Kedipan Dikalah Senja.

Kedipan Dikalah Senja.
Tertangkap Warga


__ADS_3

SATU MINGGU BERLALU.


*


Tengah Malam: Dua sosok mendekati pintu kontrakan Riha. Wajah mereka ditutup topeng kain hitam. Keduanya membawa linggis dan alat lainnya. Melihat ke kanan dan ke kiri. Keadaan sunyi dan sepi. Keduanya melihat dan mengecek letak engsel pintu kontrakan Riha.


"Kita matikan dulu lampunya." Ujar satunya. Teman satunya mengangguk dan melihat ke atas. Tiba-tiba;


"Krettt." Pintu kontrakan paman Yuro terbuka. Dua sosok itu berlari ke samping kontrakan Aram. Dari sana keduanya mengintip. Tampak Paman Yuro keluar sambil berkifas-kifas. Dia mengenakan kain sarung dan baju dalam warna putih. Dia kepanasan, sepertinya. Melihat langit malam yang cerah dan berbintang.


"Apa mau hujan, panas sekali." Ujar Paman Yuro lirih.


"Yuro." Panggil suara aneh entah dari mana.


"Yuroooo." Panggil suara pelan terdengar lagi dan terdengar jelas dari telinganya. Dia melihat ke kiri dan kanan, keadaan sepi. Bulu roman Paman Yuro berdiri tegak.


"Tidak ada orang." Ujar Paman Yuro. Beberapa saat kemudian dia buru-buru masuk kembali, dan mengunci pintu dari dalam. Bulu roman terus tegak dan dadanya berdebar kencang.


"Suara hantu, mungkin." Pikir Paman Yuro.


...*****...


Malam ini giliran tugas kita mengamati sekitar kontrakan. Beberapa saat kedua warga bertugas jaga tiba di tempat tugas mereka. Duduk menghadap lobang kecil dari tembok pembatas antara perumahan dan kontrakan.


"Adu, banyak sekali nyamuk di sini." Ujar seorang warga yang mengintai sekitar kontrakan.


"Makanya pakai sovel, biar nyamuk jauh." Kata temannya.


"Lupa tadi. Kalau ada stok kasih Aku." Ujar temannya.


"Ya, paya, bagaimana mau menjaga kompleks, sovel aja tidak siap." Ujar temannya, sambil menyodorkan sesacet sovel anti nyamuk. Temannya lalu menggosok pada bagian kulit terbuka. Tiba-tiba handphone warga yang memberikan sovel berbunyi. Dia segera mengangkat panggilan telepon.


"Ya, Pak RT. Siap." Jawabnya.


"Jangan lengah, jangan maen handphone terus." Ujar Pak RT.


"Siap Pak RT." Jawabnya lagi. Keduanya kemudian bersiap dan tidak memainkan handphone. Lalu mereka membuka lobang kecil di tembok di samping bangunan kontrakan. Dari lobang itu keduanya mengamati seluruh halaman dan kontrakan.


"Ehh, itu Yuro keluar." Ujar salah satunya sambil menggosokkan sovel.


"Kenapa juga keluar malam-malam dia." Ujar satunya. Mereka tersenyum dan ingin menjahilinya.


"Yuro."


"Yuroooo." Panggil salah satunya lagi, beberapa kali. Paman Yuro mendengar suara panggilan perlahan itu. Dia menoleh ke kiri dan ke kanan. Tapi tidak melihat siapapun. Membuat bulu roman berdiri, dan cepat-cepat masuk. Dua warga yang mengintip dari balik tembok tertawa cekikikan. Mereka tahu kalau Paman Yuro ketakutan.


...*****...


Sementara itu, di sebuah pos jaga tampak puluhan warga bergadang. Mereka berjumlah sepuluh orang, dan akan berkeliling kompleks bergantian. Ada yang main kartu, dan main catur. Permainan mereka sebatas hiburan saja. Pak RT dan Pak Kamtibmas datang mengontrol.


"Aman Pak RT." Jawab seorang warga.


"Saya pamit Pak RT. Mau istirahat sebentar, banyak kerjaan di kantor hari ini." Ujar Pak Kamtibmas. Selain pamit dengan Pak RT, dia juga pamit dengan warga. Beberapa saat kemudian Pak RT juga pamit pulang. Warga meneruskan permainan mereka. Malam semakin larut, dan semakin dingin.


