Kedipan Dikalah Senja.

Kedipan Dikalah Senja.
Dua Kilo Beras


__ADS_3

Nenek mendapat ide bagaimana mengatur sisa Uang. Dia akan membeli dua kilo beras saja, satu kilo minyak sayur, gula setengah kilo, bumbu-bumbu, dan selebihnya bahan untuk dagangan. Pisang, ubi jalar, tahu, tempe, dan tepung terigu.


Nenek ditemani Areha dan Junka pergi berbelanja. Mereka belum mengenal daerah itu. Jadi lama berkeliling mencari tempat belanja sesuai yang diperlukan. Menjelang sore baru menemukan tempat belanja. Sebuah warung sayuran, yang juga menjual bahan pokok. Di sebelah ada penjual buah-buahan dan umbi-umbian. Junka dan Areha membantu nenek membawa belanjaan. Hampir magrib baru tiba di rumah kontrakan.


"Semoga dagangan saya ada yang beli. Supaya saya bisa membeli beras lagi besok, ya Allah. Dua kilo beras hanya untuk makan kami satu hari." Doa nenek di sepanjang jalan.


...*****...


RENCANA MASA DEPAN.


*


Malam itu, Areha, Salika, Junka, Nenek, dan Deak duduk bersama di dalam kamar. Mereka berbincang-bincang bersama. Sementara si adik anak Pak Kino sudah tidur. Dia kelelahan karena selalu bermain sepanjang hari.


"Saya ingin belajar berusaha Nek, misalnya jualan apa di depan rumah." Ujar Salika.


"Jualan gorengan, Kopek." Ujar Areha.


"Bakso boleh juga, Kak." Sahut Junka.


"Ide yang baik Salika, tapi kamu masih sibuk. Nanti setelah anakmu besar dan bisa main sendiri baru kamu bisa berusaha." Ujar Nenek.


"Benar juga, Nek." Salika menyadari itu.


"Nek, saya mau jual keripik lagi." Kata Areha. Teringat masa setahun lalu.


"Aku mau juga." Kata Junka.


"Boleh, kalian kerja sama berdua. Dapat uang kalian tabung dan mulai mempersiapkan sekolah lagi." Nasihat Nenek.


"Dari mana modalnya." Junka sadar, lalu bertanya.


"Kita cari barang bekas bersama Koyong." Ujar Areha.


"Oh, iya." Sahut Junka berbinar.


"Saya mau ikut jualan, belikan Aku minuman." Deak merengek dan semua tertawa. Mereka berbincang-bincang akrab sekali. Sudah terjalin ikatan keluarga yang erat di antara mereka. Sementara Aram, Luran dan Figan sudah tertidur di kamar depan sejak soreh.


Rencana usaha dan cita-cita mereka utarakan semua. Salika ingin menjadi perancang busana muslim. Dia ingin membangun perusahaan di bidang fashion. Areha, ingin menjadi hakim, Junka ingin menjadi seorang bidan. Deak, dia ingin menjadi pengusaha mainan. Maklumlah dia masih anak-anak.


"Aminnn." Semua berkata penuh harapan.


"Mimpi kalian, adalah cermin masa depan kalian. Untuk mimpi itu, kalian harus berjuang keras dan mulai dari sekarang. Cita-cita yang bersungguh-sungguh sama halnya dengan kalian sedang menulis takdir kalian. Jangan pernah berputus asa cucu-cucu nenek. Apa pun keadaan kita." Ujar nenek memotivasi semuanya. Lalu semua berpelukan hangat, tak terasa ikatan batin mereka terbentuk.


...*****...


NENEK KEMBALI BERJUALAN.


*


Pagi-pagi sekali Nenek sudah bangun, waktu menunjukkan pukul empat pagi. Dari masjid sudah terdengar suara mengaji. Seisi rumah masih tertidur pulas. Nenek mencuci muka dan telapak tangan. Lalu mulai memasak kue dan gorengan. Beberapa saat sudah ada kue dan gorengan yang matang.


"Nenek, sudah bikin kue." Kata Salika, dia menuju tempat wadah air di dekat sumur.


"Oh, iya. Kamu sudah bangun Ka." Ujar nenek sambil memasukkan goreng pisang ke dalam kuali.


Salika mengiakan sambil berlalu, terdengar dia mencuci muka dan tangan. Kumur-kumur lalu menggosok gigi. Setelah itu, Salika masuk dan membatu nenek. Kebetulan ubi jalar untuk jualan belum di kupas. Jadi Salika yang mengupas.


