
Gas yang telah menyebar terpantik listrik. Sehingga memicu ledakan tabung gas, lalu kebakaran. Api juga menyambar bensin sepeda motor tertumpah di ruang depan. Tangki sepeda motor meledak dan bensin menyebar kemana-mana. Bersama itu juga api berkobar. Melahap plafon yang terbuat dari triplek. Juga cepat menjalar karena dinding papan yang kering.
Sementara Paman Yugus tidak dapat berbuat apa-apa. Tubuhnya terpental ke dinding karena ledakan tabung gas. Dia baru menyesali semuanya. Matanya buram dan debu berterbangan.
"Deak, Junka." Ucapan terdengar lirih dari mulutnya. Paman Yugus pasra melihat api menjalar kemana-mana. Dia tidak bisa bergerak, pasrah.
"Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku. Lindungilah dua anakku." Doa Paman Yugus. Sementara Bibik Walah tubuhnya tersambar api. Membakar sekujur tubuhnya. Kasur, bantal, lemari plastik pun terbakar.
"Tolong." Teriak Bibik Walah.
"Kanda." Panggil Bibik Walah saat melihat Paman Yugus tidak berdaya dan tubuh sudah diliputi api.
"Walah, maafkan kanda." Kata terakhir Paman Yugus.
"Aahhhhkkkkkk." Teriakkan melengking Bibik Walah terdengar dari luar. Sementara di luar warga baru melihat asap dan baru berlari menuju kontrakan terbakar. Semua berteriak-teriak kebakaran.
"Junka, Deak. Ibu sayang kalian, anakku." Itulah kata-kata terakhir Bibik Walah, lalu dia menangis dan pasrah. Tubuhnya telah diliputi api sekujur tubuh. Dia berguling-guling menahan pedinya terbakar. Lalu kerangka rumah dan atap berjatuhan dari atas. Menimpa tubuh Paman Yugus dan Bibik Walah. Membuat mereka terbakar tanpa sisa, menjadi abu bersama kontrakan.
...*****...
Ledakan terdengar begitu keras dari luar. Membuat semua terkejut, sementara anak bayi Salika langsung menangis. Areha, Salika, Deak, Junka bangkit. Salika menggendong anaknya dan keluar kontrakan mengikuti Areha dan yang lainnya.
Bibik Tuyi keluar juga dari kontrakan dan mencari tahu apa yang terjadi. Ibu pemilik kontrakan dan suaminya keluar rumah. Mereka menjerit saat melihat ke arah kontrakan mereka yang mulai di lalap api.
Dari jauh warga berlarian menuju arah kontrakan. Semua berteriak-teriak dan melaporkan ke Pak RT.
"Kebakaran."
"Kebakaran." Begitulah teriakan orang-orang.
Warga yang datang bergegas membatu mengangkut barang-barang. Salika dan Areha membawa pakaian di dalam baskom. Ada beberapa warga sudah membawa kompor gas dan alat-alat dapur, seperti ember dan panci. Begitu juga Bibik Tuyi menyelamatkan apa yang dapat diselamatkan dibantu warga.
"Yang kontrakan ini, dimana." Tanya seorang warga.
"Yang ini sudah pindah." Kata Ibu Pemilik kontrakan.
"Telpon pemadam kebakaran, cepat." Beberapa orang berkata. Suasana sangat panik, beberapa warga membawa ember dan menyiramkan ke api. Tapi itu hanyalah perbuatan sia-sia.
...*****...
"Ibu." Panggil Deak
"Ayah." Panggil Junka dan Deak di depan pintu kontrakan. Kemudian dua orang warga menarik keduanya ke tempat aman. Keduanya terus meronta, menangis dan menjerit-jerit karena Paman Yugus dan Bibik Walah orang tua mereka masih terjebak di dalam kontrakan yang sudah menjadi lautan api.
...*****...
Setelah di luar Salika dan Areha ingin kembali masuk mengambil barang-barang. Tapi keduanya di cegah warga karena api sudah sangat besar. Dalam waktu setengah jam saja, kontrakan berdinding papan itu telah menjadi kobaran api seluruhnya.