...*****...


Sementara itu, dua sosok yang bertopeng hitam bersembunyi di balik dinding kontrakan yang ditempati Aram merasa lega saat Paman Yuro masuk kembali ke dalam kontrakan. Beberapa saat kemudian keduanya kembali ke depan pintu kontrakan yang ditempati Riha. Mereka kemudian berusaha mematikan lampu di depan pintu kontrakan.


"Kau naik pundak Aku." Ujar temannya.


"Baiklah." Jawab temannya, lalu Temannya yang memberi saran duduk menghadap dinding. Temannya naik ke pundaknya dan dia perlahan berdiri, sementara temannya terus berpegang pada dinding kontrakan.


"Sedikit lagi." Ujar temannya yang di atas pundak. Bola lampu padam, tapi tidak dilepas dari sumbunya. Setelah turun, mereka mulai mendekati pintu kontrakan. Mulai berusaha mencongkel engsel pintu. Beberapa saat kemudian, usaha mereka mulai maksimal. Engsel pintu telah siap di bongkar.


"Obeng. obeng, untuk buka bautnya." Ujar satunya, dia menyodorkan tangannya ke samping. Sementara temannya sibuk mengintip dari balik pintu. Dia mengamati letak engsel pintu bagian atas. Saat tangannya dia sodorkan tanpa melihat. sebuah benda ada ditangannya. Dia kemudian berusaha mencongkel engsel pintu.


"Lah, Aku minta obeng, mengapa kau kasih gunting. Kau pikir kita sedang memotong rambut." Ujar temannya kesal.

__ADS_1


"Kita tidak membawa gunting." Jawab temannya.


"Ini, apa." Tanya temannya sambil memperlihatkan gunting di tangan. Temannya juga terkejut dan merasa aneh.


"Sudah, jangan dibahas. Obeng di sini tadi." Jawab temannya lagi. Mereka mencari-cari tapi tidak menemukan.


"Ini obengnya." Kata sebuah suara dari belakang. Yang mencari obeng menoleh dan mengambil obeng yang disodorkan oleh orang dari belakang. Orang bertopeng mulai membuka baut engsel lagi. Tapi, mendadak keduanya sadar kalau mereka hanya berdua. Setelah saling pandang, mereka menoleh ke belakang bersamaan dengan dada berdebar. Tampak ada empat belas orang berdiri memanjang mengelilingi keduanya. Mereka tampak sangar dan diam memandang keduanya. Tidak dapat melarikan diri lagi.


"Eh, Pak RT." Ujar keduanya dan menghentikan membongkar pintu. Kemudian keduanya berbalik memperbaiki pintu kontrakan yang ditempati Riha.


"Buka topeng kalian." Ujar Pak Kamtibmas. Setelah dibuka semuanya terkejut, ternyata keduanya adalah Jum dan Lam.


Jum dan Lam, lalu menyembunyikan topeng di balik baju mereka. Kemudian kembali memperbaiki engsel pintu. Keduanya sudah ketakutan, tampak warga yang mengelilingi sudah naik darah. Mereka mulai membentak-bentak dan memukul-mukul telapak tangan masing-masing. Keduanya takut kalau warga main hakim sendiri.


"Kalian berdua ini ternyata, tak disangka-sangka." Kata suami ibu pemilik kontrakan. Warga membangunkan Paman Yuro, Paman Yugus, dan Nenek beserta Aram. Ibu pemilik kontrakan juga datang dan memarahi Jum dan Lam.


"Kalian berdua ini rupanya yang mencuri selama ini. Kontrakan nunggak selalu, dan kerja malas-malasan karena main game. Sekarang kalian rasakan akibatnya. Dikasih hati minta jantung." Ujar ibu pemilik kontrakan. Nenek dan Aram diam saja memandangi keduanya. Tangan keduanya sudah di borgol oleh Pak Kamtibmas.


"Sudah, ikut ke kantor. Kalian harus mempertanggung jawabkan perbuatan kalian." Ujar Pak Kamtibmas. Beberapa saat mobil polisi tiba, Jum dan Lam diangkut ke Mapolsek Alang-Alang Lebar, Kota Palembang.