"Kalau masih mengantuk tidurlah. Nenek bisa, tidak apa-apa." Kata nenek, nenek tahu manusia masih muda membutuhkan tidur yang banyak.


"Tidak apa Nek. Mulai sekarang Salika akan belajar. Belajar apa pun dari nenek. Salika sadar kehidupan sangat sulit. Salika tidak mau seperti dulu. Salika harus berjuang, harus bertahan untuk anak Salika. Belajar bikin kue, belajar susah dan capek. Salika ingin mandiri, seperti ibu yang ditinggal ayah." Kata Salika, mengenang ibunya dan ayahnya yang sudah meninggal semua.


"Cucu nenek sudah dewasa, sekarang." Sahut nenek.


"Salika ingat dengan almarhum Ibu. Dia selalu memarahi Aku. Tapi Aku tidak mau peduli dan terus berbuat sesuka hati ku. Aku pikir dia tidak sayang padaku. Sekarang Aku tahu, kalau dia begitu peduli dan mencintai Aku. Saat aku melihat mata anakku, ada rasa sayang dan tidak tega padanya. Aku ingin dia hidup bahagia dan menjadi anak yang baik. Kalau Aku ingat ibu, pasti seperti itulah kasih sayang ibu padaku." Ujar Salika, matanya berkaca-kaca penuh rasa sesal.


"Semua orang tua sayang pada anak-anaknya. Tapi setiap anak baru menyadarinya setelah mereka punya anak juga. Yang lalu biar berlalu, yang perlu kau lakukan buat ibumu bangga." Kata nenek, lalu dia memeluk Salika. Salika pun menangis terisak dan berjanji akan menjadi manusia yang baik.


"Kukukrakikk." Ayam jantan Aram berkokok berulang-ulang.


Semua kue dan gorengan hampir matang semua. Dari masjid terdengar beduk dan setelahnya azan Subuh berkumandang. Salika dan Nenek bergantian shalat subuh. Puku 05:30 dagangan nenek sudah siap.


"Air cuka gorengan di sini Nek." Salika meletakkan di sisi dinding agar tidak tertabrak. Masih panas, bisa membuat kulit melepuh kalau tersiram.


"Aram, kamu sudah bangun." Sapa Salika.


"Iya Kopek, Aram akan pergi mencari barang bekas pagi-pagi." Ujar Aram.


"Sarapan sebelum berangkat Aram, itu sudah siap di tutup tudung." Kata nenek. Aram mengiakan, setelah mencuci wajah dan tangan dia sarapan. Kemudian mandi dan siap-siap berangkat bersama gerobaknya.


"Salika, jaga adik ya." Pesan nenek sebelum berangkat. Meminta Salika menjaga anak Pak Kino.


"Iya Nek, hati-hati." Jawab Salika. Aram pun pamit pergi mencari barang bekas. Saat mereka pergi, Areha dan Junka pun bangun. Keduanya juga shalat subuh walaupun agak telat.


"Kukukrakikk." Ayam jantan Aram terus berkokok berkali-kali, membuat Luran, Figan dan Deak terbangun juga.


"Kue. Kue." Itulah suara nenek yang parau terdengar sepanjang jalan. Bersamaan langkah kaki wanita tua itu. Sinar matahari pagi menerpa. Bayangan memanjang menyoroti langkah Nenek dan Aram. Dua manusia yang jauh berbeda umur, tapi punya jiwa yang sama kuat dan pantang menyerah.


...*****...


IBU LISAM SAKIT PARAH.


*


Lisam dan Bagit begitu sedih. Sudah dua hari ibunya tidak bangun hanya terbaring saja. Wajah ibunya bertambah pucat dan sesak nafas bertambah.


Mereka sekarang berada di belakang sebuah bangunan berbentuk gudang yang tidak terawat. Berbaring di teras belakang dan beralas kardus. Lisam tidak tahu bagaimana dengan ibunya. Sementara perut mereka terasa lapar sekali.


"Ibu, Lisam pergi mau cari barang bekas. Ibu sama Bagit tetap disini." Ujar Lisam.


"Iya, jangan lama-lama." Ujar ibunya, sambil meringis dan sesak nafas. Bukan hanya menahan sakit, tapi rasa sedih dengan keadaan itulah yang membuat ibu Lisam begitu tertekan.


"Git, kamu jaga ibu. Kakak cari barang bekas dan mencari Kak Aram. Mungkin dia bisa membantu kita mengobati ibu." Ujar Lisam.


