Kedipan Dikalah Senja.

Kedipan Dikalah Senja.
Pertengkaran


__ADS_3

Satu Minggu berlalu masih di bulan itu.


...*****...


Hari itu Minggu, hampir semua orang libur bekerja. Selain hari istirahat, juga hari menghadiri undangan. Tidak jauh dari kontrakan Aram ada hajatan pernikahan, suara musik terdengar keras.


Aram tidak libur, dia sudah pergi pagi-pagi mencari barang bekas. Nenek tidak berdagang, Dia, Areha ada di kontrakan bersama Figan dan Luran. Azan terdengar dari masjid, sudahat waktu Zuhur. Nenek berwudhu dan siap shalat Zuhur bersama Areha.


Sementara itu, Bibik Walah sedang mencuci piring di dapur. Suaminya sedang berbaring sambil memainkan smartphonenya. Dia senyum-senyum sendiri dan terus memainkan handphone.


"Haaaahhh." Suami Bibik Walah menguap, dia mau tidur. Matanya berair diiringi menguap lebar berulang-ulang.


Junka belajar di ruang depan, Deak bermain boneka tidak jauh darinya. Ada gendongan dan kain-kain untuk boneka mainan. Seperangkat mainan masak-masak juga dia mainkan.


"Adek kecil, jangan nakal. Kalau nakal nanti ibu cubit." Ujar Deak bermain, dia kemudian mengangkat mainan berbentuk cangkir. Seolah-olah boneka itu haus. Begitulah terus dia bermain sendiri. Junka membuka beberapa buku dan tampak belajar serius. Ayah Junka pun tertidur pulas siang itu, dan handphone terlepas di tangan. Kebetulan Bibik Walah sedang menyapu dan mendekati suami yang tertidur. Saat dia mau menyingkirkan handphone. Kunci handphone masih terbuka dan aplikasi WhatsApp juga terbuka. Bibik Walah melihat dengan jelas, dari pesan-pesan chat suaminya yang mesra dan sayang-sayangan. Ada juga notif video call berulang. Bibik Walah dengan berdebar dan terbakar api cemburu membaca semua pesan itu. Nama kontak Salti, foto profil wanita cantik berambut sebahu masih cukup muda. Kalau diperhatikan umurnya masih dibawah tiga puluh tahun.


"P."


"Sayang, lagi apa?." Pesan di kirim suami Bibik Walah. Pesan diikuti gift love yang berdenyut.


"Lagi mikirin kamu my love." Balas kontak bernama Salti. Juga diikuti gift love yang tertusuk anak panah. Bibik Walah membaca seluruh pesan dan darah mendidih.


"Kandaaaaa. Kurang ajar kamu, kau bilang tidak-tidak, ternyata memang kau tukang selingkuh. Laki-laki gatal sialan, tidak tahu maluuuuu." Bibik Walah berteriak dan berkata-kata kasar dengan luapan emosi. Dia mengamuk dan memukul suaminya dengan batang sapu. Suami Bibik Walah terkejut dan kelabakan. Dia menyadari kalau handphone telah di tangan istrinya. Dia tertidur dari tadi dan handphone terbuka.


"Tarrr." Handphone hancur dibanting di lantai semen. Deak dan Junka bangkit dan melihat ke ruang tengah. Mereka melihat handphone berhamburan, dan ayah mereka di pukul dengan batang sapu.


"Pak. Pak." Sapu memukul kesana kemari, membuat suaminya kesakitan dan berusaha mengelak.


"Adu. Aduuuu." Ujarnya sambil menangkis pukulan.


"Kau memang keterlaluan Kanda, mau bagaimana lagi hidup ini. Hidup susah, kau juga main gila. Aku menyesal jadi istrimu. Menyesal sekali rasanya. Kalau miskin Aku tak apa, tapi kalau kau berselingkuh Aku tidak dapat menerima lagi." Kata Bibik Walah sambil memukul suaminya. Tanpa pikir panjang suaminya pergi keluar kontrakan pergi entah kemana dengan sepeda motor. Deak dan Junka menangis tersedu-seduh menyaksikan pertengkaran ayah dan ibu mereka.


"Aaahhhh. Aaahhhh." Teriak Bibik Walah meluapkan rasa marah dan kesalnya. Dia menangis berguling-guling di lantai. Nenek, Bibik Tuyi, Paman Yuro, Areha, mendatangi kontrakan Bibik Walah. Mereka bertanya apa yang terjadi.


Setelah Bibik Walah tenang dan duduk bersandar di dinding, sambil menangis dia bercerita tentang kejadian barusan. Saat melihat handphone berhamburan pecah semua mengerti mengapa handphone pecah berantakan. Deak dan Junka masih menangis di peluk Bibik Walah.