Setelah kepergian mereka, warga membantu membenari engsel pintu kontrakan yang ditempati Riha.


"Ya, Allah. Jauhkanlah Aku dari kejahatan manusia seperti ini." Ujar Riha berkali-kali. Rasa ngantuk Riha menjadi hilang, berganti rasa takut dan khawatir.


"Insyaallah tidak ada lagi manusia seperti itu disekitar kita." Ujar ibu pemilik kontrakan. Sementara warga bercerita satu sama lain tentang kejadian tadi. Beberapa dari mereka telah memposting di akun facebook dan twitter mereka tentang kejadian itu. Tampak Paman Yugus dan Paman Yuro ikut mendengarkan cerita.


"Jangan takut Riha, kalau ada apa-apa langsung panggil kami atau teriak kuat-kuat." Kata Nenek. Riha mengiakan, lama mereka terus berbincang-bincang.


"Sekali mencuri di tempat Nenek, lalu curi ayam Aram, setelah itu mau mencuri di tempat Riha. Berarti setelah itu, tempat kami juga gilirannya." Kata Bibik Walah. Semua mengiakan, menjelang pukul dua pagi mereka kembali masuk dan tidur.


...*****...


Ayah Yuzaka tiba di rumahnya. Beberapa kali dia membunyikan klakson. Tampak Hapa datang berjalan sambil memencet handphone. Ayahnya tampak kesal melihat kelakuan anak bungsunya.


"Lepaskan dahulu apa, handphonenya." Omelan ayah Yuzaka terdengar.


"Minggu depan kita harus sudah di Kalimantan, Bu. Selesaikan semua urusan sekolah Hapa dan Yuzaka." Ujar Ayah Yuzaka. Ibu Yuzaka mengiakan, dia memasukkan nasi putih di dalam piring dan ayah Yuzaka makan dengan lahap. Pada malam harinya, Yuzaka, Hapa dan Gapa diberi tahu. Yuzaka menjadi sering melamun sejak itu.


"Yuzaka, apa yang kau pikirkan." Tanya Ibu Yuzaka. Dia sedang mengepel lantai teras. Yuzaka menjawab tidak apa-apa.


Tiba-tiba suara telpon ayah Yuzaka berbunyi. Ternyata yang menelpon adalah Riha. Ibu Yuzaka menjawab telpon dan berbincang dengan Riha. Riha menceritakan kejadian semalam. Hampir saja pintu kontrakan yang dia tempati dimasuki pencuri. Tapi untung warga dan Pak RT datang tepat waktu. Ternyata warga memang sudah mengintai sejak seminggu lalu sejak ayam Aram hilang. Pelakunya Jum dan Lam pengontrak di sebelah Paman Yuro. Sekarang pelakunya sudah di kantor polisi. Riha juga mulai besok pindah kontrakan. Dia bersama teman kerjanya mengontrak di tempat berbeda. Mereka bertiga sehingga dapat saling menjaga. Ibu Yuzaka terkejut dan menjadi tenang kalau Riha sekarang pindah kontrakan dan ada temannya. Ibu Yuzaka juga bilang kalau Minggu depan mereka pindah ke Kalimantan, di Kota Balikpapan. Tentu membuat Riha menjadi sedih juga. Keluarga satu-satunya di kota Palembang, sekarang pergi juga.


...*****...


Sementara itu, di sebuah kontrakan di sekitar Kecamatan Sukarami, Kota Palembang. Dua anak muda sedang duduk ngobrol di ruangan depan. Keduanya menghadap letop masing-masing.


"Jon, kau sudah mengumpulkan sampel atap masjid penelitian skripsi kamu." Tanya temannya.


"Belum Asdi, dari tujuh belas kecamatan yang ada di Kota Palembang. Ternyata Kecamatan Talang Kelapa belum." Jawab Jon.


"Oh, kapan kau ke sana." Tanya Asdi.


"Belum pasti, pokoknya di Minggu depan ini." Jawab Jon lagi, dia tampak melihat foto-foto atap masjid. Dia mengamati arsitektur masjid yang sudah dia dokumentasikan.


"Kau sendiri, bagaimana penelitian monografi desamu." Tanya Jon.


"Sudah, kalau monografi desa. Tinggal minta di kepala desa dan wawancara. Cuma Aku bingung teori penelitian skripsi ini kurang pas. Bagaimana menurut kamu Jon." Jelas Asdi dan dilanjutkan bertanya.


