Kedipan Dikalah Senja.

Kedipan Dikalah Senja.
Hujan Di Senja Hari.


__ADS_3

DUA MINGGU BERLALU.


*


"Allahuakbar, Allahuakbar." Suara Azan bersahutan dari masjid ke masjid. Sehingga suara azan seperti menyatu. Itulah mengapa sekarang Kota Palembang Darussalam dijuluki Kota Seribu Bulan Sabit.


*


"Duuurrr. Duuurrr."


"Gruunnddung. Tarrrr." Suara petir dan guntur.


Awan hitam begitu kelam, bergerak bagaikan gelombang badai. Angin menderu-deru, dedaunan bergoyang, kilat bersabung. Hujan pun turun dengan sangat lebatnya.


Lisam kehujanan, tubuhnya basah kuyup. Untuk melindungi kardus dia berteduh di sisi bangunan masjid. Tubuhnya menggigil, hujan sangat deras soreh itu. Terpikirkan olehnya, ibunya yang sakit keras dan adiknya yang berada di belakang gudang tak terawat itu. Tapi yang paling dikhawatirkan bagaimana dia menjual barang bekasnya. Sebab mungkin tidak ada pembeli yang buka bila hujan seperti itu. Sementara hari semakin sore.


...*****...


NENEK TERJEBAK HUJAN.


*


"Adu, hujan lebat sekali. Bagaimana Aku pulang." Pikir nenek. Untung dagangan sudah habis. Nenek ingin menerobos tapi takut dia sakit dan memerlukan uang untuk berobat. Nenek berteduh di bawah sebuah stasiun LRT. Sehingga dia tidak basah, tapi tetap tubuhnya kedinginan. Tampak beberapa sepeda motor nekat menerobos jalan yang banjir. Lalu sepeda motornya menjadi mogok. Pengendara tidak menyangka kalau air setinggi itu. Mobil-mobil dijalanan tampak merayap menerabas hujan dan banjir.


...*****...


HAMPIR DI TABRAK MOBIL.


*


Sementara itu, Aram tetap berjalan menerobos hujan. Bagi Aram hujan adalah hal yang menyenangkan. Angin berhembus kencang menambah dingin tubuh. Sesekali Aram menyapu wajahnya dengan tangan. Agar air hujan tidak menutupi pemandangan. Setiap berjalan, kakinya menerabas aliran air hujan di jalanan, yang berubah seperti sebuah sungai dangkal. Jalanan sepi, sesekali ada mobil berlalu. Dari jauh dia melihat masjid yang megah. Tampak banyak sepeda motor terparkir. Sepertinya jamaah shalat ashar tidak bisa pulang.


"Gluduk. Gluduk." Ban gerobak Aram melindas batu bata. Ada dua batu bata tergeletak di jalan raya.


"Kakkk. Kak Aram." Aram mendengar suara orang memanggilnya. Tapi siapa, mungkin hanya pendengaran Aku saja pikir Aram. Dia terus berjalan ke atah pulang.


Sementara itu, seorang anak perempuan dengan kardus dan karung plastik kesulitan membuka pagar masjid. Karena kuncinya Serat dan keras. Membuat tangan kecilnya yang kurus kesulitan membuka. Ditambah lagi air hujan turun dengan derasnya. Beberapa orang di dalam masjid ingin menolong, tapi hujan deras sehingga mereka melihat saja. Beberapa saat kemudian pintu pagar terbuka dan tangannya terkelupas, tergores. Dia bergegas masuk ke jalan raya. Tanpa menoleh ke belakang lagi. Dia ingin cepat-cepat menemui Aram.


"Sriiittttt." Mobil truk bak setengah yang penuh batu bata mengerem mendadak. Anak perempuan itu hampir saja tertabrak. Sementara mobil itu oleng dan hampir terbaik. Untung masih terkendali. Orang-orang di masjid panik dan melihat ke jalan raya. Aram berhenti berbalik, di kejauhan menoleh ke belakang dan memperhatikan. Dia melihat seorang anak perempuan di tengah jalan dan mobil berhenti dalam posisi setengah melintang.


"Kamu mau mati ya. Mau mati. Heh." Begitulah teriakan si sopir dari dalam mobil, kesal. Anak wanita itu menangis ketakutan. Si sopir tidak tega lalu perlahan dia menjalankan mobilnya. Aram masih memperhatikan, dia tidak mengenali anak perempuan itu. Jarak cukup jauh dan hujan yang masih derasnya. Aram pun melangkah, si anak tampak tidak apa-apa.


