
Matahari bersinar cerah, dengan nyanyian burung-burung. Puluhan Polisi Pamong Praja, Pak RT, Pak Lurah, seorang pengacara, dan beberapa orang bapak-bapak berjalan menuju kompleks kecil rumah-rumah, dimana terdapat rumah Bagit dan Lisam. Ada empat polisi berseragam dan bersenjata lengkap menggiring dua orang laki-laki yang diborgol. Kemudian setiap Polisi Pamong Praja mendatangi lima belas rumah di sekitar itu.
"Ibu, Bapak maaf kita kumpul sebentar. Ada hal penting yang harus dibicarakan." Kata setiap polisi Pamong Praja pada warga. Semua warga berkumpul di sebuah tanah lapang berumput. Tampak Bagit, Lisam dan ibu mereka juga hadir.
"Brummm. Brummm." Di kejauhan terlihat satu unit alat berat buldozer turun dari sebuah mobil dan berada di pinggir jalan.
"Ada apa Pak RT." Tanya seorang warga tetangga Lisam. Ada juga yang bertanya pada pak lurah, dan pada beberapa polisi pamong praja. Jawaban mereka biar dijelaskan Pak Pengacara, itu saja. Setelah semua berkumpul dan diminta untuk tenang dan diam. Barulah Pak Lurah menjelaskan duduk perkaranya.
"Bapak-bapak dan ibu-ibu semua mohon maaf sebelumnya. Ada hal penting tentang tanah yang kalian bangun rumah dan di tempati. Baiklah sikapi dengan lapang dada. Sebagai lurah saya hanya menghimbau agar kita menyelesaikan semua permasalahan ini dengan kepala dingin. Untuk menyingkat waktu, baiklah Bapak pengacara yang menjelaskan." Ujar Pak Lurah yang didampingi Pak RT.
"Memangnya kenapa, kami beli dan ada surat serta sertifikatnya." Jawab seorang warga. Keadaan kembali riuh rendah. Polisi, pak lurah dan pak RT kembali menghimbau tenang.
"Baiklah, saya jelaskan pada bapak semua. Kalau sertifikat yang ada pada kalian itu palsu. Kalian sudah di tipu oleh dua orang ini. Keduanya sudah jadi tersangka atas penjualan tanah milik orang dan kasus memalsukan sertifikat." Ujar pengacara, lalu polisi menunjukkan dua orang yang diborgol. Tampak wajahnya tertunduk dan semua warga mengenali keduanya. Pak pengacara dan Pak Lurah akhirnya berhasil meyakinkan warga. Oleh karena itu, mau tidak mau mereka semua terpaksa meninggalkan tanah itu dan menghancurkan rumah-rumah mereka. Surat-surat tanah pemilik asli lengkap sampai sejarah pemilik asal tanah dia mengetahui.
Melihat bukti-bukti pemilik aslinya. Semua warga menyadari dan bersedia pindah. Mereka meminta waktu tiga hari. Untuk bersiap-siap pindah. Ibu Lisam begitu sedih, hampir setiap malam dia menangis. Mereka tidak punya uang untuk sewa kontrakan. Sementara penyakit ibu Lisam masih belum sembuh.
"Tega sekali mereka menipu, pantas harganya murah." Kata-kata ibu Lisam menyesali kejadian tujuh tahun lalu.
Tiga hari pun tiba. Hanya lima rumah di pindahkan pemiliknya. Selebihnya, dibiarkan dihancurkan oleh buldozer. Termasuk rumah Lisam dan Bagit.
"Brummmm. Brummm." Suara buldozer mengaum. Lalu rumah mereka roboh tak bersisa. Dari jauh mereka mengamati sambil menangis. Lalu berjalan pergi menggendong buntalan pakaian. Juga menjinjing beberapa kardus.
"Ibu, mengapa rumah kita dihancurkan orang." Tanya Bagit yang belum mengerti.
"Sudah, kita pergi sekarang." Jawab ibunya, tampak dia meringis dan memijit keningnya. Wajah ibu Bagit tampak pucat. Mereka berjalan entah kemana. Tidak ada tujuan, tidak ada saudara satupun di Kota Palembang.
...*****...
Istri Pak Hadi shalat Ashar. Dia berdoa semoga ibunya segera ditemukan. Karena doa adalah hal yang terbaik dari keberhasilan sebuah usaha.
"Ya Allah, tolong pertemukan Aku dengan ibu lagi. Izinkan Aku berbuat baik pada dia. Sungguh Aku tidak akan mengecekanya lagi. Aku mohon Ya Allah." Begitulah doa Juhusi anak bungsu nenek Cik Rumi.