"Aku juga masih mahasiswa, kau bimbingan sama pembimbing. Jangan bimbingan sama Aku." Jawab Jon, keduanya tertawa ringan. Di depan kontrakan tampak ibu kontrakan pulang dari pasar. Beberapa pemuda berlalu di jalanan. Dua sepeda motor masuk halaman kontrakan. Tampak ada empat teman mereka datang. Melihat siapa yang datang langsung dipersilahkan masuk.


"Woy, masuk boy." Panggil Asdi dan semunya menjadi ceria dengan candaan dan kata-kata lucu Arip dan kawan-kawan. Begitulah dunia mahasiswa yang penuh hayalan dan kekhawatiran tentang masa depan. Tapi mereka sembunyikan di balik cerianya kebersamaan.


...*****...


Sementara itu, Paman Barda dan Istrinya pergi jalan-jalan berkeliling. Mereka berdua bukan hanya berkeliling saja. Tapi mencari ibu mereka, Nenek Cik Rumi. Barda tidak begitu semangat, tapi juga tetap berharap menemukan ibunya. Sudah empat jam keduanya berkeliling kota Palembang. Kemudian mampir di sebuah warung bakso, Bakso Getong.


"Bakso apa, Ayuk." Seorang waiters datang membawa daftar menu.

__ADS_1


"Bakso Getong super, lengkap, dua." Ujar istri Barda.


"Minumnya." Tanya waiters lagi.


"Jus mangga, dan jus alpokat jangan dicampur es." Kembali istri Barda berkata. Sementara itu, dua anak pemilik toko bakso Gentong Super bermain di depan barisan ruko. Ada seorang nenek-nenek menjual kue. Dia melayani pembeli di toko manisan sebelah.


"Ibu, beli kue nenek yang kemaren." Pinta dua anaknya.


"Ini beli semua." Kata ibunya memberikan uang lima puluh ribu. "Yuri, kau temani beli gorengan." Waiters yang dipanggil Yuri mengiakan, dia pergi ke toko manisan di samping. Beberapa pelanggan Bakso Getong berdatangan. Memang sangat banyak penggemar bakso itu. Selain enak harganya juga terjangkau.


"Terimakasih Nek." Ujar anak pemilik toko bakso.


"Iya, sama-sama." Jawab nenek. Kemudian si nenek pergi melanjutkan berdagang. Barda dan Istrinya tampak begitu menikmati Bakso Getong yang lezat.


"Ini dik kalau mau cicip. Enak kue nenek itu, bumbunya khas." Ujar pemilik warung bakso menawarkan pada Barda dan Istrinya. Dari tadi memang istri Barda selalu berbincang-bincang. Sehingga menjadi akrab, itulah mengapa pemilik toko bakso menawarkan mereka. Barda dan Istrinya mencicipi kue bolu dan tempe goreng. Keduanya seperti mengenal rasa itu. Tapi entah di mana. Lama Barda merenung sambil makan bakso. Tiba-tiba hatinya berdetak dan ingatannya kembali.


"Umak." Barda berkata lirih. Tiba-tiba Barda bangkit dan berlari keluar. Dia bertanya pada beberapa orang, apakah melihat seorang nenek menjual kue.


"Ke sana Om." Jawab seorang gadis pelayan rumah makan di ruko bagian ujung. Barda berlari menyusuri setiap jalan. Tapi dia tidak menemukan seorang nenek yang menjual kue. Hampir di semua tempat disekitar itu dia sisir. Capek berjalan kaki dia membawa mobilnya. Tapi dia tidak menemukan seorang nenek-nenek menjual kue. Barda menelpon adik perempuannya, istri Pak Hadi.


"Ibu masih hidup, Aku yakin Dik." Itulah kata terakhir Barda sebelum dia menutup telponnya. Suaranya serak pertanda dia menangis. Memang, masakan ibu tidak akan terlupakan rasanya dari lidah anak-anaknya selamanya.


...*****...


Siang itu, Bibik Walah kembali bertengkar dengan Paman Yugus. Deak menangis sedih dan berlari ke kontrakan Aram. Areha dan Salika mengajaknya bermain-main.


