
Matahari sudah agak condong ke barat. Langit biru dengan awan tipis. Kadang sesekali angin berhembus menerpa perlahan.
Acara yasinan di rumah Pak Herung pun selesai. Tamu satu demi satu mulai meninggalkan rumahnya. Pak Herung di dampingi istrinya melepas tamu undangan yang akan pulang. Tampak istrinya sedang hamil enam bulanan.
"Terimakasih sudah, datang. Jangan lupa bertandang ke sini ajak anak istrimu." Kata Pak Herung, sambil bersalaman dengan laki-laki muda itu. Istri Pak Herung tersenyum sambil mengangkat tangan di depan dada. Tidak bersalaman karena bukan mahram.
"Iya Bang, insyaallah. Mari Ayuk, pulang." Katanya seraya berjalan menuju tempat parkir sepeda motor. Begitulah suasana, satu demi satu pamit. Termasuk Pak RT dan warga sekitar itu.
"Ha. ha. ha. ha." Terdengar tawa riuh rendah di sebuah sudut. Tampak Pak Leban dan bawahannya sedang berbincang asik.
"Sudah, mari pulang sore." Ujar salah satunya.
"Beginilah kalau takut istri, tak bisa main sedikit." Yang lain berkata nyeletuk. Diikuti tawa semuanya.
"Tettttt. Tettttt." Handphone bergetar dan ternyata benar-benar istrinya yang menelpon. Segeralah dia menjawab panggilan, lalu bangkit, sementara Pak Leban dan yang lainnya masih tertawa terbahak-bahak. Semua tahu kalau teman mereka satu itu memang takut istri.
"Iya. iya. Ini mau pulang Ma, lagi ngobrol sama Pak Kacab." Jawabnya sambil wajah ditekuk.
Bawahan Pak Leban itu langsung pamit pulang. Tapi tidak pamitan lagi dengan Pak Herung tuan rumah. Beberapa saat kemudian mereka juga sepakat pulang. Pak Leban dan bawahannya pamit bersamaan dengan Pak Herung.
"Pak, dari blok sana saja, biar tidak terlalu jauh ke jalan besarnya." Kata Pak Herung pada Pak Leban yang sudah menyalakan mobilnya. Sementara yang lain juga sudah menyalahkan mobil juga. Akhirnya semua mengikuti saran Pak Herung. Keluar kompleks itu melalui jalur samping. Mobil melaju beriringan, dan mobil Pak Leban paling depan.
...*****...
Suasana dikontrakkan baru Aram berantakan. Aram tampak sibuk dengan barang bekas. Nenek di dapur sedang beres-beres. Menimba air dan menyetel kompor untuk memasak. Luran, Figan dan Deak bermain gembira sekali. Mereka lari dari halaman rumah kontrakan ke halaman rumah kosong di depan dan samping. Ketiganya bermain hewan-hewan buas berburu. Sekarang giliran Figan yang jadi hewan serigala. Luran menjadi kijang patah kaki, dan Deak menjadi kelinci.
"Aaauuuuuk. Aaaauuukk." Suara Figan meniru lolongan serigala.
"Aduhh, kakiku. Lari ada serigala." Kata Luran sambil berlari-lari pincang.
"Tolong, ada serigala. Tolong." Ujar Deak, dia berlari melintasi jalan tanpa menoleh ke samping kiri atau kanan. Beberapa kali, diikuti Figan berulang-ulang.
...*****...
Mobil pak Leban berhenti mendadak. Saat dia melihat seorang anak perempuan berlari nyelonong saja di depan. Terdengar tawanya yang riang. Dua anak laki-laki mengejar di sisi jalan sambil bersuara meniru suara anjing. Tidak mendengar suara mobil yang akan lewat.
"Toloooonngg." Suara Deak bermain.
"Srittt." Rem mobil terdengar keras.
"Tinnn." Klakson berbunyi.
"Aduu, hampir saja." Gerutu Pak Leban. Dia melihat ke samping kiri. Tampak dua anak perempuan sedang membakar sampah di halaman rumah. Seorang ibu muda sedang menyapu lantai teras sambil menggendong anaknya. Seorang anak remaja laki-laki sedang membongkar barang bekas dari dalam gerobak. Di dalam gerobak terdapat cukup banyak kardus dan plastik.