...*****...
Di sisi lain, Bibik Tara istri Pak Barda juga selesai salat Ashar. Dia juga berdoa untuk keselamatan Ibu mertuanya, Nenek Cik Rumi.
"Ya Allah, Aku memohon ampun padamu, sekiranya Aku telah membuat ibu mertuaku kecewa dan marah. Aku sadar bukan wanita sempurna. Kembalikan ibu mertuaku, Aku akan menjadi menantu yang lebih baik lagi. Aku tahu dosa pada mertua sama halnya dosa dengan orang tua kandungku." Doa Bibik Tara begitu panjang dan penuh penyesalan. Bibik Tara sesungguhnya menantu yang baik. Hanya saja dia terlalu banyak bicara dan manja. Dia juga sayang pada mertuanya.
Air mata Bibik Tara mengalir di wajahnya. Dia tersiksa, juga malu dianggap orang-orang menantu jahat. Pak Leban tidak sengaja mendengar doa istrinya. Sehingga dia menjadi terharu dan tambah sayang pada istrinya.
Sementara itu juga, dua menantu nenek Cik Rumi lainnya juga berdoa penuh penyesalan. Memang tiga menantu nenek adalah menantu yang baik dan solehah. Namun namanya manusia memang punya karakter masing-masing. Tidak sempurna, dan mereka menyayangi nenek Cik Rumi.
...*****...
Bagit dan Lisam memeluk ibu mereka. Nyamuk beterbangan di sekitar mereka. Suasana remang-remang dari lampu jalan. Malam itu mereka tidur di sebuah gubuk bekas jualan buah-buahan yang tidak lagi digunakan. Beratap seng berkarat dan berlobang-lobang. Begitu juga dinding triplek alakadarnya tampak mulai bolong-bolong. Angin malam berhembus kencang, dan hujan turun dengan derasnya.
"Wussss. Wussss. Grundungg. Guarrrrr." Angin berhembus deras menggoyangkan dedaunan. Kilat menyambar dan petir menggelegar.
"Dingin, Ibu." Keluh Bagit.
"Sabar Git, besok kita cari tempat yang tidak basa oleh hujan." Ujar ibunya. Lisam kemudian mengangkat plastik putih lebar dan melindungi Bagit dari tetesan hujan. Bukan hanya tetesan, dari samping air hujan juga membasahi mereka karena diterpa angin.
"Uhukkk.Uhukkk." Ibu Lisam batuk-batuk karena asmanya kumat, dan asam lambungnya juga mulai naik.
...*****...
KEESOKAN HARINYA.
Jalanan sibuk, beberapa pengemudi motor tampak berurusan dengan polisi di pinggiran jalan. Mobil besar-besar dengan muatan entah apa berlalu lalang. Jalan Kenten Lama arah bandara internasional Sultan Mahmud Badaruddin II ramai. Di sebuah kompleks arah Kenten Laut seorang pemuda mendorong sepeda motor.
"Kemana si Aram ini." Gerutu seorang pemuda yang mendorong sepeda motornya. Dia seorang diri mencari Aram. Teman-teman kapok ikut dengannya. Karena sering mendorong sepeda motornya.
"Aduuu, bensin tinggal sedikit. Sudah dua hari keliling Kota Palembang." Gerutu si pemuda lagi. Terdengar Azan asar dari masjid. Dia melihat menara masjid yang tinggi. Lalu mendorong sepeda motornya ke arah masjid. Keringat membasahi baju t-shirt berwarna hitam. Hanya masjid tempat singgah terbaik menurutnya. Selain shalat, dia bisa istirahat dengan nyaman dan ada WC umumnya.
"Kemana lagi Aku cari si Aram ini. Sudah Aku kelilingi Kota Palembang ini. Seberang Ulu dan Seberang Ilir sudah semua." Pikirnya sambil bersandar di dinding masjid. Tampak jamaah mulai berdatangan dan sibuk mengambil wudhu. Dia memandangi kardus sedang yang berisi uang donasi untuk Aram. Sebuah mobil fortuner masuk halaman masjid dan berhenti diantara beberapa mobil. Seorang bapak-bapak turun lebih dahulu.
"Hadi, bawa handphoneku." Ujar seorang laki-laki.
"Iya Kak." Laki-laki yang dipanggil Hadi membuka mobil fortuner. Beberapa mobil mewah terparkir di halaman masjid itu. Pemuda berbaju merah biru berlogo AF diam mengamati dua orang itu. Orang kaya pikirnya.
...*****...
