
Aram dan beberapa orang pencari barang bekas tampak membongkar sampa di bak sampah. Kalau sudah penuh bak itu nanti diangkut mobil Dinas Kebersihan, ditukar dengan bak kosong.
Seorang laki-laki berumur empat puluhan tahun. Dia mencari barang bekas menggunakan sepeda motor. Dua kerajaan besar menggantung di sepeda motornya. Ada dua ibu-ibu tua dan seorang pemuda remaja beberapa tahun lebih tua dari Aram. Saat ada warga mau membuang sampah. Mereka berebut untuk mengambil wadah sampah dari tangan warga.
"Hei, kau cari di sana atau pergi saja dari sini." Ujar laki-laki pemulung yang menggunakan sepeda motor memarahi Aram. Dia tidak suka pada Aram dapat lebih darinya. Aram diberikan secara langsung oleh warga yang membuang sampah. Puluhan kardus, berkilo-kilo besi bekas yang Aram dapat.
Sekarang laki-laki itu yang berdiri di sisi jalan. Aram menjauh, membuka kantong plastik hitam besar ternyata berisi puluhan buku-buku bekas.
"Buku." Aram begitu gembira saat ada buku bekas, ada yang sampulnya robek. Selain itu, ada majalah bekas dan koran bekas. Kaleng minuman dan botol lima botol gelas bekas kecap manis. Ternyata semua isi berharga dan dapat di jual. Tapi Aram tidak akan menjual buku-buku bacaan dan majalah bekas itu. Sementara bekas buku tulis dan LKS akan dia jual.
"Metode Ternak Ayam Kampung." Aram membaca judul buku yang sudah robek sampul belakang. Bukan Alang kepalang gembiranya Aram. Dia akan mempelajari buku itu. Karena gembira dan dia tidak lagi dapat jatah barang bekas di bak sampah itu. Aram akhirnya pergi berkeliling mencari barang bekas. Rezeki memang Allah menentukan, dan dia banyak mendapat barang bekas di tempat lain.
"Buku panduan ternak ayam." Kata hati Aram, berulang-ulang dia mengucapkan itu. Begitu gembira tampaknya. Tapi ada hal yang tidak biasa. Aram sering merasa pusing dan matanya berkunang-kunang dua hari ini. Begitu juga hari itu, sering dia memijit kening dan tengkuk yang berkeringat dingin. Aram merasa tidak enak badan. Tapi tuntutan untuk napkah adik-adiknya membuat dia tidak menghiraukan kesehatan.
...*****...
ARAM, PANGGIL YUZAKA.
*
Hari Minggu, semua keluarga santai berlibur. Yuzaka duduk di halaman depan rumahnya. Sebuah bangku kecil diteduhi pohon jambu air. Sekeliling rumah di pagari dengan tembok beton. Hanya di bagian muara pagar yang dapat dilihat. Karena berpintu besi tegak lurus. Banyak orang dan kendaraan berlalu. Para pedagang, pencari barang bekas, dan anak-anak berlari bermain-main. Seorang anak mendorong gerobak penuh barang bekas. Yuzaka melihat dengan jelas di seberang jalan.
"Aram. Arammm." Panggilan Yuzaka, dia berlari ke pintu pagar. Tapi dia tidak bisa membuka pintu yang masih terkunci. Yuzaka berlari ke dalam rumah, kemudian mengambil kunci. Lalu dia berlarian ke pintu pagar. Ayah dan ibu Yukaza tampak aneh. Melihat anaknya sibuk membuka pintu pagar. Apa yang dia lakukan pikir mereka. Ibunya ke pintu depan memperhatikan Yuzaka yang membuka pintu pagar, keluar dan berlari-lari.
"Aarraammm." Panggil Yuzaka berkali-kali, dia memeriksa setiap gang dan jalanan. Tapi tidak lagi menemukan Aram. Akhirnya, Yuzaka pulang dengan rasa kesal dan sedih. Dia mengurung diri di kamar. Saat ibunya bertanya ada apa, dia bilang tidak ada apa-apa.
