Kedipan Dikalah Senja.

Kedipan Dikalah Senja.
Ke Sekolah


__ADS_3

MIMPI TAK PADAM


*


Matahari telah terbangun.


Menyirat kemerahan di langit timur.


Lalu menghangatkan bumi dengan pelukan.


Pelukan hari yang kita namakan.


Akuu tuai harapan.


Aku mulai cita-cita.


Dengan langkah yang pelan.


Mendorong gerobak warisan ayah.


Botol-botol bekas.


Sampah-sampah sisi jalan.


Yang dilemparkan manusia kejam.


Tanpa tahu arti kebersihan.


Tapi disanalah, Aku hidup.


Berani bermimpi dan makan.


*


Aram pergi mencari barang bekas. Mendorong gerobak menyusuri jalanan. Suasana masih temaram, matahari belum bersinar terang. Rumah-rumah warga masih tertutup rapat.


"Ya Allah, kuatkan jiwa anak itu. Berilah petunjuk dan tuntunlah jalannya. Dia begitu bertanggung jawab dengan adik-adiknya. Juga besar jiwanya. Tanpa pernah mengeluh apalagi menyalahkan takdir hidupnya." Kata hati Nenek. Dia berdiri di lorong pintu memandang kepergian Aram di jalanan kompleks. Begitulah Aram dalam kesehariannya.


...*****...


Nenek Cik Rumi, Junka, Areha, Luran dan Figan berjalan menuju sekolah Junka. Hari itu, nenek tidak jualan kue. Sengaja datang ke sekolah Junka untuk menemui kepala sekolah. Sepanjang jalan Areha dan Junka bercerita gembira. Apalagi Areha mau sekolah di sekolah tempat Junka sekolah. Figan gembira sekali, dia berjalan sambil melompat-lompat di lobang jalan rusak. Tiba-tiba:


"Gedebukk." Suara orang jatuh.


"Tin. tinnnn." Klakson sepeda motor berbunyi.


"Figan, hati-hati." Kata nenek, saat melihat dia terjatuh. Kakinya tersandung di batu, karena jalan berlobang dan banyak yang pecah-pecah berserakan. Nenek menuntun Figan ke tepi jalan, tiga sepeda motor berlalu.


"Kaki kamu luka Figan. Kenapa tidak ikut Aku lewat dari sini." Kata Luran, menunjuk pinggir jalan. Areha dan Junka mendekat. Beberapa ibu-ibu lewat pulang dari belanja sayuran.


...*****...


Salika pagi-pagi telah tiba di sekolah. Dia hari itu ingin bicara masalah penting pada Dehan. Jadi dia menunggu Dehan tiba di sekolah. Mau tidak mau dia harus bicara, kata hatinya. Salika sekarang tampak mulai mengurus. Wajahnya pucat dan dan murung.


"Salika, apa yang kau pikirkan." Ujar Sufo dengan lembut pada sahabatnya.


"Tidak apa-apa, Sufo. Aku hanya sedikit tidak enak badan." Jawab Salika. Sufo tau kalau Salika ada yang dia sembunyikan. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Bukan hanya masalah pribadinya, tapi juga keluarga besarnya. Bagaimana kalau rumah sudah benar-benar di jual Kakak-kakaknya. Kemana dia pergi, sedangkan dia tidak akrab dan tidak pernah bermain-main ke rumah kakak-kakaknya. Salika selama ini tidak memikirkan keluarga, tidak mengerti bersosialisasi dengan keluarganya sendiri. Sehingga walaupun kakak kandung sendiri bagaikan orang asing. Salika hanya mementingkan smartphone dan dunia sendiri, dan berpacaran selama ini. Itulah gambaran anak-anak zaman sekarang. Mereka tidak mau belajar kehidupan nyata, tapi berusaha masuk ke dalam dunia maya dan ilusi kosmik.


Saat di dalam kelas Salika menunggu Dehan datang. Tapi Dehan tidak muncul-muncul di dalam kelas. Wali kelas mereka masuk dan absen kelas. Dehan tidak masuk hari itu.


"Dehan ada kabar mengapa dia tidak masuk." Tanya Wali Kelas.


"Tidak....." Jawab beberapa siswa-siswi.


Salika begitu sedih hari itu. Dia bertambah murung dan tidak nafsu makan. Membuat semua teman-temannya khawatir. Mereka melihat perubahan yang sangat drastis pada Salika. Saat jam istirahat dia menangis sendiri dan tidak mau bicara dengan teman-temannya. Teman-teman maklum dengan keadaan Salika yang baru saja tinggal mati sang Ibu.