"Deakkkk. Jangan main di jalan." Teriak Junka.
"Aduuuh, hampir saja." Ujar Salika.
Areha melirik Luran dan Figan yang juga bermain di sisi jalan. Dia meminta keduanya mengajak Deak bermain di halaman rumah saja. Ketiganya pun berhenti dan duduk di teras rumah saja. Wajah ketiganya pucat dan takut. Menyadari kesalahannya.
Mobil pak Leban kembali berjalan. Diikuti beberapa mobil di belakangnya. Nenek mendengar ribut-ribut dan suara rem mobil dan jeritan Salika, Areha dan Junka.
"Ada apa." Tanya nenek yang muncul dari dalam rumah. Di tangannya ada sosokan tanda dia memasak. Nenek melihat beberapa mobil berlalu di depan rumah kontrakan. Satu mobil paling depan hanya dia lihat bagian belakang saja. Entah apa yang nenek rasakan, ada hal yang dekat dan tidak asing. Saat dia melihat punggung mobil itu. Entah apa.
"Hampir saja di tabrak mobil, Nek." Kata Areha, sementara Aram diam saja. Nenek menasihati Deak, Figan dan Luran agar hati-hati saat bermain.
"Itulah, jangan main di jalan, Adik. Sudah berkali-kali dibilangin." Kata Areha.
Anak Pak Kino yang dari tadi bermain di dekat mereka. Sekarang bermain bersama Deak. Tampak si anak ingin berkata-kata tapi belum jelas kosa katanya. Tangannya menunjuk-nunjuk. Junka mencubit pipinya yang membuat gemas semua orang.
...*****...
KEESOKAN HARINYA.
*
Siang menjelang sore, nenek selesai shalat Zuhur. Aram tertidur pulas di kamar depan. Sementara Salika sedang merapikan pakaian mereka di kamar belakang. Beberapa kotak kardus dia susun sesuai pakaian masing-masing. Anak Salika tertidur nyenyak di sudut kamar. Di samping rumah terdengar suara Luran, Figan dan Deak bermain. Menggunakan plastik bekas dan mobilan yang sudah rusak. Mereka bermain dengan gembira. Di depan terdengar suara Areha dan Junka sedang duduk santai di teras sambil berbincang-bincang. Anak Pak Kino juga bermain di sekitar mereka, berjalan kesana kemari.
"Salika, kau mau sholat." Tanya nenek, sambil melepaskan mukena.
"Iya Nek, saya ambil wudhu dahulu." Ujar Salika dari dalam kamar. Nenek melipat mukena dan dia letakkan di atas sajadah. Kemudian ke dapur dan menata alat-alat dapur yang mereka bawa. Wadah kue dan bakul gendongan kue sudah dicuci bersih. Nenek berpikir dimana kiranya warung yang menjual buah pisang dan umbi-umbian. Untuk diolah menjadi dagangan besok.
Sementara Salika menimba air dari sumur. Lalu berwudhu di sisi sumur. Ada tempat persegi empat terbuat dari semen berukuran dua kali dua meter. Lalu saluran air melalui pipa paralon menuju selokan di depan rumah. Tidak ada penutup, dari sana kegiatan dapat terlihat dari beberapa sisi. Termasuk dari sisi jalan di belakang rumah itu. Rumah subsidi itu belum direnovasi.
"Nenek, lagi apa." Tanya Salika saat masuk dapur. Melihat nenek sedang membersihkan sesuatu.
"Sepertinya saringan aluminium ini bisa digunakan, mau nenek cuci. Untuk buat kue tusuk gigi, saringan minyak saat menggoreng, atau apalah." Kata nenek, lalu dia keluar dapur dan membersihkan benda itu. Salika tersenyum mendengar itu, dia lalu shalat zuhur di ruang tengah rumah.
...*****...
SORE.
__ADS_1
Seorang ibu-ibu dan seorang anak berumur sepuluh tahun tiba di depan rumah kontrakan Aram. Mengendarai sepeda motor metik dengan wajah penuh tanda tanya. Dia merasa bingung, dengan keadaan rumah yang bersih dan banyak anak-anak, ada gerobak, dan terdengar suara tangisan bayi.