"Iya." Ujar Bagit sambil mengangguk. Matanya hampir berkaca-kaca.


"Ganti kompres ibu. Kau jangan main jauh dari ibu." Pesan Lisam, lalu dia mengabil karung plastik dan menjinjing lipatan kardus yang dia ikat dengan tali plastik. Lisam akan menjual di pengepul.

__ADS_1


"Kak, cari air minum, Bagit haus." Sahut Bagit, Areha mengaguk dan melangkah pergi. Dia menyusuri sisi bangunan bekas gudang yang tidak terawat itu. Memang dari semalam mereka belum minum.


"Bagit. Bagit." Panggil ibunya. Bagit mendekati ibunya, dan duduk di samping. Lalu ibu Bagit memeluk Bagit sambil menangis.


"Ibu kenapa menangis." Ujar Bagit tidak mengerti. Bukan menjawab, tapi tangisan ibunya bertambah keras. Bagit menghapus air mata ibunya. Dia tidak mengerti mengapa, yang jelas dia menyayangi ibunya. Sesekali ibunya mengalami sesak nafas yang menyiksa.


...*****...


PREMAN PARKIR.


*


Siang itu, di sebuah tanah berumput lima orang laki-laki berperawakan seram sedang memukuli seorang anak remaja. Tembok tinggi dan hutan di sekelilingnya. Semak dan rawa-rawa di belakang mereka.


"Hei, katakan pada Jiho, kalau dia tidak mau memberikan setoran pada kami. Kalian akan menerima akibatnya, beginilah kalau melawan kami." Ujar pimpinan preman parkir pada remaja itu. Rambutnya panjang, bertato di lengan dan berkulit hitam.


Karena pukulan-pukulan, tampak wajah remaja itu lebam-lebam, bibir pecah, hidup berdarah dan kakinya keseleo.


"Tidak mau, kami bukan budak kalian. Bunulah Aku, bunuh." Jawab remaja itu.


"Keras kepala, pukul lagi sampai dia teler." Perintah pada empat anak buahnya. Empat anak buahnya memukuli bersamaan, ada yang meninju wajah, menendang, dan memukul dengan potongan kayu.


"Bukkk. Bukkk."


"Akkk, aaakk." Beberapa saat kemudian dia roboh, dan tidak sadarkan diri. Melihat itu, lima preman itu pergi meninggalkannya. Seseorang di antara mereka ada yang meludah tanda sangat benci.


Lima jam setelah itu, remaja itu baru sadarkan diri. Hari mulai gelap dan dia menggunakan sisa tenaganya merangkak pergi.


...*****...


BALAS DENDAM JIHO.


*


Jiho, dan lima temannya sedang istirahat di kontrakannya. Mereka makan, minum kopi, dan bermain smartphone. Sesungguhnya mereka baru beberapa bulan inilah dapat membeli smartphone.


"Berapa dapat uang hari ini." Tanya Jiho.


"Lumayan, kita dapat jatah 80 ribu masing-masing setelah uang makan." Ujar salah satunya, lalu mengeluarkan uang receh dari dalam kantong plastik. Mereka menjaga parkir di sebuah rumah makan dan beberapa Indomaret. Sesungguhnya parkiran itu gratis, tapi apa mau dikata. Mereka terpaksa melakukannya.


"Panko kemana, dari siang tidak pulang." Ujar seseorang di antara mereka.


"Iya, tidak biasa dia menghilang." Ujar yang lainnya.


"Tok. tok. tok." Suara ketukan. Teman Jiho yang paling dekat pintu, membuka pintu.


"Kreeett." Pintu terbuka.


"Gedebukk." Seseorang terjatuh.


"Panko." Seru mereka hampir bersamaan. Jiho dan temannya langsung membantu. Mereka mengangkat Panko ke tikar dan memberi minum. Setelah keadaan tenang Jiho bertanya siapa yang menganiaya dirinya. Panko dengan terbata-bata menceritakan semuanya. Membuat Panko kesal dan akan membalas perbuatan preman-preman parkir itu.


Malam itu juga, Jiho dan empat temannya berjalan menyusuri jalan di sisi Kota Palembang. Mereka tahu dimana markas preman yang berkedok LSM itu. Mereka juga sering berdemo untuk memeras pejabat korup atau pihak pengusaha nakal atas nama LSM.