"Ibu, ibu. Maafkan Aku ibu. Salika menyesal sekali tidak mau mendengarkan kata-kata ibu. Karena lebih suka mendengarkan kata laki-laki lain yang bukan siapa-siapaku. Sebatas pacar yang bermodalkan kata cinta. Sungguh tiada bandingnya dengan ibu. Yang melahirkan dan membesarkan Aku. Ibu, maafkan Aku." Kata Salika penuh rasa penyesalan mendalam. Selama ini, Salika memang lebih suka mendengarkan kata-kata Dehan. Salika benar-benar tunduk dengan kata-kata Dehan yang manis dan romantis.


...*****...

__ADS_1


Terdengar suara orang sedang mengetik di keyboard komputer. Tampak seorang laki-laki berseragam putih-putih duduk sambil mengetik.


"Pak, ditujukan ke dinas saja, atau ke instansi suratnya." Tanya Pemuda itu. Seorang ibu-ibu tampak sibuk dengan buku-buku baru. Dia pustakawan di sekolah dasar itu. Dia sibuk menempelkan dan memberi kode buku.


"Ke Dinas, Kepada Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Selatan. Kami dan seterusnya ..." Jelas seorang laki-laki kepala sudah agak botak. Si pemuda mengiakan, dan kembali mengetik.


"Assalamualaikum, selamat siang Bu, Pak." Ujar nenek, dia berdiri di muka lorong pintu. Areha, Figan dan Luran berdiri di samping. Semua menoleh ke pintu, penuh tanda tanya. Melihat itu, pemuda yang mengetik bangkit dari duduknya. Lalu merogoh saku bajunya, dan memilih lembaran uang.


"Ini Nek." Ujar si pemuda memberikan uang sepuluh ribu, pecahan lima ribu dua lembar pada nenek.


"Oh, maaf cucuku. Nenek bukan datang untuk mengemis. Tapi ingat bertanya tentang sekolah." Jawab nenek, Areha, Luran, dan Figan memandang si pemuda tidak berkedip. Pak Kepala sekolah dan ibu pustakawan juga memperhatikan. Mereka juga menduga kalau si nenek datang mengemis. Karena sudah biasa ada orang datang minta sumbangan atau mengemis.


"Oh, maaf sekali Nek. Iya silahkan masuk." Jawab si pemuda, lalu dia melirik Figan yang paling kecil. Kemudian menambahkan lima ribu rupiah.


"Boleh untuk cucu-cucu nenek." Saran pemuda. Nenek mengerti, dia yang bijaksana tahu kalau pemuda merasa bersalah dan malu. Maka nenek ingin suasana menjadi hangat dan bersahabat, nenek mengizinkan. Si pemuda yang bertugas sebagai tata usaha sekolah memberikan uang pada Areha, Figan dan Luran. Ketiganya menoleh nenek, dan nenek mengangguk. Ketiganya begitu gembira mendapatkan uang jajan. Ketiganya mengucapkan terimakasih kasih, lalu nenek dipersilahkan masuk dan duduk di depan meja kerja kepala sekolah. Areha dan dua adiknya duduk di kursi tamu. Sementara si pemuda kembali bekerja.


"Apa yang bisa dibantu ibu." Tanya Pak Kepala Sekolah.


"Begini Pak, tiga cucu saya itu putus sekolah. Bagaimana caranya agar dia bisa melanjutkan sekolah di sini." Tanya nenek.


"Bisa, kelas berapa, dan buku raport masih ada." Tanya Kepala Sekolah. Nenek kemudian memanggil Areha dan dua adiknya. Pak kepala Sekolah bertanya pada ketiganya.


"Raport kami ada semu, Areha kelas lima, Luran kelas tiga dan Figan kelas satu." Jawab Areha lancar.


"Bisa, tapi baiklah awal semester saja. Tinggal dua bulan lagi semester ini. Jadi masuk pas awal semester dan mata pelajarannya dapat semua." Jawab kepala sekolah.


"Baiklah kalau begitu, Alhamdulillah. Kami akan bersiap juga pak." Jelas nenek, nenek juga belum banyak tabungan untuk membeli perlengkapan sekolah. Waktu dua bulan akan memberikan mereka kesempatan menambah tabungan.


"Kenapa putus sekolah, nakal ya." Sentil ibu pustakawan sambil bekerja.


"Ayahnya bekerja di mana." Tanya Kepala Sekolah. Nenek diam sambil memandang kepala sekolah. Kepala Sekolah mengerti arti pandangan itu. Tapi Figan tiba-tiba mau menangis.