"Hidup sudah miskin, makan seadanya, ditambah lagi kelakuan kanda begitu. Betapa hancurnya hatiku, Nek." Kata Bibik Walah.


"Kau harus sabar Walah, demi anak-anak kau. semoga Kak Yugus berubah kedepannya." Ujar Bibik Tuyi memberi semangat.


"Iya Walah, nanti nenek akan bicara sama Yugus. Semoga dia mau berubah. Sekarang kamu tenang saja dan teruskan pekerjaan kamu." Nasihat Nenek. Areha mengajak Deak dan Junka bermain dan belajar di kontrakannya. Sehingga suasana menjadi tenang. Paman Yuro pulang bersama istrinya. Nenek masih berbincang dengan Bibik Walah.


...*****...


Sementara itu, Paman Yugus tiba di tempat dia sering mangkal narik ojek. Disambut teman-teman dengan senyuman dan tawa.


"Broo, kenapa tidak aktif saya telpon barusan." Ujar temannya.


"Sial hari ini, waktu lagi chet dengan cewekku, ketiduran. Jadi dilihat istri saya semua pesan saya." Ujar Paman Yugus.


"Ha.ha.ha." Lima dari enam temannya tertawa keras, hanya satu yang diam.


"Makanya, hati-hati playboy. Handphone kamu pasti hancur berantakan." Ujar teman satunya.


"Bagaimana ini, mau narik online. Susa dapat penumpang kalau tidak ada handphone." Keluh Paman Yugus.


"Kau itu, bukan susah karena sulit dapat penumpang, tapi sedih karena tidak dapat


menghubungi kesayangan kau." Ujar satunya lagi, kemudian mereka tertawa bersamaan. Hanya yang diam tadi tidak tertawa. Sepertinya dia tidak suka dengan perkataan dan kelakuan Paman Yugus.

__ADS_1


"Yugus, harusnya kamu itu sadar. Baiklah kau berubah dan berhenti menyakiti istrimu. Mulailah kau memikirkan masa depan dengan baik. Tak selamanya kita ngojek. Tapi walaupun kita tidak kaya, setidaknya keluarga kita baik, bisa makan, akur, kasihan anak-anak kamu. Mereka butuh masa depan." Nasihat tukang ojek yang dari tadi diam.


"Hey, Tulip. Kau jangan sok alim dan menasehati Aku. Kamu itu siapa. Ini hidup Aku, terserah Aku. Mengerti." Kata Paman Yugus marah besar, dadanya menggelegak mendengar kata-kata Tulip.


"Iya juga Tulip, jangan sok ceramah. Baik kau urusi hidup kamu saja." Kata tukang ojek yang pertama memanggil Paman Yugus. Tukang ojek bernama Tulip diam saja. Sementara tukang ojek yang lain terus mengolok-olok Paman Yugus. Paman Yugus begitu senang banyak pujian dari teman-teman. Salah satu memberi saran agar dia mengambil handphone kreditan di konter handphone. Temannya punya kenalan di sana. Cukup DP dua ratus ribu, dan foto copy KTP dia dapat bawa pulang handphone. Paman Yugus gembira sekali dan dia meminta ditemani temannya itu untuk mengambil kredit handphone.


"Hati-hati kali ini, jangan sampai ketahuan lagi. Buat nama laki-laki kontak cewek kamu itu." Ujar temannya mengajari tidak benar.


"Iyalah, beres." Jawab Paman Yugus. Dia senyum-senyum.


"Bagaimana dengan istrimu, Gus. Kau tidur di luar malam ini." Tanya temannya.


"Beres, saya akan pura-pura menyesal dan meminta maaf. Kecil itu." Ujar Paman Yugus, keduanya kemudian kembali ke pangkalan ojek di bawah plyover kilometer sembilan Kota Palembang tempat mangkal. Jalan macet, tapi untuk motor tidak terhambat. Lima belas menit kemudian Paman Yugus dan temannya tiba.


"Oh, hapal nomor kontak selingkuhanmu. Luar biasa sekali kau ini." Ujar temannya, yang berjaket hitam sambil memukul halus pundaknya. Sementara Tulip hatinya berkata, dasar orang bodoh. Di olok-olok orang suka, dia rugi sendiri.


"Iyalah, nomor kesayangan." Kata Paman Yugus begitu bangga dipuji-puji temannya. Dia kemudian menelpon nomor selingkuhannya.