"Kukukrakikk." Ayam jago Aram berkokok. Aram keluar dari dalam rumah dengan wajah masam karena baru bangun tidur. Dia melihat ibu-ibu dan anaknya itu.
"Benar, rasanya rumah saya." Kata hati si ibu, dia melihat nomor rumah dan kode blok. Mengapa banyak orang pikirnya. Lalu dia turun dari sepeda motor dan masuk pekarangan.
"Pak Kandu ada di rumah, Dik." Tanya si ibu pada Aram.
"Pak Kandu, saya tidak kenal Bu." Jawab Aram.
"Lah, yang mengkontrak rumah saya ini, Pak Kandu. Kamu anaknya apa kemenakannya." Tanya si Ibu agak bingung.
"Saya tidak kenal, kami mengkontrak rumah ini pada Pak Sobri, kemarin sore." Jelas Aram. Nenek pun keluar, di susul Salika yang menggendong anaknya. Junka dan Areha ikut mendengarkan di sisi dinding.
"Aduuu, ini rumah saya. Pak Kandu sudah habis waktu kontaknya seminggu lalu. Aku telpon kemarin katanya hari ini dia mau mengembalikan kunci rumah." Jelas si ibu, sambil bersungut-sungut.
"Aduuu, bagaimana ini. Benar ini rumah ibu." Kata Nenek gelisah, dia memandang Salika dan Aram bergantian. Mereka khawatir telah ditipu orang. Uang sewa sudah dibayar. Sedangkan sisa uang sedikit untuk makan bulan ini.
"Iya Uwa, ini blok H. No. 23, rumah saya." Jawab si ibu.
"Pemilik rumah ini Pak Sobri namanya kemarin. Kami sudah bayar sewa empat ratus ribu untuk bulan ini." Jelas nenek.
Entah mengapa, si ibu yang mengaku pemilik rumah tiba-tiba pergi. Sedangkan nenek baru mau mengajak masuk. Ibu itu tampak kesal sekali.
...*****...
Nenek dan Aram duduk lesu. Mereka khawatir sekali saat itu. Apakah itu pertanda mereka akan tidur di luaran lagi. Tentu itu sangat menyediakan sekali.
"Sepertinya sudah takdir kita menjadi gelandangan, Nek. Maafkan Aram, seharusnya tidak mudah percaya dengan orang." Ujar Aram sedih.
"Sudah, jangan menyalahkan dirimu. Seandainya memang rumah ini milik ibu itu. Kita coba menumpang sehari atau dua hari. Lalu mencari kontrakan lain. Sisa uang itu masih cukup untuk membayar satu bulan." Jawab nenek.
"Bagaimana kita makan dan modal nenek berdagang." Kata Aram.
"Kita usahakan nanti, semoga Allah memberikan jalan." Ujar nenek. Salika, Areha, Junka, Deak, Luran dan Figan duduk diam disekitar Aram dan nenek. Melihat semuanya sedih, mata nenek jadi berkaca-kaca.
"Luran, ajak Figan dan Deak main, sana." Ujar nenek. Dia tidak tega melihat ketiga anak itu sedih.
"Ne. ne." Dari dalam kamar muncul anak kecil dan langsung menuju nenek. Semua menjadi tertawa melihat tingkah anak Pak Kino itu. Sekarang anak Pak Kino sudah menjadi bagian dari mereka. Semua sayang dengan anak Pak Kino yang malang itu.
...*****...
"Hei, kalian enak saja menempati rumah orang. Tidak tahu malu, ini rumah kakak saya tau. Pergi, pergi." Teriak laki-laki itu sambil marah-marah. Si ibu dan anaknya berdiri dengan wajah masam dan ketus. Ada map berisi surat-surat rumah itu.
"Ini rumah kakak saya, kalian mau apa. Kau, merasa hebat, maju." Laki-laki itu marah-marah terus dan menantang Aram berkelahi.
"Heaaaa." Teriaknya.
"Durrrrrr." Dia menendang gerobak Aram, sepasang ayam Aram berkotek ketakutan. Anak ayam berlarian menjauh. Gerobak sampah Aram terbalik dan sampah berantakan keluar. Luran, Figan, ketakutan sementara Deak langsung menangis dan langsung memeluk Luran.