"Areha, jajan ke kantin ajak adik-adikmu." Kata nenek, mendengar itu Areha, Luran dan Figan keluar untuk jahan. Figan yang tiba-tiba teringat kedua orang tuanya kini lupa kembali dan dia berlari paling depan untuk jajan.


"Mereka yatim-piatu Pak." Kata nenek menjelaskan, membuat semuanya terdiam. Nenek menceritakan yang sebenarnya. Dia juga menceritakan tentang Aram sang kakak yang berjuang menghidupi mereka. Mereka terlunta-lunta dan tinggal di tenda karung di sebuah hutan. Sampai akhirnya ditemukan nenek dimana keadaan mereka sangat mengenaskan. Aram waktu itu sedang sakit parah dan hampir kehilangan nyawanya.


"Iya Nek, bawa saja kalau mereka mau sekolah. Kami akan membantu, dan mereka bisa sekolah." Kata Pak Kepala Sekolah. Sementara itu, si pemuda mendengar semua cerita nenek. Diam-diam dia memfoto nenek dari belakang.


...*****...


Aram berjalan di jalan Kenten Lama di tepi Kota Palembang. Dia tahu kalau di sisi jalan itu ada beberapa tempat warga membuang sampah sembarang. Dua tahunan lalu dia sering ke sana mencari barang bekas. Saat melihat barisan ruko-ruko kosong. Teringat saat dia dan tiga adiknya bermalam di teras ruko itu. Aram mendorong gerobak perlahan, sesekali dia berhenti saat menemukan botol bekas, atau barang lain seperti kardus, gelas plastik bekas minuman ringan.


"Ttiiinnn." Klakson panjang dari mobil truk berisi penuh batu bata. Tampak dua kenek truk duduk di atas tumpukan batu. Aram menepikan gerobaknya dengan cepat. memang jalan sempit dan banyak mobil lalu lalang. Setelah itu, dia berjalan dan menemukan tumpukan sampah.


"Pulang, jangan ikut Aku." Kata seorang anak laki-laki berumur lima belasan tahun. Dia memukul bahu seorang anak perempuan bersama seorang anak laki-laki berumur sembilan tahunan. Anak perempuan seumuran Areha itu menangis dan adiknya diam ketakutan.


Anak laki-laki itu pergi. Dandanan berantakan, baju sengaja dia robek-robek. Ada tato di bahu dan lengan. Lima orang temannya mengikuti di belakang. Dandanan mereka seperti anak jalanan. Aram menepi, menjauh dari rombongan itu. Diam-diam Aram merasa ngeri dengan gaya dan penampilan mereka seperti preman jalanan. Anak perempuan dan adiknya duduk di sisi jalan sambil menangis. Aram mulai memilah sampah dan memunguti apa yang bisa dijual.


Dari arah berlawanan datang dua orang ibu-ibu menggendong karung plastik besar yang penuh plastik bekas. Mereka juga ikut memilih sampah. Aram terus memperhatikan dua kakak beradik itu. Hatinya merasa perihatin, karena dirinya juga merasakan kesusahan hidup. Bagaimana kalau mereka juga yatim piatu seperti dirinya, pikir Aram.


Cukup banyak Aram mendapat barang bekas. Dia sudah merasa capek, dan dua ibu-ibu pemulung pergi. Aram mendorong gerobak ke tepi dan bermaksud istirahat.


"Adik, mari kesini." Panggil Aram. Dua kakak beradik menoleh dan mereka ragu-ragu. Aram mengangkat tangan melambai ke arah mereka. Maka keduanya mendekat dan duduk di kardus yang Aram bentangkan di tanah.


"Mari kita makan." Aram membagi nasi, bagian Aram dia letakkan di atas tutup wadah nasi bekalnya. Sementara untuk dua kakak beradik tetap di dalam wadah, makan berbagai. Aram menggunakan sendok karena tangannya kotor. Dua kakak beradik mencuci tangan dengan air minum. Mereka makan bersama, sayur buah labu siam dan lauk ikan asin. Dua kakak beradik tampak kelaparan. Mereka makan tidak sabaran dan tampak tersedak.


"Minum Dik." Kata Aram sambil menyodorkan botol air minum dari botol plastik Aqua. Aram bertanya dimana ayah mereka. Ayah mereka pergi entah kemana dan telah menikah lagi. Yang memukulnya tadi kakak tertua mereka. Ibu mereka sedang sakit. Sehingga mereka tidak punya makanan. Mereka mencari kakak mereka karena ibu sedang sakit, dan bertemu di jalan tadi. Mereka meminta uang untuk membeli obat dan untuk makan mereka. Mereka juga sudah putus sekolah.