"Pasti masalah cowok Bu. Biasa, seperti sinetron-sinetron di TV. Kalau cewek merajuk peegi ke dalam kamar begitu. Biasanya ada adegan menangis juga." Kata Adik Yuzaka yang baru berumur sembilan tahun, menggoda kakaknya. Kata-kata dia kuatkan agar didengar Yuzaka.
"Aku tidak menangis, tidak merajuk. Tidak.. tidak-tidak." Jawab Yuzaka dari dalam kamar setengah berteriak. Tapi adiknya malah tertawa mendengar bantahan itu.
"Huss, tidak boleh bicara tentang itu, kalian masih anak-anak." Kata sang ibu, tapi adik Yuzaka berkeras menuduh begitu. Argumennya berdasarkan cerita sinetron.
Membuat kuping Yuzaka panas sekali dan akhirnya keduanya cekcok. Sang adik terus menggoda Yuzaka, entah dari mana dia tahu. Nama Aram dia sebut-sebut. Sementara kakak-kakak Yukaza ikut tertawa. Melihat keduanya saling perang mulut.
...*****...
ASDI KEMBALI.
*
Di sebuah kontrakan tampak seorang pemuda baru bangun tidur dengan malas. Matanya merah seakan-akan enggan terbuka. Suara perutnya terdengar keroncongan. Ada letop, kertas, dan buku-buku berserakan di sekitarnya berbaring. Sepertinya dia bergadang semalaman. Tiba-tiba terdengar sebuah sepeda motor berhenti di halaman kontrakan. Kemudian ada ketukan pintu.
"Jon, Jon. Kau masih tidur." Panggil suara di luar.
"Oh, tidak. Iya Asdi. Kau sudah sampai di Palembang." Jawab dari dalam.
"Iya Jon. Kau baru bangun tidur." Jawab Asdi.
"Iya." Terdengar kunci dibuka, lalu pintu terbuka lebar. Tampak seorang pemuda ganteng dengan celana jeans biru dan baju kemeja kotak-kotak lengan panjang. Berdiri dengan ransel besar dan kardus dijinjing.
"Ini saya banyak banyak sayur, ikan asin, kerupuk dan iwak pedo." Ujar Asdi, dia masuk dan meletakkan barang-barang.
"Baguslah, mari kita masak. Lama tak makan sayur dari desa." Ujar Jon.
"Selesai skripsi mu." Tanya Asdi.
"Selesai, tinggal mendaftar ujian." Jawab Jon.
"Bagaimana dengan cewekmu. Sepertinya kau akan cepat menikah." Ujar Jon.
"Masih lama, skripsi saja baru seminar proposal." Ujarnya.
"Pantas kau lupa ke Palembang, berbulan-bulan sudah." Kata Jon. Asdi tertawa terbahak-bahak. Keduanya terus berbincang-bincang, pembicaraan tentang skripsi dan mencari kerja setelah kuliah menjadi topik hangat. Keduanya tahu, hal berat menanti setelah lulus kuliah.
...*****...
NENEK DI MASJID.
*
Matahari sore terus menghilang di balik gelap malam. Sebuah masjid di sebuah kampung di daerah kecamatan Talang Kelapa tampak ramai. Warga sekitar berdatangan untuk menunaikan shalat magrib berjamaah. Tak ketinggalan ibu-ibu dan anak-anak, juga ikut shalat. Imam memimpin shalat dengan khusuk, suara bacaan ayat Al-Qur'an terdengar merdu. Shalat selesai, di lanjutkan doa bersama dan salaman antar jamaah.
"Uwa, mari saya pulang dulu." Seorang ibu-ibu menyapa seorang nenek-nenek yang masih duduk mengenakan mukena. Ada tasbih di tangannya.