"Herdung, sabar sedikit kamu ini. Tidak pantas perbuatan kamu seperti ini. Kau seorang sarjana, bagaimana kelakuan kamu seperti orang tidak berpendidikan." Kata laki-laki tua, berpeci hitam sambil masuk halaman rumah.
"Pak RT, manusia seperti ini tidak perlu dihargai, karena bersifat seperti binatang. Kalau kita lemah akan dia injak. Enak saja menempati rumah orang, dasar gelandangan busuk." Ujar Pak Herdung.
"Masuk Nak, Pak RT, Dik. Kita bicara di dalam." Kata nenek lembut, mengajak mereka masuk rumah. Aram dan yang lain diam saja. Salika, Areha dan Junka pindah duduk ke ruang tengah mendengarkan.
Nenek duduk sambil memangku anak Pak Kino. Setelah semua masuk, dan duduk dengan tenang. Nenek mulai menceritakan semuanya. Awal kemarin sore mereka mencari kontrakan dan berjumpa dengan orang bernama Pak Sobri yang mengaku pemilik rumah. Sampai akhirnya mereka berniaga untuk mengontrak rumah. Nomor hp yang diberikan ternyata hanya nomor palsu. Saat dihubungi pak RT ternyata nomor seorang di Kalimantan, entah siapa. Mendengar penjelasan nenek membuat Pak RT, dan si Ibu pemilik rumah mengerti duduk persoalannya. Sementara Pak Herdung tampak mencibir dan masih sewot.
"Makanya, jangan mudah percaya begitu saja, gunakan otak kalian. Beginilah, kalau hidup terlalu bodoh dan miskin." Ujar Pak Herdung dengan sombongnya. Dia begitu menganggap remeh Aram dan nenek.
"Bagaimana ini, keputusan ibu dan bibi." Ujar Pak RT. "Kasihan juga kalau mereka pergi sebelum dapat kontrakan." Bibi juga mengerti, kalau ini rumah Ibu Yuyu." Kata Pak RT menengahi. Dia sengaja memotong kata-kata Pak Herdung yang tidak bermutu dan tidak sesuai seorang yang pernah menempuh pendidikan tinggi. Hati Pak RT begitu terusik dengan kata-katanya. Aram dan nenek juga tersinggung, tapi mereka mengalah dan sabar.
"Kalau Dik Yuyu mengizinkan kami bayar lima ratus ribu untuk satu bulan. Kalau tahunan dan minta dibayar langsung kami tidak punya uang." Kata nenek. Lama Ibu Yuyu terdiam, dan berpikir.
"Yah, tidak apa Uwa. Saya terima. Untuk bulan depan kita musyawarahkan lagi." Jawabnya.
"Tidak rugi juga Yu. Kalau bulanan lima ratus ribu, setahun jadi enam juta. Kau menyewakan tahunan cuma lima juta." Kata Pak RT. Ibu Yuyu mengangguk, hanya Pak Herdung yang masih sinis. Nenek membayar pada ibu Yuyu sewa satu bulan, disaksikan Pak RT. Ada juga bukti bayar berupa kwitansi yang ditandatangani ibu Yuyu.
"Bagaimana, selesai urusannya. Semua ikhlas." Tanya Pak RT. Nenek mengangguk begitu juga Ibu Yuyu. Setelah itu, dia pamit dan pulang diikuti Pak Herdung. Pak RT masih belum pulang, dia sebagai ketua RT banyak bertanya tentang keluarga nenek. Nenek mengenalkan semuanya pada Pak RT. Beberapa saat kemudian Pak RT juga pamit pulang.
"Nek, nanti atau besok antar ke rumah saya Kartu Keluarga nenek yang ada nama cucu-cucu nenek. Aram kamu yang antar ya." Ujar pak RT.
"Iya Pak." Kata Aram sambil mengangguk.
"Rumah saya di blok K. Nomor 32. Tanya saja Pak RT 5, semua tahu." Kata Pak RT lagi, setelah mengucapkan salam Pak RT pulang.
...*****...