"Kak Arammmmm." Suara memanggil Aram berulang-ulang, Aram menoleh ke belakang. Dia melihat anak perempuan tadi berlari menyusulnya. Tampak menjinjing kardus yang basa, dan mendukung karung plastik di punggungnya. Aram merasa mengenal, tapi siapa.


"Lisam." Ujar Aram berseru saat hampir dekat dengannya.


"Kak, tolong Ibu. Tolong ibu Lisam Kak. Kakak kemana saja. Kenapa tidak pernah mencari barang bekas lagi." Tanya Lisam.


"Kakak pindah, kontrakan Kakak kebakaran dan kesulitan mencari tempat tinggal baru." Jawab Aram.


"Rumah Lisam juga dihancurkan orang." Ujar Lisam sedih.


"Kenapa." Tanya Aram.


"Tidak tahu." Jawab Lisam.


"Ibumu kenapa, dan dimana mereka." Tanya Aram.


"Ibu sakit, Bagit menjaga ibu di belakang gudang bekas." Ujar Lisam.


"Sudah di obati." Tanya Aram.


"Belum Kak. Tolong Ibu Lisam." Ujar Lisam lagi, sambil menangis. Melihat Lisam yang seumuran Areha. Membuat Aram tidak tega dan memang dia akan membantu apa yang dapat dia bantu. Keduanya pun pergi menerobos hujan.


...*****...


BAGIT MEMANGKU IBU.


*


Hujan yang sangat deras membuat genangan air di mana-mana. Begitu juga di belakang gudang bekas dimana Lisam, ibunya, dan Bagit tinggal. Bagit yang masih kecil seumuran Figan itu tampak bingung. Memang tubuh tidak basa oleh air hujan. Tapi volume air terus meninggi dan teras belakang gudang itu mulai digenangi air.


"Ibu, bangun. Air akan banjir." Ujar Bagit. Tapi ibunya diam saja, hanya pandangan mata yang sayu melihat ke arah Bagit. Lalu ada air mata yang memercik. Ibu Bagit sudah sangat lemah, dia tidak bisa bergerak lagi. Tubuhnya sudah sangat kurus. Dia pasrah dengan takdirnya.


Ibu Bagit memaksakan tersenyum pada Bagit. Tapi Bagit tetap terus panik dan sedih. Dia mulai menangis saat air sudah menggenangi teras itu. Dia mencoba mendorong tubuh ibunya. Kemudian menarik-narik, tapi tidak bisa. Tenaga masih sangat kecil. Lama dia menunggu dan kembali menangis.


"Kakak, pulang. Kak Pulang." Teriak Bagit. Bagit berlari ke samping dan menengok ke arah jalan. Dia berharap Lisam sudah pulang. Kemudian kembali ke dekat ibu. Hal itu dia lakukan berulang-ulang. Memanggil manggil Lisam sambil menangis. Tapi yang dia lihat hanyalah air hujan yang deras.


Sampai akhirnya air mulai merendam tubuh dan wajah Ibu Bagit. Membuat ibu Bagit kesulitan bernafas. Bagit melihat itu, dia sudah mengerti. Kalau ibunya kesulitan bernafas. Lalu Bagit mengangkat kepala ibunya. Lama dia pegang, tapi tidak tahan.


"Burrrr." Kepala ibu Bagit terlepas. Dengan cepat Bagit mengangkat lagi. Bagit lelah berdiri setenga membungkuk. Dia ingin duduk, dan itulah dia terpikirkan.


Setelah duduk, dia letakkan kepala ibunya di atas kedua pahanya. Saat air semakin tinggi, tubuh ibu Bagit mengapung. Sehingga Bagit dapat menarik ke arah dinding gudang. Dengan bersandar di dinding dia meletakkan kepala ibunya di bahunya. Sedangkan Bagit duduk merunduk. Terasa air semakin tinggi dan mulia mengalir deras. Sekuat tenaga Bagit menahan agar tubuh ibunya tidak hanyut.

__ADS_1


"Kakak. Kakak. Banjir." Itulah yang terdengar dari mulut Bagit, diselah-selah tangisannya. Bagit ketakutan setengah mati, seekor ular sebesar betis orang dewasa, sepanjang tiga meter berenang dipermukaan air dan akan melewati Bagit.


Jantung Bagit bagaikan berhenti berdetak. Ular itu berhenti dan mendesis dari jarak dua meter. Lidahnya bercabang, mata ular menyorot tajam pada bagian. Tapi, entah mengapa ular itu tiba-tiba berbalik dan menjauh lalu menghilang di balik semak-semak.


...*****...


AMBULAN GEROBAK SAMPAH.