"Mari Dek, Uwa nak menunggu waktu shalat isya." Jawab si nenek, dia melihat puluhan jamaah wanita pulang, tinggal dirinya sendiri di masjid. Ada juga dua orang bapak-bapak di shap depan tidak pulang. Mereka ketua masjid dan Muazin. Beberapa waktu kemudian masuk waktu shalat isya. Jamaah kembali banyak berdatangan untuk shalat berjamaah. Setelah selesai kembali bubar dan seperti tadi, ibu-ibu tadi juga menyapa si nenek-nenek itu.
"Uwa, mari pulang." Sapa si ibu. Dua gadis cantik juga menyapa dengan rama.
"Mari, Uwa mau beres mukena dahulu." Si nenek tinggal sendiri, masjid pun sepi. Malam bertambah larut, sekitarnya juga sepi. Si nenek pun tetap di masjid dan masih memakai mukena, dia zikir dan kadang membaca ayat suci Al-Quran. Saat dia mengantuk dia pun tidur di sudut masjid, tanpa ada yang tahu. Saat shalat subuh dia sudah siap dan duduk kembali seperti kemarin sore. Baru setelah shalat Dhuha dia meninggal masjid itu.
...*****...
__ADS_1
AYAM BERTELUR.
*
"Kukukrakikkk." Ayam Aram sudah pandai berkokok. Sementara ayam betina sudah mulai bertelur. Betapa gembiranya Luran dan Figan melihat ayam sudah bertelur. Figan sudah sehat seperti semula.
"Wah, nanti ayam kita bertambah banyak." Kata Figan.
"Iya, besok dia bertelur lagi." Jawab Luran, mereka melihat ke dalam kandang ayam. Dimana ada tempat bertelur ayam betina. sementara Aram membersihkan barang bekas dan memilih jenisnya.
"Sebentar lagi kita pergi memancing di rawa, sebelum pulang kita mandi." Kata Aram.
"Horee, ayo Koyong. Sudah tiga hari kita tak memancing dan memasang tajur ikan."Kata Luran. Keduanya gembira sekali kalau mau mandi di rawa-rawa di lembah hutan.
"Enaknya ikan gabus panggang dan lele bakar." Kata Figan, sambil menirukan nikmat makan, lidah sedikit dijulurkan. Memang sejak sembuh sakit dan minum vitamin Figan jadi suka makan.
"Adik, selalu ikan bakar yang diingat." Jawab Areha, dia bersiap sepertinya. Baskom penuh pakaian kotor, dan ember penuh piring kotor. Areha selalu ingat pesan ibunya, agar dia selalu merawat adiknya terutama mencucikan pakaian mereka. Setelah selesai Aram mengajak adik-adik mandi di rawa-rawa. Areha mencuci sedangkan mereka memancing ikan. Beberapa ikan gabus cukup besar di dapat. Tajur yang di pasang sore kemarin juga ada mendapatkan leleh. Mereka akan makan nasi lele bakar siang ini.
Asap mengepul saat mereka membuat pembakaran ikan. Aram membagi ikan pada adik-adiknya. Di sisakan untuk makan malam nantinya.
Sorehnya, Aram menjual barang bekas ke pengepul, lumayan dapat beras tiga kilo, satu bungkus garam, satu kantong kecil kecap manis, satu deterjen dan mengisi air galon untuk minum mereka.
Sudah beberapa hari Aram merasa tidak enak badan. Dia membeli obat sakit kepala di warung. Tapi rasa pusing tidak kunjung sembuh. Selera makan Aram juga terus menurun. Sering dia mau muntah rasanya, tapi tidak jadi. Kepala pusing dan dia istirahat saja siang itu. Biasanya dia sulit tidur siang. Tapi kali ini, dia tertidur cepat. Sementara Figan dan Luran sibuk bermain di bawah rindangnya pepohonan hutan. Aram tertidur, badannya berkeringat dingin. Mulutnya terasa pahit dan sendi-sendi badannya terasa nyeri semua.
...*****...
SARAPAN PAGI.
