasuki pencuri dengan cara mencongkel pintu. Paman Yuro, Bibik Tuyi, Paman Yugus, Bibik Walah datang melihat kondisi pintu kontrakan. Mereka memperhatikan bagaimana pintu yang telah terlepas dari engsel dan kusen pintu.


"Lihat, lampu juga dilepas pencuri itu." Kata Paman Yugus melihat ke atas. Yang lain juga memperhatikan. Lalu ada yang melihat lampu depan kontrakan Riha.


"Riha. Rihaaa." Panggil Bibik Tuyi dari luar sambil mengetuk pintu. Riha menjawab sebentar, dia baru saja selesai dari kamar mandi. Dia memakai hijab terlebih dahulu. Lalu keluar dan membuka pintu.


"Kreettt." Pintu terbuka.


"Alhamdulillah, kau tidak apa-apa." Ujar Bibik Tuyi, dan Riha merasa aneh.


"Ada apa, Bik." Tanya Riha.


"Kontrakan nenek dibobol pencuri. Kami pikir kau jadi korban juga." Ujar Bibik Walah. Dia menujuk ke atas dimana lampu depan kontrakannya sudah hilang.


"Inalilahi wainailaihi rojiun. Apa yang hilang, mereka semua tidak apa-apakan." Ujar Riha, dia kemudian melihat kondisi pintu kontrakan Aram yang terlepas. Lalu masuk ke dalam kontrakan dan menemui Areha yang duduk sedih. Dia baru saja selesai memasak sayur dan menggoreng ikan asin. Riha menghibur Areha. Bibik Tuyi dan Bibik Walah muncul diikuti Deak.


"Kamu sabar Areha. Nanti semua akan diganti oleh Allah dengan yang lebih baik." Ujar Bibik Tuyi pada Areha. Areha mengangguk lesu.


...*****...


Nenek, ibu pemilik kontrakan dan suaminya datang. Kedua suami istri itu terkejut bukan kepalang. Melihat kondisi pintu yang terlepas dari kusennya.


"Ini sepertinya dicongkel dengan linggis, Pak." Ujar Paman Yuro. Paman Yugus mengiakan.


"Kurang ajar sekali ini, pencuri." Kata suami ibu pemilik kontrakan. Mereka bercerita tentang perbuatan pencuri itu. Memperkirakan kejadiannya, tengah malam saat hujan kembali turun deras. Sehingga Aram dan semuanya tidak mendengar orang mencongkel pintu.


"Lam dan Jum tak kelihatan." Tanya ibu kontrakan, dia kemudian melangkah ke kontrakan Lam dan Jum.


"Aram kamu tidak mendengar apa-apa semalaman." Tanya Paman Yugus. Aram duduk bersandar di dinding kontrakan sambil melihat ke halaman.


"Tidak paman, semalaman tidur nyenyak sekali. Badan capek, kehujanan juga, sorenya. Kata Aram lesu.


"Semua orang pulang sore, pasti kehujanan kemarin." Paman Yuro membenarkan, karena dia juga kehujanan pulang dari kerja.


...*****...


"Jum, Lam, kalian ada di dalam." Panggil Ibu pemilik kontrakan.


"Iya, ada. Lagi makan Bu." Jawab Lam.


"Iyalah kalau begitu." Ujar Ibu pemilik kontrakan, dia memastikan kalau keduanya baik-baik saja. Kemudian ibu pemilik kontrakan pergi. Sementara Jum dan Lam tampak tersenyum-senyum. Mereka tidak makan sesungguhnya, hanya duduk sambil minum kopi. Tampak ada karung beras ukuran sepuluh kilo di dapur mereka.


...*****...


"Ayah laporkan ke Pak RT. Kasih tau Pak Kamtibmas. Lalu cari tukang, kita perbaiki pintu kontrakan Aram. Sekaligus kita tambah jumlah engsel setiap pintu." Kata ibu kontrakan. Suaminya mengiakan, dia pergi ke rumah Pak RT untuk melapor. Paman Yuro dan Paman Yugus pun pamit untuk berangkat kerja.