"Adik mau cari uang." Kata Aram.


"Mau Kak." Jawab anak perempuan itu.


"Ikut kakak cari barang bekas." Kata Aram.


"Boleh kak." Jawabnya.


"Namamu siapa." Tanya Aram, sambil mengemasi barang.


"Lisam." Jawabnya.

__ADS_1


"Adik." Tanya Aram pada adiknya.


"Bagit." Jawab adik Lisam. Aram kemudian memberikan sebuah karung plastik pada Lisam. Mereka mulai berjalan menyusuri jalan.


"Apa yang kita ambil." Tanya Lisam.


"Botol plastik, semua jenis kaleng, kardus, kertas, besi, dan luminium." Jawab Aram.


"Di jual ke mana Kak." Tanya Lisam.


"Banyak pedagang pengepul barang bekas." Jawab Aram. Mereka bertiga terus mencari barang bekas. Seiring berjalannya waktu mereka menemukan banyak barang bekas. Aram sudah hapal letak-letak kotak sampah atau tempat pembuangan sampah. Begitu juga lokasi penjualan barang bekas. Waktu berlalu cepat, sekarang menunjukkan pukul lima sore.


"Uwa, jual kardus." Kata Aram pada seorang pengepul barang bekas. Tampak sekitar rumahnya bertumpuk-tumpuk karung berisi barang bekas.


"Oh, kamu. Sudah lama tidak muncul jual barang di Uwa." Ujar laki-laki berumur lima puluhan tahun. Dia memakai celana panjang dan berbaju kemeja putih polos yang banyak noda kotoran.


"Iya Uwa, saya pindah ke daerah perum Talang Kelapa." Jawab Aram, sambil mengangkat ikatan kardus.


"Tujuh kilo." Ujar si Uwa. Semua barang Aram dijual sore itu. Semua uang yang dia dapat berjumlah empat puluh tujuh ribu. Lisam juga menjual barang bekas hasilnya. Hanya memperoleh uang enam belas ribu saja. Saat menerima uang air mata Lisam beruraian. Selama ini dia tidak bisa mencari uang karena dia sekolah. Tapi tiga bulan terakhir dia tidak lagi sekolah. Aram melihat air mata Lisam. Hatinya teriris, dia tahu kalau Lisam dalam kesusahan hidup yang luar biasa.


"Rumah kamu di mana, Lisam." Tanya Aram. Mereka sudah berjalan meninggalkan rumah Uwa pengepul barang bekas.


"Tidak begitu jauh dari sini." Jawab Lisam.


"Boleh kakak mampir sebentar ke rumah kamu." Tanya Aram.


"Boleh Kak. Tapi rumah kami jelek." Kata Lisam.


"Kakak dulu pernah tinggal di rumah paling jelek di dunia ini, berlantai tanah berdinding karung. Apakah rumah kamu seperti itu." Tanya Aram.


"Tidak Kak." Jawab Lisam. Aram mampir di sebuah warung dan membeli es degan tiga kantong. Betapa gembiranya Bagit. Dia yang haus, terasa begitu nikmat es itu. Setelah melewati jalan beraspal, mereka masuk jalan setapak yang sudah di cor beton. Kemudian turun ke jalan setapak tanah. Tampak jalan itu berkelok di antara kebun-kebun sayur. Aram merasa berat mendorong gerobak karena jalan tanah agak lembab. Kemudian tiba di sebuah kampung.


"Masuk Kak, ini rumah kami." Kata Lisam. Tampak rumah berdinding papan dan berlantai semen. Atap rumah terbuat dari seng. Ada beberapa rumah lagi setelah itu. Di seberang banyak rumah penduduk dan bangunan tempat kerajinan batu bata. Banyak lobang-lobang bekas galian tanah untuk membuat batu bata.


"Ibu Lisam sakit, sudah lebih dua minggu." Kata Lisam, tampak seorang ibu-ibu terbaring di tempat tidur terbuat dari papan. Aram benar-benar prihatin. Betapa menderita Lisam pikirnya. Aram sadar sekarang, ternyata bukan hanya dirinya yang menderita.


"Kita obati ibumu di ibu bidang." Kata Aram.


"Tak ada uang Kak." Jawab Lisam.