Mereka tahu kesalahan pejabat, korupsi mereka, pengusaha nakal, dan gudang minyak ilegal di Kota Palembang. Tapi saat mereka berdemo dengan alasan untuk rakyat dan demi negara. Tapi sesungguhnya tujuan mereka miminta uang untuk damai.


"Heaaaa." terdengar lima teriakan keras, lima potong besi berayun kuat. Lalu memukuli lima orang sedang main kartu, dengan telak. Tanpa ampun mereka tersungkur. Kemudian mereka memburu lima lagi yang belum siap.


"Heaaa." Ayunan keras potongan besi behal ukuran 10 inci. Ada yang menangkis dengan tangan.


"Auuuu." Jeritan panjang terdengar saat besi memukul tulang mereka. Tanpa ampun, Jiho dan teman-teman terus memukuli mereka sampai terkapar. Lima preman yang dipukuli terlebih dahulu berusaha bangkit. Tapi segera dipukuli mereka lagi sampai terkapar. Mulut mereka berdarah, beberapa ada gigi rontok. Seorang preman yang masih sadar meminta ampun.


"Kalau kalian mengganggu kami, atau salah satu dari kami lagi. Kami akan membuat kalian tidak bernafas lagi. Kami hanya mencari makan. Negara ini negara merdeka dan manusia di dalam juga merdeka. Negara ini negara rakyat Indonesia, bukan negara preman. Mengerti." Ujar Jiho, sambil memegang kera baju preman itu.


"Ini untuk Pinko, dan katakan pada bos kalian itu. Dia akan berurusan langsung denganku kalau berani mengganggu kami lagi." Ancam Jiho. Setelah itu, Jiho dan teman-teman segera pergi.


...*****...


KECELAKAAN KERJA.


*


Di lokasi pembangunan perumahan elit yang di pimpinan Pak Katara. Telah ratusan rumah elit berlantai dua selesai dan telah terjual. Beberapa blok sedang dalam perataan tanah dan pengerjaan bangunan rumah.


Sebuah rumah dalam proses plaster dinding luar. Lima tukang bangunan tampak bekerja giat di atas gegatar untuk membangun. Mereka sibuk dengan alat tukang, menempelkan pasir sudah dicampur semen. Lima orang lagi di bagian bawah yang bertugas mengangkat pasir-semen.


"Tarikkk." Seorang kenek tukang berkata, lalu katrol berputar dan ember berisi pasir-semen naik.


Sementara itu, sepasang suami-istri, seorang anak laki-laki, dan dua karyawan perusahaan bidang pemasaran berdiri tidak jauh, mereka mengamati para tukang bekerja.


"Bulan depan kira-kira selai, Dik." Tanya suami wanita itu. Beberapa mobil mengangkut material lewat menyebabkan polusi udara.


"Insyaallah, Pak. Kami usahakan. Berkas-berkas bapak sudah masuk ke bank." Jawab seorang wanita muda menemani mereka. Lalu teman wanita satunya memanggil Pak mandor.


"Pak Rugaka, mari sebentar." Panggilan si wanita cantik dengan hijab maroon. Pak Rugaka melangkah mendekat. Saat tiba dia diminta menjelaskan progres pembangunan. Dia menjelaskan secara detail pada si calon pembeli agar puas.


"Saya harap dua bulan lagi selesai, saya ingin saat istri saya melahirkan nanti sudah pindah." Memang istrinya tampak hamil sekitar tujuh bulanan.


"Insyaallah, selesai. Semoga lancar dan tidak ada halangan." Jawab Pak Rugaka si Mandor. Mereka terus berbincang-bincang, berkenalan. Sementara itu, istri calon pembeli berbincang dengan dua karyawan wanita itu.


Tiba-tiba:


"Krakkkk. Brussss. Bummmm." Gegatar dari bambu jatuh ke bawah tiba-tiba. Lima pekerjaan di atas juga ikut terjatuh. Tubuh mereka tertimpa material bambu dan lainnya. Seorang kenek yang tidak sempat menghindar juga tertimpa robohan gegatar. Debu berterbangan, dan semuanya khawatir kalau-kalau ada jatuh korban jiwa.


"Tolong, tolong." Teriak beberapa kenek yang selamat. Puluhan tukang pemborong bangunan lainnya berlarian mendatangi. Mereka semua segera membantu. Mengangkat tumpukan bambu dan material. Menemukan para tukang terkapar lemah, dan dua diantaranya jatuh pinsan. Satu patah kaki dan lainnya luka lebam-lebam.