*
Juhusi begitu bahagia bersama suaminya. Anak kedua mereka tidak lama lagi akan hadir. Gaka akan punya adik, dan tidak enak rasanya kalau kebahagiaan mereka hanya dinikmati oleh mereka saja. Beberapa hari ini mereka jalan-jalan dan makan-makan bersama keluarga besar Pak Hadi.
Sekarang mereka juga ingin memberi tahu keluarga Juhusi, terutama ibu Juhusi. Oleh karena itu, mereka akan menemui ibu Juhusi, Cik Rumi. Biasanya ibu mertua Pak Hadi itu tinggal di salah satu rumah anak laki-lakinya. Pagi itu, keluarga kecil Pak Hadi sedang sarapan pagi.
"Kalian jadi bertemu nenek Gaka." Tanya ayah Pak Hadi. Dia laki-laki tua yang terpelajar dan bijaksana. Baru pulang umroh beberapa bulan lalu.
"Iya Ayah. Siang ini rencananya mengajak ibu, keluarga Kak Leban untuk main ke PTC. Atau kemana saja." Jawab Pak Hadi.
"Tahun depan baiklah mertua kamu diberangkatkan umrah saja dulu. Nunggu antrian berangkat haji masih lama juga. Umur siapa yang tahu." Ujar ibu Hadi. Gaka datang berlari kecil.
"Iya ibu, daftar tunggu hajinya sepuluh tahun lagi." Ujar Pak Hadi.
"Kakek, Nenek. Gaka punya mainan baru, Ultramen Gaya." Kata si Gaka sambil melompat lompat-lompat dengan topengnya.
"Ayah, Ibu, Kakak, Ayuk, Rea pergi dulu." Seorang gadis berumur dua puluh dua tahun dengan almamater Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang, tas menggantung di bahunya.
"Sarapan dahulu Rea." Ujar ibu mereka. Rea jawab tidak sempat lagi. Dia akan sarapan di kampus jawabnya.
"Gaka." Dia memanggil Gaka dan mencubit pipinya yang gembul. Tapi Gaka tidak memperdulikan, sibuk memperhatikan topengnya. Rea pergi berlari-lari kecil tanda dia mau cepat.
"Juhusi, Adik Cik di tempat siapa." Tanya mertua Juhusi sambil makan kue menanyakan besannya.
"Biasanya di rumah, Koyong Leban. Tapi sudah lama Aku tidak menelepon." Jawab Juhusi sambil memakan nasi dan sayur hijau. Yang khusus dibuat untuk dirinya yang hamil.
"Baiklah kalian cari rumah kecil untuk kediaman ibumu. Agar dia betah, orang tua mudah tersinggung. Apalagi lagi anak-anak zaman sekarang yang sudah tidak mengerti adab dalam menghadapi orang tua. Selalu berbuat sesuka hati. Merasa aman karena dia tidak menggangu orang. Tapi perbuatannya tanpa disadari menyakitkan hati orang. Tidak dewasa, kekanak-kanakan." Ujar ibu mertua.
"Iya nanti dimusyawarahkan sama kakak-kakak saya. Juhusi juga berpikir begitu." Ujar Juhusi.
"Kamu juga Hadi, harus mengerti jangan kamu pikir cukup dengan memberikan uang. Lantas kamu merasa sudah melakukan yang terbaik. Orang tua tidak memerlukan uang, dia ingin dihargai dan dihormati oleh anak-anaknya." Nasihat Ayah Hadi.
"Iya Ayah." Jawab Pak Hadi.
Keluarga Pak Hadi makan pagi dengan lahap. Mereka termasuk keluarga pengusaha kaya di Kota Palembang. Keluarga pengusaha yang baik hati itu hidup dalam kerukunan. Buah dari ilmu dan pendidikan yang mereka miliki. Tahu menempatkan diri dan menghormati orang lain. Tidak pernah berbuat semena-mena pada siapa pun.
...*****...
LAMUNAN NENEK.