*


Satu setengah jam berlalu, hujan mulai mereda. Tapi masih cukup deras. Tubuh Bagit kedinginan sekali. Tubuhnya mulai kaku dan kecut. Aram dan Lisam berjalan menerobos banjir hujan sebatas lutut di sisi gudang bekas.


"Hu. hu. hu. Kak, pulang." Ujar Bagit, lalu dia tidak sadarkan diri. Sementara Aram dan Lisam telah berada di samping gudang bekas itu.


"Dari mana." Tanya Aram.


"Lewat sini, mereka di belakang Kak." Jawab Lisam.


"Kan banjir." Ujar Aram, saat dia melihat dataran tanah sudah ditutupi air setinggi lutut orang dewasa.


"Sebelum hujan tidak banjir kak. Kemarin hujan juga tidak banjir." Jelas Lisam, kedua terus melangkah sambil berkata. Sementara gerobak Aram dia letakkan di sisi jalan raya.


"Hujannya tidak sederas ini,Lisam." Sahut Aram dari belakang.


"Bagit." Panggil Lisam berulang-ulang. Tapi tidak ada jawaban. Mereka tiba di belakang, dan melihat pemandangan yang sangat mengharukan.


"Bagitt. Ibu." Teriak Lisam sambil menjerit menangis. Aram datang dengan cepat, lalu mengangkat tubuh ibu Lisam. Sementara Lisam mengangkat tubuh Bagit. Areha menangis menjerit-jerit, dia takut adik dan ibunya meninggal dunia. Aram meletakkan tangan di atas hidung Bagit dan di atas hidung Ibu Lisam. Dia lega keduanya masih hidup. Ibu Lisam sesungguhnya sadar hanya saja dalam keadaan sakit yang parah.


Aram perlahan menarik tubuh Ibu Lisam di air banjir. Aram memegang rusuk Ibu Lisam dari belakang. Lalu dia berjalan mundur. Ada untungnya juga banjir itu. sehingga Aram dapat menarik dengan cukup mudah Ibu Lisam. Sementara Lisam menggendong Bagit, mereka menuju gerobak Aram.


Hujan masih turun dengan cukup deras. Saat mendekati gerobak, tiba-tiba Bagit sadar. Lalu dia menangis, menyadari Lisam yang menggendong dirinya. Dia langsung memeluk Lisam dengan kuat-kuat dan tangisnya pecah. Bagit ingin mengadu tapi tidak berkata-kata karena tangisannya tak tertahan. Tangannya menunjuk-nunjuk ke belakang dan hamparan banjir.


"Ibu tidak apa, sudah ada kak Aram." Ujar Lisam.


Sementara Aram berpikir bagaimana mengangkat tubuh Ibu Lisam ke dalam gerobak. Dia coba mengangkat dibantu Lisam dan Bagit. Tapi tenaga tiga anak-anak itu tidak cukup. Banyak pengendara berlalu dan melihat mereka di jalan raya itu. Tapi tidak satupun yang berhenti untuk menolong.


Aram mencoba dengan mengeluarkan semua barang bekas di dalam gerobak. Lalu gerobak dia balik ke samping. Sehingga dinding sisi itu menempel di tanah. Tampak ban sisi sebelah di atas dan sedikit berputar. Lalu Aram dan Lisam menggulingkan tubuh Ibu Lisam sampai masuk gerobak di atas dinding sisi dipermukaan tanah. Setelah itu, baru mereka bertiga mendorong gerobak kembali tegak seperti semula.


Aram mengangkat Bagit naik gerobak. Lalu dia menyadarkan Ibu Lisam di dinding. Satu sisi dia isi kembali barang bekas tadi. Setelah tinggi, dia memindahkan Ibu Lisam di atas tumpukan barang bekas. Lalu tempat dia menyandarkan Ibu Lisam tadi dia isi barang bekas. Begitulah cerdiknya Aram dengan tenang kecil. Sementara Aram mengemasi, Lisam dia minta membawa semua barang mereka di belakang gudang. Hanya buntalan pakaian, selimut lebar, dan dua bantal. Semuanya basah oleh banjir. Lalu dimasukkan kedalam gerobak. Bagit duduk memangku kepala ibunya. Sementara Aram dan Lisam mendorong gerobak menerobos hujan.


"Tinn. Brumm." Mobil masih banyak berlalu lalang.


"Tarrrr, dummmm." Petir terdengar menyambar keras disertai kilat kembali. Hujan kembali menjadi deras seperti tadi.


"Bagit sedikit membungkuk, sehingga wajah ibunya tidak terkena air hujan langsung. Terasa berat sekarang saat Aram mendorong gerobak. Mungkin muatan yang bertambah, atau dia sudah lelah dan kedinginan. Tapi Aram terus berusaha dengan sabar. Mendorong tanpa henti, bila lelah dia berhenti sejenak.