"Yang sabar Bibik. begitulah hidup." Ujar ibu pemilik kontrakan. Nenek mengiakan. Riha, Bibik Walah dan Bibik Tuyi kemudian bergabung. Mereka bertanya tentang kejadian semalam, dan nenek menceritakan apa adanya.


Aram bangkit, dia kemudian mengambil tali plastik, pakan ayam, dan mulai menangkap ayam yang menurutnya sudah layak jual.


Sementara Jum dan Lam tampak mengeluarkan sepeda motor mereka.


"Brummmm." Mereka pergi tanpa menoleh ke kontrakan Aram. Nenek dan semuanya melihat kepergian Jum dan Lam, yang entah kemana. Keduanya sepertinya tidak peduli dan tidak prihatin sebagaimana orang bertetangga biasanya.


...*****...


Aram tidak mencari barang bekas hari itu. Dia berpikir bagaimana mencari uang untuk membayar kontrakan bulan ini. Juga mengganti modal nenek yang habis tak bersisa. Satu-satunya cara, dia akan menjual beberapa ayamnya.


Menurut hitungannya, Dia menangkap lima belas ekor ayamnya yang berumur lima bulanan. Lalu dia ikat kaki ayam, satu persatu. Beberapa saat kemudian semuanya pulang, dan tingal nenek di teras kontrakan mereka.


"Kita jual kemana Aram." Tanya nenek setelah Aram selesai menangkap ayam.


"Coba kita bawa ke pasar dahulu, Nek. Kalau tidak laku, nanti Aram jajakan di komplek." Kata Aram.


"Ayolah. Mumpung masih pagi, pasar belum tutup." Jawab nenek.


"Kita jual harga empat puluh ribu saja, satunya." Kata Aram.


"Apa tidak kita timbang saja, Ram. Lalu kita jual satu kilo lima puluh ribu sesuai pasaran." Kata nenek.


"Kita ambil lancar saja Nek. Kita kehabisan uang. Kontrakan belum dibayar, modal nenek juga tidak ada." Ujar Aram.


"Benar juga katamu, Aram." Sahut Nenek. Nenek bersiap, dia mengambil bakul dan kain gendongan bakul untuk berjualan kuenya. Kemudian nenek meletakkan karung plastik di dalam bakul untuk alas ayam-ayam dia gendong. Seandainya ayam ada yang buang kotoran. Bakul tidak bau dan kotor.


Nenek memasukkan tujuh ekor ayam. Aram membatu menggendong keranjang. Nenek mengikat kain gendongan di depan dadanya.


Aram mencoba menenteng sisa yang digendong nenek. Tapi Aram tidak bisa, tangannya terlalu kecil untuk memegang banyak kaki ayam.


"Keokkk. Keokkk." Suara ayam ramai sekali.


"Sini, nenek bawa empat lagi." Pinta nenek.


"Nanti berat, biarlah Aram." Kata Aram.


"Tidak apa-apa, nenek masih kuat." Jawab nenek. Lalu Aram memberikan ayam, dua nenek jinjing di tangan kiri dan dua lagi di tangan kanan. Aram juga menjinjing empat ekor ayam.


"Tinnn. Tinnnn." Ramainya pasar.


"Rasa kacang hijau. mari Bu, mari Dek." Teriak penjual es.


"Pak kami numpang jual ayam, untuk hari ini saja." Ujar nenek, minta izin dengan security pasar.


"Tidak bisa Uwa, harus ada izinnya. Nanti pedagang marah, soalnya yang jualan bayar lapak semua." Alasan Pak security.


"Tolonglah, Dik. Kami sangat memerlukan uang. Hari ini saja, hanya jual ayam ini saja." Nenek memelas, dia begitu berharap. Uang penjualan ayam akan digunakan untuk membayar kontrakan, makan, dan modal jualan kue lagi. Pikirnya tak henti.