Di sebuah hutan kecil di pinggir jalan Tanjung Api-Api. Tampak Aram sedang menyalahkan api. Nenek mencuci beras pada sebuah baskom. Tampak dua ember penuh air. Nenek akan menanak nasi. Periuk telah siap dan dimasukkan air dan beras.
Salika memangku bayinya. Deak dan Figan duduk di dekatnya. Kedua anak itu begitu gemas dengan wajah bayi anak Salika.
"Adek bayi, cepat besar." Ujar Deak.
"Eahhkkk." Suara lucu terdengar dan membuat mereka tertawa semua. Sementara Areha dan Junka memotong kangkung untuk di tumis. Kangkung itu nenek pungut di pinggiran jalan. Selain kangkung ada juga genjer. Akan di rebus untuk ulam makan siang.
"Nek, Aku kasihan dengan adik bayi." Ujar Aram sambil meniup api.
"Iya Aram, nenek tahu. Kapan kita dapat uang untuk sewa kontrakan lagi. Sisa uang nenek hanya cukup beli beras saja." Kata nenek.
"Kasihan Kak Salika, Deak, dan Junka. Mereka pasti sangat sulit dengan keadaan seperti ini. Kalau Aku, Areha, Luran, Figan dan Nenek sudah biasa. Terlunta-lunta begini." Kata Aram.
"Kita berdoa, semoga ada jalan keluar dari semu ini." Kata nenek.
"Kukukrakikkk." Ayam jago Aram berkokok. Tampak Luran mengurusi ayam-ayam. Puluhan anak-anak ayam di dalam kotak kardus, dan seekor induk ayam yang diikat kakinya. Luran memberikan minum dan makanan.
Aram kemudian melangkah menuju sebatang pohon. Tanah di sekitar pohon berbentuk bukit kecil. Dari sana dapat melihat jalan raya yang selalu ramai walaupun di hari libur. Aram duduk bersandar, dia memandangi jalan. Dari sana dia juga dapat melihat Nenek, Areha, dan yang lainnya.
*
__ADS_1
Ya Tuhan ku.
Mengapa begitu banyak,
Layang-layang yang terputus,
Putus dari benangnya.
Padahal mereka sedang menari.
Diantara awan dan angin berlalu.
Padahal tawa dan canda mereka.
Sedang begitu bergelora.
Tuhan ku.
Mengapa, mengapa tuhanku.
Adilkah dunia ini bagi kami.
Bagi kami yang yatim terlunta-lunta.
Sedangkan disana, mereka tertawa bahagia.
Bersama orang yang mereka cinta.
Bermain di taman-taman sekolah.
Atau di masjid-masjid raya.
Ada juga yang di tempat permainan mewah.
Tuhan, oh tuhan.
Semesta oh semesta.
Sisakan pada kami yang terlunta-lunta.
Sedikit makanan untuk esok.
Selembar selimut saat malam.
Sedikit sampah-sampah barang bekas.
Untuk membeli beras.
Membeli garam.
Dimana kiranya Tuhan.
Adakah pimpinan di negeri ini.
Atau beberapa orang haji.
Yang mengenal kami.
Tidak ada, tidak.
Hanya ada seorang kakak.
Tak tahu asal usulnya.
Yang miskin dan sengsara.
Mendorong sepeda motornya.
Agar dia bisa makan dan kuliah.
Aku hanya kenal, penderitaan.
Yang mengenalku juga menderita.
Jadilah Aku orang sengsara.
Kami pungut kangkung di sisi jalan.
Lalu memetik genjer di selokan.
Untuk mengganjal perut.
Agar bisa bertahan.
*
Aram diam menatap jalanan dan langit biru. Matanya tajam memandang langit. Seakan dia protes dengan keadaan. Pada Tuhan yang maha esa. Dia memberontak dan tidak dapat menerima, takdirnya. Dia lemah, tapi tidak bisa menyerah.
...*****...
Akibat kehujanan semalam, Bagit menjadi sakit. Sementara sakit asma dan asam lambung ibu Lisam menjadi kambu. Badan Bagit menjadi panas dan kepala pusing. Ibu Bagit menahan rasa sakitnya.
"Ibu, Bagit pusing." Ujar bagit, dia tampak meriang.
__ADS_1
"Sabar Git, ibu kerok sebentar lagi." Ujar ibunya sambil mencari kaleng makanan. Dengan sisa minyak sayur yang mereka bawa dari rumah sebelum dihancurkan buldozer.
"Sini kakak pijit keningmu, Bagit." Ujar Lisam, sementara ibu mereka bersandar di dinding gubuk lapuk itu. Menahan rasa sakit di lambung dan rasa sesak di dadanya. Setelah menguasai keadaan, ibu mereka mendekat dan mulai mengerok Bagit. Benar Bagit masuk angin, punggungnya tampak merah setelah di kerok.