"Baju baru untuk sekolah ku, baju sekolah ku." Teriak Areha dalam pelukan ibu pemilikan kontrakan. Dua Minggu lagi Areha, Luran dan Figan segera masuk sekolah. Jerih paya Areha menjual keripik dan jerih paya Aram juga nenek sekarang habis tak bersisa. sudah setahun lamanya usaha mereka untuk kembali ke sekolah. Tapi takdir tetap berkata tidak.
"Kopek." Panggil Figan saat dia tiba di sekitar kontrakan terbakar.
"Kontrakan terbakar, apa." Tanya Luran, kedua anak-anak tampak merenung melihat kobaran api yang semakin besar di hadapan mereka. Beberapa saat kemudian mobil pemadam kebakaran datang. Tapi semua masyarakat kecewa, sebab tidak ada gunanya lagi.
"Brusss." Puing kontrakan itu jatuh ambruk bersamaan. Sedangkan tim pemadam baru saja mau mengarahkan selang pipa air.
...*****...
Sebuah masjid megah tidak jauh dari kontrakan yang kebakaran. Tampak seorang pemuda sedang berbincang dengan ketua pengurus masjid.
"Pak, masjid ini dibangun tahun berapa." Tanya pemuda itu, dia membawa buku tulis, mencatat informasi penting dari pengurus masjid.
"Masjid ini dibangun tahun 1970-an, Dik. Bangunan awalnya sangat sederhana, dinding masih setengah permanen dan tidak ada menara. Atapnya berbentuk limas saja, tidak ada tipologi atap naik turun seperti sekarang." Jawab pengurus masjid. Kemudian pengurus masjid menunjukkan foto awal masjid pada sebuah proposal. Pemuda itu tampak mendokumentasikan data dengan kamera ponsel.
"Tahun berapa renovasi awalnya." Tanya pemuda itu lagi.
"Sekitar tahun 1985. Masa itulah ada dana masuk dari yayasan dan merenovasi total bangun, terutama struktur atap." Jawab si pengurus masjid.
"Masa Orde Baru, berarti." Kata si pemuda, dan keduanya terus berbincang-bincang.
"Sekarang mau renovasi lagi, atap kubah." Tanya pemuda itu lagi.
__ADS_1
"Iya, kita pakai kuba baja ringan, aliran kuba Turkiye." Jelas ketua pengurus masjid.
"Masjid ini, ......" Pertanyaan terhenti. tiba-tiba:
"Kebakaran." Puluhan warga berlarian di jalanan kompleks.
"Kebakarannnn." Teriak orang-orang dari setiap sudut sekitar itu. Pemuda dan pengurus masjid menjadi panik juga, keduanya bangkit dari duduk dan keluar masjid. Marbot masih tampak melepaskan sapu dan keluar masjid. Di jalanan puluhan warga berlari melewati depan mereka, dan pemuda itu bersama pengurus masjid keluar dari pagar masjid.
"Pak RT, dimana kebakaran." Tanya pengurus masjid.
"Itu kontrakan." Jawab Pak RT sambil bergegas. Tidak berapa lama semuanya kemudian tiba di lokasi kebakaran. Si pemuda tampak mengamati sekitar dan mendokumentasikan musibah dengan kamera ponsel miliknya.
"Inalilahi wainailaihi rojiun." Pengurus masjid berkali-kali mengucapkan kata-kata itu.
...*****...
Nenek pulang dari menjual kue. Dia berjalan perlahan menyusuri jalanan. Agar tidak menggangu pengguna jalan. Nenek berjalan di sisi jalan terus.
"Brummm. Tin. Tin." Dua mobil pemadam kebakaran lewat. Nenek melihat mobil merah itu, dia tahu kalau mobil itu keluar. pasti ada musibah kebakaran. Dari jauh nenek melihat kerumunan warga. Semua orang memperhatikan nenek. Saat nenek mendekati mereka. Dia mendengar banyak tangisan. Saat dia menoleh ke arah kontrakan. Tampak kontrakan sudah rata dengan tanah. tinggal abu-abu berterbangan saat ada angin berlalu.
"Nenek." Terdengar teriakkan memanggil, tampak Areha, Luran, Figan, Salika, Junka, Deak duduk di bawah pohon. Di sekitar banyak warga, terutama ibu pemilik kontrakan. Dia juga menangisi kontrakan miliknya yang terbakar.