Aram diam memperhatikan security tersebut yang tampak berpikir. Kemudian dia berjalan menuju temannya di pos security. Dia tampak berkata-kata dengan temannya. Beberapa saat kemudian dia datang kembali.


"Benar hanya hari ini saja." Tanya security.


"Iya Dik." Jawab nenek.

__ADS_1


"Tapi kalian bayar sewa, Uwa." Ujar security.


"Berapa." Tanya nenek.


"Seratus ribu." Kata security.


"Apa tidak kemahalan Dik." Ujar nenek.


"Memang begitu tarifnya, Uwa." Ujar security. Nenek melirik Aram dan diam beberapa saat.


"Baiklah paman, tapi kami akan bayar kalau ada yang beli. Kalau tidak laku satupun kami tidak bisa membayar. Sebab kami benar-benar tidak punya uang." Kata Aram. Akhirnya mereka sepakat, nenek menjual ayam di sudut pasar. Mereka meletakkan ayam di lantai pasar beralas karung plastik.


"Ayam. ayam kampung murah. Satu hanya empat puluh ribu." Kata Aram menawarkan dagangannya pada pengunjung pasar. Melihat ayam kampung murah, banyak ibu-ibu datang menghampiri. Masyarakat memang lebih suka ayam kampung. Rasanya enak apalagi di masak gulai pindang asam pedas.


"Satunya empat puluh ribu." Ujar seorang ibu-ibu, dia melihat dan mengangkat ayam. Ayamnya gemuk dan berat, ibu itu tahu kalau timbangan satu ekor ayam lebih dari satu kilo. Daripada dia membeli ayam potong satu kilo, lebih baik dia membeli ayam kampung.


"Iya, satunya empat puluh ribu saja, Dik." Kata nenek.


"Tidak di potong, Uwa." Tanya si ibu.


"Uwa tidak bisa, cucu uwa juga begitu." Jawab Uwa.


"Iya tak apalah, biar suami saya yang memotong di rumah." Kata ibu itu. Setelah itu, dia membayar uang pas. Karena nenek tidak ada uang kembalian.


Sudah laku lima ekor ayam. Beberapa saat kemudian tidak ada yang membeli. Sementara hiruk-pikuk pasar bertambah ramai. Jalan sempit dan becek bertambah padat.


...*****...


"Minuman dingin. Minuman dingin." Seorang laki-laki menyandang kotak berisi minuman dan bermacam jenis rokok. Tukang parkir membeli dua batang rokok. Satu dia hisap, satu dia jepitkan di telinga.


"Sayur murah-sayur murah. Mari ibu mampir, mari." Teriak para pedagang sayuran.


"Ting-ting-ting." Seorang laki-laki berumur empat puluhan tahun lewat sambil memukul-mukul mangkok. Dia menawarkan bakso pada para pedagang. Di bagian ujung seorang pedagang memesan semangkuk bakso.


Ibu-ibu yang membeli ayam Aram tadi tampak membeli sayuran. Lokal pasar sebelah itu khusus menjual sayur mayur.


"Beli di mana ayam kampung, gemuk juga." Tanya pedagang menjual macam-macam sayuran.


"Tadi beli di nenek-nenek sama cucunya di sudut sana." Ujar si ibu memberi tahu.


"Berapa kilo satu ini, besar. Pasti lebih sekilo ini." Tanya si penjual sayuran. Ada juga beberapa ibu-ibu mendekat lapak ibu itu. Bertanya harga cabai, dan bawang. Ibu memberi tahu harga-harga pada semuanya.


"Cabai merah lima ribu satu on, bawang merah tujuh ribu seperempat, putih sembilan ribu." Ujar pedagang dan semua terkejut bawang putih sedang mahal.


"Tidak ditimbang, belinya ekoran." Ujar si ibu, dia membeli bumbu untuk gulai pindang.