"Lisam, coba kamu gali ubi liar itu dengan parang. Barangkali ada umbinya." Ujar ibu Lisam sambil mengerok punggung Bagit. Lisam bangkit dan dia mengambil parang yang terselip pada kardus jinjing mereka. Lisam begitu kesulitan menggali umbi ubi itu. Berkali-kali dia bertanya kepada ibunya.
"Coba gali di sisinya." Ujar ibunya. Lisam menggali tapi tidak bertemu apa-apa.
"Kalau ada umbinya, tanah tampak retak dan membukit." Jelas ibunya. Lisam melihat satu sisi memang ada tanah retak dan merengkah. Lalu Lisam menggali dan menemukan dua umbi singkong yang besar dan panjang.
"Ibu, besar sekali umbinya." Ujar Lisam.
"Alhamdulillah, cepat gali dan nyalakan api." Ujar ibunya.
"Ada dua umbinya, kita apakan Ibu." Tanya Lisam.
"Dibakar saja, satu. Satunya untuk nanti malam." Jawab ibunya. Dibakar, agar Lisam mudah melakukan. Kalau direbus, perlu air untuk membersihkan dan merebus. Tapi mereka tidak punya air bersih.
Lisam membuat api dengan membakar sampah plastik yang dia ambil di sekitar.
Asap pembakaran mengepul, dan membuat perhatian orang berlalu. Setiap yang lewat melirik mereka. Tapi tidak ada yang berhenti. Beberapa saat kemudian ubi bakar masak. Mereka bertiga makan ubi bakar. Terasa begitu enak di lidah mereka. Sebab perut mereka sudah sangat lapar. Sejak kemarin sore mereka belum makan apa-apa.
"Bagit, ayo makan lagi singkong bakar." Ujar ibunya. Bagit menggeleng, tubuhnya panas dan kepala masih pusing. Bahkan ada rasa mau muntah.
"Uhukkk. Uhukkk." Ibu mereka terbatuk-batuk dan nafasnya sesak sekali.
...*****...
DUA HARI BERLALU.
Waktu siang menjelang sore. Matahari sudah condong ke barat. Angin berhembus dengan kencang. Awan hitam menggumpal menutupi langit. Kemudian hujan pun turun dengan derasnya.
"Haduh, hujan turun lagi." Ujar si pemuda, di dalam hatinya. Pakaian basah semua, tubuhnya menggigil. Badan jalan yang berlobang penuh dengan air. tiba-tiba:
"Brummmm." Sebuah mobil mewah melaju cukup kencang.
"Brasss." Ban mobil melibas air tergenang dan muncrat tepat membasahi wajah dan tubuh pemuda itu. Dia berhenti, bajunya yang berwarna merah dan biru tampak kuning karena air kotor. Pemuda itu, mengusap wajahnya agar air kotor tidak mengenai mata dan masuk mulut.
Pemuda itu membersihkan baju dan lengannya. Setelah itu, dia kembali mendorong sepeda motornya. Saat itulah, dari arah berlawanan dia melihat tiga orang anak-anak menyusuri jalan. Satunya mendorong gerobak dan dua sibuk memunguti sampah plastik. Pakaian mereka basah kuyup oleh air hujan. Anak yang mendorong gerobak melihat juga kejadian saat si pemuda itu terciprat air kotor saat mobil berlalu tadi.
"Arammm." Panggil si pemuda. Lalu dia melambaikan tangan. Aram diikuti Luran dan Figan mendekati pemuda itu.
"Oh, kakak rupanya." Ujar Aram.
"Aku cari kamu sudah empat hari. Keliling Kota Palembang ini." Ujar si pemuda.
"Ada apa kakak mencari saya." Tanya Aram.
"Kakak sudah bilang, kalau kakak mau bicara dengan teman-teman kuliah kakak. Akhirnya ada donasi buat kamu yang dapat musibah kebakaran." Ujar si pemuda. Lalu dia membuka boks sepeda motor. Mengeluarkan sebuah kardus sedang, dan sebuah totebag.
"Ini donasinya, kau gunakan sebaik-baiknya." Kata pemuda memberikan kardus ukuran sedang.
"Terimakasih kak." Kata Aram hampir menangis, matanya berkaca-kaca.
"Ini titipan temanmu, kalau tidak salah namanya Yuzaka." Ujar si pemuda, lalu menyerahkan totebag pada Aram. Diam-diam dada Aram berdebar mendengar nama Yuzaka di sebut.