"Hallo, Dik Salti sayangku, maaf. Handphone kanda jatuh, trus terlindas truk. Jadi kanda beli handphone baru, dan kontak baru." Kata Paman Yugus sambil senyum-senyum, begitu juga teman-teman.


"Iya sayang tak apa-apa, makanya hati-hati meletakkan handphone, jadi rugikan." Ujar selingkuhan Paman Yugus.


"Iya juga, namanya musibah. Mau bagaimana lagi." Ujar Paman Yugus.


"Iya deh. Sayang, kirim dinda pulsa seratus ribu. Kuota internet dinda hampir habis. Bisa gelap nanti hidup dinda. Kabar buruknya, kanda dan dinda tidak bisa saling kabar. Taunya, kanda sudah digandeng yang lain." Kata selingkuhan Paman Yugus dengan lembut merayu.


"Oh, tenang saja sayang. Nanti kanda kirimkan. Jangan khawatir, beres." Ujar Paman Yugus meyakinkan.


"Makasih ayang ku. Muah, baiknya." Kata selingkuhan Paman Yugus. Beberapa saat kemudian mereka mengakhiri telpon. Paman Yugus menghampiri temannya yang tadi.


"Bro, pinjam uang lima puluh ribu, ada perlu. Besok dikembalikan." Kata Paman Yugus.


"Ah, kau ini, sama teman perhitungan sekali." Kata Paman Yugus.


"Kau kan untuk cewekmu, masak kau yang enak Aku yang rugi. Kalau mau Aku kasih, kalau tidak, ya sudah." Jawab temannya.


"Iyalah, besok Aku kembalikan tujuh puluh ribu." Paman Yugus menyerah, menerima syarat bunga pinjam uang dua puluh ribu sehari. Setelah itu, dia menuju konter pulsa dan membeli pulsa seratus ribu rupiah.


"Bagaimana sayang, sudah masuk pulsanya." Paman Yugus chet WhatsApp pada selingkuhannya. Beberapa saat kemudian balasan masuk.


"Iya makaci, cinta ku. Lancar rezekinya ya." Balasan chet selingkuhan Paman Yugus.


...*****...


Paman Yugus pulang sekitar pukul sebelas malam. Bibik Walah membuka pintu tanpa berkata sepatah kata pun dan setelah itu langsung tidur. Dia tidak memperdulikan Paman Yugus. Keduanya pun tidur terpisah, Paman Yugus tidur di ruang depan dan Bibik Walah tidur di ruang tengah bersama Junka dan Deak. Keesokan paginya Bibik Walah juga tidak bangun seperti biasa, dia masih tidur walau hari sudah siang. Biasanya dia membikin kopi untuk Paman Yugus. Tapi pagi itu tidak dia lakukan. Rasa cemburu dan marah masih membara di dalam dadanya. Kalau bukan karena Junka dan Deak mungkin dia sudah pergi, pulang ke rumah kedua orang tuanya.


...*****...


Tiga anak sekolah dasar berjalan menuju kontrakan Aram. Mereka membawa layangan di tangan.


"Luran." Seorang memanggil saat tiba di depan kontrakan. Aram sedang bersiap berangkat mencari barang bekas.


"Kak, Luran ada." tanya mereka pada Aram.


"Ada, panggil saja kuat-kuat, mungkin lagi sarapan."Jawab Aram.


"Figan, oh Figan." Panggil yang satu lagi. Areha mendengar, dia baru saja akan memulai menyapu lantai, nenek sedang mengemas kue di dalam bakul dan nampan lebar.


"Luran, sepertinya ada yang memanggil. Coba tengok." Kata Areha. Luran bangkit, di tangannya memegang pisang goreng, Figan ikut menyusul keluar. Meninggalkan hidangan sarapan mereka. Nenek melihat keduanya, tapi dia tidak marah. Dia kemudian menutup sarapan keduanya dengan tudung saji.

__ADS_1


"Areha, nenek berangkat. Jaga adik-adikmu." Kata nenek, dia melangkah keluar. Dia melihat tiga anak sekolah dasar, dan mendengar percakapan mereka.


"Ini layangan kalian yang putus kemarin." Kata teman Luran, kemudian memberikan sebuah layangan.


"Disini sobek sedikit, tambal saja dengan kertas." Kata satunya lagi.


"Iya, nanti di tambal, biar terbangnya tidak miring." Jawab Luran.


"Luran, kenapa kalian tidak sekolah." Tanya temannya.


"Ayah dan ibu kami sudah meninggal, jadi tidak ada yang mengurus kami lagi. Jadi kami tidak sekolah." Jawab Luran sedih, nenek mendengar kata-kata Luran, hatinya tersentuh, begitu juga Aram.