"Coba saya timbang." Ujar penjual sayuran itu. Kemudian si ibu menimbang ayam yang dia beli pada Aram.


"Satu kilo setengah." Ujar penjual.


"Berapa sekilo ayam kampungnya." Tanya pembeli yang baru datang.


"Ekoran dijual, tidak ditimbang. Hanya empat puluh ribu." Jelas ibu pembeli ayam Aram lagi.


"Uwa, kalau mau jual ayam lagi. Kasih tahu ya, bisa di atur." Kata security itu. Wajahnya tampak cerah bersama temannya. Nenek tahu, kalau sewa lapak pasar itu hanya tiga ratus ribu sebulan. Sementara dia membayar seratus ribu sehari. Tapi tidak apa-apa, anggaplah berbagai rezeki. Setelah nenek pergi kedua security itu mengipas-ngipaskan uang lima puluh ribu di wajah mereka.


"Rezeki tak Kemana." Ujar satunya.


"Coba setiap hari ada nenek-nenek jual ayam begini." Kata satunya lagi. Mereka sangat senang, walau berbuat curang.


*****


Sementara itu, Riha dan keluarganya melaju menuju kontrakan Riha. Di perjalanan Riha menelepon pamannya.


"Iya, ada apa Riha." Tanya bibinnya, karena pamannya tidak bisa mengangkat telpon sebab sedang menyetir.


"Bibi jadikan ke kontrakan Riha. Riha takut Bik." Ujar Riha.


"Memang kenapa." Jawab bibinnya.


"Kontrakan nenek sebelah dibobol pencuri, sampai pintunya lepas. Uang dan beras mereka diambil semua." Cerita Riha.


"Lahilahailallah. Ada juga orang tega mencuri di tempat anak yatim-piatu." Kata Bibik Riha terkejut. "Iya, ini lagi di jalan. Pamanmu juga ikut, tunggu sebentar lagi tiba." Kata Bibinnya lagi. Setelah mengucapkan salam Riha menutup telponnya. Bibik Riha bercerita pada suaminya, dan Yuzaka terkejut dan khawatir.


"Kasihan, Luran dan Figan." Kata Hapa, dia perihatin dengan dua temannya.


"Kita santuni saja mereka kalau memang anak yatim-piatu." Ujar ayah Yuzaka.


"Mereka tidak mau, berbeda dengan orang kebanyakan. Mereka orang baik dan tidak mau bergantung pada pemberian orang lain. Mereka selalu berusaha sendiri dan menyembunyikan identitas anak yatim-piatunya." Ujar ibu Yuzaka.


"Hebat sekali anak-anak itu." Puji ayah Yuzaka. Diam-diam Yuzaka merasa bangga, Aram disebut anak yang luar biasa oleh ayahnya. Lampu hijau menyala, mobil kembali melaju menyusuri jalan raya.


...*****...


Riha selesai mandi, dia mencuci sendiri kalau hari libur. Kalau hari kerja dia ke laundry. Jemuran dari aluminium penuh oleh cucian pakaiannya. Seprey, semua pakaian dalam, ransel, sepatu kerja semua dia cuci.


"Durrr. Durrr." Suara memukul papan pintu kontrakan Aram. Dua orang tukang kayu memperbaiki pintu kontrakan Aram.


"Sudah mencuci Riha." Sapa nenek, Aram menjinjing plastik berisi sayuran dan buah-buahan. Nenek meminta Aram membeli untuk Areha dan dua adiknya.


"Iya Nek. Borong apa?." Ujar Riha.


"Hanya belanja sayur-sayuran." Jawab nenek. Di dalam bakul yang di gendong nenek ada beras sepuluh kilo.


"Ini pintu sudah, di tambah satu lagi engselnya. Biar kuat." Kata Pak tukang, rambutnya sudah banyak uban, badannya tinggi besar dan hitam. Keneknya seorang remaja berumur enam belasan tahun.


"Oh, terimakasih Pak." Jawab nenek. "Areha, bikin kopi dua untuk paman tukang." Ujar nenek lagi, memanggil Areha yang sedang main dengan Deak.