"Terimakasih Kak. Maaf sekali sudah merepotkan kakak." Kata Aram.
"Sama-sama, sudah kakak mau pulang ke kontrakan. Banyak yang harus dikerjakan. Besok mau bimbingan biar skripsi kakak cepat selesai." Kata si pemuda, lalu dia melangkah mendorong sepeda motornya. Aram tertegun melihat pemuda itu. Dia tidak habis pikir, bagaimana ada orang begitu kesulitan dalam hidup tapi tetap membantu dengan ikhlas. Aram benar-benar menjadi kuat jiwanya saat itu juga.
"Kakak AF, Aku tidak akan melupakan kakak sampai kapanpun. Semoga cita-cita kakak tercapai." Kata hati Aram.
"Koyong, apa isi kotak kardus itu." Tanya Luran.
"Belum tahu, ayo kita kembali temui nenek." Kata Aram, dia mengintip ke dalam kardus. Tampak ikatan uang di dalamnya.
"Kita belum dapat banyak plastik." Kata Figan. Memang mereka baru beberapa jam keluar mencari barang bekas. Kemudian hujan deras datang.
...*****...
Ternyata Aram membawa semuanya ke sebuah bangunan kosong di dalam sebuah kebun yang tidak terawat. Di kiri kanan banyak kanal, pertanda bekas tempat peternakan ikan. Bangunan rumah sudah lapuk. Sebagian atap sudah hilang. Sebagian lagi masih ada tapi sudah bocor. Aram membuat tempat duduk dengan papan-papan bekas. Lalu dialasi dengan kardus. Sehingga semuanya bisa duduk. Lantai bangunan sudah hancur. Tinggal berupa tanah yang becek. Nyamuk sangat banyak, besar-besar juga. Suasana temaram karena cahaya matahari tidak tembus. Apalagi kalau keadaan hujan dan mendung.
"Gradak. Gradak." Bunyi ban gerobak Aram membentur akar pohon. Dia melewati jalan berumput dan banyak ranting kering berserakan. Beberapa saat kemudian dia tiba di dekat bangunan yang mereka tempati sejak dua hari lalu. Mereka mencari tempat tinggal sementara sembari mengumpulkan uang untuk menyewa kontrakan.
"Banjir koyong." Ujar Figan. Mereka melihat sekitar bangunan dan di dalam bangunan air menggenang sebatas lutut orang dewasa. Aram terkejut, dia tidak menyangka kalau di sana banjir hujan.
"Eakkkkk. Eakkkkk." Terdengar tangisan anak Salika. Aram meninggalkan gerobaknya, membawa kardus dan totebag pemberian Yuzaka.
"Debur. Debur." Suara langkah kaki mereka berjalan di air banjir. Saat tiba di dalam rumah lapuk itu. Aram menyaksikan bangku itu hampir saja tenggelam. Tinggal tiga jari lagi. Tampak semua duduk mengumpul di sudut yang tidak basah karena air hujan. Nenek, Areha, Salika, Junka, Deak, duduk bersama berdempetan. Adik bayi dalam pelukan Salika.
"Aram kalian sudah pulang." Tanya nenek dengan lesu.
"Iya Nek." ujar Aram. "Maaf, Aram tidak tahu kalau di sini banjir setelah hujan." Kata Aram merasa bersalah.
"Tidak apa-apa Aram. Ayo naiklah agar kalian tidak dingin." Kata nenek. Aram, Luran dan Figan naik. Tampak basah tubuh mereka, wajah pucat menahan dingin.
Lalu Aram menceritakan pertemuannya dengan pemuda yang dia panggil kakak AF. Saat kardus di buka, tampak tumpukan uang. Setelah mereka hitung lebih dari satu setengah juta. Ada tulisan pada selembar kertas "SKI A 2013." Mereka tidak tahu apa maksud kata-kata dalam tulisan itu.
Nenek, Salika, Aram, Areha dan Junka menangis haru. Mereka sudah mengerti pahitnya kehidupan. Sementara Luran, Figan dan Deak berharap mereka di kasih uang. Lalu mereka akan jajan di warung.
"Kita pergi dari sini, sebelum malam tiba. Semoga segera mendapat kontrakan yang dapat kita sewa." Kata Aram. Semua setuju dan bangkit segera meninggalkan rumah kosong yang hampir roboh itu. Iringan mereka kembali berjalan di antara rintik-rintik hujan. Menerobos jalan berumput yang basah. Semua memiliki barang bawaan.
"Kukukrakikkk." Ayam jago di gendongan Luran berkokok.
__ADS_1
...*****...