"Ya Allah, mengapa musibah menimpa kami tiada henti." Teriakkan si ibu terus menerus, anak gadisnya tampak memeluk dan menenangkan.
"Areha, Salika apa yang terjadi." Tanya nenek merasa belum percaya. Keduanya bangkit dan memeluk nenek sambil menangis. Luran dan Figan duduk bermain dengan Deak. Sementara Junka tetap menangis tersedu-sedu. Nenek meletakkan keranjang dan wadah kuenya.
Lalu Areha dan Salika menceritakan kejadian tadi siang. Diawali dengan pertengkaran Paman Yugus dan Bibik Walah. Kemudian adanya ledakan keras, sepertinya tabung gas. Lalu terjadilah kebakaran hebat. Paman Yugus dan Bibik Walah ikut terbakar dan meninggal dunia di dalam kobaran api. Jasad keduanya tidak ditemukan, habis menjadi abu.
"Inalilahi wainailaihi rojiun." Kata nenek diakhir cerita, dia sepertinya syok mendengar itu.
"Junka, Deak, kesini cucu nenek." Panggil nenek, Junka mendekat dan nenek memeluk Junka dengan haru. Air mata nenek meleleh di pipinya.
"Sabar, mulai sekarang kalian menjadi cucu nenek." Kata nenek, membuat Junka menjadi sedikit terhibur.
...*****...
Hari menjelang sore, Aram pulang ke kontrakan setelah menjual barang bekas hasilnya hari ini.
Aram sekarang sudah mendekati kontrakan. Dari jauh dia melihat kerumunan orang-orang. Semakin dekat Aram, dia merasa ada yang tidak beres. Dia melihat Nenek, Areha, Salika, Junka, Luran, Figan, Deak, duduk berkerumun tidak bawah sebatang pohon. Tampak barang-barang berserakan. Ada seorang pemuda duduk di atas sepeda motor, tidak jauh dari kerumunan.
"Koyong." Panggil Figan, dia bangkit dan berlari mendekati Aram.
"Ada apa Figan." Tanya Aram, lalu memberikan satu es krim buah seharga dua ribu. Figan merasa gembira.
"Kontrakan kita kebakaran, Koyong." Kata Figan, mendengar itu Aram bagaikan disambar petir. Figan berjalan di sisi gerobak. Aram melihat yang lain, tampak semua memandanginya. Luran tampak memeluk ayam mereka. Aram kemudian melihat ke arah kontrakan. Dia melihat ke arah kontrakan yang mereka sewa telah rata menjadi abu dan arang.
Aram kemudian duduk di sisi Areha yang terus menerus menangis. Aram memperhatikan Junka yang juga terus menangis. Nenek dan Salika diam seribu bahasa. Mereka juga belum bisa berkata apa-apa.
"Mana bibik dan Paman." Tanya Aram pada Junka. Bukan menjawab Junka dan Deak berpelukan dan keduanya kembali menangis pilu. Nenek memandangi Aram, lalu menggeleng. Dada Aram berdebar, dia tahu kalau ada kabar tidak baik. Aram kemudian memberikan es krim pada Junka, Areha, Deak, Luran.
Aram kemudian bangkit dan berjalan menuju pemuda yang duduk di atas motor. Dia belum mau bicara apa-apa. Jauh di dalam hatinya dia bermimpi. Berharap segera bangun mimpi buruk berakhir.
"Kak apa kabar." Aram menyapa si pemuda.
"Rumah kamu di sini selama ini." Tanya si pemuda.
"Iya Kak." Jawab Aram berbohong, selama ini dia sesungguhnya menggelandang.
"Kakak mengapa sampai jauh kesini." Tanya Aram. Tampak wajah Aram sedih dan lesu.
"Kakak beberapa hari ini mencari data arsitektur atap masjid di Kecamatan Alang-Alang Lebar. Untuk sampel penelitian skripsi kakak. Saat di sekitar sini ada kebakaran. Aku juga melihat adik-adikmu. Saat bertanya kontrakan kalian yang terbakar." Kata si pemuda.
"Benar Kak." Jawab Aram sambil menarik nafas dalam-dalam.