"Tidak perlu repot-repot, Yuk." Ujar Pak Tukang. Dari rumah ibu pemilik kontrakan melihat.


"Sudah pasang pintunya, Om." Tanya ibu kontrakan kuat-kuat.

__ADS_1


"Sudah Bu." Jawab Pak Tukang, dia duduk bersandar di dinding. Aram muncul dari dalam membawa cerek dan cangkir air minum.


"Minum dulu Dik." Ujar Nenek. Tukang segera minum, keneknya mengumpulkan alat dan membersihkan sekitar. Bekas-bekas kayu dia kumpulkan, alat diletakkan kedalam wadahnya.


"Maaf, cucu saya belum mengerti menjamu tamu." Ujar nenek merasa bersalah karena tidak di hidangkan air minum oleh Areha.


"Tak apa, namanya anak-anak. Mana dia mengerti." Jawab Pak Tukang. Keneknya juga duduk dan minum air putih. Ibu kontrakan datang dan duduk di sisi nenek. Areha juga tiba membawa dua cangkir kopi. Mereka berbincang-bincang dan Aram merawat kandang Ayam miliknya. Pak Tukang bertanya bagaimana cerita tentang kejadian pencurian itu. Nenek menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, juga apa yang hilang. Setelah itu ibu pemilik kontrakan memberikan uang honor mereka. Tiba-tiba:


"Aaayyyyyyy. Oooyyyyyy." Terdengar jeritan Bibik Walah. Semua terkejut, bahkan pak tukang yang sedang menghirup kopi jadi tertumpah sedikit. Kopi panas menimpa pahanya. Pak Tukang kepanasan dan dia menggosok-gosok pahanya. Paman Yugus berlari keluar, diikuti Bibik Walah. Keduanya berebutan handphone. Tampak tangan kiri Bibik Walah menarik baju dan tangan kanan mencoba merebut handphone. Yang disembunyikan di belakang Paman Yugus.


"Sudah, sudah. Malu dilihat orang." Ujar Paman Yugus.


"Kau yang tidak punya malu. Kau membuat Aku habis kesabaran." Jawab Bibik Walah tidak kalah sengit.


Bibik Tuyi berdiri di pintu, dia juga kaget mendengar teriakkan Bibik Walah. Di tangannya masih memegang sendok. Nenek dan yang lainnya jadi melongok. Riha sambil melihat dia membenahi letak hijabnya yang dipasang buru-buru.


"Walah, Yugus. Sudah cukup." Ujar nenek menasihati, sementara Deak mulai menangis.


"Pak. Pak." Paman Yugus memukul bahu Bibik Walah. Tapi Bibik Walah tidak mau menyerah.


"Minta HP. Minyak HP." Kata Bibik Walah berteriak keras.


"Aku mau narik." Jawab Paman Yugus. Ibu pemilik kontrakan dan nenek bangkit lalu mendekat. Paman Yugus tampak sudah marah besar. Kemudian tubuh Bibik Walah dia dorong dengan kuat-kuat. Sehingga dia terjatuh dan terduduk di tanah.


"Bukkkk." Tubuh Bibik Walah terjatuh dengan keras.


"Aduuuhhh." Keluh Bibik Walah sambil meringis. Paman Yugus naik sepeda motornya yang dari pagi sudah diparkir di depan kontrakan. Lalu pergi dengan kecepatan tinggi. Nenek dan Ibu pemilik kontrakan membantu Bibik Walah. Membawa dia masuk ke dalam. Riha dan Bibik Tuyi juga ikut masuk. Suami ibu pemilik kontrakan pun datang bersama Pak RT dan Pak polisi, yang bertugas sebagai Kamtibmas. Mereka melihat keributan itu dari jauh.


Pak Kamtibmas memakai pakaian bebas. Pak RT bertanya pada Aram tentang kejadian pencurian. Pak RT akan menyelidiki kejadian itu.