Lain dengan Bagit, dari atas gerobak dia dapat melihat dengan leluasa. Sementara Lisam begitu kelelahan dan kedinginan.


...*****...


BUBUR NASI+UBI


*


Nenek tiba di halaman rumah. Luran, Figan dan Deak duduk di muara pintu. Mereka mengenakan kain masing-masing. Memandangi air hujan jatuh dan aliran air selokan yang meluap. Sampah berserakan bertebaran hanyut di jalan.


"Nenek pulang, hore." Teriak ketiganya. Sementara Areha menggendong anak Salika dan Junka menggendong Adik si anak Pak Kino.


"Nenek kehujanan." Ujar Areha, Salika keluar membawa handuk. Nenek menyerahkan semua bawaannya. Bakul, dan wadah kue yang lainnya.


Tiba-tiba:


"Gluduk. Duk." Aram dan gerobaknya muncul di halaman. Semua mata terkejut dan menatap penuh heran. Seorang wanita terbujur tak bergerak dipangku anak kecil di dalam gerobak di atas tumpukan barang bekas. Anak perempuan dengan wajah pucat menggigil di samping gerobak.


"Nek, tolong angkat." Ujar Aram, nenek yang baru saja mau masuk jadi berbalik dan membantu Aram mengangkat tubuh Ibu Lisam, langsung ke kamar.


Setelah itu, pakain Ibu Lisam di ganti dan dibaringkan di atas tikar, lalu diselimuti sehingga hangat. Lisam mengenakan baju Areha, dan Bagit meminjam baju Figan. Membuat semua lebih baik.


Sementara di dapur Salika dan Nenek memikirkan bagaimana beras mereka cukup untuk sore itu. Tapi mereka kedatangan tamu tiga orang. Jadi masakan harus dilebihkan. Kalau beras dua kilo dimasak semua. Tidak cukup untuk besok. Sementara mereka harus hemat, karena memikirkan bagaimana membayar kontrakan bulan depan. Lebih baik mereka menahan lapar daripada terlunta-lunta diluaran seperti beberapa minggu lalu.


"Buat bubur nasi saja, Salika. Kita potong ubi, kentang, dimasak dicampur dengan sekilo beras. Beri bumbu-bumbu, garam dan penyedap rasa." Kata nenek, Salika setuju dan mulai memotong ubi.


SETENGAH JAM KEMUDIAN:


"Enak Nek, bubur nasinya." Ujar Figan.


"Besok bikin lagi, Nek." Sahut Deak.


"Lisam, kalau kau sudah makan, suapi ibumu ya." Ujar nenek, Lisam mengiakan. Setelah makan, Lisam menyuapi ibunya. Perlahan karena ibunya sudah sangat lemah.


"Ibumu sakit apa." Tanya Nenek.


"Tidak tahu Nek, sesak nafas." Jawab Lisam.

__ADS_1


"Aram, besok cari rumah bidan. Minta untuk mengobati ibu Lisam. Rawat di rumah saja, biar mudah menjaganya." Kata nenek.


"Iya Nek." Sahut Aram dari ruang tengah rumah. Tubunya dia selimuti dengan kain dan duduk meringkuk, kedinginan. Areha dan Junka membantu Lisam. Mereka juga memberi motivasi agar Lisam sabar. Lisam masih beruntung punya Ibu. Sementara mereka berdua sudah yatim piatu, ibu dan ayah mereka sudah meninggal semua. Lisam sangat berterimakasih pada mereka karena diterima dengan baik. Sementara Bagit masih malu-malu bermain dengan Luran dan Figan.


...*****...


PAK RT.


*


Pak RT berdiri di depan kaca jendela. Dia melihat hujan yang tak redah-redah. Istrinya datang membawa gelas kopi panas. Istrinya meminta Pak RT duduk di kursi.


"Pak, apa yang dipikirkan." Tanya istrinya.


"Itu, keluarga nenek itu tidak datang melapor sekaligus memberikan data kependudukan. Tadi ada warga yang bertanya, mengenai mereka. Tapi bapak belum bisa menjelaskan." Ujar Pak RT.


"Jangan terlalu serius pak, mungkin si nenek itu sibuk. Belum sempat memberikan identitas mereka." Ujar istrinya.


"Tapi sudah lebih dua Minggu. Bapak sebagai RT harus tahu. Karena ada tanggung jawab moral sebagai pemimpin." Jawab Pak RT. Lalu dia menghirup kopinya.