*
Di sebuah taman kota, seorang nenek-nenek duduk sendirian di sebuah bangku yang dibuat dari cor beton. Dia memandangi jalanan yang sibuk. Sesekali orang berlalu di trotoar di sebelah kirinya. Beberapa burung-burung terbang di atas pohon angsana. Lamunan si nenek terkenang masa sebulan lalu.
"Ibu rewel sekali. Kalau belum membereskan rumah karena hari sudah siang. Kalau Sita belum makan, Toni tidak sarapan pagi. Semua di omeli, ngomong ini, ngomong itu, segeralah membereskan rumah. Harus perhatikan anak-anak, agar sehat selalu. Aku tidak betah ada Ibu." Kata Ayuk Tara pada suaminya Pak Leban.
"Sudahlah, ibu sudah tua. Memang begitu orang tua. Kau juga harus berubah, anak-anak sudah besar tapi kelakuan seperti sepuluh tahun lalu." Jawab Pak Leban.
"Kanda tidak pernah menyalahkan ibu, selalu Aku yang salah." Kata Ayuk Tara.
"Kau ini, hal sekecil itu saja dibuat masalah. Kamu tinggal bereskan rumah, urus anak yang benar. Tidak perlu banyak keluhan yang tidak perlu, harusnya kau ini sadar dan berubah. Caramu itu salah." Ujar Pak Leban.
"Kanda tidak mengerti perasaan wanita." Ujar Istrinya.
__ADS_1
"Kau itu saja yang tidak suka ibu. Menantu macam apa kamu ini. Ibu menasihati, bukan mengomeli." Kata Pak Leban.
Siang setelah pertengkaran kecil itu. Ayuk Tara tidak ramah pada mertuanya. Dia diam saja dan tidak menegur mertuanya. Tara memang wanita yang pemalas dan keras kepala. Apa-apa minta dibenarkan walaupun dia sudah kelewatan. Tapi Pak Leban selalu sabar, berharap suatu saat istrinya berubah dan mengerti.
"Allah Huakbar, Allah Huakbar." terdengar suara azan menyadarkannya dari lamunan. Kemudian dia menuju masjid yang tidak terlalu jauh dari tempat itu. Untuk melaksanakan shalat Zuhur.
Setelah shalat dia berdoa agar mendapatkan petunjuk dan tuntunan Allah SWT dalam perjalanan hidupnya. Serta mendapat pekerjaan nantinya dan dapat mewujudkan impian suaminya yang tercinta.
...*****...
RUMAH PAK LEBAN.
*
Mobil Portuner Hadi masuk halaman rumah yang cukup luas. Bangunan rumah itu cukup besar. Pintu pagar di tutup kembali oleh seorang ibu-ibu berumur tiga Limaan tahun. Seorang bocah laki-laki sibuk dengan layangan di halaman samping.
"Toni, maen layangan yok."Panggil beberapa anak dari depan pintu pagar.
"Ayoo."Jawab Toni girang. Dia berlari menuju Juhusi dan Hadi yang sudah turun dari mobil. Setelah menyalami Paman dan bibinya itu, dia berlari ke luar pagar menuju tema-temanya.
"Umak, Toni maen." Katanya dari balik pagar. " Dadaaaa Gaka." Lanjutnya sambil bebalik pergi.
"Dada Koyong." Kata Juhusi mengangkat tangan Gaka melambaikan tangan.
"Oh, Dik Hadi. Dek Juhusi, kenapa tidak kasih tahu kalau mau bertandang. Biar bisa ada persiapan." Kata si ibu.
"Gaka, sini. Gendong Uwa." Gaka menggeleng, dia sibuk dengan topeng Ultramennya. Seorang laki-laki berumur tiga tujuh puluh tahun keluar dengan kain sepinggang dan berbaju kaos oblong.
"Santai Kak." Sapa Pak Hadi.
"Iya, kalau hari Sabtu. Mari duduk, tak biasa maen kerumah.
"Bagaimana kabar, Ayuk Tara." Tanya Juhusi pada istrinya Leban.