"Di mana rumah ibu bidan." Tanya Aram. Lisam memberi tahu, dan Bagit mengantar. Aram di antar Bagit menuju perkampungan. Mereka juga melalui jalan setapak, dari samping rumah. Tiba di sebuah rumah cukup besar dan ada tulisan praktek bidan.


"Assalamualaikum, Ibu." Panggil Aram, terdengar sebuah jawaban dan seorang ibu-ibu keluar. Aram meminta ibu bidan untuk datang ke rumah Bagit. Ternyata ibu bidan kenal dengan ibu Bagit. Sesampai di rumah, Ibu bidan memeriksa ibu Bagit.


"Ayuk Hanumi terkena diare akut. Tubuh kekurangan cairan." Ujar ibu bidan, kemudian dia menyuntik dan memberikan obat. Aram bertanya, berapa biayanya. Ibu bidan bilang kalau biayanya empat puluh ribu rupiah. Aram kemudian membaryarkan. Lisam begitu terharu, dan sangat berterima kasih. Setelah ibu bidan pulang Aram mengajak Lisam ke warung. Aram membawa uang tiga puluh ribu dari rumah. Kemudian membeli beras dua kilo, satu bungkus garam, penyedap rasa, bawang putih dan bawang merah satu on, setengah kilo minyak sayur, gula seperempat.


"Ini untuk Lisam, rawat ibu kalian. Masak dan suapi ibu. Hanya ini yang bisa kakak berikan." Kata Aram. Lisam diam seribu bahasa, kemudian tangisnya pecah. Aram juga meneteskan air mata.


"Bagit jangan nakal ya, bantu kakakmu menjaga ibu. Ini jajanmu." Kata Aram, lalu dia memberikan uang dua ribu rupiah. Membuat Bagit gembira tiada tara. Aram kemudian keluar dan meninggal gancu untuk mencari barang bekas dan dua karung plastik untuk Lisam dan Bagit.


"Besok, kalau kalian mau cari barang bekas." Kata Aram. Setelah itu, Aram melangkah pulang dan bersamaan itu terdengar azan magrib. Lisam masih menangis haru sambil melihat kepergian Aram. Tampak dia masih memegang kantor plastik berisi beras dan belanja dapur diberikan Aram. Lalu dia berlari mengejar Aram, lalu berhenti:


"Kakakkkk, namamu siapa." Tanya Lisam.


"Arammm." Jawab Aram kuat-kuat karena dia sudah agak jauh.


Tiba di jalan raya, memasuki waktu shalat magrib. Aram ingin shalat di masjid, tapi dia malu dan tubuhnya bau. Dia tidak mau mengganggu kekhusukan jamaah masjid shalat. Maka dia mencari tempat lain untuk shalat. Lalu shalat di bawah sebatang pohon liar di sisi jalan.


...*****...


Nenek dan Areha menunggu di teras kontrakan. Azan isya sudah berkumandang sekarang. Tapi Aram belum pulang-pulang. Membuat mereka semua khawatir. Tak biasa Aram pulang begitu malam. Biasanya sebelum magrib sudah pulang. Areha dan dua adiknya paling khawatir. Teringat ayah mereka yang tidak pulang sudah larut malam, dan pulang besoknya diantar polisi dalam keadaan tidak bernyawa.


"Itu koyong." Kata Figan. Tampak dari kejauhan ada bayangan orang mendorong gerobak.


...*****...


Setelah mandi dan makan malam. Aram duduk dengan lesu di hadapan nenek dan tiga adiknya.


"Nenek, Areha, Figan dan Luran. Maafkan kakak, hari ini tidak bisa menambah tabungan untuk biaya sekolah kalian. Jangankan bertambah, uang yang Aku bawa juga habis." Kata Aram. Nenek bertanya mengapa habis. Lalu Aram menceritakan kejadian tadi siang. Mendengar cerita itu, air mata nenek menetes.

__ADS_1


"Cucu nenek orang yang sangat baik. Betapa bangga dan beruntung ibu yang melahirkan kamu. Betapa bangga ayahmu yang telah membesarkan kamu. Bumi dan langit akan menangis terharu menyaksikan perbuatan mu. Begitu juga malaikat yang mencatat amalmu. Kau tidak perlu minta maaf dan bersedih. Kau berbuat yang benar dan sangat baik. Kau manusia yang berbudi luhur. Allah SWT tahu dan akan memberikan kebaikan padamu juga." Kata nenek, lalu dia memeluk Aram penuh kasih sayang melebihi cucu kandungnya sendiri.


...*****...


__ADS_2