"Gaji jadi RT kecil sekali pak, jangan terlalu serius." Sahut istrinya.


"Yang namanya pemimpin, bukan honor dan kedudukan tujuannya. Tapi tanggung jawab yang diutamakan. Memimpin itu memiliki nilai ibadah juga. Baik buruk dibawa sampai mati. Bapak menjadi RT karena ingin menyumbangkan tenaga untuk bangsa dan berbakti pada negara. RT memang kecil, tapi dari RT itulah kemudian menjadi besar. Sedangkan kwalitas kehidupan berbangsa juga dijamin dari para RT. Kalau RT-RW rusak, rusak seluruh negara ini."


Jelas suaminya.


"Bapak gelisah, kenapa. Cuma keluarga nenek-nenek dan cucu-cucunya." Sahut istrinya, lalu dia memindahkan cenal tv ke stasiun paforitnya.


"Justru itulah Bu. Warga banyak curiga, selama ini. Ada yang bilang eksploitasi anak. Si ibu muda yang tidak ada suaminya. Tak ada laki-laki atau perempuan dewasa. Sementara cucu-cucu si nenek umurnya hampir sama. Masak tidak ada jeda antara pernikahan anak-anak si nenek. Warga-warga sedang mempermasalahkan ini." Jelas Pak RT.


"Siapa yang bilang." Tanya istrinya.


"Pak Herung dan warga lainnya." Jawab Pak RT.


"Bapak selidiki dahulu, nanti saya datang mengundangnya ke rumah. Tidak baik berprasangka buruk, apa lagi dengan nenek-nenek tua." Jawab istri Pak RT.


"Ting Tung." Suara pesan singkat di smartphone.


"Informasi: Rapat warga Perumahan Griya Sriwijaya di ubah Besok Malam. (TTd. Pak RW. Pak Ustadz dan Pengurusan masjid).


...*****...


KEESOKAN HARINYA.


*


PAK EWA.


*


Pak Ewa baru pulang dari tempat bekerjanya. Proyek pengerjaan bangunan di Perumahan Elit perusahaan Pak Katara terhenti sementara. Lima tukang dan satu keneknya masih di rumah sakit. Sepeda motornya dia parkir di samping rumah. Dua anaknya baru pulang dari sekolah. Istri menyambut di muara pintu.


"Kok lesu, Bang." Sapa istrinya.


"Itu, si Patu kakinya patah. Abang khawatir nanti kakinya tidak bisa normal lagi." Ujar Pak Ewa, dia melepaskan jaket dan helm. Tas kecilnya dia serahkan pada istrinya. Lalu duduk di kursi ruang tamu.


"Jangan terlalu dipikirkan, Bang." Jawab istrinya, kemudian dia pergi ke ruang dapur. Terdengar istri menyalahkan kompor, seperti biasa dia akan membuat kopi. Sementara Pak Ewa menyetel kipas angin, dan merasa nyaman.


"Ayah, kakak bilang dia pulang sore. Ada latihan baris Pramuka." Ujar anak nomor dua Pak Ewa yang sudah di bangku SMP. Sementara anak bungsu perempuan terdengar bercakap-cakap dengan istrinya yang sedang mengaduk kopi.


"Iya, kau mau kemana." Tanya Pak Ewa.


"Mau latihan main bola, di sekolah." Ujarnya, lalu pergi dengan sepeda.


"Ini kopinya, Bang." Ujar istrinya.


"Listrik sudah bunyi." Tanya Pak Ewa.


"Iya, dari pagi tadi. Belum sempat beli token." Jawab istrinya.


"Si Arde ada kerjaan sekarang." Tanya Pak Ewa, lalu dia menghirup kopi panas.


"Kurang tahu, ada apa Bang." Jawab istrinya, Arde adik ipar Pak Ewa. Juga berprofesi sebagai tukang bangunan.


"Abang mau cari tukang dan kenek sementara. Biar proyek tidak terlalu lama tertunda." Jelas Pak Ewa.


"Oh, nanti Dinda tanyakan, sekalian beli token listrik di Indomaret." Jawab istrinya, Pak Ewa menguap dan menghabiskan kopinya. Beberapa saat kemudian dia masuk kamar berbaring untuk tidur.


"Bang, saya mau beli token, sekalian ke rumah Arde. Oh, iya. Tadi ada Pak RT mengundang, malam ini ada pertemuan warga di masjid." Suaranya agak sayup-sayup karena sambil jalan dan memasang hijab. Sementara anak bungsu perempuan juga ingin ikut.


"Iya." Jawab Pak Ewa singkat, terdengar pintu luar dikunci dari luar, dan suara sepeda motor melaju.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2