"Oh, kami berangkat sekolah ya, nanti sore kami tunggu main layangan di lapangan bola." Kata temannya.


"Baiklah, Herman, Deri, Hendo." Kata Luran, Figan mulai berlari-lari kecil di halaman memainkan layangan. Junka juga berpamitan dengan ibunya ke sekolah.


"Figan, Luran, ayo habiskan sarapan baru bermain." Kata nenek, Figan berhenti bermain dan masuk kembali ke dalam bersama Luran.


"Aram, nenek berangkat." Kata nenek, tampak Aram memasukkan karung plastik dan peralatan. Aram mengiakan, dia juga siap berangkat. Sebelum nenek berangkat dia mendekat dan saliman dengan nenek.


"Mau jualan Nek." Sapa bibik Walah. Deak berdiri di sampingnya dan memeluk kaki sang ibu.


...*****...


Pak Katara dan Pak Hadi berdiri di pinggir lahan perumahan elit yang akan mereka bangun. Tampak basecamp pekerjaan hampir rampung, tanah sudah rata. Rawa-rawa yang dulu tempat Aram mencari ikan telah hilang ditimbun tanah merah. keduanya mengenakan baju kemeja, dan celana panjang. Kaki keduanya mengenakan sepatu boot, dan kepala mengenakan helm kerja. Dua orang pekerja datang menghampiri, membawa gulungan kertas lebar.


"Ini dena rancangan tata letaknya kompleks perumahan keseluruhan Pak." Salah seorang menyodorkan kertas lebar. Pak Hadi dan Pak Katara membuka dan memperhatikan dengan seksama. Dua pekerja menjelaskan dengan cermat. Keduanya puas sesuai dengan keinginan mereka.


"Baiklah, cetak dena ini pada banner besar dan dirikan tiang reklame besar." Perintah Pak Katara. Keduanya karyawan mengiakan dan pergi melaksanakan tugas mereka.


"Di sebelah sana, sebelum hutan di babat. Ada gubuk yang di tempati nenek dan cucunya. Apakah sebelumnya mereka pernah izin padamu." Tanya Pak Katara pada Pak Hadi.


"Tidak ada orang yang izin menumpang, mungkin mereka menempati sendiri tanpa izin. Biasalah di kota, itulah mengapa harus di pagar dan ditandai." Jawab Pak Hadi.


"Menurut karyawan kita yang surpey mereka pindah sendiri tanpa diminta. Tapi nenek itu, seperti bukan orang biasa. Dia bijaksana dan seperti terdidik. Dari aurahnya tidak mencerminkan dia pemulung atau gelandangan." Kata Pak Katara.


"Aku jadi penasaran, apakah ada mendokumentasikan mereka." Tanya Pak Hadi.


"Tidak ada." Jawab Pak Katara. Kemudian mereka berjalan menyusuri pinggiran tanah terbuka luas itu sambil terus berbincang-bincang.


...*****...


Riha tiba di sebuah kontrakan, berbentuk bedengan panjang. Dia kemudian bertanya pada seorang ibu-ibu yang sedang mengangkat jemuran.


"Maaf Bu, boleh bertanya sebentar." Kata gadis muda itu. Si ibu berdiri sambil memegang jemuran di tangan.


"Boleh dik, ada apa." Kata ibu itu, dia memperhatikan gadis muda dan seorang pemuda di sampingnyaa. Si anak muda juga memainkan handphone. Dia senyum-senyum sendiri. Ibu itu sudah paham dengan perilaku anak-anak zaman sekarang.


"Kontrakan itu, ada yang kosong tidak. Siapa pemiliknya." Tanya gadis itu.


"Oh, ada yang kosong, kebetulan saya pemiliknya." Ujar si ibu.


"Boleh saya lihat, kalau cocok saya mau menyewa." Kata si gadis.


"Boleh, mari kita ke sana." Ujar si ibu, dia buru-buru mengangkat pakaian. Sampai seluruh tubuhnya tertutup oleh pakaian kering.


"Tunggu, Ibu ambil kuncinya." Kata si ibu, dia melangkah masuk rumah. Gadis dan pemuda berdiri menunggu di depan rumah. Lima anak-anak berlarian melewati mereka. Dua pemuda lewat menuju sebuah konter di ruko depan rumah ibu kontrakan. Di konter tampak seorang pemuda melayani beberapa pembeli. Riha juga memperhatikan seorang anak perempuan sedang mengepel teras kontrakan. Laki-laki tinggi besar sedang memperbaiki sepeda motornya.


"Ayo dik." Panggil ibu kontrakan, mereka menuju kontrakan. Saat tiba membuka gembok pintu dan kunci pintu.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2