"Alhamdulillah, baik." Jawabnya.
"Repa, kemana." Juhusi bertanya pada Ayuk iparnya.
"Repa, kerumah temannya. Katanya ada tugas kelompok." Kata Ayuk Tara. Mereka bercengkrama hangat sebagaimana keluarga yang sudah lama tidak berjumpa.
"Ibu kemana, tak ada." Tanya Juhusi di sela-sela pembicaraan. Leban dan Tara tampak kebingungan dan mereka balik bertanya.
"Sebulan lalu, dia disini. Kemudian pamit katanya mau bermain ke rumah Gaka." Kata Ayuk Tara kalau mertua mereka ke rumah Pak Hadi.
"Aduhh, ibu tak pernah muncul sedikitpun di rumah." Jawab Juhusi. Mendengar itu, Leban dan Hadi jadi khawatir. Leban dan Hadi berpendapat kemungkinan di rumah Zeta. Atau di rumah adiknya satunya, Barda. Saat itu juga, mereka menelpon ke rumah Zeta dan Barda. Tapi di rumah keduanya juga tidak ada juga. Betapa khawatirnya Juhusi dengan ibunya. Sampai dia tidak sadarkan diri. Sementara yang lain tampak bingung dan bertanya-tanya. Kemana?
...*****...
KANTOR POLISI.
*
"Sudah berapa lama ibu kalian tidak di ketahui keberadaannya." Tanya Pak Polisi. Leban, kebingungan menjawab dia tidak tahu persis kapan ibunya hilang. Tapi, terakhir satu bulan lalu dia dari rumah Leban.
"Kami mengira dia di rumah salah satu dari kami." Kata Zeta.
"Loh, bagaimana kalian ini, mengapa tidak di cek atau diantara jemput. Ibu sudah tua dibiarkan jalan sendiri, kemana-mana sendiri. Saya lihat kalian ke sini pakai mobil semua. Kalau dari wajah dan gelar kalian sarjana semua. Ibu hilang berbulan-bulan tidak tahu." Kata polisi yang menerima laporan. Tangannya sesekali mengetik keterangan mereka.
"Kami sibuk kerja, Pak." Jawab Barda.
"Kalau sibuk, saya juga sibuk. Ibu kandung saya, mertua saya urusi semua. Kalau sibuk siang, malamkan bisa antar jemput." Jawab Polisi.
"Coba lihat KTP asli kalian." Tanya Pak Polisi. Ketiganya menyerahkan KTP mereka.
"Kalian kerja di mana?.
"Saya di bank, manager cabang." Jawab Leban.
"Saya Marketing penjualan mobil." Kata Zeta.
"Saya marketing bank." Kata Barda.
"Nah, semuanya tidak begitu padat, pukul empat sore sudah pulang. Apalagi marketing tidak terlalu sibuk. Banyak waktu di luar." Ujar Pak Polisi lagi.
"Bapak jangan menyalakan kami begitu, seolah-olah kami tidak peduli. Bapak tidak tahu bagaimana urusan keluarga kami." Leban agak kesal.
"Diberitahukan dan dinasihati kalin keras kepala. Anak durhaka, seharusnya kalian berpikir apa yang salah. Ada apa, sekarang repot sendiri." Pak polisi marah. "Sudah, coba kalian cari di rumah keluarga atau teman-temannya. Kalau tidak bertemu segera laporkan, kami mulai penyelidikan." Ujar Pak Polisi.
Mereka keluar dan menemui Hadi dan Juhusi yang menunggu di luar. Tanpa di sadari mereka dua orang wartawan dari media ternama mendengar sumua percakapan itu. Pak Hadi yang terkenal sebagai pengusaha sukses di Kota Palembang tentu di kenali para wartawan. Dia juga sudah menjadi public figure. Beberapa kali foto mereka diambil tanpa mereka ketahui.
"Crett."
__ADS_1
"Crett." Suara kamera.
...****...