"Telpon ambulan." Teriak Pak Mandor. Setelah itu, semu korban di bawah ke tempat aman, diberikan minum. Beberapa saat ambulan datang, lalu mereka membawa semua korban ke rumah sakit.


*


Pak Katara di kantor sedang sibuk. Dia membahas proyek properti di daerah-daerah bersama beberapa perwakilan. Telponnya berdering dan dia angkat. Terdengar suara Pak Mandor melaporkan kejadian di lokasi kerja.


"Apa, kecelakaan kerja. Adu, kenapa bisa terjadi Pak Mandor. Ada korban jiwa." Tanya pak Katara, dia marah. Menurutnya kecelakaan kerja akibat keteledoran semuanya.


"Maaf Pak." Jawab Pak Mandor.


"Kepala tukang bagaimana." Tanya Pak Katara.

__ADS_1


"Baik Pak, lima tukang dan seorang kenek yang jadi korban." Jawab Pak Mandor.


"Kalian selidiki penyebabnya dan siang nanti ajak semua kepala tukang menghadap ke kantor." Perintah Pak Katara. Pak mandor mengiakan, lalu dia memberi tahu semua kepala tukang.


"Kak Ewa, kita diminta menghadap ke kantor siang ini." Ujar Pak Mandor. Pak Ewa bersiap pergi ke rumah sakit untuk mengecek keadaan tukang dan kenek dalam pengawasannya.


"Iya, saya setelah dari rumah sakit langsung ke kantor pusat." Jawab Pak Ewa.


*


"Wifa, Zamu, kalian urusi asuransi kecelakaan kerja tukang kita. Kalau yang tidak ada asuransinya, karyawan lepas, buat santunan dan tanggung pembayaran biayah rumah sakit." Perintah Pak Katara.


"Baik Pak." Ujar Wifa dan Zamu hampir bersamaan. Mereka segera bergegas.


...*****...


LISAM ANAK YANG KUAT.


*


Lisam pergi ke sana kemari, mendatangi setiap tempat yang biasa Aram datangi. Dia berharap dapat berjumpa dengan Aram. Hanya Aram satu-satunya orang yang peduli dengan mereka di Kota Palembang. Lisam pun terus memunguti botol plastik, jenis plastik pecah belah, kaleng aluminium, kardus atau buku-buku bekas.


Lisam berjalan di antara mobil-mobil di jalan. Menyemberangi jalan, menggendong karung plastik yang sudah penuh. Kardus dia seret, dan terus berjalan. Tenggorokan sangat haus, perutnya sudah sangat lapar. Sampai perutnya terasa sakit. Lisam dengan sabar terus bergerak. Sesekali dia berteduh di bawah rindangnya pepohonan di sisi jalan.


Orang-orang tidak acuh melihatnya. Tubuhnya kotor dan bau. Sesungguhnya kulit Lisam berwarna putih, tapi karena terlalu sering diluar ruangan kulitnya menjadi hitam.


Lisam melewati warung makan, wanginya ayam goreng dan masakan membuat air liurnya jatuh. Tapi apa hendak dikata, dia tidak punya uang.


"Kreott." Bunyi perutnya.


"Dik, jangan berdiri di sini, mengganggu orang mau belanja." Ujar ibu-ibu bertubuh gemuk, penjual gado-gado. Lisam segera pergi dan menjauh.


Hari menjelang sore, azan Ashar terdengar dari masjid. Lisam pun melangkah menuju rumah pedagang pengepul barang bekas. Satu setengah jam perjalanan, dia tiba.


"Pak, saya mau jual barang bekas." Kata Lisam dengan lesu dan wajah pucat.


"Iya, bawa barang bekas milikmu ke dacing." Ujar laki-laki itu.


"Ini Pak, semua sudah saya pisahkan." Ujar Lisam, sehingga mudah menimbang dan menghitungnya. Si pedagang menimbang, satu demi satu kantong plastik itu. Kemudian dia menghitung, jumlah uang penjualan hanya tujuh belas ribu rupiah. Tapi Pak pedagang bilang kalau semua uangnya dua puluh lima ribu. Memang begitulah setiap kali Lisam atau Aram menjual barang bekas padanya. Dia sengaja lebihkan untuk membantu mereka.


"Terimakasih Pak." Ujar Lisam, setelah mengambil uang dia melangkah pergi. Saat Lisam benar-benar lelah dan lemah. Hampir saja dia jatuh pinsan.