...*****...


Ibu pemilik kontrakan, Riha, Nenek dan Bibik Tuyi memberi dukungan pada Bibik Walah. Nenek menasihati agar dia sabar dan terus berjuang mempertahankan rumah tangganya. Dengan kebaikan mereka semua membuat Bibik Walah menjadi sedikit lebih baik.


"Apa ini." Tanya Bibik Tuyi.


"Sepertinya darah." Ujar Riha.


"Lahilahailallah, Walah. Kau keguguran." Kata ibu pemilik kontrakan. Bibik Walah melihat ke arah tempat duduknya. Tampak di lantai sekitar dia duduk banyak darah mengalir.


"Aaaahhhhhh." Bibik Walah menjadi kesetanan dan tidak menerima kalau janinnya keguguran. Semua jadi kewalahan menenangkan Bibik Walah. Air matanya mengalir deras tiada henti. begitu juga nenek, Riha, Bibik Tuyi, dan ibu pemilik kontrakan juga ikut menangis. Mereka mengerti betapa menderitanya Bibik Walah. Kalau hidup miskin itu biasa. Tapi perlakuan suaminya yang kejam adalah nereka.


"Aku mau mati. Aku mau mati Nek." Kata Bibik Walah.


"Jangan ngomong begitu, tidak baik Walah. Sabar. Sabar. Istighfar." Ujar Nenek.


"Anakku mati, maafkan ibu anakku. Ibu tidak bisa menjagamu. Ibu salah, ibu berdosa." Ujar Bibik Walah. Nenek memeluk Bibik Walah, ibu pemilik kontrakan mengelus-elus pundaknya.


"Bibik Tuyi, masakan bibik hangus." Panggil Areha dari luar. Bibik Tuyi terkejut dan dia segera berlari ke luar, dan masuk kontrakannya, lalu buru-buru mematikan kompor gas. Tampak sup ceker ayam sudah kering dan belanga sudah menghitam.


...******...


SATU JAM KEMUDIAN.


*


Mobil Avanza hitam datang dari arah jalan kompleks. Lalu belok dan masuk ke pekarangan kontrakan. Aram masih membersihkan kandang ayam. Dia melihat mobil berhenti di depan kontrakan. Tapi dia tidak memperdulikan. Sebab, tidak ada hubungannya, dengan dia.


Aram dengan teliti memperhatikan kandang dan ayam-ayam miliknya. Saat menemukan ada anak ayam yang mati. Dia langsung mengeceknya. Aram mempelajari metode peternakan ayam kampung secara otodidak. Suatu saat nanti, dia akan menjadi pengusaha sukses, pengekspor ayam kampung di dunia. Itulah cita-cita Aram. Dalam pikiran itu, sebuah suara memanggil dari belakangnya.


"Aram." Sebuah suara lembut, dan sangat dikenal Aram. Suara yang dia rindukan. Tapi suara yang tidak mau dia dengarkan. Aram tidak begitu memperdulikan suara itu. Tapi dia tetap berbalik. Dua botol air minum ayam di tangannya terlepas. Aram gugup dan tubuhnya bergetar. Dia juga tidak percaya, dengan apa yang dia lihat. Dia tersenyum manis dan duduk mengambil botol itu kembali.


"Apa kabarmu, Aram." Tanyanya sambil berjalan mendekat.


*


*


Hujan boleh datang.


Badai boleh menerpa.


Atau ombak boleh menggulung.


Angin pun silahkan menerbangkan.


Tapi.


Ada badai yang sulit.


Ada hujan terlampau lebat.


Ada ombak terlalu besar.


Ada angin sangat kuat.


Namun semua itu.


Tak seperti sapaan kamu.


Tak sama seperti langkah kamu.


Juga tidak sebanding senyum kamu.


Yang dapat menghilangkan sebuah gunung di pundakku.


Yang menghentikan tangisku.


Itulah suara kamu.


Itulah dirimu.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2