"Tarrr. Tarrr. Prangg." Cangkir dan beberapa piring hancur dibanting oleh Bibik Walah.


"Brakk." Terdengar benda besar terjatuh.


"Aku tidak tahan lagi, Aku tidak tahan lagi." Kata Bibik Walah sambil menjerit meraung-raung. Semua suara dan kata-kata terdengar dari kontrakan Aram dan kontrakan Paman Yuro.


"Deak, lihat adik bayi tersenyum. Sepertinya dia suka padamu." Ujar Salika dengan lembut. Membuat Deak merasa nyaman dan gembira. Junka pulang dari sekolah, tapi dia tidak bisa masuk ke kontrakan karena terkunci dari dalam.


"Ceraikan Aku, kau silahkan menikah dengan selingkuhan kamu." Teriak Bibik Walah.


"Ahhhh, diaaamm. Perempuan tidak tahu maluuuuu." Kata Paman Yugus tidak kalah sengit dan keras. Bibik Walah menangis keras sekali. Istri Paman Yuro muncul dari dalam kontrakan. Dia bermaksud melerai pertengkaran Paman Yugus dan Bibik Walah. Mendapati Junka yang menangis di depan pintu.


"Tok. tok. tok." Istri Paman Yuro mengetuk pintu, tapi tidak ditanggapi.


"Walah. Yugus. Sudah cukup, tolong buka pintu." Ujar istri paman Yuro berulang-ulang. Tapi tidak juga didengar mereka. Keduanya terus bertengkar hebat.


"Kalau kau mau cerai, kita cerai." Terdengar kata-kata Paman Yugus.


"Iya, itu lebih baik. Supaya kau bisa bahagia dengan wanita gatal itu." Jawab Bibik Walah menantang. Istri Paman Yuro kasihan dengan Junka. Dia tampak membawa ijazah dan buku raportnya. Masih memakai seragam sekolah.


"Junka, kau main di tempat Areha. Tengoklah adik bayi Kak Salika." Kata istri Paman Yuro. Junka mengangguk dan pergi ke kontrakan Aram sambil menangis sedih.


...*****...


Sementara itu, di dalam kontrakan Paman Yugus begitu berantakan. Lemari terbalik dan pakaian berserakan. Sepeda motor Paman Yugus terbalik dan bensinnya menetes. Pecahan kaca dan gelas juga bertebaran. Air di dalam cerek tertumpah di lantai.


"Minta kunci, Aku mau pergi." Kata Paman Yugus pada Bibik Walah yang menangis sambil bersimpuh di kasur. Paman Yugus yang sudah marah dan naik darah membentak-bentak. Dia juga menendang apa saja di sekitarnya.


"Turrrr. graurr." Untuk meletakkan handuk dia tendang. Kemudian mencoba mengambil kunci pintu di saku Bibik Walah. Bibik Walah tidak tinggal diam. Dia kemudian melempar kunci ke arah dapur dan kunci melayang jatuh di balik rak piring. Di samping rak piring ada meja kompor gas. Paman Yugus mencari-cari kunci tidak sabaran. Dia mengobrak-abrik rak piring.


"Pakk." Kakinya tersandung tong gas tiga kilo. Sakitnya bukan main, membuat Paman Yugus menjadi kalap. Lalu menarik tong gas dengan kuat dan secara paksa kepala selang gas tertarik. Membuat jarum tong gas tertarik kuat, dan rusak. Akibatnya gas keluar sendiri dari tong gas. Paman Yugus mencium bau gas tapi tidak dia hiraukan. Terus mencari-cari kunci pintu kontrakan.


"Gelap sekali." Ujar Paman Yugus, memang tidak ada jendela di ruangan dapur. Paman Yugus kemudian menuju saklar lampu. Dia ingin menghidupkan lampu agar terang.


"Junka, Deak, maafkan Ibu anakku. Maafkan ibu." Ujar Bibik Walah sambil menangis, dia sudah yakin hanya dengan perceraianlah dapat menyelesaikan masalah rumah tangganya. Menurutnya Paman Yugus tidak akan pernah berubah lagi. Bau gas dan bensin motor tercium.


Sementara itu, Paman Yugus mendekati saklar lampu dan menekan saklar.


"Tet." Suara saklar dipencet.


"Duuummmmm." Sebuah ledakan terdengar keras.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2