"Kau jangan bersedih, Kakak sengaja menunggu kau pulang. Karena kakak akan bicarakan musib pada teman kuliah kakak. Siapa tahu mereka bisa membantu." Ujar si pemuda.
"Apa tidak merepotkan kakak." Ujar Aram.
"Tidak Aram. Kamu yang sabar, lusa siang kakak akan mencari kau lagi. Sekarang Kakak mau pulang." Ujar pemuda itu, dan Aram mengangguk. Pemuda itu naik sepeda motor dan pergi. Aram berdiri menyaksikan kepergian pemuda itu. Lalu dia kembali duduk di dekat nenek. Pak RT tiba bersama ibu RT.
"Nenek, malam ini menginap di rumah kami saja." Ujar Pak RT. Nenek setuju dan mereka pun pergi ke rumah Pak RT.
__ADS_1
Malam hari Beberapa orang polisi datang dan menggali informasi tentang kebakaran. Hal demikian untuk pelaporan publik karena ikut meninggalnya Paman Yugus dan Bibik Walah.
...*****...
Keesokan harinya, Joni, Arip, Asdi, Dani, Alpin dan teman kelas mereka mencari donasi di kampus mereka. Satu kelas SKI Angkatan 2013 membantu mencari donasi. Satu demi satu mereka mendatangi ruang kelas. Ada yang ke lampu merah, dan berkeliling kampus.
"Assalamualaikum teman-teman, telah terjadi kebakaran di sebuah kontrakan. Jadi kami datang meminta bantuan seikhlasnya." Ujar Arip, setelah itu Asdi dan Alpin membawa kardus berkeliling kelas. Puluhan mahasiswa memberikan sumbangan mereka dengan uang receh dan dua ribuan.
Sementara itu, Joni dan Arip dan yang lainnya di kelas yang lainnya. Menjelang sore mereka telah selesai dan mengumpulkan hasil donasi. Saat mereka hitung di kelas. Uang pecahan seribu dan dua ribuan itu mencapai satu juta lima ratus enam puluh ribu rupiah. Setelah selesai, uang dimasukkan kembali ke dalam satu kardus. Lalu dipasang isolatif hitam yang kuat.
"Siapa antar, insyaallah berkah." Ujar seorang teman wanita di kelas mereka.
...*****...
TIGA HARI KEMUDIAN.
"Jangan Melintasi Garis Polisi" tertulis dalam dua bahasa, Inggris dan Indonesia. Garis kuning mengelilingi lokasi kebakaran.
...*****...
Yuzaka turun dari grab car. Sebelumnya dia sudah membayar ongkos. Mobil grab car perlahan pergi meninggalkan Yuzaka sendiri di sisi jalan. Beberapa sepeda motor berlalu di jalanan. Tapi Yuzaka tidak memperdulikan. Dia terus menyusuri jalan. Tidak berapa lama dia tiba di tempat tujuannya.
"Garis polisi." Yuzaka penuh tanda tanya.
"Abu dan arang." Itulah kata-kata terucap dari mulut Yuzaka. Saat dia melihat hamparan abu dan arang di lokasi dimana dulu berdiri kontrakan yang disewa oleh Aram. Yuzaka tiba-tiba menjadi sedih dan matanya berkaca-kaca. Yuzaka baru tahu kalau kontrakan Aram kebakaran dua hari lalu.
"Aram, betapa banyak cobaan hidupmu. Semoga Allah juga meneguhkan bahumu untuk tetap berdiri memikul semua cobaan ini." Kata hati Yuzaka. Yuzaka duduk beberapa saat di bawah sebatang pohon di sekitar itu. Saat ada orang berlalu Yuzaka bertanya tentang kebakaran dan kemana Aram pergi. Orang-orang dapat menceritakan kejadian kebakaran. Tapi tidak bisa menjawab kemana Aram pergi. Ada yang bilang di rumah Pak RT. Saat di datangi, Pak RT bilang sudah pergi kemarin pagi.
Yuzaka dengan lesu menenteng totebag entah apa isinya. Dia mendengar azan dari sebuah masjid. Maka, dia pergi shalat zuhur di masjid. Banyak warga datang untuk shalat. beberapa ibu-ibu dan gadis juga anak-anak perempuan ikut ke masjid. Yuzaka menggabungkan diri lalu shalat berjamaah.