Nun jauh di Kalimantan Yuzaka duduk termenung di teras rumah barunya. Matanya menerawang jauh entah kemana. Semua orang-orang di lingkungan rumah juga baru. Yuzaka begitu sedih meninggalkan Kota Palembang. Tubuhnya di Pulau Kalimantan, hatinya jauh tertinggal di Pulau Sumatra.
"Yuzaka, kenapa kau belum makan dari siang." Tanya ibunya, sambil menyapu lantai rumah. Sementara Gapa asik memainkan game kesukaan.
__ADS_1
"Hatiku di Sumatra, jiwa di Borneo, Kalimantan." Suara Gapa bernyanyi menyindir Yuzaka. Yuzaka cuma cemberut mendengar nyanyian itu. Kembali terdengar suara menirukan setiap gerak permainan game.
"Belum lapar, ibu." Jawab Yuzaka. Matanya masih memandang kelipan lampu jalanan sore menjelang malam. Ibunya tampak menghela nafas dalam. Dia masih maklum kalau Yuzaka belum terbiasa di tempat baru dan berpisah dengan teman-temannya. Terdengar suara klakson mobil di halaman. Ayah Yuzaka pulang dari kerja. Ibu Yuzaka menyambut ayah Yuzaka. Membawa koper dan sebuah map.
"Yuzaka diterima di sana, Pak." Tanya Ibu Yuzaka sambil berjalan.
"Iya, diterima hasil tes baik." Jawab Ayah Yuzaka. Perbincangan itu di dengan Yuzaka, tapi dia diam saja. Tampak ayah dan ibunya menuju ruangan makan.
...*****...
Nenek bingung bagaimana mengatur sisa uang mereka. Dibelikan beras dan kebutuhan dapur uang mereka habis. Di buat modal berjualan mereka makan apa. Dia merenung seorang diri di dekat sumur. Sementara tangannya menggosok perlengkapan dapur yang kotor. Sinar matahari senja menjelang malam itu menerpa wajah tua yang sudah mulai keriput.
"Nenek, ada apa kok melamun." Tanya Yuzaka, dia mendekati nenek sambil membawa pengepel lantai. Dia selesai mengepel lantai, sementara anaknya digendong Junka. Sedangkan Areha menggendong anak Pak Kino.
Mereka bermain di halaman rumah yang mulai teduh. Aram dibantu Luran dan Figan menyusun kembali barang-barang yang berantakan saat gerobak terbalik di tendang Pak Herdung tadi siang.
"Tidak, nenek hanya berpikir bagaimana memulai berdagang lagi." Ujar Nenek, dia kembali mencuci perabotan.
"Maafkan Salika, Nek. Salika tidak bisa membantu Nenek." Ujar Salika sedih, dan matanya berkaca-kaca.
"Kalau kita tidak di tipu orang. Tentu kita tidak sesulit ini." Ujar Nenek.
"Tega sekali bapak itu." Sahut Salika sambil memeras alat pengepel lantai.
"Yah, sudalah ini cobaan kita, Lika. Semoga Allah mempermudah jalan kita." Kata nenek lagi.
"Kapan nenek menghadap Pak RT." Kata Salika. Nenek paham kekhawatiran Salika. Dia tidak memiliki kartu keluarga sebab dia hamil diluar nikah dan kekasihnya tidak mengakui anaknya. Sementara data-data tertinggal di rumah orangtuanya dan sudah dijual kakak-kakaknya.
"Sudah, masalah itu biar Nenek yang urus. Karena itu urusan orang tua. Kamu jangan berpikir yang tidak-tidak." Sahut Nenek.
...*****...
Lisam, Bagit dan ibunya pergi menyusuri jalan sore. Lisam dan Bagit menggendong barang bekas menuju sebuah rumah pedagang pengepul barang bekas. Di sana mereka sering menjual barang bekas bersama Aram.
"Pak jual barang bekas." Kata Lisam sambil menurunkan ikatan kardus. Bagit juga menurunkan karung yang berisi kaleng bekas minuman dan plastik.
"Adu mau tutup ini dik." Kata ibu-ibu istri pedagang pengepul barang bekas. Lisam dan Bagit jadi kecewa dan keduanya tidak berkata apa-apa. Maklumlah anak-anak yang belum pandai bernegosiasi. Saat mereka hendak melangkah pergi, tiba-tiba ada yang memanggil.