"Nak, ini ada buah pisang dan kue." Ujar si pedagang pengepul barang bekas. Sebuah kantong plastik hitam, cukup besar. Di dalam juga ada botol air mineral besar, tapi sudah dibuka tampaknya. Tidak apa-apa airnya masih bersih dan dapat diminum.


Lisam berbalik dan melangkah, lalu dia mengambil kantong plastik itu. Setelah mengucapkan terimakasih Lisam pergi. Di jalan dia memakan beberapa kue dan minum sampai puas. Membuat dirinya kuat lagi.


"Bu, beli obat nafasin." Ujar Lisam dari balik pagar. Sebuah warung kecil di sisi jalan.


"Berapa tablet, dik." Sahut si pedagang.


"Empat tablet." Jawab Lisam, saat diberikan Lisam berpikir untuk menambah empat tablet lagi, sehingga jumlah jadi enam ribu. Dua minuman ringan harga seribuan dia beli juga untuk Bagit. Setelah itu, Lisam menuju warung nasi.


"Maaf Dik, tidak boleh mengemis di sini." Ujar pedagang itu.


"Saya mau beli nasi satu bungkus, Bu." Kata Lisam.


"Oh, ya sudah nasi apa. Semua serba sepuluh ribu." Ujar ibu itu.


"Nasi ayam bakar, satu." Jawab Lisam. Setelah membeli nasi, Lisam kembali ke belakang gudang di mana ibu dan adiknya menunggu.


...*****...


ISTRI PENGEPUL YANG PELIT.


*


"Bang Jukur, kabarnya harga besi naik." Tanya penjual barang bekas. Penjual itu, selain membeli lasung dari rumah ke rumah, dia juga mencari barang bekas berkeliling dengan sepeda motornya.


"Iya, seribu rupiah per kilogram." Jawab Pak Jukur.


"Lumayan, kalau begitu. Kebetulan Aku banyak dapat besi bekas hari ini." Ujarnya.


"Untuk besar kau Bondi." Ujar Pak Jukur. Mereka sibuk menimbang dan memilah barang. Beberapa saat kemudian Pak Jukur membayar. Paman Bondi tampak berwajah cerah, dia untung besar hari ini.


Setelah Paman Bondi pulang, beberapa penjual datang lagi. Sampai akhirnya pukul lima sore, Pak Jukur menutup gudangnya dan istirahat. Saat istirahat, dia duduk di teras rumah dan minum kopi.


"Pak, kenapa selalu melebihkan bayaran anak pemulung itu." Kata Istrinya.


"Bu, kita sedekah, lagian cuma delapan ribu rupiah." Jawab Pak Jukur.


"Ya, kalau setiap kali jual begitu, sudah tidak terhitung jumlahnya. Di tambah air mineral besar, kue dan buah pisang. Kalau dihitung sudah sampai juga lima puluh ribu." Jawab Istrinya sewot.


"Bu, pisang-pisang itu dua hari lagi busuk. Kue itu besok pagi ibu buang di sampah, basi. Air mineral tadi saya tuangkan dari galon, itu pun tidak penuh. Daripada mubazir lebih baik diberikan pada anak itu." Jawab Pak Jukur.


"Pak, lebih baik di buang. Memang kalau dikasih pada mereka kita dapat apa. Saat kita susah apa mereka bisa membantu kita." Jawab istrinya lebih sengit.


"Dunia ini berubah, Bu. Kita tidak tahu bagaimana masa depan. Membantu tidak perlu balasan, Allah sebaik-baik pemberi balasan." Jawab suaminya mulai kesal.


"Sok alim, solat saja jarang sekali." Jawab istrinya.


"Justru solat jarang itulah kita berbuat baik. Jadi dosanya tidak dimana-mana. Walau jarang solat tapi Aku masih beriman, Bu." Jawab suaminya, beberapa saat kemudian mereka berhenti juga bertengkar.


...*****...


MAKAN BERSAMA.


*


Lisam menyuapi Bagit dan ibunya. Mereka makan bersama sore itu. Ibu Lisam duduk bersandar di dinding gudang itu.


"Kak, nanti beli lagi minuman." Pinta Bagit, dua minuman ringan tadi hampir habis olehnya. Lisam dia sisakan sedikit.


"Iya, kalau dapat uang lagi." Sahut Lisam.


"Yeeee." Bagit begitu gembira mendengar janji sang kakak.


"Ibu, minum obat asmanya." Ujar Lisam.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2