Setelah shalat Yuzaka juga masih bingung. Bagaimana dengan dirinya, apa yang harus dia perbuat. Setelah itu dia memutuskan untuk pulang kembali. Beberapa kali dia melihat ke dalam tas kecil yang dia tenteng dari tadi.
Yuzaka kembali memesan taksi online grab car. Dia menunggu di teras masjid. Di dalam masjid sekarang mulai dipenuhi anak-anak. Mereka anak-anak yang akan belajar mengaji.
"Sittttt." Seorang pemuda datang menggunakan sepeda motor beat hitam. Saat dia membuka jaket hitam. Bajunya berwarna merah biru dengan logo AF. Yuzaka memperhatikan pemuda itu. Dan dia ingat Aram pernah bercerita tentang kakak AF. Pemuda melepaskan sepatu dan pergi ke tempat wudhu.
"Kak, tunggu." Panggil Yuzaka. Pemuda menoleh dan dia menunda pergi ke tempat wudhu.
"Iya, ada apa Dik." Tanya pemuda itu, dia tampak bingung karena tidak mengenal Yuzaka.
"Kakak kenal dengan Aram. Tolong berikan ini padanya." Kata Yuzaka, si pemuda tersenyum dan dia baru mengerti.
"Oh, adik temannya Aram. Nanti kakak sampaikan. Tapi tidak dalam waktu cepat, sulit mencari anak itu. Kakak juga ada yang mau diberikan padanya." Jawab si pemuda.
"Tidak apa, Kak. Yang penting sampai ke Aram." Jawab Yuzaka, terdengar suara klakson mobil dan Yuzaka buru-buru. Taksi online yang dia pesan sudah tiba.
"Nama adik." Tanya si pemuda setengah berteriak.
"Yuzaka." Jawab Yuzaka kuat-kuat agar terdengar, dan dia dan menutup kaca pintu mobil. Pemuda itu melihat sebentar ke arah Yuzaka di dalam mobil dan melambaikan tangan padanya. Si pemuda hanya mengangguk lalu pergi ke tempat wudhu. Setelah shalat dia kemudian wawancara dengan pengurus masjid itu. Lalu mendokumentasikan data untuk bahan penelitian skripsi miliknya.
...*****...
SATU MINGGU KEMUDIAN.
Siang itu, Aram mendorong gerobak yang penuh barang-barang. Luran dan Figan kadang membantu mendorong. Luran membawa ayam jago dengan cara di jepit di ketiak. Areha membawa kantong plastik berisi pakaian. Junka juga Menjinjing pakaian Salika dan anaknya. Deak berjalan perlahan di sisi nenek. Salika menggendong anaknya, berkerudung handuk. Melindungi bayinya dari terik matahari.
"Tinn. tinnn." Sebuah sepeda motor penuh belanja lewat di samping iringan mereka berjalan. Klakson berbunyi nyaring saat mobil berlalu. Entah mau kemana mereka hari itu. Sudah satu Minggu mereka hidup berpindah-pindah. Tidur di emperan toko atau gedung kosong.
"Eakkkkk. Eakkkkk." Tiba-tiba banyi Salika menangis. Salika berusaha menenangkannya. Tapi bayinya tidak mau diam. Nenek jadi prihatin dan mendekati Salika.
"Anak ibu mau tidur apa." Kata Salika, tampak keringat mengucur dari dahinya. Kaki Salika terasa pedih karena lecet lama berjalan.
"Dia kepanasan Lika." Kata nenek.
"Oh, cup. Cup." Kata Salika sambil mengipasi anaknya dengan selembar potongan kardus.
"Aram cari tempat istirahat. Adik bayi kepanasan sepertinya." Panggil nenek, Aram menoleh dan mengangguk. Dia mengingat lokasi dimana sering mencari barang bekas. Aram pun mengingat lokasi sekitar.
"Kita maju lagi ke depan. Di sana ada jalan yang agak sepi. Banyak tempat berteduh dan kita bisa istirahat." Ujar Aram. Nenek setuju, dia mengajak kembali berjalan. Nenek menggendong Deak agar perjalanan lebih cepat.
...*****...
__ADS_1