"Oh, iya sudah bawa kesini di timbang barangnya." Suami ibu itu keluar dari dalam gudang barang bekasnya. Lisam dan Bagit membawa barang bekas dan di timbang. Timbangan kardus hanya enam kilogram, kaleng bekas hanya tiga kilogram, dan botol plastik empat kilogram. Kardus satu kilogram seribu lima ratus rupiah, kaleng aluminium tiga ribu rupiah, dan plastik seribu rupiah per kilogram. Semua ditotal dua puluh ribu lima ratus rupiah.
"Ini uang kalian." Ujar si bapak pengepul. Dia menyodorkan uang tiga puluh ribu rupiah.
"Iya terimakasih Pak." Jawab Lisam, setelah mengambil uang dia pergi bersama Bagit. Sementara Ibu mereka duduk di trotoar sisi jalan raya menunggu. Sesekali dia memegang dadanya yang terasa sesak.
...*****...
Sementara itu, sepasang suami-istri pengepul barang bekas terlibat sedikit cek-cok.
"Pak, kalau berdagang seperti itu. Kita rugi, harga dua puluh ribu limaratus rupiah bapak bayar tiga puluh ribu." Kata istrinya protes.
"Sedekah Bu, kasihan anak-anak itu. Mungkin keduanya belum makan." Jawab suaminya.
"Kita pedagang, bukan panti sosial. Untuk apa Dinas Sosial negara ini kalau kita yang mengurusi. Kalau kita kesulitan, apakah anak itu bisa membantu kita nantinya atau Dinas sosial membantu kita juga, mustahil." Ujar si ibu marah-marah.
"Kita membantu ikhlas, bukan membatu agar dapat bantuan mereka. Lagian saat kita jual barang mereka ini, uang juga balik lagi. Walau kita tidak untung." Jawab suaminya.
"Kalau setiap hari, kita rugi Pak. Kalau rugi siapa yang tanggung." Jawab istrinya masih mau menang.
"Iya sudah, cukup. Gantinya besok bapak tidak beli rokok, dan bila perlu sampai satu Minggu bapak tidak merokok." Kata suaminya mengalah.
Dia merelakan jatah rokoknya di potong. Sebagai ganti uang sembilan ribu lima ratus rupiah yang diberikan pada Lisam dan Bagit. Pedagang itu, sering membantu Lisam dan Bagit. Begitu juga saat Aram menjual barang bekas padanya. Dia sering melebihkan bayaran karena kasihan.
...*****...
Lisam, Bagit dan Ibunya berjalan menyusuri jalan raya yang ramai di tengah kota Palembang. Sinar lampu jalanan dan kendaraan menyinari langkah kaki mereka. Ada rasa lelah dan kantuk menyertai mereka.
"Mak, ayo kita makan." Kata Bagit.
"Iya, kita cari tempat dulu." Ujar ibunya.
Waktu menunjukkan pukul delapan malam. Mereka menemukan banyak ruko-ruko telah kosong. Salah satu ruko yang terasnya terang mereka singgahi. Sebelumnya mereka membeli satu bungkus nasi bungkus. Satu bungkus mereka makan bersama. Lisam dan Bagit makan disuapi oleh ibu mereka. Terasa begitu nikmat nasi itu. Air minum tiga kantong kecil plastik yang diberikan warung nasi saat membeli nasi. Malamnya, mereka tidur di sana berselimut kardus bekas.
"Kak Aram kemana, Yuk." Tanya Bagit.
"Tidak tahu, kita cari saja di tempat mencari barang bekas." Jawab Lisam.
"Uhuk. Uhuk. Uhuk." Ibu mereka terbatuk-batuk.
Malam berlalu, angin berhembus deras dan terasa dingin sekali. Hujan turun, membuat mereka basah. Ketiganya berpelukan, Bagit bermimpi berjumpa dengan ayahnya. Bagit begitu gembira dalam mimpinya. Andai di dunia nyata tentu itu sangat membahagiakan mereka.
"Durrrrrr. Durrrrrr." Petir menyambar begit kuat.
__ADS_1